
Kini aku sudah tiba di loby rumah sakit, menunggu kedatangan Gabriella. Tidak menunggu lama Gabriella akhirnya tiba.
"Dek sudah lama menunggu?" tanya Gabriella kepadaku.
"Sudah 5 menitan Kak. Hmmm apa anak-anak aman saja?" tanyaku sedikit khawatir karena ini pertama kalinya meninggalkan mereka.
"Aman, mereka tidak rewel. Tadi pas Kakak berangkat mereka sedang tidur," sahut Gabriella sembari mengusap bahuku. Merasakan usapan itu membuatku terenyuh dan yang bisa aku lakukan mengangguk-angguk.
Kami segera masuk dan disambut sapaan para tenaga medis. Ya mereka sudah mengenali siapa statusku di sini, sewaktu aku mengalami kecelakaan dan mereka juga tau jika aku mengalami amnesia. Sangat menguntungkan dengan amnesia ini sangat membantu mencari tau siapa inti akar dari pengkhianatan di sini.
Kami menaiki lift khusus untuk menuju ruang direktur. Tiba di depan pintu aku menghentikan langkahku dengan tiba-tiba sehingga membuat Gabriella yang berjalan di belakang tidak sengaja menabrak tubuhku karena dia berjalan sembari melamun.
"Ada apa Dek?" sontak Gabriella kaget.
"Tunggu Kak, ada apa sebenarnya? kenapa dalam ruangan sedikit ramai?" ucapku karena mendengar obrolan didalam ruangan.
"Ayo kita segera masuk," titah Gabriella sembari menarik tanganku, segera memasuki ruangan.
Seketika kami menghentikan langkah tepat diambang pintu, menyaksikan Andre, dokter Frans dan staf lainnya sedang sibuk didalam. Bahkan mereka tidak menyadari kedatangan kami.
"Ada apa ini?" tanyaku sehingga membuat mereka semua memandang kearah pintu.
"Nona," ucap Andre sontak kaget melihat kedatanganku yang tiba-tiba.
Aku berjalan mendekati mereka.
"Selamat siang Nona," sapa para staf menyapaku dengan sangat hormat. Aku mengangguk dan masih penasaran apa yang terjadi.
"Apa yang terjadi?" kembali lagi aku bertanya.
"Ruangan ini kemasukan maling Adik ipar," ujar dokter Frans.
Mendengar pernyataan dokter Frans membuatku membulatkan mata, bagaimana bisa ruangan ini bisa kecolongan.
"Kenapa bisa?" tanyaku masih belum percaya.
Andre menjelaskan bagaimana kronologinya, bahkan mereka tidak tau siapa dalangnya. Semua CCTV tidak berfungsi.
"Saya minta maaf Nona telah lalai," ucap Andre merasa bersalah.
Huff
Aku melangkah menuju sofa, mendudukkan diriku dengan kening mengerut.
"Jadi apa-apa saja yang hilang?" tanyaku.
"Sepertinya tersangka gagal, semua berkas berserakan. Apa yang tersangka incar tidak menemukannya," terang Andre.
__ADS_1
"Bapak staf semua tolong tinggalkan kami," titah ku karena pembicaraan ini secara pribadi. Semua staf keluar seperti yang kuperintahkan. Dan kini tinggallah kami berempat.
"Memangnya ruangan ini tidak terjaga? sampai-sampai kemasukan maling? ini sangat tidak masuk akal," ucap Gabriella ikut berkomentar.
Andre, dokter Frans ikut memikirkan ujung keningnya karena mereka juga sependapat dengan tanggapan Gabriella.
Andre, dokter Frans sedikit canggung karena wanita yang sedang dihadapan mereka saat ini begitu mirip, hanya membedakan potongan rambut saja. Aku memiliki rambut panjang dan Gabriella memiliki rambut sebatas bahu.
