
Hari berlalu seperti biasanya.
Hari ini aku memenuhi undangan dari pihak sekolah karena anak didik mereka mengikuti lomba bernyanyi untuk meriahkan ulang tahun yayasan. Kebetulan ikut dalam memeriahkan lomba. Tidak sulit untukku membagi waktu karena aku masih dinas malam.
"Anak Mommy sangat tampan," pujiku setelah memakaikan bedak di wajah Leon.
"Terima kasih Mom," Leon langsung mendaratkan kecupan di pipiku.
Aku tersenyum lalu melamun tentang pernikahanku.
"Seandainya rumah tanggaku seperti pasangan pada umumnya pasti rumah ini sudah dipenuhi dengan tangisan bayi," batinku sembari mengkhayal. "Pasti sangat menyenangkan, bayi itu tentu saja tampan atau cantik seperti Ayah dan Ibunya," aku sembari tersenyum sendiri.
Cup
Kecupan di keningku menyadarkan lamunanku. Dengan cepat aku menggelengkan kepala atas kekonyolanku. Bagaimana mungkin khayalan itu tercapai sedangkan kami tidak pernah melakukan hubungan suami istri.
"Ayo sayang kita sarapan dulu," aku langsung mengendong Leon.
"Mom lepas Leon bukan anak kecil lagi," cicit Leon merasa sudah besar.
"Tidak sayang Leon masih kecil, buktinya masih PAUD," kataku sembari menggelitik pinggang Leon.
"Geli Mom," Leon terkekeh dengan tubuh menggeliat.
"Sayang jangan bergerak nanti bisa jatuh kita," kataku karena kami sedang menuruni tangga.
"Mommy sih bikin Leon geli,"
Di ujung atas tangga Alfred memperhatikan interaksi kami berdua tanpa kami sadari. Gelak tawa Leon sangat membuat rumah ini berwarna dari sebelumnya.
Mendengar panggilan baru Leon membuat Alfred tercengang. Baru hari ini dia tau jika panggilan Leon telah berubah.
Kami langsung menuju meja makan. Seperti biasanya aku buat sarapan yang paling disukai Leon.
"Sayang harus banyak makan agar tenaga Leon untuk bernyanyi nanti terkumpul," rayuku.
"Oke Mom,"
Kami mulai menikmati sarapan, sedangkan Dea memanaskan mobil di halaman rumah.
"Selamat pagi Tuan," sapa Leon kepada Alfred. Aku terdiam karena tidak menyadari kedatangan Alfred.
Alfred tak menanggapi hal itu membuat raut wajah Leon berubah.
"Sayang segera habiskan," aku sengaja mengalihkan suasana agar Leon tak terbawa perasaan.
__ADS_1
Aku memandangi punggung Alfred yang berlalu menuju lemari es.
"Apa begitu sulit membalas sapaan anak kecil? dasar tak punya perasaan," rutukku dalam hati.
"Mommy kenapa Tuan tampan itu tidak mau membalas sapaan Leon?" tanya Leon dengan polosnya.
"Tuan lagi sariawan sayang makanya tidak bisa menjawab," terangku sama saja menyumpahi Alfred.
Aku bangkit dari meja makan dengan kedua tangan memegang piring kotor dan aku langsung suruh Leon menunggu di dalam mobil.
Mendengar apa yang aku tuduhkan membuat Alfred mencekal lenganku. Karena kaget hampir saja piring itu jatuh.
"Mama mengatakan jika kau mengangkat Leon sebagai anak angkat, apa itu benar?"
"Iya,"
Tanganku semakin dicekal begitu kuat.
"Maaf karena tidak terlebih dahulu membicarakan hal ini denganmu karena tentu saja hal ini tidak penting untukmu," lirihku dengan kepala menunduk.
"Sepertinya kau sangat senang sekali dengan kehadiran anak itu?"
"Iya aku sangat senang," sahutku tanpa sadar mengutarakan perasaanku.
Mendengar pengakuan itu membuat Alfred menyentak lenganku.
Deg
"Mak.... maksud kamu apa?" tanyaku gugup dengan mata membulat.
"Dari awal aku tidak akan memberi kesempatan untuk kau senang ataupun bahagia Isabella. Sedangkan sekarang atas kehadiran Leon kau justru bersenang-senang di atas penderitaan orang,"
Aku menggeleng dengan air mata sudah mengenang di pelupuk mata.
"Jadi aku tekankan sekali lagi, pilih Leon atau cerai?" bentak Alfred.
"Aku tidak bisa memilih," lirihku dengan menggelengkan kepala. "Aku mohon untuk dua hal itu karena aku benar-benar tidak bisa memilih," imbuhku sembari memohon.
