
Deg
"Puluhan tahun itu aku memendam perasaan suka kepada Kiran," ungkap Leon kembali.
Mata Keenan membulat mendengar pernyataan Leon.
"Jangan bercanda Kak," gumam Keenan seakan itu adalah lelucon semata Leon.
"Itulah kenyataannya," sahut Leon.
Keenan memejamkan mata sesaat. Ia beranggapan bahwa yang dikatakan Leon adalah lelucon tetapi dalam sekejap ia sadar bahwa itu adalah kenyataan yang sebenarnya.
"Apakah Kakak salah brother?" ujar Leon dengan raut wajah serius seraya melipat kedua tangannya.
Keenan tak menjawab karena cukup bingung.
"Kita tidak bisa menyalahkan hati untuk menyukai seseorang." Tiba-tiba suara lembut dari arah ambang pintu akses menuju balkon keluarga membuat kedua pria tampan itu saling menoleh kearah suara.
"Mom," seru keduanya secara bersamaan.
Mommy Isabella berjalan mendekat, lalu duduk di samping Keenan.
"Mommy sudah mendengar semua yang kalian obrolkan. Maaf jika tindakan Mommy lancang," ucap Mommy Isabella seraya mengusap wajahnya.
Keenan maupun Leon terdiam. Sedangkan Mommy Isabella tidak tau harus berbuat apa lagi. Di satu sisi ia bahagia mendengar pengakuan Keenan kepada Rebecca dan di sisi lain ia berpikir kuat dengan pengakuan Leon.
"Apa Mommy salah mendidik kalian? apakah ini sebuah kutukan? kenapa diantara kalian tumbuh rasa yang sangat dilarang? Mommy menganggap kalian semuanya sama yaitu putra dan putri Mommy sendiri tanpa ada status lain. Tetapi kenapa harus ada benih cinta yang seharusnya untuk orang lain?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak. Dulu Rebecca mengatakan bahwa sangat mencintai Keenan, maka dari itu Mommy Isabella kuat menjodohkan mereka. Dan kini Leon dengan terang-terangan juga memiliki perasaan kepada Kiran.
Keenan maupun Leon menunduk, mereka sungguh tak kuasa melihat raut wajah sendu itu.
"Mommy tidak menyalahkan hati untuk menyukai siapapun," sambungnya sudah tak dapat lagi membendung air mata.
Mendengar suara parau seperti menahan tangis membuat Keenan maupun Leon mendongak menatap wajah Mommy Isabella.
Mommy Isabella menyapu air matanya dan berusaha menutup kesedihannya.
"Mom tolong jangan begini," ujar Leon dengan perasaan bersalah. Ia beranjak pindah, lalu duduk disebelah Mommy Isabella yang saat ini tergugu.
"Masalah Keenan dan Rebecca saja belum selesai," lirihnya tanpa ingin memandang kedua putranya itu.
Leon mengusap lembut bahu yang terguncang dengan perasaan bersalah.
"Sayang Daddy kalian saat ini masih dalam tahap pengobatan. Jantung Daddy sangat lemah. Dokter menyarankan agar untuk saat ini dijauhkan dengan masalah yang membuatnya syok," ungkap Mommy Isabella dengan jujur.
"Kenapa Mommy menyembunyikannya?" tutur Leon dengan raut wajah khawatir. Ia tidak tau masalah ini.
__ADS_1
"Karena Mommy tidak ingin menambah beban kalian," sahutnya.
"Maaf Mom ini semua berawal dari kesalahanku," ujar Keenan dengan perasaan bersalah.
Mommy Isabella mengusap bahu Keenan.
"Tidak ada yang patut disalahkan, ini sudah kehendak," ucap Mommy Isabella berusaha setenang mungkin.
Sedangkan Leon terdiam, masih memikirkan kesehatan Daddy mereka. Hampir saja ia mengungkapkan perasaannya dihadapan semua orang termasuk sang Daddy. Jika hal itu terjadi, maka Leon tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Sayang Mommy tidak menyalahkan kamu untuk menyukai Kiran. Mommy juga tidak tau harus merestui atau sebaliknya karena saat ini Mommy benar-benar tidak dapat berpikir. Jalani saja dulu dan sebaiknya kamu mencari tau perasaan Kiran agar ke depannya tidak ada tumbuh perasaan kecewa," pungkas Mommy Isabella kepada Leon.
Leon mencerna kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh Mommy Isabella.
"Baik Mom," ujar Leon seakan menyetujui usulan itu.
Mommy Isabella tersenyum kecil.
