
"Sayang cepat pergi, berikan ini kepada Uncle Moses atau siapapun didalam gedung sana, kecuali orang luar," lirihku kepada Leon setelah menurunkan Leon di depan gedung pengadilan. "Cepat sayang sebelum mereka melihatmu, tanya dengan satpam atau siapapun didalam sana agar mengantarkan Leon bertemu dengan keluarga Januar, katakan itu dan ingat jangan berikan benda kecil itu," imbuhku kembali kepada Leon.
"Mommy Leon takut dan tidak ingin meninggalkan Mommy," tangis Leon tidak ingin pergi.
Aku menggeleng.
"Sayang Mommy baik-baik saja, selamatkan Daddy sayang, hanya Leon yang bisa melakukan itu," desakku kepada Leon bahkan mendorongnya untuk segera pergi, sampai-sampai Leon tersungkur di rimbunan bunga.
Aku membalikan tubuh tepat dimana dua pria bertubuh kekar. Aku berlari lawan arah agar mereka tidak menyadari kehadiran Leon di semak sana.
"Ya Tuhan selamatkan Leon," batinku sembari berbalik melihat dimana tempat Leon aku dorong.
Aku berlari sangat kencang, keberuntungan berpihak kepadaku karena mereka mengejar diriku dan tidak mengetahui keberadaan Leon.
"Aduh sakit," Leon menjerit karena lututnya lecet akibat terkikis bebatuan, bahkan mengeluarkan darah. "Mommy....Mommy...." Panggil Leon masih terduduk sembari menangis.
Leon melihat dari celah bunga jika aku dikejar oleh dua pria, pria yang mengejar mobil kami. Leon ingin bangkit tetapi lututnya begitu sakit sehingga dia mengurungkan niatnya.
Hiks....hiks....
Tangisan Leon semakin pecah.
"Apa yang terjadi Nak?" tiba-tiba seorang pria paruh baya menghampiri Leon.
"Kakek, Mommy Kek," lirih Leon sembari menunjuk kearah dimana dia terakhir melihat diriku.
"Kamu terluka?" pria paruh baya yang bertugas pembersih lapangan menyadari lutut Leon mengeluarkan darah.
"Kakek tolong antar Leon ke gedung itu, Leon ingin bertemu dengan Uncle Moses," cicit Leon.
"Kakek tidak kenal Nak. Itu gedung tidak sembarangan dimasuki, apa lagi kamu masih anak-anak, kecuali di dampingi oleh orang tua," jelas pria itu.
"Bisa Kakek mengantar Leon? didalam sana ada Uncle, Opa, Oma," ucap Leon bahkan menarik tangan pria itu .
Pria itu meneliti penampilan Leon, sangat terlihat jelas bahwa pakaian yang dikenakan Leon adalah pakaian bermerek kelas atas. Pria itu yakin jika Leon adalah bukan ank sembarangan.
"Baiklah Kakek akan mengantar Leon sampai Loby karena Kakek tidak diperbolehkan masuk," ucap pria paruh baya itu.
Pria paruh baya itu memapah tubuh Leon, membawanya memasuki loby.
"Pak tolong bawa anak ini, katanya didalam gedung ini ada keluarga besarnya," kata pria paruh baya itu kepada satpam.
"Iya Pak, Leon ingin bertemu Uncle serta Oma, Opa," cicit Leon sembari melihat sana sini. Bocah tampan itu berharap disekitarnya ada orang yang sedang dicarinya.
"Di sini banyak orang Adik kecil. Jika boleh tau siapa nama keluarga Adik kecil?" tanya satpam dengan sabar.
"Januar Paman, ya Uncle Moses Januar," jawab Leon seakan hafal nama Moses.
Deg
Satpam membulatkan mata mendengar nama itu disebutkan.
"Apa Januar?" ujarnya.
"Nama Adik kecil siapa?"
"Leon Hugo,"
__ADS_1
"Apa?" sekali lagi membuat mata satpam melotot karena ternyata dia sedang berhadapan bukan dengan orang sembarangan.
"Cepat Paman tolong antar Leon. Mommy dalam bahaya," cicit Leon dengan polosnya.
"Bahaya?" sang satpam mencerna perkataan Leon.
"Cepat Paman," Leon menarik-narik baju sang satpam.
"Tolong antar Pak sepertinya anak ini ketakutan," ucap pria paruh baya yang masih berdiri di samping Leon.
"Kakek terima kasih. Nanti Leon akan memberitahu Mommy atas bantuan Kakek," ucap Leon sebelum meninggalkan loby.
Satpam mengantar Leon dengan mengandeng tangannya menuju lantai dimana keberadaan keluarga Januar.
"Paman masih jauh kah?" tanya Leon ketika didalam lift. Sungguh dia tidak sabar ingin bertemu dengan keluarganya karena aku dalam bahaya.
"Ini kita menuju ruang sidang, dimana keberadaan keluarga Tuan muda," sahut satpam dengan formal.
Ting
Pintu lift terbuka
Dengan cepat sang satpam menuntun Leon memasuki ruang sidang, untung saja pintunya belum tertutup. Itu berarti sidang belum dimulai.
