
#Flashback#
Gabriella tiba di Korea menjelang petang. Gabriella langsung menyambangi Mansion, menanyakan apakah Andre sudah berangkat ke luar negeri kepada kami.
Aku sedikit heran karena dengan tiba-tibanya Gabriella menanyakan tentang hal itu apa lagi melihat raut wajah sedikit panik.
"Kak Gaby baru tiba?" tanyaku.
"Iya sayang. Sayang apa Andre sudah berangkat?" tanyanya dengan tiba-tiba.
Aku mengerutkan dahi.
"Andre akan terbang dini hari Kak," suara bariton itu berasal dari Alfred yang tiba-tiba datang.
"Kakak akan pergi dulu," ucap Gabriella tanpa sempat menanyakan ketiga keponakannya. Hal itu membuat aku dan Alfred saking memandang dengan dahi mengerut.
Gabriella langsung menghubungi Vini karena ia yakin Vini cukup dekat dengan Andre.
Vini mengatakan jika tadi Andre menenangkan diri di taman kota. Mendengar keterangan Vini membuat Gabriella langsung meluncur dimana Andre berada.
Entah apa yang membuat hati Vini tergerak mengikuti Gabriella, sehingga membuatnya menyusul. Sepertinya hatinya tak rela Andre mendekati Gabriella.
Tiba di taman Vini melihat dimana Andre dan Gabriella saling tatap menatap. Ternyata Vini tak sendiri, sosok dokter Frans juga datang sedikit lambat darinya.
"Dokter Frans," gumam Vini sedikit kaget.
Suutt....
Dokter Frans memberi kode dengan jari telunjuk di bibirnya.
"Aku hanya ingin memastikan saja," hanya itu yang keluar dari mulut dokter Frans dengan wajah yang sulit diartikan.
Vini mengangguk-angguk. Mereka melangkah mendekat penuh hati-hati. Ingin lebih jelas menguping pembicaraan Andre sama Gabriella.
°°°°°°
Tanpa disadari kedua sejoli itu. Rupanya dokter Frans sama Vini ikut menyaksikan bahkan menjadi saksi bisu dimana peresmian hubungan Andre dengan Gabriella.
Sesak, terluka itulah yang dirasakan dokter Frans maupun Vini karena mereka menyaksikan sendiri orang yang mereka sukai telah menjadi milik orang lain.
Dokter Frans tanpa sengaja menggenggam erat tangan Vini, menyalurkan kekecewaan yang sangat besar. Dokter Frans langsung menarik Vini masuk kedalam mobilnya.
Hujan deras turun begitu cepat. Seakan menggambarkan isi hati mereka saat ini. Dokter Frans maupun Vini saling diam dengan pandangan kosong ke depan, menikmati jatuhnya air hujan mengenai kaca depan mobil.
Seakan sadar dokter Frans menoleh ke arah samping, dimana Vini duduk dengan diam.
__ADS_1
"Vini kamu baik-baik saja?" tanya dokter Frans karena dapat melihat raut kesedihan di wajah Vini.
"Aku tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa dikatakan baik sedangkan aku lagi patah hati," lirih Vini sembari tertawa kecil, menertawa kebodohannya.
"Apa kamu menyukai Andre?" tanya dokter Frans sekenanya seakan memahami jawaban Vini.
"Menurut kamu? tidak ada salahnya bukan menyukai seseorang?" ucap Vini lagi masih tetap tertawa. "Salahnya orang itu tidak membalas perasaan kita," lirihnya dengan wajah menunduk.
Dokter Frans menghela nafas panjang. Dadanya masih sesak mengingat bagaimana kedua sejoli tadi.
"Aku antar kamu pulang," ujar dokter Frans.
Vini mengangguk setuju. Masalah mobil ia tak masalahkan karena tadi sopir yang mengendarai mobilnya.
Derasnya hujan tidak membuat hati mereka membeku. Tidak terasa apartemen milik Vini sudah di depan mata.
"Masuk dulu, sepertinya asik ngopi dalam cuaca dingin begini," tawar Vini memang benar juga.
Dokter Frans berpikir sesaat. "Sepertinya benar. Apa tidak apa-apa?" ujar dokter Frans.
Vini tersenyum manis, hal itu membuat dokter Frans salah tingkah. Senyuman mengemaskan menurutnya.
Mereka berjalan saling beriringan. Apartemen Vini ada dilantai 20. Tiba di pintu apartemen Vini segera merogoh kunci dalam tasnya, lalu membuka pintu.
"Silahkan masuk, maaf sedikit berantakan," ucap Vini mempersilahkan dokter Frans.
"Silahkan diminum dokter Frans," ucap Vini sembari meletakan dua cangkir kopi di atas meja sofa. "Aku tinggal dulu, ingin membersihkan diri," imbuhnya. Dokter Frans mengangguk.
Sembari menunggu Vini, dokter Frans menyesap kopinya sembari mengingat bagaimana Andre dengan Gabriella tadi. Bayangan yang tidak ingin dia ingat kembali karena terlalu sakit.
