
Tantangan perlombaan menurutku tidaklah sulit karena hampir setiap pagi inilah bekal untuk Leon ke sekolah. Dengan semangat aku mencari ide karakter yang cocok untuk tema ini. Sedangkan Leon sama sekali tidak bereaksi padahal dari rumah semangatnya tadi pagi masih aku ingat sebelum berangkat ke sekolah.
"Lebih baik kamu mengundurkan diri Leon, kamu tidak akan menang karena hanya berdua saja. Mana Daddy kamu yang katamu akan datang?" cicit teman Leon kiri kanan belakang.
Aku menelan ludah, dengan ujung mata melirik Leon yang seperti menahan tangis.
"Tuhan tolong antar Daddy sekarang juga," doa Leon.
"Anak-anak manis atas dasar apa kalian menyuruh Leon mundur? kalah menang bukan patokan untuk mengikuti perlombaan ini tetapi dasarnya ingin belajar dan mendapat pengalaman," ucapku selembut mungkin. "Hmmm masalah kedatangan Daddy Leon? itu Daddynya Leon Aru datang," imbuhku seketika menyadari sosok pria tampan serta gagah berjalan melewati barisan kursi.
"Daddy...! Hore.....Daddy Leon datang, Daddy Leon datang," sorak Leon sembari lompat-lompat.
Semua mata melihat kearah Alfred yang tiba-tiba datang begitu saja, bahkan pihak sekolah ikut kaget karena mereka tidak mengundang sang pemilik yayasan.
"Daddy?" seru orang tua murid di sekitarku. "Bukankah itu Tuan Hugo sang pemilik yayasan?" bisik mereka. Diam-diam aku tersenyum.
Karena tidak sabar, Leon langsung berlari menyambangi Alfred yang masih berjalan dengan elegan.
"Daddy.....kenapa Daddy sangat lama?" cicit Leon ketika sudah berasil menjangkau tubuh Alfred.
"Maaf son terjebak macet. Hmmm apa acaranya sudah berakhir?" tanya Alfred langsung mengendong Leon dengan posisi depan menyamping.
"Belum dimulai Dad, itu Mommy sudah berdiri di sana," sahut Leon sembari menunjuk ke arahku.
Semua tercengang, membeku dengan tidak percaya melihat tontonan di depan mata mereka.
Alfred membawa Leon mendekati meja yang aku tempati.
"Sayang maaf terlambat, sempat terjebak macet," ujar Alfred kepadaku sembari memberi kecupan di keningku, itu membuat aku malu.
Perlakuan Alfred membuat semua orang bungkam dan bertanya-tanya.
"Lihat ini Daddy Leon, tampan bukan? bahkan ketampanan Daddy Leon tak tertandingkan dengan Daddy kalian. Daddy Leon bertubuh tinggi tegap, sedangkan Daddy kalian perutnya buncit," seru Leon seperti ejekan atau sindiran.
"Sayang tidak boleh begitu, itu tidak baik," ucapku memberi pengertian kepada Leon.
"Biar saja Mom, selama ini mereka mengejek Leon," cicit Leon saatnya balas dendam.
Aku minta maaf kepada orang tua murid atas ucapan Leon yang tidak sopan.
"Sayang tidak perlu minta maaf, mereka pantas mendapat serangan balik Leon," seru Alfred dengan suara lantang yang pastinya didengar semua orang.
Aku menghela nafas panjang. Bukannya menasehati Leon, malah Alfred semakin menjerumus. Sungguh aku merasa tidak enak hati.
Orang-orang yang tadinya merendahkan kini pucat pasi tak berkutik, bahkan sebagian dari mereka hanya bisa menunduk.
"Son kamu benar ketampanan Daddy tidak ada yang mampu menyaingi," ujar Alfred.
" Ada, Uncle Moses Dad."
__ADS_1
Jleb
Seketika Alfred menelan ludahnya mendengar jawaban Leon. Dalam diam aku terkekeh.
"Son itu karena Uncle masih muda, sedangkan Daddy sudah memiliki tiga anak," elak Alfred tidak setuju dibandingkan dengan Moses.
"Oh begitu," cicit Leon mengangguk-angguk.
"Sayang hentikan! Lihat kita menjadi tontonan," bisikku sembari mencubit lengan Alfred.
"Anggap saja mereka semua benalu sayang," ujar Alfred yang bahkan peserta di samping belakang mendengarnya.
Huh....
Aku pasrah karena tidak ada gunanya, yang ada malah menambah semakin runyam.
