MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Bab. 26. Alfred Panik


__ADS_3

Menjelang petang aku belum juga pulang ke rumah. Itu membuat Alfred gelisah, bahkan sejak sepulang dari kantor mondar-mandir di ruang keluarga.


"Dasar bodo* kemana dia pergi? sangat merepotkan. Apa yang menjadi alasanku jika Papa sama Mama kembali menghubungi," oceh Alfred mengumpat marah kepadaku.


Rasa takut menghantui perasaan Alfred. Sehingga pikiran negatif bermacam-macam muncul di benaknya. Alfred bahkan terus-terusan menghubungi Andre hanya menanyakan dimana keberadaanku.


Berulang kali Andre menjawab belum menemukan keberadaaku sehingga membuat Alfred mengamuk dan menyumpahi Andre dengan bermacam kata kasar.


["Tidak bisa diandalkan. Cari satu wanita saja tidak becus, apa kalian sudah bosan bekerja denganku? hah?"]


Entah untuk kaki tangan yang keberapa kata ini dilayangkan Alfred.


Aaak...


Alfred mengusap wajah merasa frustasi.


"Ada apa denganku? kenapa aku sangat mengkhawatirkan wanita itu? seharusnya aku senang melihat penderitaannya," gumam Alfred sesaat.


°°°°°°


Di pasar


Sesuai tujuan truk itu aku turun di pusat pasar sayur tradisional.


"Pak saya tidak memiliki uang karena tas milik saya tinggal di mobil sewaktu saya menyetop truk ini," lirihku dengan wajah takut-takut kepada tiga pria itu.


Ketiga pria itu saling memandang dengan masing-masing mengangkat bahu mendengar ucapanku.


"Bagaimana sebagai imbalannya saya membantu Bapak-bapak mengangkut sayuran ini?" aku memberanikan minta penawaran.


Sang supir mendekat sehingga membuat rasa takutku semakin menjadi, padahal di sana ramai.


"Tidak perlu Nona. Lebih baik Nona pulang ke rumah karena ini bukanlah tempat Nona," kata sang supir sembari memperhatikan diriku.


Tentu saja aku kaget tak menyangka mendengar perkataan itu. Sungguh aku sudah salah paham menilai tiga pria ini.


"Terima kasih Pak tetapi izinkan saya untuk membantu Bapak-bapak terlebih dahulu," pintaku seperti memohon. Sekali lagi membuat ketiga pria itu saling memandang dan menyetujui permintaan tulusku.


Aku mengembangkan senyuman setelah mendapat izin untuk membantu. Awalnya sangat sulit karena ini bukanlah pekerjaanku, bahkan ini pertama kali bagiku menginjakan kaki di pasar tradisional yang penuh bau tak sedap serta berbaur dengan bermacam orang. Maklum saja karena aku terlahir dari keluarga miliarder.


Aku memapah keranjang sayuran untuk di berikan kepada agen-agen tetap Pak Sam pemilik kebun yang tak lain sang supir.


Mereka terkekeh menertawai caraku, tetapi itu membuat rasa lelah mereka sedikit terobati.


Tiba-tiba langkahku terhenti melihat siapa sosok di hadapanku yaitu adalah Andre. Aku membuang muka dan tentunya mengomel dalam hati.


"Nona sebaiknya segera pulang, ini bukan tempat Nona," ujar Andre.


"Tidak perlu ikut campur Andre," sahutku dengan cuek.


"Tentu saja aku ikut campur Nona karena ini urusan yang harus aku jalani. Tuan memerintahku untuk menjemput Nona,"


"Bilang saja aku sudah mati,"


"Tuan khawatir karena Nona belum juga kembali ke rumah,"


Aku terkekeh mendengar lelucon Andre.


"Yang ada Tuanmu senang Andre, bahkan saat ini merayakan kemenangannya bersama istri pertamanya," lirihku seketika tatapan serta wajahku berubah menjadi sendu. "Jangan mengangguku Andre," aku memohon agar Andre pergi.


