MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 163~MDS2


__ADS_3

Jam istirahat makan siang di kantor digunakan Rebecca untuk mengunjungi orang tua Lucky. Tadi pagi Lucky menghubunginya, bahwa Tuan Sun ingin bertemu.


Tanpa memberitahukan siapapun Rebecca segera membawa roda empatnya menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit ia segera turun menuju ruang rawat Tuan Sun.


Tok tok


Rebecca mengetuk pintu ruang rawat. Lucky membukakan pintu.


"Silahkan masuk Nona, maaf sudah menganggu aktivitas kerja Nona," ujar Lucky, merasa tak enak hati.


"Tidak masalah Om," sahut Rebecca.


Rebecca masuk mendekati brankar.


"Bagaimana keadaan Om?" sapa Rebecca dengan dada sesak melihat pria paruh baya itu terbaring lemah dengan selang infus di salah satu lengannya, serta perban melingkar di kepalanya.


"Seperti yang kamu lihat Nak. Terima kasih karena kebaikan kamu, Om selamat," ujar Tuan Sun tanpa melepaskan tatapannya kepada Rebecca.


"Tidak perlu berterima kasih Om," ucap Rebecca seraya tersenyum.


"Bagaimanapun Om berterima kasih. Saya berhutang budi," pungkas Tuan Sun. "Mendekat Nak," titahnya seraya menepuk brankar.


Rebecca mendekat seperti yang dimintai Tuan Sun, ia duduk tepat di samping Tuan Sun berhadapan.


"Kamu sangat cantik. Tuan Keenan sangat beruntung mendapatkanmu," ujarnya seraya mengusap wajah Rebecca dengan mata berkaca-kaca.


Rebecca tertekun, sentuhan itu membuat darahnya mendesir.


"Boleh Om memelukmu?"


Mendengar permintaan Tuan Sun membuat Rebecca tercengang. Tetapi tanpa menunggu lama ia langsung mendekap tubuh pria paruh baya itu.


Tuan Sun memejamkan mata. Kehadiran Rebecca membawa kebahagiaan tersendiri baginya.


Lucky tercengang melihat kedua sosok itu. Sungguh keduanya tatkala seperti Ayah dan putrinya.


**


Rebecca keluar dari ruang rawat. Ia berjalan dengan penuh tanda tanya. Perkataan Tuan Sun terngiang-ngiang dalam benaknya.


Bruk


Awww


Desis Rebecca serta orang yang ditabraknya.


"Ma...."


Deg


Ucapan Rebecca menggantung ketika melihat sosok yang ia tabrak.


"Rebecca."


"Sunny."


Seru keduanya.


Rebecca maupun Sunny sama-sama tercengang.


"Apa kamu ada waktu?" tanya Sunny.


"Ada apa?" Rebecca balik bertanya.


"Aku hanya ingin sekedar berbincang-bincang, itupun jika ada waktumu," pungkas Sunny.


Rebecca mengangguk.

__ADS_1


Di taman rumah sakit kini keduanya duduk pada kursi panjang yang terdapat di taman itu.


Sunny tersenyum sumbing dengan pandangan lurus ke depan.


"Hidup ini penuh dengan drama. Begitu lucu serta sulit dipahami," ucap Sunny dengan bibir melengkung, seakan memberi sindiran kepada Rebecca.


Rebecca terdiam, tidak ingin menjawab. Ia dapat mencerna ucapan Sunny.


"Aku tak pernah menyangka akan ke depannya seperti ini. Apa kamu tau selama 2 tahun ini hidupku seakan hampa. Orang yang sangat aku cintai menikahi orang lain, hatiku sungguh hancur Rebecca," ucap Sunny dengan mata berkaca-kaca.


Rebecca meremas dadanya.


"Walaupun aku tau dasar alasan kalian melakukan pernikahan ini. Aku tau itu karena dari awal Keenan menjelaskannya kepadaku sebelum pernikahan itu terlaksana. Walaupun begitu, tetap saja hati ini sakit dan tak terima. Asal kamu tau, sampai saat ini cintaku tak berubah, nama Keenan tetap di hati ini."


Rebecca menarik nafas dalam. Dadanya seakan di lempar bebatuan. Pernyataan Sunny meruntuhkan hatinya.


"Aku adalah istrinya sekarang dan selamanya. Tidak pantas mencintai suami orang. Kamu cantik dan cerdas, tentu saja banyak pria yang menaruh hati. Keenan bukan jodoh untukmu, terima kasih sudah menjaga jodohku selama ini," ucap Rebecca diluar perkiraan Sunny dan juga author🤣


Mendengar penuturan Rebecca membuat hati Sunny memanas, ia kira Rebecca akan menyerah tetapi ia salah.


"Aku tidak menyalahkan kehadiranmu. Kamu dan Keenan adalah korban dari kedua orang tua kalian tetapi hatiku ini tidak bisa menerimanya Rebecca. Cintaku kepada Keenan terlalu besar, bahkan melebihi luasnya lautan. Aku sudah berusaha tetapi aku gagal," ungkap Sunny seraya meneteskan air mata.