"Selamat pagi siang Tuan," sapa pihak sekolah.
Alfred angkat tangan karena saat ini bukan waktunya memperkenalkan status mereka.
"Bu sebaiknya perlombaan segera dimulai," ujarku karena tidak ingin membuang waktu.
Alfred tersenyum gemas kepadaku.
"Masak apa?" tanya Alfred.
"Sushi Dad, dengan hiasan karakter bebas," sahut Leon.
Seketika aku terharu mendengar cerita Alfred.
"Jangankan membuat sushi, membuat sosis bermacam rasa saja aku handal," kataku membanggakan diri.
"Sayang kamu sangat mezvm," bisik Alfred bahkan sempat mengigit daun telingaku. "Sosis milikku tidak ada yang dapat menyaingi dari sosis-sosis yang kamu sebutkan, bahkan rasanya membuat kamu ketagihan, melayang ke awang-awang dan sangat nikmat, bahkan tidak bisa kmu lupakan," bisik Alfred kembali.
Mataku membulat seketika menyadari ucapanku yang salah diartikan oleh Alfred.
Aaak....
Teriakku tanpa sadar!
"Maaf," lirihku seketika menyadari.
Alfred kembali terkekeh.
°°°°°°
Batas waktu hanya 20 menit sehingga kami mempergunakan waktu itu sebaik mungkin. Kami sepakat membuat sushi melambangkan bendera negara setempat karena besok adalah hari kemerdekaan republik Korea Selatan.
Itu adalah ide cemerlang dari Leon. Bahkan aku sempat ingin membuat karakter hewan.
__ADS_1
Alfred serta Leon sangat aktif membantu sehingga memudahkan menghiasi sushi yang terdapat isian daging, telur, sosis serta sayuran yang serupa dengan warna bendera.
Semua antusias sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Sayang minum dulu," Alfred menyodorkan air mineral ke bibir mulutku.
"Terima kasih sayang," ucapku sembari tangan ini sibuk.
"Mom sangat indah. Kita pasti juara 1," ucap Leon sangat yakin.
"Tentu son. Kehebatan Mommy tidak ada yang bisa menandinginya," sahut Alfred juga merasa yakin jika karya mereka yang akan juara 1.
"Kalah menang tidak masalah sayang, yang penting kita sudah berusaha," ucapku dengan persiapan terakhir.
"Sip Mom."
"Finis!"
Waktu yang ditentukan usai sehingga membuat kami dipersilahkan duduk di kursi barisan. Sekarang giliran tahap kedua.
Waktu berjalan begitu cepat, sehingga ini saatnya pengumuman. Semua peserta keliatan tegang kecuali Leon. Sungguh Leon sangat percaya diri dan sangat yakin jika karya kami yang menjadi juara 1.
"Juara harapan dengan skor nilai 980 jatuh kepada tema karakter boneka panda."
"Juara tiga dengan skor nilai 1350 jatuh kepada tema karakter mobil patroli."
"Juara dua dengan skor nilai 1880 jatuh kepada tema karakter superhero."
Tepuk tangan memenuhi lapangan. Peserta yang merasakan itu karya mereka maju ke depan. Bahkan para juri tidak tau siapa yang memiliki karya tersebut karena sesuai peraturan tidak boleh diketahui, jadi semuanya ini murni.
"Sayang sepertinya kita tidak menang," ujar Alfred sedikit kecewa.
"Harap tenang Dad. Kita pasti juara, Leon yakin itu," ucap Leon dengan tenang.
"Keunggulan karya ini sungguh luar biasa. Ide yang cemerlang, bahkan dari 50 peserta karya ini yang lain dari pada yang lainnya. Sehingga para juri sepakat karya ini yang menjadi juara satu." Keterangan dari pembawa acara.
"Juara satu dengan skor nilai 2850 jatuh kepada tema bendera republik Korea Selatan. Kami persilahkan maju ke podium."
Deg
Aku bahkan Alfred kaget sedangkan Leon bersorak. Semua orang tercengang. Alfred menuntun kami maju ke podium.
"Selamat Tuan, Nyonya. Kami tidak pernah tau jika juara satu adalah karya keluarga Tuan, sekali lagi kami seluruh dewan guru mengucapkan selamat atas karya yang luar biasa," ucap pembawa acara panjang lebar.
"Terima kasih. Ini adalah ide cemerlang dari istriku, karena besok adalah hari bertepatan memperingati kemerdekaan republik negara kita tercinta ini," ungkap Alfred.
"Hore....Leon menang," Leon loncat-loncat girang.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