MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 162~MDS2


__ADS_3

Pagi-pagi buta Rebecca sudah berangkat ke kantor tanpa melakukan apapun di apartemen. Bahkan ia engan hanya sekedar memandang Keenan yang sedang meringkuk terlelap di atas sofa.


Keenan menggeliatkan tubuhnya, berusaha membuka mata perlahan. Pandangan pertama tepat di tempat tidur tetapi ia tidak mendapati sosok Rebecca di sana.


Keenan mengumpulkan kesadarannya sebelum ke kamar mandi, ia mengira Rebecca pasti berada di dapur saat ini atau di depan televisi.


Hmmm


Setelah berdehem-dehem Keenan segera keluar dari kamar, lengkap dengan tas kerjanya.


Tiba di sofa ia meletakan tas kerja serta jasnya, lalu bergegas berjalan menuju dapur. Sekali lagi tatapannya tertekun pada meja makan yang kosong.


Pandangan Keenan menyeluruh tetapi ia tidak mendapati keberadaan Rebecca.


Keenan kembali lagi ke sofa. Ia memasangkan sepatu serta dasinya.


"Selamat pagi Tuan," sapa pelayan hingga membuat Keenan menghentikan memasang dasinya.


"Apa Bibi tau Nona?"


"Maaf Tuan saya baru saja tiba," ucap pelayan karena ia tidak tau.


Keenan mengangguk seakan paham. Tidak lama ia segera berangkat tanpa sarapan pagi. Ia ingin sampai ke kantor dengan segera, mengecek apakah Rebecca sudah berada di sana.


Dengan tidak konsen Keenan membawa kendaraan roda empatnya menuju perusahaan pencakar langit.


Tiba di perusahaan ia langsung turun.


"Selamat pagi Tuan," sapa setiap karyawan yang kebetulan berpapasan dengan dirinya. Keenan tak menghiraukan hal itu. Raut wajah datar serta muram itulah yang terlihat.


Tiba di ruangannya Keenan langsung membalas setiap email yang masuk.


Tok tok


"Masuk!" Sahut Keenan dengan malas, ia tau bahwa itu adalah Gerry.


Klek


Pintu terbuka.


"Apa agendaku hari ini Gerry?" tanya Keenan dengan kepala menunduk, seperti sibuk dengan berkas di atas meja.


"Aku hanya mengantarkan laporan keuangan akhir tahun," ucap sesosok itu.


Mendengar suara wanita yang sangat ia hafal membuat Keenan mengangkat wajahnya.


Deg


Ia membeku melihat wanita cantik sedang berdiri dengan beberapa laporan di tangannya.


Keduanya saling diam dengan tatapan terkunci. Keenan maupun Rebecca terdiam, entah apa yang ada dalam pikiran keduanya.


Mengingat ucapan Keenan kemarin membuat lamunan Rebecca tersadar.

__ADS_1


"Sebentar lagi akan ada rapat," ucap Rebecca dengan kikuk, ada rasa canggung diantara mereka.


"Hmmm kenapa tidak membangunkanku?" kalimat itu lolos juga di mulut Keenan. Sungguh ia merasa penasaran kenapa Rebecca berangkat ke kantor begitu pagi.


Rebecca mengigit bibir bawahnya mendengar pertanyaan konyol dari Keenan. Apakah ia salah mendengar atau apalah ia tidak percaya itu.


Melihat Rebecca tak kunjung menjawab Keenan bangkit seraya melonggarkan dasi yang pada awalnya berantakan.


Keenan mendekat, hal itu membuat Rebecca was-was. Tetapi tidak mungkin juga ia mundur.


"Tolong rapikan dasiku," pinta Keenan lolos begitu saja. Perkataannya itu berhasil membuat mata Rebecca melebar serta jantung berdebar. Hanya di suruh sekecil ini saja jantungnya ini langsung bermasalah, apa lagi lebih dari ini bisa-bisa meledak.


Keenan terdiam, menyambut uluran tangan Rebecca tetapi sekian detik Rebecca tak kunjung juga melakukan seperti yang dimintai oleh Keenan.


Raut kecewa kini menggambarkan wajah tampan itu.


Tok tok


Bunyi ketukan pintu membuat keduanya bungkam dan segera saling membuang muka.


"Maaf jika saya menganggu," ucap Gerry dengan kikuk, sungguh ia tidak tau jika Rebecca juga sedang didalam ruangan itu. Bahkan posisi keduanya saling berhadapan.


"Tidak masalah Gerry. Silahkan, aku juga akan segera kembali ke ruangan," ucap Rebecca.


"Kedatangan saya hanya memberitahu bahwa rapat akan segera dimulai. Tuan beserta Nona akan segera ke ruang rapat," ujar Gerry memberitahukan apa tujuannya ke ruangan CEO.


Rebecca mengangguk tetapi tidak bagi Keenan. Pria itu bahkan tidak dengar apa yang dibicarakan Gerry karena terlalu mendalami masalah yang sulit dipecahkan.


"Tuan," panggil Gerry sehingga berhasil menyadarkan lamunan Keenan. Sedangkan Rebecca hanya terdiam saja, bahkan memandang kearah lain.


