
Sinar matahari yang masuk lewat jendela kamar membuat wanita yang kini berada dalam dekapan dokter tampan, mulai menggeliat. Karena pelukan dari arah belakang itu cukup erat, sehingga membuatnya tak bisa leluasa.
Akhirnya dia menyerah diam saja. Bayangan tadi malam terlintas begitu saja, dimana mereka menghabiskan malam panjang penuh kenikmatan. Itu membuat wajah Vini bersemu merah.
"Apa yang aku lakukan? menyerahkan diri segampang ini? aku tak ada ubahnya seperti wanita rendahan," batin Vini. Ada penyesalan yang dia rasakan, apa lagi hubungan mereka bisa dikatakan sekedar rekan kerja saja. Andre yang dia sukai tetapi kini dia berada dalam dekapan dokter Frans, bahkan mereka melewati yang tak seharusnya.
Vini memejamkan mata sesaat, ada rasa takut yang menghantuinya. Takut jika pria yang memeluknya saat ini mencampakkan dirinya begitu saja. Takut racun panas yang menyirami ladangnya membuahkan hasil. Kini Vini di gandang ketakutan yang luar biasa sehingga membuat isak tangis tak tertahankan lagi.
Dokter Frans merengkuh, tidurnya terganggu oleh bunyi samar-samar isak tangis seseorang yang tak lain berasal dari wanita yang saat ini dia peluk.
Dokter Frans berusaha membuka mata. Kepalanya terasa berat, serta tubuhnya sedikit kram.
Hiks.....hiks....
Isak tangis Vini menyesali nasi sudah menjadi bubur nikmat🤣
Dokter Frans langsung membalikan tubuh Vini agar menghadap kepadanya.
"Ada apa? kenapa kamu menangis? apa karena kejadian semalam?" ucap dokter Frans seakan tidak peka sembari menyeka air mata Vini.
Vini tak bergeming bahkan berani menatap dokter Frans sehingga membuat dokter Frans mengangkat dagu Vini agar menatap kearahnya.
Kini tatapan keduanya saling bertemu dengan jarak begitu dekat.
"Kamu orang pertama bagiku, orang pertama mengambil ciuman pertama serta aset berhargaku," gumam Vini dengan wajah memerah. Mendengar kejujuran Vini membuat kebahagiaan bagi dokter Frans.
"Terima kasih sayang.....sama. Maaf kamu bukan wanita pertama yang mendapat ciuman pertama aku, tetapi lebih dari itu kamulah yang pertama," ungkap dokter Frans dengan jujur. Ya dia dulu adalah pria terpopuler di sekolah bahkan di universitas.
Seketika wajah Vini cemberut, ada sedikit kesal di hatinya mendengar pengakuan dokter Frans. Tetapi kembali lagi, itu adalah masa lalu dan sekarang adalah masa depan.
"Kamu marah?" tanya dokter Frans seakan mengerti raut wajah Vini.
Vini menggeleng. "Buat apa aku berani marah, semua orang memiliki masa lalu. Hmmm apa lagi kamu adalah pria tampan, tentunya banyak dikelilingi wanita dalam segi manapun," pungkas Vini.
Hmmm
"Kamu jangan takut, aku akan mempertanggungjawabkan. Minggu depan kita akan menikah, hari ini ikut aku ke rumah kedua orang tuaku untuk minta restu," ungkap dokter Frans dengan sungguh-sungguh.
"Apa? secepat itu?" ucap Vini tidak yakin.
"Apa tunggu perutmu membesar dulu baru kita menikah?" ucap dokter Frans sembari mengusap perut rata Vini. "Jika Daddy sama Mommy tahu bisa-bisa asetku di mutilasi," gurau dokter Frans sehingga membuat Vini terkekeh.
"Aku, aku takut kedua orang tua kamu tidak merestui hubungan kita, apa lagi sesungguhnya kita tidak pernah menjalin hubungan. Mereka pasti berpikir yang tidak-tidak kepada diriku," papar Vini dengan wajah serta tatapan sendu.
__ADS_1
Dokter Frans tersenyum mendengar ketakutan Vini."Orang tuaku bukan seperti itu, mereka membebaskan untuk menjadi siapapun pendampingku asalkan aku bahagia dan wanita itu baik-baik. Apa kamu mengerti Nyonya Antoni?" goda dokter Frans sembari memencet hidung mancung Vini.
"Sakit tau," cicit Vini dengan wajah memelas.
Dokter Frans menyelipkan helaian rambut Vini yang menghalangi wajah panda baru bangun.
Awww.....
