MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 55. Menghilangnya Gabriella


__ADS_3

["Honey besok aku dan Daddy serta Kakak akan ke Italia, mereka menyetujui rencana kita.]


["Benarkah honey? aku senang sekali."]


["Tentu, bahkan Daddy sudah tidak sabaran ingin bertemu.]


["Hmm aku tunggu honey, lagi pula besok kegiatanku kosong. Bagaimana jika malamnya kita bertemu?. ]


["Baik honey. Honey l love you."]


["I love you too."]


Siang itu kedua pasangan kekasih melakukan sambungan via videocall. Bernat menghubungi Gabriella untuk menyampaikan kabar gembira.


Keesokan harinya Gabriella yang tengah sarapan tiba-tiba dihubungi oleh kepala pengacara bahwa pagi ini Gabriella serta beberapa rekan lain mengikuti pelatihan di lapangan.


Gabriella berdecak karena nanti malam ia sudah berjanji akan bertemu dengan keluarga kekasihnya tetapi mau tidak mau ia mengikuti perintah atasan karena itu mempengaruhi nilai.


Gabriella kembali menghubungi Bernat dan mengatakan akan ke kota x khususnya di pesisir sungai karena tiba-tiba ada pemberitahuan dari atasan. Dengan berat hati Bernat memberi izin karena jujur saja pada saat itu ada perasaan sedikit cemas.


Kegiatanpun berjalan lancar. Sampai tiba saatnya kembali ke kota. Gabriella selalu mengirim pesan bahkan membalas pesan Bernat. Begitu juga kepada kedua orang tuanya.


Gabriella ingin cepat-cepat sampai karena dia sangat merindukan Bernat, apa lagi sudah 1 bulan mereka tidak bertemu dikarenakan Bernat pulang ke negara asalnya. Terlebih Bernat sudah menyelesaikan pendidikannya.


Didalam speed boat Gabriella membuka galeri, memandangi foto keluarganya dan yang terakhir foto dirinya dengan Bernat. Bahkan Gabriella menciumi layar ponsel itu.


"Honey aku sangat merindukanmu. Sabar menunggu," gumam Gabriella sembari tersenyum memandangi foto itu.


Tiba-tiba Gabriella baru sadar, rupanya didalam speed boat itu tidak ada rekannya satupun. Apa tadi dia salah naik karena sibuk dengan malas pesan dari Bernat.


Rasa panik tiba-tiba menghampiri Gabriella, bagaimana tidak, didalam speed boat itu ada 3 pria dengan wajah menakutkan dan 1 wanita yang tentunya dikenal oleh Gabriella.


"Apa Tuan putri baru sadar jika salah naik speed boat?" ejek wanita itu mendekati Gabriella.


"Mau apa kalian?" Gabriella merasa takut dengan gelagat mereka. "Kenapa kamu bisa di sini Tania?"


"Tentu saja ingin bermain-main denganmu. Dasar perebut milik orang lain," Tania langsung menjambak rambut Gabriella.


"Lepas Tania," Gabriella membalas dengan me jambak sehingga membuat salah satu pria itu menarik kuat tangan Gabriella lalu mencampakkan tubuhnya.


Aaakh...


Teriak Gabriella merasakan sakit di dadanya akibat hantaman besi penghalang.


Tania melangkah mendekati Gabriella.


Plak plak

__ADS_1


"Ini balasan karena kau merebut Bernat dariku. Rasakan ini," ujar Tania dengan murka.


Gabriella menjerit merasakan wajahnya seperti di bakar oleh tamparan Tania.


"Aku tidak pernah merebut siapa dan siapa. Bukankah hubungan kalian sudah lama berakhir? itu yang aku ketahui sehingga aku menerima Bernat," lirih Gabriella dengan ujung bibir terluka.


"Bohong! Dia bohong, bahkan di belakang kau kami masih sering kencan. Kau terbuai oleh tipunya," ujar Tania berhasil membuat hatiku sakit.


"Apakah itu benar?" batin Gabriella dengan sendu karena dia tau masa lalu Bernat adalah pria playboy yang memiliki wanita tak terhitung.


"Apa kau menyesal sekarang? camkan itu dia tidak sebaik yang kau kira. Bahkan aku sekarang mengandung darah daging Bernat," aku Tania merasa menang.


Deg


Mata Gabriella melotot dengan mulut menganga.


"Tidak mungkin," lirih Gabriella sembari menggelengkan kepala tidak percaya.


"Kau hanya pelampiasan baginya jadi jangan berharap. Putuskan Bernat dan tinggalkan dia karena dia akan mempertanggung jawabkan anak ini,"


Gabriella menggelengkan kepala, dia harap apa yang dikatakan Tania hanyalah sebuah kebohongan semata agar dia termakan. Gabriella tidak yakin Bernat mengkhianatinya, apa lagi dia akan dipertemukan dengan keluarga Bernat.


"Aku tau itu karanganmu semata. Bernat memang pria dengan julukan playboy tetapi dia berkomitmen serius, jadi aku sama sekali tidak percaya itu," ucap Gabriella sehingga membuat Tania murka.


"Kau! Kau akan menanggung akibatnya," ancam Tania.