Rebecca tertekun mendengar ungkapan Sunny. Apa yang Sunny ungkapkan itu tidaklah bohong.


"Aku minta maaf Sunny, sudah menjadi benalu dalam hubungan kalian." Setelah mengatakan itu Rebecca langsung bergegas berlari kecil, meninggalkan Sunny yang sedang terisak.


°°°°°°


Di sebuah cafe


Keenan ingin bertemu dengan Lucky. Lucky menyanggupinya karena ada hal yang ingin ia tanyakan.


Kini dua pria tampan itu duduk saling berhadapan. Di raut wajah keduanya tersirat banyak pertanyaan.


Hmmm


Lucky yang dilempari pertanyaan itu membuat dahinya mengernyit.


"Dari awal aku memang tertarik dengan istri anda Tuan Keenan, tetapi aku sadar bahwa statusnya sekarang sudah berbeda," ujar Lucky.


"Masih banyak wanita lain," ujar Keenan seakan memberi sindiran.


Lucky melengkungkan bibirnya.


"Banyak tentu saja tetapi istri anda sungguh wanita sempurna," pungkas Lucky. "Wanita yang memiliki hati mulia tanpa memandangi status, berkat istri anda orang tuaku selamat," imbuhnya dengan pandangan lurus ke depan.


Mendengar penuturan Lucky membuat Keenan menyipitkan mata, apa maksud dari perkataan Lucky.


"Aku ingin bertanya, siapa orang tua kandung Nona Rebecca?"


"Apakah itu penting bagimu?"


"Tentu, karena beberapa hari ini membuatku sungguh penasaran."


"Ini urusan pribadi keluarga kami."


"Aku mohon karena Daddy yang meminta."


"Maksudnya?"


"Golongan darah AB negatif itu sangat langka. Nona Rebecca memiliki golongan darah sama dengan Daddy. Anda juga sudah mengetahui itu bahwa Nona Rebecca mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan Daddy," papar Lucky.


Keenan terkejut mendengar pernyataan Lucky. Ia bahkan sama sekali tidak mengetahui hal itu.


"Bahkan sekedar memberitahukan pun kamu engan kepadaku," batin Keenan yang ditunjukan kepada Rebecca.


"Katakan siapa orang tua Nona Rebecca?"


Keenan terdiam. Lucky hanya orang luar yang tak perlu tau privasi keluarganya.

__ADS_1


"Keenan!"


"Orang tuanya sudah tiada. Atau jangan-jangan? tidak mungkin," ujar Keenan.


"Jangan-jangan apa?"


"Sampai saat ini kedua orang tuaku belum mengetahui Daddy biologis Rebecca. Apa mungkin....."


"Apa mungkin Nona Rebecca putri Daddy?" potong Lucky dengan wajah serius.


Keenan menggelengkan kepala karena itu tidaklah mungkin. Bagaimana bisa mendiang Dea bisa mengenali Tuan Sun.


"Sepertinya tidak mungkin," ujar Keenan.


"Apa yang tidak mungkin. Perhatikan sorot mata indah Nona Rebecca, sama dengan sorot mata milik Daddy ku," ujar Lucky.


"Akan aku urus tetapi rahasiakan dulu sebelum mendapatkan bukti kuat," ujar Keenan.


Akhirnya mereka mengakhiri pertemuan itu. Kembali ke kantor masing-masing.


**


Di apartemen


Hari ini Keenan pulang lebih awal dari Rebecca. Setelah pertemuannya dengan Lucky ia ke kantor sebentar dan langsung pulang.


Keenan menunggu kepulangan Rebecca di depan televisi. Orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu tiba juga.


Klek


Pintu terbuka. Rebecca masuk dengan kedua kaki lelahnya.


Langkahnya terhenti tepatnya di ruang televisi, dimana ia mendapati sosok Keenan yang tengah menonton.


"Kau sudah pulang?" ujar Keenan.


"Seperti yang kamu lihat," sahut Rebecca tak bersahabat.


"Apa kau sudah makan? kebetulan aku masak dalam porsi banyak."


"Kebetulan sebelum pulang tadi aku makan," sahut Rebecca.


Seketika raut wajah Keenan berubah.


"Tidak masalah," ujarnya dengan perasaan kecewa.


"Besok aku akan ke luar kota, meninjau langsung lokasi pembangunan hotel," ungkap Rebecca.


"Tidak, masalah itu biar Gerry yang tangani," ujar Keenan.


Rebecca menggeleng.


"Itu tanggungjawabku," sahut Rebecca.


"Baiklah. Aku akan menyusulmu."


Rebecca tercengang. Ada apa dengan Keenan.


"Aku ingin membersihkan diri," ucap Rebecca, langsung bergegas menuju kamar.


Keenan tertekun. Ia tidak tau lagi bagaimana merangkai hubungan mereka yang renggang ini.


Didalam kamar mandi Rebecca membeku di depan cermin. Perkataan Sunny siang tadi masih terngiang-ngiang. Dimana ia mengatakan isi hatinya.


"Aku harus apa?" gumam Rebecca.


Bersambung......


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2