Rintih Vini merasakan area sensitifnya nyeri akibat bergerak.
"Ada apa?" tanya dokter Frans, ada kekhawatiran di wajahnya.
"Ini akibat keganasan serigala tadi malam," sindir Vini dengan wajah cemberut bersemu merah.
"Tapi kamu suka kan? bahkan suara desahanmu mengalahkanku dan memenuhi isi kamar ini," goda dokter Frans seakan paham atas sindiran Vini.
Puk
Vini melemparkan guling di tubuh dokter Frans, lalu berusaha bangun dan melangkah menuju kamar mandi dengan selimut tebal membungkus tubuhnya, sehingga membuat tubuh dokter Frans terpampang tanpa benang.
"Sayang....." geram dokter Frans tanpa dihiraukan Vini.
Dokter Frans segera bangun dengan senyuman mengembang di bibirnya. Tiba-tiba pandangannya jatuh tepat di bercak merah. Dia tahu itu adalah bercak darah bukti ke virginan Vini.
Dia bangkit menuju kamar mandi. "Semoga pintu kamar mandi tak dikunci," gumam dokter Frans.
Klek
Benar saja Vini lupa mengunci pintu akibat buru-buru menghindari dirinya tadi. Senyuman menyeringai dikembangkan dokter Frans, bagaimana tidak dia mendapati tubuh polos Vini dalam keadaan berdiri di bawah shower yang mengalir menghadap dinding.
Tidak ingin membuang kesempatan dokter Frans mendekat, lalu kedua lengan kekar itu melingkar ke tubuh Vini.
Aaak....
Vini berteriak karena kaget luar biasa. Mungkin karena bunyi gemercik air shower membuatnya tidak menyadari Vini akan kedatangan dokter Frans.
Vini mengigit bibir bawahnya sembari memejamkan mata menikmati jari-jemari nakal dokter Frans merayangi dua bongkahan yang menggantung, di sana sangat banyak kiss mark ciptaan maha karya dokter Frans.
Akhirnya mereka berakhir dengan erangan panjang. Di kamar mandi dokter Frans kembali menyirami racun panasnya di ladang sempit milik Vini agar cepat berbuah. Bahkan mereka tidak sadar akan perbuatan mereka itu adalah salah.
°°°°°°
"Andre....." Desis Gabriella, ketika kecupan sekilas mendarat di bibirnya.
__ADS_1
"Andre?" mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan itu," ucap Andre protes.
"Terus aku panggil apa?" goda Gabriella.
"Apapun tapi jangan panggil nama," ujar Andre.
Hmmm
"Maunya kamu apa?"
"Sayang...." ucap Andre malu-malu.
"Sayang," ulang Gabriella sembari melemparkan senyum.
"Batalkan keberangkatanmu. Lalu berangkat denganku ke Indonesia besok," ucap Gabriella dengan serius.
"Baiklah! Tapi kita harus membicarakan soal masalah ini kepada Tuan," ujar Andre.
"Jangan! Kita rahasiakan dulu untuk saat ini, sampai kartu undangan tiba ke mereka," usul Gabriella yang konyol bagi Andre.
Andre mengerutkan dahi. "Sayang bagaimana kita sembunyikan masalah ini, aku ingin mendapat restu dari Tuan sama Nona." Andre tidak sependapat dengan usulan Gabriella.
"Sayang mereka sekarang adalah Adik iparmu, jadi biasakan jangan formal begitu. Biarkan saja, hanya sedikit memberikan surprise," papar Gabriella kekeh pada rencananya.
"Terserah kamu saja," kata Andre pada akhirnya.
Keduanya mengobrol panjang lebar dan saatnya Andre kembali ke apartemennya.
"Sayang aku pulang dulu. Kamu istirahat, aku yakin kamu kelelahan dalam perjalanan tadi," ucap Andre sembari membelai rambut Gabriella.
"Baiklah. Bersiap-siaplah, besok kita berangkat sore saja. Hmmm kita naik pesawat jet atau pesawat....."
"Umum saja, biar rasa kencan," goda Andre.
"Oke!"
Andre meninggalkan apartemen dengan langkah bahagia. Dia tidak pernah menyangka momen seperti ini dalam hidupnya. Rasa bahagia jangan ditanyakan lagi.
Didalam mobil Andre diam sesaat dengan kedua tangan melingkari pada setir mobil.
"Kamu memang belum mengatakan cinta kepadaku tetapi seiringnya waktu aku ingin mendengar kalimat itu dari mulutmu," gumam Andre. Dia harus bersabar mengambil hati dan cinta Gabriella.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