
Perkataan Daddy Alfred membuat Leon, Kiran maupun Mommy Isabella terperanjat kaget.
"Kebetulan putri kolega Daddy juga lama melajang," sambung Daddy Alfred tanpa tau apa yang terjadi.
Mommy Isabella langsung memandangi Leon yang juga tengah menatap kearahnya.
Sedangkan Kiran tiba-tiba terdiam, ia hanya memainkannya makanan dengan sumpitnya. Perkataan Daddy nya barusan tadi membuat detak jantungnya tak terkendali.
"Benar itu Kak, apa yang dikatakan Daddy," ucap Kiran dengan raut wajah dibuat-buat.
Mendengar Kiran menanggapi membuat Leon maupun Mommy Isabella mengalihkan pandangan kepada Kiran.
"Sepertinya Kiran tidak tau jika Leon menyukainya," batin Mommy Isabella.
"Kamu sendiri kenapa belum juga mendapat pendamping?" bukannya menanggapi pernyataan Kiran, Leon malah bertanya dengan status yang disandang Kiran.
"Itu, itu karena......hmm sudahlah," ucap Kiran dengan gugup, ia tidak bisa menjelaskan.
Mommy Isabella memperhatikan Kiran.
"Apa Kiran juga memiliki perasaan kepada Leon?" keluh kesah Mommy Isabella didalam hati.
Wanita paruh baya itu segera meletakan sumpit ke mangkok yang masih banyak makanan. Tiba-tiba selera makannya hilang. Kepalanya saat ini ingin pecah.
Bagaimana tidak. Putra-putri mereka setelah dewasa saling memiliki perasaan yang seharusnya dilarang.
"Ada apa sayang?" tanya Daddy Alfred melihat perubahan di raut wajah Mommy Isabella, hingga membuat semuanya memperhatikan wanita paruh baya itu.
Mommy Isabella menggeleng lemah tanpa sepatah kata.
"Apa Mommy sakit?" tanya Rebecca dengan wajah khawatir.
"Tidak sayang, Mommy baik-baik saja," sahutnya seraya tersenyum. Melihat wajah cantik Rebecca membuatnya sedikit tenang.
"Mommy jangan banyak pikiran, begitu juga untuk Daddy," saran Rebecca dengan perasaan sesak jika ia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Dimana ia tak sengaja melukai hati kedua paruh baya itu.
Daddy Alfred maupun Mommy Isabella tertekun mendengar nasehat yang diberikan oleh Rebecca.
"Bagaimana Mommy tak banyak pikiran sayang. Masalah kalian saja belum selesai, kini datang lagi dari Leon," keluh kesah Mommy Isabella dalam hati.
"Sebaiknya kita selesaikan dulu acara makan, nanti kita bahas kembali," ujar Daddy Alfred.
**
Kini semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga.
"Nak apa alasanmu ingin pindah?" tanya Daddy Alfred kepada Kiran.
"Tidak ada alasan apapun Dad, hanya ingin tinggal dalam satu negara saja," sahut Kiran.
"Jadi rencananya akan tugas di rumah sakit pusat?" tanya Daddy Alfred kembali.
Kiran menggeleng
"Kiran ingin satu tempat dengan Kak Leon Daddy," sahut Kiran yang berhasil membuat Leon maupun Mommy Isabella membulatkan mata saking kagetnya.
__ADS_1
Tidak lama Leon merasakan kebahagiaan tersendiri setelah ia mendengar apa yang dikatakan Kiran.
Suasana hening untuk beberapa detik. Sepertinya diantara mereka saling berpikir dalam diam.
Leon menegakkan tubuhnya. Sesaat ia menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Sungguh saat ini ia tidak tahan lagi untuk memendam perasaannya puluhan tahun itu.
"Dad ada yang ingin aku katakan," ujar Leon dengan raut wajah serius seraya melipat telapak tangannya.
Mendengar hal itu membuat Mommy Isabella terperanjat kaget. Bagaimana mungkin Leon akan mengatakan masalah itu untuk saat ini, sedangkan kesehatan Daddy Alfred tidaklah membaik.
"Hmm sayang bagaimana jika besok saja, soalnya Daddy akan segera beristirahat sesuai anjuran dokter," ucap Mommy Isabella seraya memberi kode rahasia kepada Leon. "Maaf sayang untuk saat ini urungkan saja dulu niatmu. Daddy kalian masih belum sehat betul, Mommy tidak ingin jantungnya kembali bermasalah mengetahui apa yang terjadi," batin Mommy Isabella.
"Tidak masalah sayang, mungkin apa yang ingin Leon bicarakan sangat penting," ujar Daddy Alfred.
Mommy Isabella memejamkan mata sesaat seraya menggelengkan kepala.
"Apa yang dikatakan Mommy benar Dad. Besok saja," ujar Leon seakan paham.
