
Seminggu dari kejadian itu tidak membuat dokter Frans menghindari Gabriella. Sesuai kesepakatan mereka masih berteman dan dokter Frans masih bersabar menunggu Gabriella membuka hati.
Pulang kerja Gabriella bergegas membersihkan diri. Malam ini dia akan makan malam di Mansion.
Di Mansion
"Sayang maaf terlambat pulang," tiba-tiba dd
makanan di atas meja makan.
"Pekerjaanmu pasti menumpuk. Tidak masalah sayang...." ucapku sembari tersenyum.
Alfred membalikan tubuhku sehingga kami saling berhadapan.
"Terima kasih sayang," ujar Alfred.
Aku mengerutkan kening.
"Maaf untuk apa?" lirihku.
Alfred menggeleng pelan.
"Sayang segera membersihkan dirimu. Kak Gaby akan makan malam bersama," kataku memberitahukan karena baru dikabari oleh Gabriella tadi siang.
"Tumben," ujar Alfred karena hal itu sangat jarang.
"Lagi rindu dengan masakanku," kataku seperti yang Gabriella katakan.
"Pantas saja istriku masak dengan beberapa menu," imbuhnya. "Sayang sepertinya kamu juga belum mandi?" tebak Alfred karena dia tau jika aku juga baru pulang dari rumah sakit.
Aku mengangguk. Seketika senyuman mengembang di bibir Alfred.
"Jika begitu waktu yang sangat tepat untuk kita mandi bersama. Ayo," Alfred langsung mengendong ala bridal menuju kamar.
"Sayang lepas," pintaku dengan tubuh mengeliuk-liuk.
"Diam sayang...."
Alfred langsung membawaku masuk ke kamar mandi. Alfred menurunkan di atas wastafel kamar mandi.
"Sayang masih ada waktu," bisik Alfred dengan tatapan begitu intens.
"Sayang nanti malam saja, waktu kita tidak banyak lagi," aku menolak karena keadaan memang menjepit.
Alfred menggeleng pertanda tidak sependapat.
"Sebentar saja. Apa kamu tidak lihat lollipop kesukaanmu sudah meronta-ronta di bawah sini?" bisik Alfred sembari meraih tanganku lalu ditempelkan kepada benda itu.
"Saya......" seketika mulutku dibungkam begitu saja dan pada akhirnya berakhir 1 jam sehingga membuatku cemberut, apa lagi Gabriella sudah menunggu di kamar anak-anak.
Di meja makan
Aku bersama Gabriella telah menunggu Alfred di meja makan. Tak disangka Andre datang ke Mansion dengan tujuan mengantarkan dokumen penting atas perintah Alfred. Mereka masih mengobrol masalah pekerjaan di ruang kerja.
"Kok mereka lama sih?" kataku.
"Mungkin belum selesai Dek," sahut Gabriella.
__ADS_1
Huh....
Aku menyandarkan tubuhku sembari memperhatikan Gabriella yang sejak tadi banyak melamun.
"Sepertinya Kakak tidak baik-baik saja?" aku menebak.
"Kakak baik-baik saja," balasnya.
"Jika ada sesuatu yang mengganjal, jangan dipendam Kak. Kakak bisa berbagi denganku," ucapku sembari mengusap punggung tangan Gabriella.
"Kakak bingung saja," lirihnya dengan memejamkan mata sesaat.
"Bingung kenapa Kak?" tanyaku sedikit penasaran.
"Nanti Kakak ceritakan," sahutnya.
Hmmm
Deheman Alfred menghentikan obrolan kami. Karena asik berbincang kami bahkan tidak menyadari kedatangan Alfred bersama Andre.
"Sayang maaf jadi menunggu lama," ujar Alfred sembari mendudukkan dirinya di sebelahku.
Aku tersenyum. "Tidak masalah sayang," sahutku. "Andre kenapa berdiri saja? ayo ikut makan bersama," ucapku kepada Andre karena dia hanya berdiri saja.
"Maaf Nona. Saya harus pulang sekarang juga, saya ke sini hanya ingin berpamitan dengan Nona," ujar Andre.
"Apa kamu tidak suka dengan masakanku, sehingga ingin pulang?" aku sengaja beri ancaman karena aku tau kelemahan Andre.
"Andre apa kau tidak mendengar perkataan istriku?" ujar Alfred.
"Aku sangat suka dengan masakan Nona tapi aku tidak pantas berada di sini," batin Andre.
"Baik Tuan, Nona," ucap Andre pada akhirnya dan segera menarik kursi di sebelah Gabriella.
"Malam Andre," sapa Gabriella.
"Malam juga," balas Andre.
Ujung mataku curi-curi pandang melirik Andre dan Gabriella. Dari gerak Gabriella biasa saja tetapi ke Andre seperti ada hal yang berbeda, begitulah analisis menurutku.