"Tuan muda, Paman hanya bisa mengantar sampai di sini karena Paman tidak boleh masuk," kata satpam kepada Leon.
"Terima kasih Paman atas bantuannya. Leon akan memberitahu Mommy nanti atas kebaikan Paman sudah membantu Leon," cicit Leon serupa dengan pria paruh baya tadi.
Sang satpam tersenyum lalu segera meninggalkan tempat itu. Tetapi terlebih dahulu dia memberitahu petugas yang menjaga pintu ruang sidang sehingga memudahkan untuk Leon masuk kedalam.
°°°°°°
"Sayang Abel kemana, kenapa tidak menjawab panggilan Mama?" keluh Mama sejak tadi.
Mendengar keluhan Mama membuat Papa melakukan hal yang sama, mencoba menghubungiku tetapi hasilnya nihil.
"Ada apa Pa, Ma?" tanya Moses ketika menyadari kekhawatiran Papa sama Mama.
"Kakakmu kenapa tidak mengangkat panggilan Mama maupun Papa," sahut Mama dengan wajah panik bahkan pandangannya tidak lepas di pintu.
Moses langsung mengubah posisi duduknya. Lalu segera mengecek ponselnya, mencoba menghubungi aku. Sambungan tersambung tetapi tidak diangkat.
"Mungkin masih dalam perjalanan Ma. Maklum jalanan padat, mungkin saja terjebak macet," ujar Moses bermaksud menenangkan kedua orang tuanya.
Papa kelihatan tidak baik-baik saja. Sedangkan Mama masih berusaha untuk menghubungiku.
Tidak berselang lama Alfred muncul.
"Pa, Ma," sapa Alfred sembari memeluk mereka bergantian. "Istriku mana Ma?" karena tidak melihat kehadiranku di sekitar mereka, akhirnya Alfred bertanya.
"Kamu tenang sayang, mungkin mereka masih dalam perjalanan karena mereka berangkat dari kantor," ucap Mama berusaha menenangkan Alfred.
Mendengar keterangan dari Mama membuat tubuh Alfred langsung menegang. Seketika mimpinya tadi malam terlintas dalam ingatannya, ketakutan atau kepanikan memenuhi benaknya.
"Kenapa dibiarkan Ma, itu sangat bahaya," lirih Alfred dengan nafas turun naik. Ada perasaan takut yang luar biasa.
"Tenang Nak, mereka akan baik-baik saja," ujar Papa.
__ADS_1
"Mereka? apa Abel bersama anak-anak?" tanya Alfred semakin takut.
"Bersama Leon, sedangkan si kembar tinggal di rumah," sahut Papa.
"Sidang dimulai!"
Dengan hati panik mereka terpaksa duduk ketempat masing-masing.
"Tuhan aku mohon jaga istri dan anakku," Alfred berdoa dalam hati dengan perasaan takut.
Sidang dimulai. Alfred memberi kesaksian didepan dengan tidak konsen karena separuh jiwanya tertuju kepadaku.
"Mohon konsentrasi saudara Alfred Hugo," peringatan dari hakim ketua karena Alfred tidak berkonsentrasi membacakan kesaksiannya.
"Daddy," panggil Leon sembari berlari.
Semua mengalihkan perhatian kepada Leon, bahkan Alfred menghentikan kesaksiannya atas panggilan Leon.
"Leon," panggil mereka serentak.
Moses langsung berdiri mengejar Leon yang tengah berlarian ke depan untuk mendekati Alfred.
Huh....huh....
"Uncle huh....Uncle, Mommy titip ini," ucap Leon dengan nafas memburu sembari merogoh kantong celananya, lalu menyodorkan benda kecil itu kepada Moses.
"Memory card," gumam Moses sembari memegang benda itu. "Mommy mana?" tanya Moses.
"Mommy, Mommy. Ini pemberian Mommy, katanya harus dilihat," ucap Leon masih dengan nafas memburu.
Alfred sudah tidak tahan akhirnya turun dari tempat kesaksian, lalu bergegas menghampiri Leon.
"Leon, Mommy mana? Mommy mana?" tanya Alfred bertubi sembari mendekap kedua bahu Leon.
"Mommy....hiks hiks...." Bukannya menjawab Leon malah menangis.
Mama ikut bangkit lalu menghampiri Leon.
"Sayang tenang. Ada apa sebenarnya? kenapa dengan lutut Leon?" tanya Mama sembari menenangkan Leon.
"Sebaiknya kita lihat apa yang ada dalam memory card ini," ujar Moses dengan lantang.
Seketika perhatian semuanya ke depan monitor.
Deg
Semua membulatkan mata melihat isi rekaman itu. Sehingga membuat keluarga bernafas lega. Semua bukti kejahatan terekam di sana.
Sidang belum usai karena keluarga lebih mementingkan pertanyaan kepada Leon. Dengan perlahan Leon menceritakan kronologi kejadian dari awal sampai akhir.
Deg
"Apa?" seru mereka serentak.
Semua terkejut, bahkan Mama tidak sadarkan diri. Alfred maupun Moses mengeram dan tanpa menunggu lama mereka segera keluar untuk mencari diriku.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