Hmmm


Akhirnya ketiganya berjalan keluar menuju ruang rapat dalam diam.


Tiba di ruang rapat. Mereka mengambil tempat duduk masing-masing sesuai kedudukannya. Di dalam sana dipenuhi puluhan para petinggi perusahaan.


Gerry mengawali dengan sapaan dan di susul oleh Keenan. Sebagai awal kembalinya dirinya selama vakum 2 tahun.


Keenan bangkit berdiri. Rebecca menyadari penampilan Keenan yang tidak rapi seperti biasanya. Dasi itu terlepas hanya menggantung saja, dengan leher kemeja juga berantakan.


Semua mata tertuju kepada Keenan, tentu saja dalam hati mereka mempertanyakan penampilan Keenan.


Rebecca segera bangkit sebelum Keenan mulai buka suara.


"Maaf," ucap Rebecca dengan tangan terulur merapikan dasi serta leher kemeja Keenan.


Demi apapun Keenan tercengang tak percaya. Wajah keduanya begitu dengan, sampai hembusan nafas keduanya saling menerpa wajah.


Rebecca dapat mencium aroma maskulin begitu kuat dari tubuh Keenan.


Tidak hanya merapikan dasi serta leher kemeja. Rebecca juga merapikan rambut Keenan dalam diam. Jantung Keenan berdebar tak karuan.


"Terima kasih," ucap Keenan seraya membelai rambut Rebecca.

__ADS_1


Jantung Rebecca kembali ingin meledak mendapat sentuhan itu.


Para petinggi seperti sedang menonton drama romantis. Mereka menganggap adegan pasangan suami istri ini sangat romantis.


Menyadari mereka menjadi pusat perhatian membuat Rebecca segera duduk dan berusaha mengatur debaran jantungnya.


Sedangkan Keenan seakan mendapat durian runtuh atas simpati Rebecca.


"Sepertinya sebentar lagi akan ada debaran cinta, yang menyaingi Tuan besar," batin Gerry.


Rapat berjalan sesuai yang diharapkan. Keenan mengacungkan jempol atas kinerja Rebecca selama 2 tahun belakangan ini.


Keuntungan perusahaan semakin meningkat. Serta memperluas pemasaran produk.


°°°°°°


Hari-hari terlewati seperti biasanya. Tidak ada yang berubah, seperti biasanya Rebecca tidak memasak di rumah. Bahkan ia makan dari titipan orang tuanya Felisha.


Keenan ingin sekali protes tetapi tidak ada waktu untuk mereka berbicara, bahkan hanya sekedar bertatap muka.


Pagi buta Rebecca sudah berangkat kantor. Pulang kerja ia lebih duluan dan segera tiduran. Hal itu membuat Keenan meradang tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.


Seperti malam ini. Entah kenapa keberuntungannya bertemu Rebecca tepat di dapur ketika Keenan pulang dari kantor.


Sekali lagi Keenan menghela nafas melihat meja makan kosong. Padahal selama ini ia tidak pernah makan malam diluar, berharap bisa makan di apartemen.


"Hmmm apakah kau tidak masak?" tanya Keenan pada akhirnya.


"Sepertinya waktuku tidak ada untuk menyiapkan hal itu, hal yang tidak penting dan berguna," sahut Rebecca dengan santai.


"Apa maksudmu mengatakan hal itu?"


"Butuh kesabaran serta tenaga untuk menyelesaikan bahan mentah menjadi siap santap. Bukankah sangat disayangkan hal itu ketika makana terbuang begitu saja?" ucap Rebecca tanpa memandangi Keenan.


Keenan menelan ludah. Ia paham sekarang kenapa Rebecca mogok masak.


Tidak ingin bertanya terlalu dalam lagi. Keenan mengeluarkan sesuatu yang ada dalam kantong kreseknya.


Berlalu dalam diam melewati Rebecca yang tengah berdiri seraya menyangkan air minum.


Keenan mengeluarkan mie instan yang baru saja tadi ia beli. Ia sengaja beli untuk mengganjal perutnya malam ini dan berikutnya.


Rebecca dapat melihat apa yang dilakukan Keenan. Dimana Keenan sedang memasak mie instan. Ada rasa tidak tega dalam dirinya, ternyata beberapa hari ini Keenan selalu mengkonsumsi spaghetti dan sekarang mie instan yang sama sekali tidak sehat untuk lambung.


Entah apa yang membuat Rebecca masih betah bertahan berdiri di sana, sampai tidak sadar Keenan sudah selesai memasak.


Keenan berlalu kembali dengan tangan memegang mangkok, membawanya ke meja makan.


"Ini tidak baik untukmu, jadi aku hanya masak seporsi saja," ujar Keenan menyadari jika makanan itu tidaklah baik untuk lambung.


Rebecca tak bergeming, ia segera pergi membawa sir minum dalam teko menuju kamar. Ia ingin segera mengistirahatkan tubuh lelahnya. Bukan hanya tubuh tetapi beban pikirannya lebih besar.


Bersambung......

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪


__ADS_2