Kami mulai menikmati hidangan yang sudah di piring masing-masing.
"Sayang masakanmu selalu enak, bikin ingin nambah terus," puji Alfred.
"Terima kasih sayang," ucapku dengan tersenyum.
"Andre nunggu kapan lagi kau melamar Vini? enak loh punya istri, apa lagi istri pintar masak dan segalanya hmmm seperti istriku ini, semua serba bisa," ujar Alfred kepada Andre.
Huk... huk...
Tiba-tiba Gabriella tersedak setelah mendengar penuturan Alfred.
"Minum Kak," ucapku.
Gabriella langsung menekuk air minum.
"Sayang apa katamu, Andre ada hubungan dengan Vini?" tanyaku dengan penasaran karena sampai saat ini aku tidak mengetahui itu. Vini adalah asisten sementara waktu aku memegang jabatan direktur waktu itu dan kini dia menjabat sebagai sekretaris Alfred.
__ADS_1
"Tanyakan langsung kepada orangnya sayang."
Aku menghela nafas panjang, lalu memandangi Andre.
"Apa benar begitu Andre? wah aku orang yang pertama mendukung kalian. Kalian cocok, sama-sama dewasa," kataku sangat mendukung hubungan itu jika itu benar. Ketika mengatakan itu pandanganku juga beralih kepada Gabriella, ingin melihat bagaimana mimik wajahnya.
"Aku juga sangat mendukung sayang. Usia Andre tidak muda lagi," timpal Alfred.
Andre membeku dengan diam, pasangan suami istri ini tidak memberi kesempatan untuknya berbicara. Sedangkan Gabriella memainkan sendok kedalam makanannya tanpa ingin mengeluarkan kata.
"Benar sekali Andre," pungkasku.
"Andre selama ini kau selalu setia menemaniku dalam duka maupun senang. Kau selalu ada untukku dan untuk keluargaku. Bahkan ketika aku terpuruk setelah kematian Daddy maupun Bernat, orang pertama yang setia mendampingi, memberi semangat dan lain sebagainya adalah kau Andre, setelah Tante Meysi," ungkap Alfred dengan mata memerah mengingat kenangan pahit dimasa lalu itu. "Bahkan sewaktu aku berbuat kasar kepada istriku, kau selalu memperingatiku, bahwa cara itu tidaklah benar. Andre saatnya kau memikirkan urusan pribadimu yang selama ini kau abaikan. Aku tidak perlu kau khawatirkan lagi karena aku sudah memiliki pendamping hidup seperti yang Daddy inginkan, dan aku juga sudah memiliki anak-anak. Saatnya kau meraih kebahagiaanmu sendiri," lirih Alfred kembali dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar penuturan Alfred membuat kami menunduk. Aku segera mengusap punggung tangan Alfred dengan lembut.
Hmmm
Aku sengaja berdehem agar keadaan kembali normal. Aku terenyuh mendengar kebaikan Andre selama ini.
"Andre terima kasih atas kesetiaan kamu mendampingi suamiku selama ini," ucap terima kasihku kepada Andre.
"Tuan, Nona itu sudah menjadi tanggungjawab saya. Saya lebih berhutang budi dengan keluarga Tuan," ujar Andre sekiranya.
Hmmm
°°°°°°
Usai makan malam aku dan Gabriella berbincang-bincang di taman belakang, menikmati angin malam. Sedangkan Alfred menemani anak-anak di kamar.
"Kak kangen juga dengan Mischa," kataku memulai obrolan.
"Iya Dek, anak itu sulit sekali untuk dihubungi," ucap Gabriella.
"Karena bertugas di pendalaman," sahutku.
"Bagaimana hubungan Moses dengan....." tanyaku sengaja tidak menyebutkan namanya.
"Entahlah Kakak juga tidak begitu tau," jawab Gabriella.
Hmmm
"Dek beberapa hari lalu Frans menyatakan perasaannya kepada Kakak," ucap Gabriella memulai menceritakan inti dari ceritanya.
"Hah...." mataku melebar kaget.
"Tetapi Kakak menolaknya karena sampai saat ini hati Kakak masih tertutup untuk orang lain," imbuhnya.
"Kakak...." aku segera mengusap bahu Gabriella dengan tatapan sendu.
"Kakak belum bisa menerima siapapun," lirih Gabriella dengan menangis.
Dengan segera aku mendekap tubuh itu.
"Kakak sampai kapan? masa depan Kakak masih panjang. Kakak raihlah kebahagiaan karena yang lalu tidak bisa akan terjadi kembali. Kakak tidak bisa begini terus, pikirkan masa depan Kakak," lirihku sembari mengusap punggung yang bergetar itu.
"Sangat sulit Dek," lirihnya disertai isak tangis.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