"Mereka sama-sama cantik, cuma beda karakter saja. Yang satu tegas sedangkan satunya lagi karakternya lembut dan mudah tersenyum," Andre membatin. "Ya ampun bisa-bisanya aku memikirkan ini sedangkan situasi semakin mencekam," imbuhnya sembari mengusap hidungnya.
"Wanita idaman, mereka sangat mirip. Pantas saja si bodo* itu salah sasaran, sehingga mensia-siakan wanita sebaik dokter Isabella," dokter Frans berbicara dalam hati, dan bahkan mengutuk kebodohan Alfred. "Pantas saja Bernat sampai mengakhiri hidupnya demi wanita itu," imbuhnya.
Aku menghela nafas panjang.
"Ada apa?" ucapku karena sejak tadi Andre maupun dokter Frans memusatkan pandangan mereka kearah Gabriella, sedangkan yang diperhatikan sibuk dengan tablet pintarnya yang berada di pangkuannya.
Mendengar teguran itu membuat keduanya salah tingkah. Gabriella menegakan kepala memandangi Andre maupun dokter Frans secara bergantian, dan itu semakin membuat pria beda karakter itu salah tingkah.
Gabriella menutup tablet dan meletakan di atas meja sofa.
"Tuan Andre, dokter Frans anda berdua pasti sudah mengenaliku jadi aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi," ucap Gabriella. "Tujuan kami ke sini adalah ingin membantu serta menyelamatkan HUGO GROUP, seperti yang kita ketahui saat ini mengalami masalah yang cukup besar dan sangat mengancam. Sedangkan Alfred berada di tahanan, jadi untuk sementara Adikku Abel yang memegang wewenang di sini," terang Gabriella dengan tegas dan tidak bertele-tele. Andre maupun dokter Frans sontak kaget dan mereka saling memandang, lalu berpaling memandang ke arahku.
"Apa yang Kakak katakan itu benar karena aku sendiri yang mengusulkan itu. Sebelum ke sini, aku mengunjungi Alfred dan membicarakan hal ini tetapi sayangnya Alfred tidak setuju dengan alasan tidak ingin sesuatu terjadi kepadaku dan anak-anak," sambungku menjelaskan sedetailnya.
"Maaf jika saya ikut berkomentar Nona. Menurut saya pribadi, saya sependapat dengan Tuan karena ini beresiko," ungkap Andre.
"Iya Adik ipar, resikonya sangat besar makanya Alfred tidak setuju," imbuh dokter Frans.
Aku menghela nafas panjang.
Gabriella, Andre serta dokter Frans menatapku dengan tatapan penuh arti, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kamu tidak tau atau mengingat apa yang pernah pria itu berikan Dek, sehingga takdirmu seperti ini," Gabriella membatin dengan perasaan sedih.
"Andai saja Nona tidak mengalami amnesia, aku yakin tidak akan pernah lagi bertatap muka seperti ini. Kesalahan Tuan begitu besar dan siapapun itu sangat sulit mendapat permintaan maaf," Andre juga ikut membatin.
"Lihatlah bodo* wanita yang kamu sakiti sangat peduli dan bahkan ingin mengambil resiko besar demi menyelamatkan HUGO GROUP serta ingin membebaskan dirimu," dokter Frans mengutuk diri Alfred.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu? apa ada yang aneh dengan perkataanku atau ada sesuatu di wajahku?" ucapku dengan mata menyipit. "Aku memang tidak mengingat apapun itu, tetapi bukankah ini keberuntungan untuk mencari bukti? aku ingin kerja samanya," imbuhku.
"Tapi Nona, jika Tuan mengetahui hal ini tentu saja membuat Tuan murka," ucap Andre.
"Jika tidak ada yang memberitahukan tidak mungkin suamiku tau, kecuali kalian berdua yang memberitahukan itu," sahutku dengan jengah karena tidak ingin membuang waktu membicarakan masalah ini terus-menerus, sedangkan rencana belum berjalan. "Untuk itu besok pagi informasikan kepada seluruh staf serta tenaga medis agar berkumpul di aula," kataku yang ditujukan kepada Andre karena dia adalah asisten pribadi.
