
"Terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang kami hormati. Yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu. Sudah bersedia memenuhi pesta resepsi pernikahan putra kedua kami Keenan Hugo dengan menantu kami Rebecca Hugo. Kami mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kekurangan." Kata sambutan dari Tuan Alfred Hugo.
Para tamu undangan menyantap jamuan yang didatangkan oleh beberapa koki profesional dari beberapa negara. Salah satunya negara Indonesia tercinta.
Pesta meriah orang nomor satu di negara tersebut membuat para tamu undangan puas. Termasuk para anak yatim serta lansia bisa menghadirinya. Walau hanya sekedar menyantap jamuan saja karena tidak mungkin mereka memberi ucapan selamat satu-persatu kepada kedua mempelai. Usai menyantap jamuan mereka langsung pulang.
"Mereka.asih beruntung karena kita masih diberi kesempatan untuk menyaksikan, bahkan ikut menyambut tamu undangan. Sedangkan Daddy dulu tidak merasakan sosok kedua orang tua," gumam Daddy Alfred dengan mata memerah.
"Sayang, jangan berkata begitu. Saat ini kita hanya harus bahagia, bahagia melihat putra-putri kita di pelaminan. Lupakan masa yang sudah terlewatkan karena sebagaimana kita mengingatnya tidak akan dapat mengembalikannya," ucap Mommy Isabella seraya mengusap bahu Daddy Alfred.
**
Satu-persatu tamu undangan memberi ucapan selamat. Dengan sabar kedua mempelai berdiri seraya menyalami.
"Apa kamu lelah? duduk saja, itu tak masalah," ujar Keenan.
"Tidak masalah, aku masih mampu," sahut Rebecca.
Sejak tadi pandangan Keenan kemana-mana. Seperti sedang mencari sesuatu yang belum didapatnya.
"Sepertinya dia tidak akan datang. Dia sangat marah dan kecewa," batin Keenan.
"Aku tau dia pasti mencari mantan kekasihnya, entahlah statusnya mantan atau apa," batin Rebecca dengan wajah sendunya. Ternyata ia menyadari gerak-gerik Keenan sejak tadi.
Ia lalu menarik nafas dalam-dalam, untuk mengusir sesak di dadanya.
"Selamat berbahagia Tuan Keenan," ujar Lucky.
Hmmm
Keenan hanya berdehem serta membalas uluran tangan Lucky.
"Sungguh tak menyangka," imbuhnya seraya melirik ke Rebecca yang kebetulan memandang kearahnya.
Lucky membalas senyuman yang dilemparkan Rebecca.
"Apa kau datang sendiri?" tanya Kenapa.
"Sama Daddy. Hmm itu lagi menyusul," ujar Lucky tanpa memutus tatapannya kepada Rebecca. Bukannya menatap lawan bicaranya tetapi ia malah menatap orang lain.
Keenan menyadari hal itu sehingga membuat rahangnya mengeras.
"Nona Rebecca selamat menempuh hidup baru. Semoga langgeng sampai maut memisahkan kalian. Hmmm ternyata aku terlambat," ujar Lucky seraya mengulurkan tangan.
"Terima kasih Tuan. Terima kasih sudah bersedia memenuhi undangan resepsi pernikahan kami," sahut Rebecca.
"Hmmm antrian panjang," tutur Keenan seakan memberi sindiran karena Lucky tak bergerak dari tempatnya berdiri.
Lucky tersenyum mendengar sindiran itu.
"Son," seru pria paruh baya kepada Lucky.
__ADS_1
Lucky mengangguk.
"Selamat berbahagia Tuan Keenan," ucap pria paruh baya itu yang ternyata orang tua Lucky yaitu Tuan Sun.
"Terima kasih Tuan," balas Keenan.
Kini tatapannya lekat-lekat di wajah Rebecca. Seketika tubuhnya membeku, bertatap muka langsung dengan Rebecca.
Lalu pandangannya kemabli ke Lucky. Bola mata serta sorot mata keduanya sama.
Tuan Sun menelan ludah dan segera menggelengkan kepala.
"Selamat berbahagia Nak," ucapnya seakan akrab dengan sosok Rebecca. Hanya itu yang dapat ia sampaikan. "Hidung itu mengingatkanku kepadanya," batin Tuan Sun tanpa memutuskan tatapan intesnya kepada sosok Rebecca, sehingga membuat Rebecca tidak nyaman, begitu juga dengan kedua pria tampan itu.
"Terima kasih Tuan. Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk memenuhi undangan resepsi pernikahan kami," balas Rebecca.
"Ayo Dad, sudah banyak yang antri," bisik Lucky.
Tuan Sun mengangguk perlahan. Lalu segera mengikuti langkah Lucky.
**
Gerry kembali menarik tangan Felisha untuk membawanya kepada kedua mempelai.
"Tuan tangan saya sakit," ucap Felisha.
