MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 78. Mezvm


__ADS_3

Kini kami tiba di pemakaman elit, tepatnya berdiri di pusara kedua mertuaku.


Aku menggendong Keenan, sedangkan Kiran dalam gendongan Alfred.


"Dad, Mom aku datang. Kali ini aku tidak datang sendiri tetapi memboyong keluarga kecilku. Aku minta maaf karena baru membawa mereka. Ini wanita yang aku nikahi sewaktu meminta restu, dan ketiga ini adalah cucu-cucu kalian," ungkap Alfred dengan mata berkaca-kaca. "Lihat Dad, Mom wajah si kembar fotocopy dengan wajah putra kalian," imbuhnya sembari menatap Keenan dan Kiran bergantian.


Aku tercengang mendengar apa yang Alfred katakan. Meminta restu? jadi Alfred meminta restu sebelum pernikahan mendadak itu terjadi?.


"Menantu kalian adalah wanita sempurna, bukan hanya sekedar cantik tetapi dia wanita luar biasa. Wanita berhati bak malaikat, seandainya kalian masih hidup maka kebahagiaan ini semakin lengkap," ucap Alfred sembari mengusap pucuk kepalaku.


Aku kembali terenyuh melihat kesungguhan Alfred. Sungguh hati pria itu pasti terluka atas kepergian keluarganya. Untuk itu aku berjanji akan memberi kebahagiaan untuk dirinya dan tidak akan merasa sendiri lagi.


"Sayang sapa Daddy sama Mommy," ujar Alfred sembari menyeka air matanya. Dia memang pria tegas dan berwibawa tetapi percayalah hatinya tak sekeras penampilannya. Jika itu menyangkut orang-orang yang dia sayangi maka benteng kekuatannya runtuh.


Aku mengangguk sembari mengusap punggung Alfred. Sedangkan Leon hanya duduk bungkam, begitu juga dengan Keenan maupun Kiran mereka asik saja dalam gendongan, mungkin mereka paham dengan situasi saat ini.


"Salam kenal Dad, Mom. Maaf baru bisa mengunjungi kalian. Terima kasih karena sudah melahirkan suami untukku, suami yang akan menua bersamaku," ungkapku berusaha tersenyum. "Aku menyayangi dan mencintainya seperti rasa cinta kalian untuknya," imbuhku.


"Lihatlah apa yang aku katakan benar. Menantu kalian adalah wanita atau istri yang luar biasa," imbuh Alfred memuji diriku.


Aku menghela nafas panjang. Wanita mana yang tak tersanjung mendapat pujian luar biasa itu, apa lagi itu dari orang yang kita cintai.


"I love you.... " Goda Alfred.


"I love yau too...."


Seketika wajahku bersemu merah. Alfred ingin mencium tetapi dengan cepat aku hindar karena situasinya tidak mendukung, apa lagi di depan Leon. Alfred berdecak kesal tetapi itu hanya kepura-puraan saja.


"Sayang sapa Opa sama Oma," kataku kepada Leon yang sedang asik merekam kami lewat ponsel milikku. Aku sengaja memberi ponsel itu hanya untuk membuat Leon tidak bosan.


Leon langsung menghentikan rekamannya lalu segera menyerahkan ponsel itu kepadaku.


"Halo Opa....Halo Oma....! Perkenalkan ini Leon, putra sulung Daddy sama Mommy. Leon memiliki Adik kembar yaitu Keenan dan Kiran. Opa sama Oma tenang di atas ya? Leon akan berjanji untuk menjaga Daddy, Mommy, Keenan, Kiran karena Leon anak tertua," pungkas Leon begitu lucunya aku lihat.


"Sayang sepertinya anak ini kebanyakan nonton sinetron yang tayang di Ikan Terbang," ujar Alfred karena tata bicara Leon diluar usianya.


"Iya Dad, Leon sering nonton sinetron yang ada ikan terbangnya lewat ponsel Mommy," cicit Leon menjawab pertanyaan Alfred.


Aku mengusap kening mendengar kejujuran Leon.


"Sayang bahaya, untung saja itu bukan drakor yang ada adegan hotnya," bisik Alfred ingin menggoda. "Mulai sekarang kamu ganti koleksi drakor, itu untuk pemanasan atau persiapan nanti ketika kita honeymoon," goda Alfred kembali.


Puk

__ADS_1


Tanpa ingin mendengar lebih dalam lagi, tanganku membungkam mulut mezvm itu. Bisa-bisanya Alfred bercanda di pusara kedua orang tuanya.


