
Aaak....
Teriak Papa masih dengan membenturkan dahinya di dinding. Lalu melangkah gontai, berusaha menyeret kakinya mendekati brankar tempat aku berbaring.
"Papa minta maaf sayang....Papa orang tua tak berguna. Papa sudah gagal menjadi orang tua untukmu. Bangun sayang beri kesempatan untuk Papa minta maaf," lirih Papa sembari memegang dadanya dengan mengusap wajahku.
"Papa," dengan cepat Moses memapah tubuh Papa. Sedangkan Papa memegang dadanya dengan nafas terengah-engah.
Ya jantung Papa kambuh karena syok.
"Ayo Pa, Papa segera di tangani," Moses berusaha membawa Papa keluar tetapi tidak di iyakan Papa.
"Ti.....dak, biarkan Papa pergi bersama Kakakmu. Lebih baik Papa ikut mati dari pada hidup dalam penyesalan," lirih Papa dengan mengigit bibir bawah menahan dadanya yang sangat sulit untuk bernafas.
Seketika bayangan masa kecilku terlintas diingatan Papa. Bayangan demi bayangan terlintas sehingga membuat pria paruh baya tampan itu semakin terluka.
"Jika nyawaku bisa ditukar, aku rela mati asalkan putriku selamat. Tuhan beri keajaiban untuk putriku," doa Papa dalam hati.
"Papa," Mama tersadar dari pingsannya. Ya Mama langsung pingsan setelah mendengar curahan hatiku dalam buku diary.
"Ma, Papa minta maaf sudah gagal menjadi suami dan Ayah bagi anak-anak. Papa orang tak berguna," lirih Papa masih bisa berbicara, padahal dadanya sudah sangat sesak.
Mama tidak mampu mengeluarkan kata-kata, seakan lidahnya keluh. Syok tentu saja dirasakan wanita paruh baya dengan kecantikan tiada luntur di usianya yang tidak muda lagi. Mama menjawab dengan menggelengkan kepala, tanda tidak setuju dengan ucapan Papa.
Sedangkan Alfred seperti patung, seakan senyawa dalam hidupnya hilang. Bersalah? menyesal? dua kata itulah yang patut dirasakannya.
Plak plak
Dua tamparan melayang di wajah Alfred. Tamparan itu diberikan oleh Gabriella.
"Puas kamu sekarang? sekarang juga pergi? jangan pernah tunjukan batang hidungmu lagi. Kamu membuat hidup Adikku menderita, jika belum tau kebenarannya jangan asal bertindak. Pergi kamu," caci maki Gabriella kepada Alfred sembari terisak.
Alfred pasrah, bahkan tidak membalas tamparan itu. Rasa sakit? tentu saja rasa itu tidak sebanding dengan sakit hatinya melihat diriku melawan maut.
Mama mendekati Alfred sembari memegang dadanya, sedangkan Papa sudah ditangani dokter. Moses langsung membawa dokter ke ruangan itu.
"Selama ini kami sangat mempercayaimu untuk menjaga putri kami, bahkan kami sudah menganggap dirimu anak sendiri, bukan menantu," lirih Mama dengan berurai air mata. "Kenapa kamu tega melakukan ini? coba dari awal kamu tidak menyembunyikan masalah besar ini, maka putri kami tidak berakhir seperti ini," Mama benar-benar kecewa kepada Alfred. "Lihat dia! Mungkin saja sekarang sudah tiada, dia tidak akan berjuang untuk melawan maut karena hidupnya sudah hancur. Apa kamu sudah puas? atau menginginkan Papa sama Mama menyusul Abel? silahkan lakukan itu jika itu membuatmu puas," teriak Mama dengan kecewa dan terluka atas perbuatan Alfred. Mama belum tau jika aku menitipkan surat untuk mereka sehingga memojokkan bahkan membenci Alfred.
"Maaf," hanya itu kata yang keluar dari mulut Alfred karena lidahnya keluh bahkan nyawanya seakan pergi dari tubuhnya. Sejak tadi dia memanjatkan doa, hanya itu yang bisa dilakukannya. Alfred ingin mendekap Mama tetapi dengan cepat ditepis Mama serta menjauhi Alfred. Mendapat kenyataan itu tentu saja Alfred sedih.
"Tuhan, jika Engkau ingin mencabut nyawaku saat ini maka aku sudah siap, jika itu dapat menyelamatkan istriku melawan maut. Tuhan beri aku kesempatan untuk meminta maaf kepadanya, aku mohon jangan ambil istriku sekarang. Beri kesempatan untuk istriku bersama-sama dengan kedua bayi kembar kami, beri kesempatan untuk dia merawat, membesarkan serta memberi kasih sayang kepada bayi kembar kami yang tidak berdosa," doa Alfred sejak tadi, tidak henti-hentinya memanjatkan doa.
Beberapa dokter serta perawat memasuki ruangan dengan wajah tak terbaca. Mereka sibuk mengecek. Karena waktu sudah berjalan 1 jam.
"Puji syukur," ucap dokter yang berprofesi sebagai spesialis bedah.
"Ada apa dok?" detak jantung Nona normal, sungguh keajaiban," terang dokter itu sembari menunjuk layar monitor dengan wajah lega.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat semuanya bangkit dan mendekat.