"Dasar keras kepala, dua-duanya memiliki watak yang sama," rutuk Andre.


"Tentu saja berbeda Andre. Tuanmu adalah pria kejam," protesku tidak setuju dengan perkataan Andre.

__ADS_1


"Itu semua ada alasannya Nona," elak Andre.


Aku terdiam, seketika lidahku keluh mendengar apa yang Andre katakan. Ya itu semua benar.


"Aku ingin di sini jadi biarkan aku beberapa jam menghirup udara bebas. Tidak perlu takut karena aku tidak akan kabur, ancaman Tuanmu mengikat diriku sehingga tidak mungkin lepas," lirihku dengan wajah sendu.


Selepas kepergian Andre aku kembali ke mobil truk.


"Nona lebih baik istirahat," kata Pak Sam sembari melambaikan tangannya kepadaku.


"Bentar Pak tinggal satu lagi teriaku karena jarak kami cukup jauh.


Pak Sam menggelengkan kepala melihat kegigihanku.


Setelah selesai kami diajak Pak Sam kesebuah rumah makan yang letaknya di luar area pasar tradisional. Nyaman bersih itulah yang tergambar di rumah makan itu.


"Nona silahkan ingin pesan apa?" suara bariton Pak Sam menyadarkan aku.


"Pak saya tak punya uang," sahutku dengan jujur.


"Mbak disamakan saja, empat porsi," ujar Pak Sam kepada pelayan.


"Baik Pak harap tunggu sebentar," balas sang pelayan.


"Nona tenang saja biar hari ini Bapak yang traktir hmm berkat bantuan Nona, rezeki hari ini dua kali lipat," ujar Pak Sam sembari mengipas lembaran uang senilai 100 ribu.


"Nona membawa keberuntungan," timpal anak buah Pak Sam.


Aku tersenyum terharu mendengar orang asing memperdulikan aku.


Sembari menunggu pesanan datang mereka bertanya bagaimana aku bisa berada di area tadi. Aku menceritakan intinya saja sehingga mereka paham.


"Bu dokter," gumam salah satu anak buah Pak Sam yang suka ngelawak.


Tidak sulit untukku karena aku hafal nomor telepon Pak Seun supir langgananku. Aku meminjam ponsel Pak Sam untuk menghubungi Pak Seun.


Aku bukan langsung pulang ke rumah tetapi tujuan utamaku adalah ke apartemen Yuen. Aku tau jika Yuen membawa Leon. Aku merasa bersalah kepada Leon karena sudah mengabaikannya, apa lagi tidak memberi kabar karena di tempat kami terjebak tidak ada jaringan.


Kini mobil milik Pak Seun memasuki basemen apartemen. Aku minta Pak Seun untuk menunggu karena sepulang dari sini aku langsung pulang ke rumah.


Tok tok


Aku mengetuk pintu apartemen Yuen, semoga saja si gendut Yuen sudah pulang dari rumah sakit.


"Siapa?"


"Ini aku dokter Abel," sahutku di monitor.


Klek


Pintu terbuka.


Yuen mempersilahkan aku masuk sembari memperhatikan penampilanku yang kucel.


"Apa yang terjadi dok?" tanya Yuen.


Kami duduk dan akupun menceritakan intinya saja karena ceritanya sangat panjang, lagi pula tidak mungkin aku menceritakan hubungan kami.


"Apa?" aku nyaris teriak mendengar jika Leon dibawa oleh Andre.


"Iya dok karena Tuan Andre memaksa," kata Yuen dengan RSUD wajah bersalah.


"Baiklah tidak masalah, jangan merasa bersalah begitu Yuen. Aku hanya kaget saja tadi, bukan berarti menyalahkanmu," kataku sembari tersenyum.