Alfred menyunggingkan senyuman mengejek melihat aku memohon sembari menangis.
"Kau berani menawar? aku orang yang tidak bisa ditawarkan, asal kau tau itu Isabella," bentak Alfred sembari mencengkram wajahku.
"Aku tidak ingin melepaskan Leon, kamu juga tau anak itu sudah yatim piatu. Dan aku juga tidak ingin bercerai darimu," lirihku ingin memberi pembelaan.
"Atas dasar apa kau tidak ingin aku ceraikan?" teriak Alfred, padahal ia tau apa alasan di balik itu.
__ADS_1
Wajahku menadah ke atas untuk menatap Alfred dengan intens sehingga bola mata kami bertemu.
"Ada dua alasan," lirihku sembari menelan ludah tanpa melepaskan tatapan itu.
Alfred memicingkan mata mendengar dua alasan dariku.
"Apa karena kau tidak ingin keluargamu terluka dan pada akhirnya kedua orang tuamu berakhir di rumah sakit?"
"Itu alasan kedua," lirihku. "Alasan pertama karena aku mencintaimu Al," lirihku dengan nada rendah, bahkan tetesan air mata ini menjadi saksi pernyataan cintaku.
Deg
Tentu saja Alfred bungkam dengan kejujuranku. Awal memang wajah itu penuh keterkejutan tetapi tidak lama tertawa terbahak-bahak.
"Cinta? kau mencintaiku Isabella hahaha...." ejek Alfred sembari menggoncang kedua bahuku.
Aku kembali menunduk dengan perasaan malu, bahkan wajahku sudah memerah. Sungguh perasaan ini tidak bisa aku sembunyikan. Alfred berhasil menjebak sehingga membuatku tak bisa menyembunyikannya.
"Kau masuk perangkapku Isabella, dengan itu rasa balas dendam ini sedikit demi sedikit terbayarkan," ujar Alfred masih dengan terkekeh mengejek diriku. "Tetapi pilihanku tak bisa ditawarkan, kau harus pilih salah satunya," tegasnya dengan mata memerah.
Aku tercekat, dada ini sangat sesak, belum lagi hati ini. Semua menjadi satu, sakit, pedih itulah yang timbul.
"Aku minta waktu 1 tahun. Izinkan Leon bersamaku selama waktu yang aku tentukan," tawarku sangat berharap Alfred berubah pikiran. "Begitu juga dengan hubungan kita, beri aku waktu sampai aku menyerah di titik tersebut," tawarku kembali dengan tatapan memohon.
Alfred terdiam setelah mendengar aku bernegosiasi.
"Suatu saat aku pasti menyerah Al dan kamu pemenangnya. Aku pasti mengabulkan keinginanmu," lirihku kembali menangis sembari membungkam mulutku. Merasa tidak sanggup lagi aku langsung berlari meninggalkan Alfred menuju kamar. Bahkan aku tidak menunggu jawaban Alfred. Yang ada dalam pikiranku adalah Leon karena aku tidak ingin Leon terlambat.
Setelah sepeninggalanku Alfred mendudukkan dirinya di kursi meja makan. Ucapanku terngiang-ngiang dalam ingatan Alfred.
Mendengar pernyataan perasaanku jujur saja dari lubuk hati yang terdalam Alfred merasakan hal lain. Bahkan jantungnya sempat berdebar mendengar kata cinta itu tetapi sayangnya pria ini tidak dapat menyadari hatinya sendiri, yang melebihi adalah rasa dendam.
"Aku tidak boleh termakan ucapannya, dia adalah wanita licik. Isabella, Isabella apa kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu itu? kau salah orang Isabella, aku bukan Bernat yang bisa kau tipu," ujar Alfred dengan wajah dan mata memerah menahan amarah.
Alfred salah mengartikan, dia anggap itu hanya mulut muslihat semata untuk mengecok dirinya. Tetapi tetesan air mata tadi terbayang-bayang di mata Alfred.
Didalam mobil aku terdiam tanpa kata. Leon sengaja aku suruh duduk di depan agar Leon tidak menyadari wajah sembap serta mata merah ini.
Sepanjang jalan aku merutuki kebodohanku, belum kelar masalah malah aku menambah lagi. Aku masih sangat mengingat wajah Alfred menertawai atau mengejek diriku. Ya harga diriku sudah jatuh di hadapan Alfred. Tetapi ada perasaan lega karena rasa yang entah kapan datangnya sudah aku ungkapkan, walaupun hanya dibalas ejekan. Benar aku terpaksa melakukan itu agar pilihan Alfred tidak berlaku. Semoga saja pria kejam tanpa perasaan itu berubah pikiran dan menyetujui perjanjianku.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Tenang say....akan ada 2 bab menyusul🌹