"Sayang....bangun, beri kesempatan untuk aku minta maaf. Demi mereka bangunlah. Lihat Papa, Mama mereka juga ingin menyusulmu? lihat dua bayi kembar kita, mereka butuh kasih sayang dari sesosok Ibu," lirih Alfred sembari terisak memeluk diriku.
"Aaa.... air," lirihku.
Deg
Seketika Alfred mengangkat kepalanya tepat di wajahku. Aku dapat melihat wajah Alfred memar, serta ujung bibirnya luka. Mata membengkak serta sembap.
"Sayang kamu, kamu bangun?" gumam Alfred tanpa sadar meneteskan air mata sehingga menetes tepat di pipiku.
Hiks hiks....
Lega dan bersyukur itulah yang mereka rasakan.
Tangisan memenuhi isi ruangan itu, bahkan keluarga dokter Frans ikut masuk. Papa yang awalnya terbaring lemah berusaha menghampiriku.
"Awas kau brengse*," usir Moses sembari mencengkram lengan Alfred agar menyingkir dari tubuhku. Alfred terpaksa melepaskan pelukan itu dan menjauh dari kerumunan.
"Sayang....ini Mama. Katakan sayang apa yang sakit? jangan buat Mama takut hiks hiks," tangis Mama seketika pecah sembari mendekap tubuhku.
"Sayang ini Papa, Papa bersama denganmu jadi jangan merasa takut. Katakan apa yang sakit," timpal Papa dengan lemah sembari merangkul tubuh Mama denganku.
"Dek ini Kakak sudah kembali. Kamu harus kuat hiks hiks," tangis Gabriella ikut memelukku.
"Mommy....Leon kembali lagi. Kenapa Mommy tidur saja? kenapa Mommy tidak ingin menyapa Leon? apa Leon buat salah? baiklah Leon minta maaf Mom," cicit polos Leon panjang lebar. Sungguh Leon belum paham dengan kondisiku.
Siapapun yang melihat momen itu pasti terenyuh atau terharu.
Aku diam tanpa sepatah katapun. Bahkan tanpa mengeluarkan setetes air mata. Mungkin saja karena terlalu lelah, bahkan stok air mata milikku sudah habis terkuras selama masih hidup.
"Mohon maaf Tuan, Nyonya sebaiknya biarkan kami berkerja. Mohon kerja samanya, silahkan keluar untuk sementara," ujar dokter dengan bijaksana.
Dengan berat hati mereka semua keluar masih dengan isak tangis.
Diluar suasana menyesakan dada. Tetapi semuanya merasakan kelegaan yang luar biasa melihat aku berhasil melawan maut dan melewati masa kritis.
Tidak ada yang bersuara, yang terdengar hanyalah isak tangis. Semua menatap tajam kepada Alfred yang hanya berdiri sendirian dipojokan sana, terkecuali Papa. Sedangkan Andre membawa Leon bersama Dea pulang ke rumah.
"Terima kasih Tuhan Engkau mengabulkan setiap doaku," batin Alfred merasa bersyukur karena aku berhasil melawan maut, walaupun masih belum tau perkembangan yang selanjutnya.
°°°°°°
Dokter memeriksa, sungguh ini adalah keajaiban yang luar biasa. Bagaimana tidak nyawaku hampir saja tak terselamatkan seperti yang mereka bayangkan. Kuasa yang maha Kuasa benar-benar dahsyat.
Perawat keluar dan diikuti dokter.
__ADS_1
"Dok," lirihku ingin menghentikan dokter yang bernama Davidson.
Langkah dokter David terhenti karena mendengar panggilanku.
"Dimana kedua bayiku? mereka baik-baik saja kan dok?"
"Dokter jangan khawatir dan banyak pikiran. Kedua bayi dokter dalam keadaan baik-baik saja, karena lahir prematur sehingga mendapat penanganan insentif," terang dokter David.
Mendengar penjelasan dokter David membuatku lega.
"Dok mohon kerja samanya, aku ingin....." ucapku panjang lebar.
Mulut dokter David menganga mendengar permintaanku. Bagaimana mungkin dia berbuat curang dalam prosedur menjadi dokter, resiko ini bukan main-main. Bisa saja dia berakhir di meja hijau jika menerima tawaranku.
"Aku mohon dok, hanya ini permintaanku," mohonku dengan tatapan sendu.
"Dok ini resikonya besar sekali,"
"Aku sendiri yang bertanggung jawab jika suatu saat kebenarannya tercium. Aku jamin dokter aman-aman saja. Bagaimana dok?" kataku masih memohon.
Dokter David mengusap wajah bingung. Tetapi melihat aku memohon hatinya tidak tega.
"Baiklah," ucap dokter David pada akhirnya luluh dan menyetujui kerja sama itu.
"Terima kasih dok," ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Dokter David tersenyum.
"Cepat pulih, demi bayi kembar dokter," ucap dokter David sebelum meninggalkan ruangan.
Diluar ruangan masih diiringi isak tangis yang tak henti-hentinya dari Mama, Gabriella serta Tante Meysi.
"Silahkan masuk," dokter David mempersilahkan.
Semuanya kembali masuk.
"Sayang hiks hiks...." Tangis Mama kembali sembari menciumi seluruh wajahku.
Aku diam tanpa kata sembari menatap satu-persatu.
"Kalian siapa?"
Deg
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, voter, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1