Tidak lama Vini datang menghampiri, lalu mendaratkan bokongnya di samping dokter Frans.
"Apa dokter sudah makan?" tanya Vini.
"Lagi tidak selera makan Vin," sahutnya tak bersemangat.
Hmmm
Vini langsung menyambar cangkir, segera menyesap kopi panas itu.
"Kopi ini manis, seakan mampu menawarkan pil pahit di hati," ungkap Vini. Tanpa sadar cangkir ditangannya oleng sehingga membasahi baju piala bagian dada. "Awww....." Vini mengaduh karena merasakan kulitnya seperti disiram air panas.
Dengan refleks dokter Frans mendekat sembari menarik tisu, tanpa sadar mengusap baju Vini. Tujuan dokter Frans adalah mengeringkan baju Vini.
Tubuh Vini membeku, dengan mata membulat merasakan usapan tangan dokter Frans beberapa kali menyentuh aset yang sedang menggantung ditempatnya. Seakan sadar dokter Frans menghentikan tangannya, dan keduanya saling melempar tatapan sehingga tatapan keduanya bertemu dengan diam.
__ADS_1
"Maaf," ucap dokter Frans secepat mungkin menarik tangannya sehingga tanpa sengaja kuku panjangnya nyangkut dikancing baju piala Vini sehingga membuat kancing itu terlepas. Dua bongkahan itu menyembul dari balik piala yang dikenakan Vini.
Dokter Frans membeku. Ada getaran hebat yang dia rasakan. Getaran ingin menyentuh serta menikmatinya. Bukan sekali ini dia melihat, bahkan memegang payu**** wanita tetapi ini berbeda dari semua pasiennya.
Dengan tergesa-gesa tangan Vini bergerak menutupi baju piyama bagian dada tetapi gerakan Vini dihentikan dokter Frans. Entah setan apa yang merasuki diri pria tampan itu. Sungguh bongkahan serta kulit mulus Vini membangkitkan jiwa kelelakiannya.
Dokter Frans langsung menindih tubuh Vini sehingga membuat Vini berbaring di atas sofa dengan kedua kaki menggantung.
Kecupan demi kecupan sudah tak terhindari lagi. Awalnya Vini menolak tetapi lama-kelamaan dia menikmati alur yang dipersembahkan dokter Frans.
Tanpa sadar keduanya kini sama-sama polos. Dokter Frans membawa Vini ke kamar tanpa melepaskan pagutan mereka.
Dokter Frans membaringkan tubuh Vini dengan lembut, lalu kembali menjelajahi seluruh tubuh indah itu menggunakan li dahh serta jari-jemari kelarnya. Vini terlena, lupa status mereka. Bisikan setan lebih kuat dari iman mereka.
"Apakah boleh?" bisik dokter Frans yang saat ini berada di atas tubuh Vini. Bagaimanapun dia minta persetujuan, walaupun tombak di bawah saja sudah sulit diamankan.
Vini mengangguk seakan menyerahkan dirinya.
"Tunggu, apa itu muat?" lirih Vini dengan malu-malu menatap tombak tumpul itu yang sedang mengacung.
"Aku akan melakukannya hati-hati," bisik dokter Frans dengan serak. Lalu kembali menikmati bibir dan berpindah pada bongkahan kembar.
Aaak....
Teriak Vini sembari meremas permukaan seprei sehingga membuat dokter Frans berhenti sesaat, mencabut tombak tumpul itu. Padahal hanya masih ujungnya saja. Dokter Frans yakin jika Vini masih virgin.
"Baiklah kita sudahi," pancing dokter Frans sembari memelintir bulatan coklat memerah itu sehingga membuat Vini tak berdaya.
"Lanjutkan bisiknya sembari mengigit bibir bawahnya.
Hal itu tidak disia-siakan oleh dokter Frans. Dia kembali melakukannya dengan hentakan pelan tapi pasti.
Bulir bening bergulir dikedua ujung mata Vini. Dia ingin sekali berteriak tetapi hal itu tak dibiarkan dokter Frans karena mulutnya dibungkam dengan li dah saking bertautan.
Awalnya terasa sakit, lama-kelamaan kenik mantan yang dirasakan. Dokter Frans semakin menghentakkan tombak tumpul itu, denyutan mulai dirasakan, dan pada akhirnya erangan panjang keluar dari mulut keduanya. Semburan tombak tumpul itu mengeluarkan racun panas dalam ladang milik Vini, ingin memberi kesuburan. Semoga racun itu membuahkan hasil.
Entah sudah berapa ronde mereka lakukan berulang-ulang dengan bermacam gaya. Akhirnya keduanya menyerah sampai subuh.
Cup
"Aku akan mempertanggungjawabkan, jangan takut. Terima kasih sayang menjaganya untukku," bisik dokter Frans sembari mengecup dahi Vini dan memeluknya.
Vini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher dokter Frans. Dia sadar jika ini tidaklah benar. Akibat patah hati mereka melakukan dosa besar.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