Dua pria itu mendekati Gabriella dengan tatapan lapar. Bahkan mereka melepaskan baju.


"Ma....mau apa kalian?" ucap Gabriella dengan gugup serta bibir bergetar sembari memundurkan tubuhnya.


"Tentunya ingin bermain-main Nona manis," ujar salah satunya.


"Jangan macam-macam," teriak Gabriella berusaha menghindar.


"Teriak saja Nona, bahkan kami akan membuatmu lebih dari itu,"


Tania menatap senang sembari memainkan ponsel tanpa menghiraukan teriakan Gabriella untuk menghindar.


Gabriella berlari sana sini dengan ketakutan luar biasa.


"Tolong jangan lakukan itu," teriak Gabriella menangis, bahkan dia sempat memanggil kedua orang tua serta Bernat, bermaksud minta tolong.


Dua pria itu berhasil menangkap tubuh Gabriella. Bahkan ingin melakukan sebagaimana rencana Tania. Gabriella menendang bagian sensitif dua pria itu dan dia memilih terjun ke sungai dengan arus sangat deras, disertai speed boat itu melaju. Lebih baik mati dari pada melayani dua pria itu, itulah yang ada dibenak Gabriella.


Tania dengan ketiga pria itu mencari-cari tetapi tidak ada tanda-tanda karena arus sungai itu begitu deras belum lagi pas kejadian speed boat melaju ngebut.


Senyuman merekah di bibir Tania karena tanpa mengotori tangan Gabriella mati. Mereka mengira sangat kuat jika Gabriella mati di mangsa buaya karena sungai itu dikenal penghuni beberapa buaya. Dan dia akan menyebar berita bohong dengan kehilangan Gabriella yang tiba-tiba karena Tania adalah bukan orang sembarangan, dia adalah putri dari orang berkuasa jadi sangat mudah baginya untuk melakukan itu.

__ADS_1


°°°°°°


Gabriella terdampar jauh. Tubuhnya nyangkut di pohon besar di tepi sungai. Keesokan baru ditemukan oleh pelayan.


Tubuh Gabriella penuh dengan luka, bahkan mengakibatkan kedua kakinya lumpuh.


Beruntung karena yang menemukan Gabriella adalah keluarga yang baik. Mereka dengan tulus merawat Gabriella.


Tempat itu adalah di pelosok jadi sulit dari jangkauan. Bahkan Gabriella tidak tau arah jalan pulang, apa lagi ini bukan negara asalnya.


Proses penyembuhan Gabriella memakan waktu cukup panjang. Bukan hanya kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan, tetapi kepalanya juga luka cukup parah akibat benturan benda tumpul didalam sungai, seperti batu serta kayu besar.


Gabriella hanya diobati dengan ramuan, tidak ada obat-obatan seperti di kota. Dia hanya rutin minum ramuan serta luka luar di balur dengan ramuan.


Pak Kim sebut saja namanya yang menjadi tabit di desa itu. Dengan penuh kesabaran membimbing Gabriella, melakukan kemoterapi. Berangsur-angsur mengalami perubahan dan pada waktu panjang Gabriella dinyatakan sembuh.


Gabriella berjuang untuk kembali karena tidak ingin keluarga serta kekasihnya diselimuti kesedihan. Dengan keberanian dia diantar oleh beberapa warga ke tempat kapal bermuatan kecil, tentunya tanpa sepengetahuan karena itu adalah kapal negara asing dan tidak bisa masuk sembarangan orang.


Jarak desa itu membutuhkan satu malam tiba di laut tempat para pemburu binatang laut.


Dengan sembunyi-sembunyi mereka membawa Gabriella, dan yang maha kuasa memuluskan jalan mereka sehingga Gabriella berhasil masuk dengan bersembunyi.


Dan dengan penuh perjuangan Gabriella berhasil kembali, dan tentunya setelah menghubungi keluarganya. Ternyata Gabriella berada di negara x.


°°°°°°


"Begitulah ceritanya," lirih Gabriella mengakhiri dengan terisak.


Semua menghela nafas sesak mendengar setiap cerita Gabriella.


"Kamu bodoh, kenapa begitu pendek pikiranmu. Apa kamu tau perjuanganku untuk kembali karena ingin bertemu dan melanjutkan kembali rencana kita? hiks hiks...." tangis Gabriella dengan tubuh bergetar. "Tidak ada gunanya lagi aku kembali, lebih baik aku mati saja waktu itu dari pada kembali hanya mendengar berita tragismu," imbuhnya.


"Sayang sabar," lirih Mama langsung memeluk Gabriella.


"Lihatlah karena aku semuanya menderita, semua akibat dari menghilangnya aku. Adikku yang tidak tau apa-apa berakhir seperti ini hiks hiks... " Tangis Gabriella semakin pecah.


Alfred mengepalkan tangan mendengar cerita pilu Gabriella. Penyesalan semakin menghantui hidupnya.


"Tunjukan dimana makam Bernat serta Daddy," lirih Gabriella kepada Alfred.


"Hmm aku minta maaf," ujar Alfred sangat merasa salah.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah agar author lebih semangat lagi💪


•Selanjutnya akan diceritakan kenapa kasus ini ditutup rapat-rapat.

__ADS_1


__ADS_2