__ADS_1


°°°°°°


Didalam mobil aku merutuki Andre karena sudah membawa Leon.


"Andre membawa Leon kemana?" batinku karena tidak ingin Pak Seun mendengar umpatanku.


Tujuanku sekarang rumah kediaman Alfred. Kini aku berdiri di pintu gerbang menjelang malam.


Klek


Aku membuka pintu. Memang aku memegang kunci sirap yang sengaja aku letakan dibawah pot bunga jika aku sedang berpergian.


Di ambang pintu aku berdoa agar tidak bertemu dengan Alfred, bahkan aku meminta ketidak hadiran Alfred di rumah ini.


Langkah kakiku terhenti di ruang tamu. Alfred bersama Serena menyambut kedatanganku dengan Serena meraba-raba bagian dada Alfred. Posisi mereka menyamping sehingga tidak menyadari kedatanganku.


Tanpa sadar hatiku sakit melihat kenyataan itu. Apa yang Andre katakan adalah lelucon, ya lelucon untuk meledek diriku.


Siapa bilang Alfred mengkhawatirkan diriku, nyatanya saat ini dia bernostalgia dengan istri pertamanya yang tak lain adalah maduku.


Hmm


Aku sengaja berdehem sembari berjalan gontai. Mendengar deheman halus itu membuat Alfred maupun Serena membalikan badan menghadap kearah suara.


Alfred langsung menyingkirkan tangan Serena dari dadanya. Aku tersenyum miris tanpa memandang kearah keduanya.


Alfred menghadang langkahku.


"Dari mana kau jam segini baru pulang? apa kau sengaja keluyuran? apa kau sedikitpun tidak memikirkan orang rumah?" ujar Alfred mencecarku. Mendengar ucapan terakhir Alfred membuat aku terpaksa menatapnya. "Papa sama Mama sejak tadi menghubungiku, mereka terus menanyai keberadaanmu karena ponselmu tidak bisa dihubungi," Alfred meralat ucapannya agar aku tidak salah mengartikannya.


Aku menyunggingkan senyuman untuk menertawakan diriku. Hampir saja aku salah mengartikan ucapan terakhir Alfred.


"Bicara jika diajak bicara!" bentak Alfred dengan rahang mengeras menatap tajam kepadaku sehingga membuatku menunduk.


Serena mendekat.


"Lihat honey penampilannya seperti gembel," ejek Serena sembari menguliti penampilanku dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Apa yang dikatakan Serena adalah benar. Penampilanku seperti yang di ejekan.


"Honey tolong antar aku ya ke apartemen dan menginaplah," celoteh manja Serena sembari bergelayut manja di lengan Alfred.


Aku mengumpulkan nafas karena jujur saja dada ini begitu sesak di situasi seperti ini. Aku memberanikan menatap Alfred sehingga tatapan kami bertemu, sedangkan Serena sibuk memeluk manja lengan Alfred. Merasa sesak aku memutuskan tatapan itu lalu membawa kedua kaki lemas ini.


"Maaf," lirihku berusaha menahan air mata. Aku berlalu dengan kepala menunduk disertai hati yang luka.


Mendengar kata maaf dariku, dada Alfred seperti dihantam benda tumpul sehingga menyebabkan rasa sakit tanpa berdarah.


Didalam kamar khususnya kamar mandi aku melampiaskan perasaanku. Sakit hati tentu saja bagiku.


"Kenapa hatiku sangat sakit melihat mereka bermesraan? apa aku mulai menyukainya? bahkan sudah jatuh cinta kepadanya? oh tidak mungkin," ucapku sembari menggelengkan kepala di depan cermin, menolak dengan kata hatiku.



Ekspresi Alfred melihat kepergian Isabella berlalu begitu saja.



Ekspresi wajah serta tatapan Isabella menatap Alfred.


Penampilan Isabella memakai baju pinjaman Pak Sam milik sang istri yang kebetulan tinggal di mobil.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2