MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 49. Tiga Nyawa Terancam


__ADS_3

"Pak kita ke rumah sakit terlebih dahulu," kataku kepada Pak Seun karena ada berkas penting yang ketinggalan di ruanganku. Lagi pula jalur ke bandara melewati rumah sakit.


"Baik Kak," kata Pak Seun dengan raut wajah sedih karena kepergianku dari negara ini.


Tepat tikungan antara rumah sakit dengan bank mobil dari arah depan melaju sangat kencang dan tak terkendali. Tabrakan dahsyat itu terjadi begitu saja dalam hitungan detik, pada saat aku mengobrol dengan kedua bayiku sembari mengelus perut yang sangat besar.


Brak


Mobil yang dikendarai Pak Seun terseret beberapa meter. Sedangkan mobil yang menabrak terguling-guling di atas aspal.


Seketika jalan terjebak macet, semua orang berkerumunan untuk menolong.


"Aaak.... tolong," lirihku masih dibawah sadar dengan tubuh terjepit. Sedangkan Pak Seun aku tak tau bagaimana keadaannya.


"Sepertinya supir sudah tak bernyawa,"


"Ada penumpang wanita yang terjepit,"


Begitulah suara para warga memperhatikan dari luar mobil. Mereka berusaha mengeluarkan korban.


Tin tin..


Begitulah bunyi klakson saling bersahutan karena terjebak macet.


"Kenapa bisa macet begini?" umpat Alfred dengan kesal sembari memukul stir mobil.


Dia merasa penasaran karena pandangannya melihat orang pada kerumunan di ujung sana.


"Pak ada apa? kenapa bisa macet begini?" tanya Alfred kepada seseorang yang baru saja dari arah kerumunan.


"Kecelakaan mobil sama mobil Tuan. Para korban sudah dievaluasi tetapi satu lagi korban masih terjepit, sulit untuk dikeluarkan karena kemungkinan sedang hamil," terang pria itu.


Deg


Mendengar kata hamil membuat jantung Alfred berdebar bahkan tubuhnya membeku. Bayangan sekilas kepadaku.


Tanpa pikir panjang Alfred turun dari mobil dan berlari ketempat kerumunan, dimana lokasi kejadian.


Tepat depan mobil yang dikendarai Pak Seun mata Alfred membulat melihat nomor polisi yang tertera. Ya dia sangat ingat dengan nomor itu. Sedangkan orang-orang berusaha membongkar pintu mobil untuk menolongku yang terjebak tak sadarkan diri.


Deru nafas Alfred tak karuan. Seketika ketakutan menghantui perasaannya. Alfred yakin jika aku wanita yang dijelaskan pria tadi.


"Isabella," teriak Alfred sangat kuat sembari menarik pintu mobil dengan sekuat tenaga menolong yang lainnya. Padahal dia belum melihat siapa wanita yang didalam sana tetapi hati nuraninya mengatakan jika itu adalah aku.


Pintu mobil berhasil ditangani sehingga tubuhku tergolek dengan kedua kaki masih terjepi terjepit.


Deg


Jantung Alfred ingin meledak setelah melihat siapa sesosok yang sudah berlumuran darah. Kedua lutut Alfred bergetar serta tubuh membeku tak mampu berpijak.


"Isabella, Isabella...." Panggil Alfred seperti menahan isak tangis.


Tubuhku berhasil dikeluarkan. Alfred langsung memapah kepalaku dengan lumuran darah. Sedangkan mataku sudah tertutup. Tubuhku tak berdaya, bahkan darah juga sudah membasahi area v.


Ambulan segera tiba dan aku langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu RS HUGO. Entah rasa apa yang membuat Alfred memperdulikan aku, bahkan dia tidak melepaskan tangannya di perutku.


Didalam ambulan mataku mengerjap berat, entah apa yang mendorongku untuk membuka mata. Dengan berusaha aku membuka mata perlahan. Pertama yang kulihat adalah bayangan wajah Alfred yang sedang menatapku. Aku kaget luar biasa, tetapi aku yakin itu halusinasi saja. Karena itu tidak mungkin dan mustahil.