Mendengar hal itu membuat Mommy Isabella merasa lega.
"Sepertinya ada yang tidak beres," batin Keenan menyadari sikap Leon dan juga Mommy Isabella.
"Sayang bagaimana jika malam ini kalian menginap? selama menikah kalian tak pernah menginap di Mansion," ucap Mommy Isabella dengan raut wajah memohon.
Hal itu membuat Keenan maupun Rebecca saling memandang.
"Baiklah Mom, kebetulan besok libur," ujar Keenan tanpa memberi persetujuan dari Rebecca dulu.
Mendengar hal itu membuat Rebecca merasa senang karena ia juga sangat merindukan suasana Mansion.
Kedua paruh baya itu segera meninggalkan ruang keluarga karena ingin beristirahat. Kini tinggallah mereka berempat, seperti ada kecanggungan diantara mereka.
"Sayang aku ada bawa oleh-oleh untukmu, kamu pasti suka," ucap Kiran kepada Rebecca.
Kiran tidak ingin mengubah panggilan kesayangannya kepada Rebecca. Baginya Rebecca adalah Adik kecilnya terus-menerus.
"Terima kasih," sahut Rebecca.
"Kak Ken, aku pinjam Kakak ipar sebentar ya?" goda Kiran dengan nyinyir.
"Jangan lama-lama karena dia butuh istirahat," ujar Keenan.
"Sepertinya sudah ada kemajuan. Hmm tidak lama lagi status akan berubah menjadi aunty," goda Kiran kembali seraya segera membawa Rebecca yang hanya terdiam menunduk.
**
Kini tinggallah dua pria gagah serta tampan itu.
"Sepertinya ada sesuatu?" tebak Keenan.
"Kau benar brother. Bagaimana jika kita mengobrol di balkon saja," ujar Leon.
Keenan mengangguk karena sedikit penasaran, dan dia juga ingin mencurahkan isi hatinya.
Tiba di balkon
__ADS_1
Keduanya berdiri dengan pandangan lurus ke depan.
"Waktu yang diberikan Eca kepadaku hanya 7 hari karena itu permintaan terakhirku kepadanya," ujar Keenan.
"Kenapa seperti itu? bukankah Eca sangat mencintaimu?"
"Aku tidak tau jika sekarang perasaannya masih ada untukku."
"Eca sangat mencintaimu brother, mungkin karena terlalu kecewa atas luka yang kau berikan."
"Aku sangat takut jika kehilangan dia Kak. Sekarang aku sudah menyadari perasaanku ini, aku mencintainya tetapi sangat sulit bagi dia mempercayainya," pungkas Keenan. "Dia menginginkan perpisahan ini," imbuh Keenan dengan tatapan kosong.
"Terus apa yang kau lakukan?"
Keenan menggeleng
"Waktu 7 hari itu aku berusaha meluluhkan hatinya."
"Luar biasa brother!"
Hmm
"Jangan khawatir karena semuanya akan baik-baik saja," ujar Leon seraya mengusap bahu Keenan.
Keenan menghela nafas, lalu beranjak melangkah mendudukkan dirinya di kursi.
"Sungguh mencintai seseorang itu tidaklah mudah. Berbagai rintangan atau permasalahan yang dihadapi," ujar Leon seolah-olah menyindir dirinya sendiri.
"Kau benar Kak. Ketika kita mencintai disaat itu juga ia harus pergi," timpal Keenan membenarkan ucapan Leon.
Leon melangkah mendekati Keenan dan segera duduk di sampingnya.
"Jika dipikir-pikir hidup ini penuh dengan berbagai kejutan. Banyak berbagai skenario didalamnya," papar Leon seraya menadah kepalanya ke atas. "Seperti Kakak menyukai bahkan mencintai seseorang yang sangat muklak," sambungnya.
Keenan tertekun, sebenarnya Leon memiliki kekasih. Begitulah yang ada dalam pikirannya.
"Apa kau percaya brother jika Kakak mengatakan sesuatu?" Leon ingin Keenan juga tau tentang perasaannya.
"Bagaimana aku percaya kita tidak tau permasalahannya," ujar Keenan seraya menatap Leon dengan raut wajah serius.
Leon menghela nafas panjang. Ujung bibirnya sedikit melengkung.
"Puluhan tahun kakak memendam perasaan aneh ini. Dan sekarang waktunya untuk membongkar atas perasaan itu. Sungguh rasanya Kakak tidak tahanlah menyembunyikannya," ungkap Leon disertai senyuman.
Keenan tertekun karena ia tak pernah menyangka jika Leon menghadapi permasalahan hati.
"Sebenarnya siapa wanita yang dimaksudkan Kakak?" tutur Keenan.
"Kiran!"
Deg
Bersambung......
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪
__ADS_1