MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 172~MDS2


__ADS_3

Mendengar penuturan Rebecca membuat semua orang tercengang, terlebih lagi Keenan.


"Aku akan melakukan apapun tetapi status kita tetap masih menjadi suami istri," ujar Keenan sungguh-sungguh.


"Buat apa Keenan? kamu terpaksa menyetujui pernikahan ini karena mendapat ancaman dan memenuhi permohonan orang tuaku. Sampai kamu rela mengorbankan kebahagiaanmu demi menyetujui perjodohan ini. Itulah yang kamu katakan kepada Gerry, aku mendengarnya sendiri Ken," tutur Rebecca. "Jadi buat apa kita mempertahankannya," imbuhnya diiringi dengan tangisan.


Mendengar hal itu membuat Keenan menunduk, apa yang dikatakan Rebecca memenag itu kalimat yang lolos dari mulutnya.


"Aku tidak menyangkal atas ucapanku itu tetapi itu dulu, sekarang aku sudah menyadari perasaanku yang sesungguhnya. Aku mencintaimu Rebecca," ungkap Keenan dihadapan kedua orang tua serta mertuanya tanpa mengalihkan tatapannya kepada Rebecca.


Mendengar ungkapan hati Keenan membuat semua orang saling memandang, sedangkan Rebecca hanya bisa menunduk.


"Kenapa kamu mengatakan itu sekarang? ketika hati ini ingin melepaskan.....kenapa Ken?" batin Rebecca pilu.


"Beri aku kesempatan sekali saja, andai selama itu aku tidak dapat membuktikan perkataanku, kamu boleh meninggalkanku," tutur Keenan tidak main-main. "Beri aku waktu satu Minggu untuk membuktikan ucapanku," imbuhnya.


Mendengar permohonan Keenan membuat Rebecca bingung. Ia jadi bingung harus berbuat apapun.


Bohong jika saat ini ia menyangkal perasaan cintanya kepada Keenan sudah sirna. Setelah mengetahui isi hati Keenan semakin membuat rasa cinta itu membekas.


"Dek pikirkan baik-baik. Tidak ada salahnya untuk mencoba kembali. Setiap orang memiliki kesalahan atau masa lalunya masing-masing, dengan bermacam masalah. Kesalahan Daddy saja kamu dapat maafkan, kenapa orang yang kamu cintai tidak dapat kamu beri kesempatan?" papar Lucky ikut membuka suara, ia tidak ingin Rebecca akan menyesal dikemudian hari. Ia dapat melihat pancaran cinta Rebecca untuk Keenan.


"Iya Nak. Daddy setuju dengan pendapat Kakakmu," timpal Tuan Sun. "Bukankah begitu Tuan Alfred?" tanyanya kepada Daddy Alfred yang sejak tadi menunduk saja.


Daddy Alfred menghela nafas panjang.


"Kita tidak dapat memaksakan. Kami serahkan semuanya kepada mereka karena mereka yang menjalankannya. Saatnya kami sebagai orang tua tidak akan ikut campur lagi karena tindakan sewenang-wenang kami mereka mengalami masalah ini," pungkas Daddy Alfred dengan dada sesak. "Keenan, Rebecca asal kalian tau, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anak-anak mereka. Setiap orang tua menginginkan anak-anak mereka bahagia, begitu jugalah harapan kami." Imbuhnya mengakhiri dengan tatapan datar serta mata memerah.


"Yang paling bersalah di sini adalah Mommy. Mommy lah peran yang paling memaksakan dan bahkan melancarkan rencana ini tanpa memikirkan perasaan kalian," ucap Mommy Isabella dengan senyuman getir. "Mommy tidak sama sekali menyalahkan Eca karena rasa terluka dan kecewa itu tidak mudah ditutupi. Mommy sudah merasakan itu semua bahkan kategorinya jauh berbeda, tetapi rasa cinta Mommy kepada Daddy kalian begitu besar hingga mengalahkan rasa sakit dan kecewa itu," sambungnya seraya menatap Daddy Alfred dengan mata berkaca-kaca.


Daddy Alfred memejamkan mata sesaat mendengar penuturan Mommy Isabella. Kenangan di masa lalu yang kelam membuat dadanya sesak.


Keenan maupun Rebecca tertekun.


Lucky bersama Tuan Sun segera meninggalkan rumah sakit itu karena hari ini Tuan Sun akan melakukan check up di rumah sakit milik keluarga mereka.


Kini tinggallah keluarga Hugo.


