
Mata Rebecca memanas melihat hal yang menyakitkan itu. Hatinya serasa ditusuk ribuan jarum.
"Dek kamu tidak ingin mencium Keenan?" bisik Leon tetapi masih didengar jelas oleh Keenan.
Rebecca menatap Leon sekilas seraya menggeleng berat. Bagaimana mana mungkin ia berani melakukan itu, walaupun mereka adalah saudara. Tetapi rasa canggung tentu saja menyelimuti hatinya.
Rebecca tau betul jika mereka bukanlah saudara kandung sejak ia menduduki kelas 4 sekolah dasar. Dari situ Rebecca mulai menyukai Keenan. Bisa dikatakan cinta monyet.
"Kakak aku duluan ke hotel yah? tiba-tiba aku merasa mengantuk sekali, mungkin pengaruh perjalanan tadi karena aku tidak bisa tidur sepanjang perjalanan," ucap Rebecca.
"Jadi rencana kita bagaimana dong?" tanya Leon karena sebelumnya Rebecca menyusun rencana tetapi penuh misteri jadi ia tidak tau betul rencana apa itu.
"Lupakan saja karena itu tidaklah penting. Kak Ken sekali lagi happy birthday, maaf tidak ada kado dariku hmm itu tidak penting bukan?" sindir Rebecca seraya tersenyum miris. Senyuman mengembang itu tak sejalan dengan hatinya saat ini.
Keenan tak bergeming. Pria irit bicara itu hanya dapat memandangi Rebecca yang mulai membawa kakinya meninggalkan tempat pesta.
Kedua pria tampan itu memandangi Rebecca sampai menghilang.
"Sangat aneh? biasanya paling heboh sejagat tetapi kini seakan bukan dirinya. Apa kamu tau Ken? Adik cerewet kita itulah yang menyusun rencana mengadakan ulang tahunmu. Sebelum berangkat dia sangat semangat sekali tetapi tiba-tiba di sini seakan berbanding balik. Ada apa dengannya? sikapnya kepadamu juga sangat berbeda, bukankah selama 5 tahun kalian tak bertemu? seharusnya dia melepas rindu denganmu. Secara dia paling peduli serta perhatian denganmu," pungkas Leon panjang lebar menceritakan reaksi Rebecca sebelumnya.
"Apa? anak manja itu yang merencanakan pesta ini?" ujar Keenan seraya merubah raut wajahnya.
"Santai saja kali," protes Leon karena melihat keterkejutan di wajah Keenan.
"Kamu pun terlalu dingin kepadanya. Tidak berubah dari dulu, padahal dia selalu mengkhawatirkan tentang dirimu," imbuh Leon dengan polosnya. Bisa dikatakan tidak tau apa-apa.
Hmm
"Kalian menginap di hotel mana? kenapa tak langsung ke apartemen?" tanya Keenan.
"Hotel x. Bukankah apartemen milikmu hanya 1 kamar? makan kami memilih menginap di hotel saja," pungkas Leon.
__ADS_1
"Maaf aku agak lama honey, tadi tak sengaja saling ngobrol dengan yang lainnya. Oya Rebecca mana?" tanya Sunny yang baru saja kembali dari toilet.
"Dia tidak enak badan jadi lebih dulu kembali ke hotel," terang Leon.
"Oh," gumam Sunny hanya ber oh ria dengan mulut berbentuk huruf O.
Acara masih berjalan. Bahkan ada yang menyumbangkan lagu serta ada juga pasangan yang berdansa.
Sunny menawarkan tetapi Keenan menolaknya karena kegiatan macam itu tak penting baginya. Dengan raut wajah kecewa Sunny berusaha menyembunyikannya.
Kekasihnya ini bukanlah pria seperti pada umumnya ya g bisa romantis. Jangan berpikir selama 2 tahun ini mereka menjalin hubungan dengan keromantisan sebagaimana pasangan kekasih.
Keenan adalah pria irit bicara serta dingin. Ia juga terlalu cuek dengan hal-hal kecil yang menjurus menentang.
Tetapi rasa sayang kepada Sunny tidak dapat ia tutupi. Ia memang menyayangi Sunny.
°°°°°°
Tangisan pilu memecah keheningan dalam kamar mewah itu.
Sejak kepulangan dari cafe. Rebecca langsung melemparkan dirinya di atas kasur. Tangisan yang tadi berusaha ia tahan kini pecah seketika.