"Mom kenapa menutup mulut Daddy? Daddy sulit untuk bernafas," cicit Leon yang tidak tau apa-apa.


"Biarkan saja sayang, mulut Daddy pantas dibungkam agar tidak disengat lebah," sahutku asal.


"Asalkan lebah itu menyengat di....."


"Leon sayang sebaiknya kita segera pulang," aku langsung memotong ucapan Alfred.


Hahaha....


Alfred tertawa lepas melihat tingkahku yang menurutnya mengemaskan. Seketika aku membeku melihat atau mendengar tawa lepas Alfred. Di wajah serta pancaran matanya menandakan kebahagiaan.


"Ada apa?" seketika Alfred menghentikan tawanya setelah menyadari tatapanku.


Aku menggeleng sembari menyunggingkan senyuman. Alfred langsung mengusap pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.


Kami meninggalkan pemakaman setelah berpamitan kepada mendiang kedua mertuaku serta mendiang Adik iparku.


°°°°°°


Keesokan hari


"Sayang aku akan ke kantor dulu, aku akan menyusul setelah jam perlombaan di mulai," ujar Alfred sembari merekatkan arloji di pergelangan tangan.


"Baiklah.Jika sibuk tidak perlu dipaksakan," ucapku sembari membersihkan sepatu yang akan digunakan Alfred.


"Tentu saja aku mengusahakan itu. Aku tidak ingin mengecewakan Leon, selama ini bocah itu sudah terlalu sabar di bully dan ini saatnya untuk dia membuktikan," sambung Alfred.


"Terima kasih sayang, sudah menerima keberadaan Leon ditengah keluarga kita," ucapku sangat terharu.


Alfred mengangguk diiringi senyuman.


"Aku berangkat dulu, nanti supir akan menjemputmu. Jaga baik-baik dirimu."


Cup


Alfred mengecup kening dan terakhir bagian yang membuatnya candu.


Sumpah aku sangat bahagia. Walau dari awalnya dihujani oleh tangisan air mata terus-menerus. Buah kesabaran tidak mengkhianati hasil.


Selepas kepergian Alfred aku kembali masuk kedalam untuk bergabung dengan kedua orang tua serta si kembar. Ya Papa sama Mama belum kembali ke Indonesia karena kami cegah. Karena Alfred akan mengadakan pesta.

__ADS_1


°°°°°°


Kini aku berada di gedung yayasan sekolah milik keluarga kami. Aku langsung bergegas menuju PAUD/TK yang terdapat di lantai dasar.


Di sana sudah dipadati oleh orang tua anak didik. Mungkin aku yang terakhir datang.


"Mom...." Panggil Leon seketika menyadari kedatanganku, sejak tadi bocah itu mondar-mandir menunggu kedatanganku.


"Sayang apa Daddy belum datang?" tanyaku sembari mengedarkan pandangan mencari sosok Alfred.


"Daddy belum datang Mom, padahal acaranya mau dimulai," jawab Leon dengan tidak semangat, apa lagi tadi dia sempat memamerkan kepada teman-temannya bahwa nanti Daddynya datang.


"Perhatian kepada Bapak/Ibu acara akan dimulai, jadi harap tenang dan duduk ditempat masing-masing." "Lomba akan dibagi dua tahap. Untuk tahap pertama akan kami panggil,"


Aku berusaha menghubungi Alfred tetapi tidak aktif.


"Daddy mana Mom?" tanya Leon seperti ingin menangis.


"Tenang sayang, Daddy mungkin masih dalam perjalanan," ucapku berusaha menenangkan Leon, padahal aku sendiri juga tidak tenang.


"Leon!" Ternyata nama Leon dipanggil, itu artinya dia masuk tahap pertama.


"Ayo sayang," aku mengajak Leon segera bangkit menuju meja yang sudah disiapkan untuk memasak.


Dengan langkah gontai serta wajah kecewa Leon mengikutiku.


"Huh.....katanya Daddynya sayang, tapi mana?" seruan teman-teman Leon mengejek.


Aku mengepalkan tangan mendengar mereka mengejek Leon.


"Jeng suaminya kemana?" tanya orang tua tepat di samping meja kami. Tentu saja tidak ada yang mengenali siapa statusku di sini, bahkan guru-guru pun tidak tau.


"Mungkin masih dalam perjalanan Nyonya," sahutku singkat.


"Tema lomba kali ini adalah membuat sushi karakter bebas."


"Hore....." Sorak anak-anak kecuali Leon.


"Sayang segeralah datang, lihat putra kita tak semangat," aku membatin.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪

__ADS_1


__ADS_2