"Itu hukuman buat kamu karena sudah berani mengataiku Om, Om." Ujar Gerry tidak ingin melepaskan genggaman erat itu.
"Bagaimana saya mau menyalami Tuan dan Nona jika tangan saya diborgol seperti ini. Hmmm apa Tuan ingin menjadi perhatian dari karyawan-karyawan kantor?" ucap Felisha seakan mendapat senjata untuk terlepas dari Gerry.
Felisha lalu bergegas ikut memberi ucapan selamat kepada sahabatnya itu.
"Fel," panggil Rebecca, setelah melihat sosok Felisha dan Gerry menghampiri mereka.
Felisha langsung memeluk Rebecca. Ya Rebecca sahabat dekat satu-satunya.
"Selamat berbahagia cintaku, sayangku." Ucap Felisha ikut merasakan kebahagiaan sang sahabat. "Semoga langgeng sampai maut memisahkan," imbuhnya seraya melepaskan pelukan itu. "Kamu sangat cantik," pujinya disertai senyuman.
"Terima kasih cinta. Oya Bibi mana?" tanya Rebecca.
"Mohon maaf Mama tidak bisa datang karena kurang sehat. Oya Mama hanya titip salam," ucap Felisha. "Makanya aku tidak bisa menghadiri pemberkatan kalian," imbuhnya.
"Semoga Bibi lekas sehat," ucap Rebecca.
"Selamat berbahagia Tuan," ucap Felisha kepada Keenan agak canggung.
Hmmm
Seperti biasa pria irit bicara itu hanya berdehem saja.
"Tuan selamat berbahagia," ucap Gerry kepada atasannya.
__ADS_1
Keenan mengangguk. Banyak pertanyaan yang ingin Gerry tanyakan tetapi mengingat sang CEO tak mungkin ia berani melakukan itu.
"Selamat berbahagia Nona," ucapnya beralih kepada Rebecca.
"Terima kasih Kak Gerry. Hmmm kok kalian bisa bersama-sama?" pertanyaan Rebecca membuat keduanya saling memandang, lalu tak lama membuang muka masing-masing.
Keenan menangkap gelagat berbeda dari Gerry tetapi ini bukan saatnya membahas soal yang tidak penting.
"Itu, itu mungkin kebetulan saja cinta. Aku aja baru tau jika Tuan Gerry ada juga hehe," elak Felisha seraya terkekeh terpaksa.
"Pintar sekali dia berbohong. Jadi yang mengatai Om, Om tadi bayangannya gitu?" batin Gerry. Ingin sekali ia membungkam mulut berbisanya itu.
"Cinta aku tidak bisa berlama-lama sampai berakhirnya acara karena Dita sedang mengerjakan tugas kelompok," ucap Felisha. "Hmm ini kado tak berguna dariku, semoga kamu suka," imbuhnya merendah. Felisha memberikan kado tersebut.
"Siapa bilang tak berguna. Terima kasih ya? hati-hati dijalan." Rebecca menerima kado tersebut.
"Kenakan kado pemberianku di MP." Bisik Felisha di telinga Rebecca. Seketika wajah Rebecca bersemu merah tetapi dengan segera disembunyikan tidak ingin ada yang menyadarinya.
"Fel!" Geram Rebecca.
"Tuan saya permisi," ucap Felisha.
Ia pun berlalu dengan bibir tersenyum.
"Apa kau hanya berdiam diri saja?" sindir Keenan kepada Gerry.
Seakan mengerti Gerry segera berlalu dan tak lupa memberi salam.
**
Pesta telah usai. Seluruh tamu undangan pulang ke rumah masing-masing.
Hanya tersisa keluarga besar Hugo dan Januar.
"Sayang Oma sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Oma sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyaksikan hari bahagia keluarga besar kita," ucap Oma Asilla.
"Terima kasih Oma," sahut Rebecca seraya mengusap punggung tangan keriput itu.
"Cucu Opa Keenan kemarilah," suara terbata-bata itu memanggil Keenan.
"Iya Opa." Keenan langsung mendekat.
"Cintai, sayangi, bertanggungjawab, kepada istrimu. Apapun yang terjadi sudah kehendak dari yang Maha Kuasa. Opa tau bagaimana pernikahan kalian ini bisa terjadi, untuk itu mulailah memahami setiap makana atau artinya. Oma dan seluruh keluarga tidak ingin mendapat kekecewaan," ujar Opa Fillio. "Dia wanita yang baik dan pantas untuk kamu," imbuhnya.
Keenan hanya bisa menunduk. Sungguh bila pernikahan ini tak terjadi akan banyak hati yang tersakiti.
Sedangkan Rebecca terenyuh mendengar nasehat demi nasehat dari orang-orang yang menyayangi mereka. Bagaimana jika suatu saat mereka tidak dapat mewujudkan nasehat-nasehat itu.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
__ADS_1