Bagaimana tidak? orang yang ingin ia temui ternyata membuat tujuannya hancur. Tujuan dimana ia ingin menyatakan perasaannya kepada pria itu.
Selama 5 tahun mereka tak pernah bertemu, bahkan bertatap muka dalam bentuk apapun karena Keenan selalu menghindar.
Rebecca sungguh bodoh tak dapat menyadari hal itu. Wanita yang dijuluki paling cerewet serta manja di keluarga Hugo ini tetap berjuang untuk mendapat misi awalnya yaitu misi mendapatkan cinta seorang Keenan.
Pepatah lama memang ada yang pernah bilang cinta itu buta. Artinya anda merasa sangat mencintai pasangan sampai rela melakukan apa saja demi dirinya, tanpa memedulikan diri sendiri.
Itulah yang dirasakan Rebecca. Selama ini ia sudah berjuang sampai memperdulikan dirinya sendiri dibandingkan kasi perhatian untuk Keenan. Tetapi semua itu tidak pernah ditanggapi oleh Keenan.
__ADS_1
Seperti setiap hari Rebecca akan mengirim pesan hanya mengingatkannya. Jangan lupa makan dan baik-baik di sana. Pesan kedua kalimat ini tidak pernah putus sejak Rebecca sudah di izinkan memiliki ponsel pribadi.
Jangan kira semua pesannya itu di balas. Centang biru memang tertera tetapi sedikitpun hati beku Keenan tak mencair.
Rebecca mendudukkan dirinya, seraya menyeka air matanya. Pandangannya jatuh pada paper bag di atas lantai yang ia lemparkan tadi. Itu adalah hadiah untuk Keenan.
Dengan tubuh lunglai Rebecca meraih paper bag tersebut, lalu membuka kasar bungkus kotak itu. Ini adalah cara ia menunjukan hatinya sedang terluka, dengan tidak langsung melimpahkan ke hadiah tersebut.
"Tujuan aku memberikan simbol dasi ini bermaksud ingin mengikat cintamu, agar tidak jatuh dalam pelukan orang lain. Tetapi aku terlambat memberikannya, orang lain lebih mendahului aku," lirih Rebecca kembali meneteskan air mata seraya menatap pilu dasi warna hitam polos itu. Dasi dengan harga fantasi yang sengaja ia beli ketika ke luar negeri untuk kegiatan kampus.
Dengan perasaan perih Rebecca meremas dasi itu lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
"Aku memang bodoh, sangat berharap hal yang tak pernah terjadi," gumam Rebecca. Tidak lama ia terkekeh menertawai dirinya sendiri. "Sadar Eca, kamu sama sekali tidak penting dalam hidupnya. Sadarlah ketika kekasihnya tak mengenali siapa Rebecca, itu sudah sangat jelas bahwa secuil pun dia tidak menceritakan dirimu," lirih Rebecca seraya terkekeh pilu sembari memegang dadanya yang amat terasa sesak.
Bibir itu bergetar menahan tangis pilu. Sungguh hatinya seakan di sobek perlahan sehingga lambat menghilang.
**
"Kenapa kalian merahasiakan kepadaku bahwa Kak Ken sudah memiliki kekasih? bahkan sudah menjalin hubungan selama 2 tahun? apa kalian ingin mempermalukan diriku sendiri?" lirih Rebecca seakan menyalahkan keluarganya. "Daddy, Mommy apa kalian mengetahuinya?" imbuh Rebecca karena mereka sangat mendukung rencana dirinya menyusul Keenan.
Apakah mereka sengaja menunjukan pertunjukan ini? agar ia sadar bahwa selama ini ia salah mencintai.
"Eca sakit, kecewa, terluka Mommy..... Kak Keenan mencintai orang lain. Ia sama sekali tidak melihat sosok Eca yang selalu memberi perhatian. Apa salah jika Eca menyukai Kakak sendiri? tidak salah bukan? karena kami bukanlah saudara kandung. Jangan salahkan Eca tetapi salahkan cinta ini," lirih Rebecca dengan pilu.
Mencintainya ibarat bermain hujan, awalnya senang dan kemudian sakit.
Hasrat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Ingin mencapai sesuatu sayangnya syaratnya untuk itu tak ada atau tidak dipunyai.
"Rasanya ingin gila karena sibuk berperang dengan isi hati."
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