__ADS_1


"Kamu sadar?" suara seperti ini tidak pernah aku dapatkan dari pria yang menghancurkan hidupku. Tetapi hari ini aku mendengarnya di sisa nyawa yang terancam. Entah aku sedang bermimpi atau apapun itu aku tidak tau, yang aku rasakan saat ini adalah kesakitan, sakit yang luar biasa, dan aku yakin pada hari ini ajal menjemput. Takut? tentu aku tidak merasakan hal itu, aku sudah siap. Dari awal aku memang memilih mati saja dari pada menjalani kehidupan seperti ini tetapi keberuntungan tak berpihak sehingga aku berakhir seperti ini.


Alfred mencondongkan tubuhnya dengan mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Aku berusaha meraih telapak tangan Alfred yang memegang perutku, lalu menggenggamnya begitu erat.


"Al selamatkan mereka, tolong selamatkan mereka," lirihku sama sekali tak terbata. "Atas nama Kakak aku minta maaf," lirihku kembali dengan nafas terengah-engah. Setelah mengatakan itu aku kembali tidak sadarkan diri, dan bahkan genggaman itu terlepas. Aku dapat melihat wajah Alfred tengah menangis, aku yakin dia menangis karena kemenangan atas pencapaian finis misi balas dendam itu.


Alfred memanggil-manggil namaku tetap percuma saja itu tidak membuahkan hasil karena kondisiku sedang kritis.


Tiba di rumah sakit aku langsung dibawah ke ruang UGD. Alfred dengan setia mendorong brankar sembari menggenggam tanganku. Pakaian Alfred penuh dengan darah tetapi tidak diperdulikannya. Entah apa yang mendorong dirinya itu, seharusnya Alfred tertawa di atas pencapaiannya.


Alfred tidak diperbolehkan masuk. Sampai dia terpaksa membuka jati dirinya, tetapi tetap tidak diperkenankan dan disuruh menunggu di luar pintu.


Alfred mondar-mandir masih dengan jantung berdebar. Dengan tangan bergetar dia menghubungi orang tuaku tetapi Alfred tidak mengatakan bahwa aku kecelakaan, bagaimanapun untuk sementara dia rahasiakan dulu karena tidak ingin kedua orang tuaku jantungan. Alfred hanya mengatakan agar terbang hari ini juga karena ada sesuatu yang sangat penting.


Mata Alfred melotot dengan mulut menganga mendengar kabar bahwa keluargaku sedang berada di bandara Internasional Incheon-seul, itu berarti ada di negara ini. Sungguh Alfred sangat terkejut. Tetapi itu lebih baik agar semuanya secepat mungkin melihat diriku yang berjuang untuk hidup.


"Bukankah mereka seharusnya menunggu Isabella di sana? kenapa tiba-tiba sudah ada di negara ini?" batin Alfred dengan berkecamuk.


Alfred tak bisa tenang rasa takut, khawatir dan sebagainya menghantui dirinya. Tidak lama Andre menghampiri dengan wajah ikut panik. Andre bisa melihat pakaian kemeja Alfred basah dengan memandikan darah segar.


"Tuan," sapa Andre sehingga membuat Alfred sadar akan kedatangan Andre.


Alfred menatap Andre dengan datar tanpa sepatah katapun.


Dokter Sintya keluar dari dalam dengan wajah yang sulit diartikan. Tatapan matanya tidak suka kepada Alfred, karena mengabaikan diriku. Walaupun dokter Sintya sudah tau siapa pemilik rumah sakit ini tetapi rasa kecewa tentu saja.


"Dokter bagaimana keadaan, keadaan is....istriku?" ucap Alfred terbata, bahkan ini pertama kalinya dia mengakui bahwa aku adalah istrinya. Sayangnya semua itu tidak dapat aku dengar atas pengakuannya itu.


Dokter Sintya kaget begitu juga dengan Andre.


"Belum bisa ambil tindakan. Dokter Isabella kritis, kedua bayi itu harus segera diselamatkan walaupun belum saatnya lahir," jelas dokter Sintya wajah dengan raut wajah datar.


Dengan langkah berlari Mama menghampiri Alfred.


"Sayang apa istrimu ingin melahirkan?" tanya Mama dengan raut wajah gembira karena Mama pikir aku akan melahirkan dua cucu mereka.


"Iya Kak, benar begitu?" timpal Papa.


Alfred, Andre serta dokter Sintya bungkam dengan kepala menunduk.


"Saya akan masuk karena tidak ada waktu lagi," setelah mengatakan itu dokter Sintya segera masuk tanpa mengatakan sesuatu yang menjadi rahasiaku selama ini.