"Kamu benar-benar pria sejati. Karena menyukai Kiran kamu mampu tak melirik wanita lain," ungkap Mommy Isabella memuji kesetiaan Leon.
Leon hanya bisa menunduk dengan perasaan campur aduk, antara bahagia dan sedih.
"Sayang Mommy sangat senang mendengar bahwa kamu sudah membuka hati dan berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kalian. Semoga usaha itu membuahkan hasil," ucap Mommy Isabella kepada Keenan.
Keenan mengangguk dengan bibir melengkung.
Di kamar
Rebecca keluar dari kamar mandi bertepatan dengan masuknya Keenan kedalam kamar. Hal itu membuat keduanya saling memandang satu sama lain.
Rebecca berjalan mendekati ranjang. Keenan juga berjalan mendekati ranjang. Ini adalah kamar pribadi Rebecca sejak ia masih kecil dan setelah dewasa.
"Boleh aku tidur di sini?" tanya Keenan, seharusnya ia tidak perlu menanyakan itu karena status mereka adalah sepasang suami-istri.
Rebecca mengangguk sambil tersenyum penuh arti. Tentu saja reaksi Rebecca itu membuat Keenan membeku.
Keduanya duduk dengan kaki menggantung.
"Bagaimana jika besok kita ke puncak?" ujar Keenan seraya menatap Rebecca dengan tatapan datar.
Rebecca berpikir sejenak.
"Baiklah," sahutnya.
Keenan sangat senang mendengarnya hingga membuatnya tidak sadar mengusap pucuk kepala Rebecca dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Dengan segera Rebecca menghindar, dengan membaringkan segera tubuhnya membelakangi. Keenan menggelengkan kepala seraya menatap punggung Rebecca.
Keenan pun segera ikut membaringkan tubuhnya. Dengan keberanian ia kembali memeluk Rebecca dari arah belakang. Tubuh Rebecca menegang merasakan sebuah tangan kekar itu melingkari pinggang rampingnya.
Keenan menyangga kepalanya menggunakan tangannya.
"Tinggal 4 hari lagi, apa belum ada perubahan?" bisik Keenan dengan suara parau.
Rebecca yang ditanya seperti itu membuat jantungnya berdebar.
"Apa kamu sudah mengantuk?"
"Iya," sahut Rebecca dengan perasaan campur aduk.
Keenan menarik tubuh itu agar menghadap padanya. Usahanya membuahkan hasil karena reaksi Rebecca tak menolak.
Keenan menatap intens wajah cantik itu. Wajah keduanya sangat dekat hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan hembusan nafas keduanya saling menerpa.
"Aku mencintaimu Rebecca," ungkap Keenan dengan raut wajah serius seraya menatap Rebecca dengan perasaan cinta.
Tubuh Rebecca menegang merasakan sebuah ungkapan itu kembali. Sorot mata keduanya saling bertukar pandang.
Cup
Keenan kembali menempelkan bibirnya ke bibir seksi milik Rebecca. Sorot mata keduanya tak lepas.
Entah apa yang membuat Rebecca memejamkan mata. Hal itu membuat Keenan bersorak Sorai dalam arti Rebecca tidak menolak bahkan menginginkan lebih dari itu.
Keenan semakin memperdalam ciumannya. Ciuman berubah menjadi hi sappan, lu mattan. Lambat laun Rebecca terbuai hingga ia membalas ciuman panas itu.
Entah berapa lama keduanya terbuai hingga kehabisan oksigen membuat mereka terpaksa menyudahi.
Deru nafas keduanya menggebu-gebu, diiringi detak jantung tak karuan.
Rebecca sangat merasa malu hingga ia hanya menunduk dengan wajah bersemu merah. Sedangkan Keenan sangat bahagia karena dikit demi sedikit Rebecca membuka hatinya.
"Tidurlah," gumam Keenan seakan paham dengan perasaan Rebecca saat ini. Ia renguh tubuh itu membawanya kedalam pelukannya.
Tanpa sadar Rebecca menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. Pelukan yang tak bisa ia tolak karena begitu nyaman.
"Bohong jika aku mengatakan jika sudah menutup hati untukmu," batin Rebecca.
Keenan tak henti-hentinya menghujani kecupan di pucuk kepala Rebecca. Mendapat perlakuan manis itu membuat Rebecca merasa senang dan menutup mata.
"Semoga hal yang aku takutkan tak pernah terjadi. Tuhan aku benar-benar tidak ingin perpisahan ini terjadi," batin Keenan.
__ADS_1
Bersambung .....
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