"Daddy ingin istirahat," sesudah mengatakan itu Daddy Alfred berusaha bangkit dan beranjak ke ranjang. Melihat hal itu dengan segera Mommy Isabella membantu.


Keenan maupun Rebecca memandang dalam diam.


"Sebenarnya Daddy sakit apa?" gumam Rebecca ingin mendapat jawaban dari Keenan.


Keenan mengalihkan pandangannya ketika mendengar pertanyaan Rebecca.

__ADS_1


"Itu karena kita. Selepas peninggalan kita Daddy tidak sadarkan diri dan detak jantung melemah. Aku mohon untuk saat ini jangan buat Daddy syok karena itu yang dilayangkan dokter," pungkas Keenan.


Mata Rebecca membulat sempurna. Tanpa sadar ia telah menyakiti orang tua yang selama ini mendampinginya.


Tanpa berpikir panjang lagi Rebecca beranjak, mendekati kedua orang tuanya yang sedang terduduk di atas ranjang dalam diam.


"Eca minta maaf Dad, Mom," ucap Rebecca, juga dengan wajah sendu.


Daddy Alfred maupun Mommy Isabella terdiam.


"Eca akan beri kesempatan untuk Keenan," sambungnya dengan sungguh-sungguh.


Mendengar hal itu membuat Keenan tersentak kaget. Dalam hati ia sangat senang.


"Sayang kami tidak memaksamu lagi," lirih Mommy Isabella.


"Tidak Mom, ini murni dari kata hati Eca. Sekali lagi Eca minta maaf, Eca sayang Mommy maupun Daddy," ungkapnya seraya menangis.


Daddy Alfred maupun Mommy Isabella tertekun. Dengan segera Rebecca mendekap kedua orang tua seksligus mertuanya itu.


"Kami juga sangat menyayangimu sayang," lirih Mommy Isabella dalam dekapan Rebecca.


°°°°°°


Keenan hari ini pulang agak cepat dari hari biasanya.


Tiba di apartemen ia langsung berganti pakaian. Bergegas menuju dapur.


"Aku akan menggunakan waktu ini sebaik mungkin," gumam Keenan kepada dirinya sendiri.


Ia mengeluarkan bahan yang dibutuhkan dari lemari es. Malam ini ia akan memasak makanan apa yang disukai oleh Rebecca.


Karena ia bukanlah seorang koki handal hingga ia membutuhkan cara-caranya lewat YouTube.


Tidak terasa ia menghabiskan waktu 1 jam menyiapkan dua menu. Untungnya Rebecca belum pulang.


"Semoga cita rasa cocok di lidahnya." Harapan Keenan setelah menata di atas meja makan.


Setelah itu ia beranjak menuju kamar untuk segera membersihkan diri.


**


Rebecca baru saja turun dari mobil. Ia terdiam seraya memandangi mobil milik Keenan yang berada di sebelah mobilnya. Ia tidak menyangka jika Keenan pulang lebih cepat darinya.


Tidak ingin berpikir apapun ia segera berjalan masuk.

__ADS_1


Ting


Pintu lift terbuka, iapun melangkah menuju kamar apartemen.


Klek


Ia masuk dengan langkah pelan. Karena cukup lelah ia masuk begitu saja kedalam kamar.


Sayup-sayup terdengar gemercik air didalam kamar mandi.


Rebecca menunggu keluarnya Keenan dari kamar mandi dengan duduk di sofa seraya membalas email yang masuk di ponselnya.


Klek


Terdengar handle pintu di putar.


Keenan keluar dengan hanya terlilit handuk sebatas pinggang.


Hmm


Ia sedikit kaget dengan sosok Rebecca di atas sofa.


"Kamu sudah pulang?" ujarnya seraya mengeringkan rambutnya.


Glek


Rebecca menelan ludah tak sengaja memandangi tubuh Keenan.


"Iya," sahut Rebecca dengan perasaan gugup.


Hmm


"Apa kamu sudah selesai?" entah pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut Rebecca. Tanpa bertanya lagi ia juga sudah tau.


"Seperti yang kamu lihat, makanya jangan menunduk saja," ujar Keenan sedikit ingin menggoda Rebecca.


Tanpa menunggu lagi Rebecca segera beranjak dari sofa. Ia meletakan ponselnya di atas sofa, lalu menyambar pakaian ganti yang sudah ia siapkan.


Matanya membulat dengan tubuh menegang merasakan kedua tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Hingga membuat ia berdiri mematung tepat di ambang pintu kamar mandi.


"Biarkan begini sebentar saja," bisik Keenan.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪

__ADS_1


__ADS_2