"Sayang tetapi kenapa kamu berdiri di depan pintu UGD? seharusnya di kamar bersalin," seketika Mama baru menyadari posisi mereka.


Mata Papa juga melebar dengan perasaan tiba-tiba menyelimuti kekhawatiran.


"Papa sama Mama sebaiknya duduk dulu," Alfred berusaha bersikap tenang.


Mata Mama melotot dengan tubuh bergetar menyadari pakaian Alfred dipenuhi darah.


"Sebenarnya apa yang terjadi sayang?" seketika Mama langsung menangis sembari menarik-narik baju Alfred.


Alfred tidak bisa menjawab.


"Pa, Ma aku minta maaf," Alfred langsung berlutut di kedua kaki Papa sama Mama sembari menangis.


Buk buk

__ADS_1


Layangan pukulan menghantam wajah serta perut Alfred dengan tiba-tiba.


"Dasar brengse*,"


Semua tercengang tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Andre berusaha menenangkan dokter Frans. Ya yang menyerang Alfred tiba-tiba adalah dokter Frans.


"Apa sekarang kamu puas? ya sekarang kamu menang Al, kamu menang atas pencapaian misimu. Sekarang tertawalah dan rayakan atas pencapaianmu itu karena dia sudah tiada," ujar dokter Frans menggebu-gebu sembari mencengkram leher kemeja Alfred.


Tentu saja Papa sama Mama tidak paham apa yang sedang di katakan dokter Frans.


"Sayang tenang jangan buat keributan," Tante Meysi berusaha meleraikan.


"Kamu tau jika selama ini dia berjuang melawan penyakit yang mematikan? apa kamu tau itu? tentu saja tidak karena kamu tidak pernah peduli itu," ujar dokter Frans dengan mata memerah. "Dia mengindap kanker rahim stadium akhir," imbuh dokter Frans dengan nada rendah sembari melepaskan cengkeraman itu.


Deg


Pernyataan dokter Frans membuat semua orang tercengang. Alfred menggelengkan kepala tidak percaya. Sedangkan Papa sama Mama masih belum paham.


"Tidak mungkin," lirih Alfred dengan menggelengkan kepala.


"Sebenarnya apa yang terjadi? siapa yang sebenarnya didalam ruangan sana? mana putri kami?" ujar Papa dengan suara lantang.


"Abel didalam Pa, Ma. Abel mengalami kecelakaan dan sekarang kritis," lirih Alfred dengan kepala menunduk.


Duar....


Bagai petir menyambar bagi kedua orang tuaku mendengar penuturan Alfred. Jantung keduanya berpacu tak terkendali. Belum lagi mendengar apa yang dokter Frans katakan. Berarti yang mereka bicarakan itu adalah putri mereka.


Seketika tubuh Mama merosot ke lantai, bahkan Papa tidak dapat membantu memapah Mama karena Papa sendiri merasakan tubuhnya seakan melayang dan tak bernyawa.


"Dia akan berjuang untuk menyelamatkan kedua bayi kalian. Penyakit itu mengancam salah satu, dan kamu tau siapa yang akan menjadi pilihan para dokter? mereka memilih menyelamatkan bayi kembar kalian dibandingkan nyawanya sendiri karena itu adalah pilihan awal untuknya," terang dokter Frans dengan bibir bergetar.


Deg


Apa yang dijelaskan dokter Frans membuat tubuh mereka tak bernyawa termasuk kedua orang tuaku.


Alfred berusaha bangkit dengan langkah gontai menuju pintu.


"Buka, buka," teriak Alfred.


Dor dor....


Alfred menggedor pintu sekuat mungkin bahkan ingin menghancurkan pintu ruang operasi itu karena dia ingin masuk.


"Buka, buka. Kalian selamatkan istriku, selamatkan istriku," teriak Alfred tak henti-hentinya tetapi percuma saja karena para dokter mengabaikan itu dan mereka lebih fokus menanganiku.


Suasana di luar di penuhi tangisan, tangisan dari Mama bersama Tante Meysi. Bahkan Papa sama Mama tidak tau siapa mereka. Sedangkan para pria bungkam dengan tangis tertahan, kecuali Alfred dia masih berusaha menggedor pintu.


"Mama.....Ma mana Dek Abel?"


Suara wanita itu membuat mereka mengalihkan pandangan.


Deg


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


•Mampus kau Alfred semua telah terjawab dengan sendirinya. Menyesal? tidak ada gunanya lagi.


__ADS_2