"Suami?" gumam mereka bertiga serempak.
Aku menelan ludah karena menyadari perkataanku, tetapi dengan santai aku berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka gumam.
__ADS_1
"Andre saat ini berapa kerugian di rumah sakit ini?" tanyaku ingin tau.
Andre mengeluarkan map atas laporan keuangan rumah sakit.
"Sekian-sekian Nona," Andre menyebutkan angka nominal yang berhasil membuat mataku membulat .
"Sedangkan di rumah sakit cabang?"
"Sekian-sekian Nona," Andre kali menyebutkan angka nominal yang tidak kalah besarnya.
Aku tercengang dengan mata berkunang-kunang.
"Investor sudah banyak mengajukan penarikan saham kembali Nona, tetapi kita tidak mampu mengembalikannya secara bersamaan serta cash," terang Andre.
"Waktu Om serta Moses berkunjung beberapa hari lalu, sempat menawarkan penyuntikan dana dan bersedia meminjamkan uang untuk mengembalikan uang para investor," ujar dokter Frans tidak secara formal memanggil mereka. "Tetapi Alfred menolaknya," imbuhnya.
Aku mengigit bibir bawah. Aku yakin jika meminjam dana dari keluarganya dapat menutupi kerugian ini tetapi kembali lagi, aku tidak ingin membuat Alfred tersinggung.
"Baiklah aku akan membicarakan masalah ini besok dengan suamiku. Andre besok kamu akan ke kota x bersama Kak Gaby untuk menangani kekacauan di sana," titahku.
Mendengar perintahku membuat Andre kaget. Tetapi tidak lama, bibirnya tertarik ke atas seperti mendapat hadiah.
"Apa aku boleh ikut Adik ipar?" tanya dokter Frans.
Aku maupun Gabriella memandangi dokter Frans dengan kening mengerut.
"Anda masih banyak kesibukan di sini," ujar Andre bermaksud tidak setuju dengan permintaan dokter Frans. Entah kenapa dia tidak ingin dokter Frans ikut serta ke kota x, hanya Andre yang tau jawabannya.
"Kenapa aku keberatan dokter Frans ikut?" Andre membatin.
"Apa dokter yakin?" tanyaku.
"Tentu saja Adik ipar karena dulu aku sudah lama menetap di sana sebelum di mutasikan di sini," sahut dokter Frans dengan yakin.
"Ada apa dengan diriku? sehingga ingin ikut serta? dan keberatan dengan Andre," dokter Frans berperang dengan hatinya.
"Maaf Nona jika saya tidak setuju. Jika semua berangkat ke sana, siapa yang mendampingi Nona di sini?" ucap Andre. Apa yang dikatakan Andre ada benarnya juga.
"Tidak maslah, aku bisa mengatasinya," sahutku. "Baiklah seusai rapat besok kalian akan segera berangkat. Kita sudahi sampai di sini dulu pembicaraan ini, mohon tinggalkan aku sendiri. Kak lebih baik Kakak duan pulang, aku akan pulang setelah pekerjaanku selesai,"
Mereka langsung meninggalkan ruangan secara bersamaan. Aku beranjak bangkit lalu mengunci pintu dan mulai mencari yang ingin aku cari.
Kubuka laci meja mencari kartu memory card, tetapi laci itu hanya berisi beberapa foto diriku dan anak-anak. Benda yang kucari tidak aku dapatkan.
"Apa memory card itu di curi?" aku langsung melemparkan tubuhku di kursi kebesaran dengan perasaan kecewa. Tidak ingin patah semangat aku berusaha mencari dimana-mana.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪
•Kepada kakak-kakak yang like dan komen, sebaik mungkin author menyempatkan waktu untuk membaca tetapi tidak dapat membalas satu-persatu, jadi dengan ini untuk mewakili semuanya. Trims masih setia.....❤❤❤