
1 minggu telah berlalu, selama itu aku dan Alfred tidak bertatap muka, bahkan aku tidak tau keberadaannya. Tetapi itu keuntungan bagiku karena aku tidak ingin Alfred kembali membahas masalah yang berhubungan dengan dua pilihan itu. Aku memang ingin menghindari Alfred.
Di meja makan kami sedang menikmati sarapan pagi. Pagi ini menu yang sudah kusiapkan adalah nasi goreng sesuai request dari Leon.
"Enak sekali Mom," celoteh Leon dengan mulut penuhnya.
"Kalau gitu makan yang banyak biar cepat jadi CEO,"
Leon seketika menampakan gigi rapatnya itu membuat tanganku ini gemes ingin mencubit pipi chubby itu.
"Sakit Mom," cicit Leon dengan suara manja.
"Mommy gemes sayang," kataku kembali mencubit kedua pipi Leon dan menempelkan wajahku.
Sungguh kebahagiaanku sekarang terletak pada Leon. Kehadiran Leon penyemangat untukku tetap melanjutkan hidup setelah kedua orang tuaku.
Setelah Leon berangkat, akupun bersiap untuk berangkat ke rumah sakit.
Pintu rumah aku kunci, ternyata mobil yang biasa dikendarai Alfred muncul dari gerbang. Aku menghela nafas panjang, jujur saja aku malas ingin bertemu.
"Selamat pagi Nona," aku tau itu suara Andre. Aku menoleh dan ternyata hanya ada Andre sendiri.
"Pagi Andre," aku selalu membalas sapaan Andre.
"Tunggu Nona," Andre menghentikan langkahku sehingga aku berbalik lagi.
"Ada apa Andre?"
"Untuk beberapa minggu ini Tuan tidak pulang karena berada diluar kota untuk menyelesaikan suatu masalah," jelas Andre.
Alisku terangkat mendengar kabar itu.
"Itu bukan urusanku Andre, untuk apa kamu memberitahuku?" ucapku dengan cuek. Bahkan itu keberuntungan bagiku.
"Saya hanya menyampaikan Nona. Tuan menitipkan ini," Andre merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu . Lalu mengulurkan kepadaku. "Ini untuk kebutuhan Nona bersama Leon," sambung Andre.
Mataku menyipit melihat kartu berwarna hitam itu. Seketika aku sedikit kaget karena kartu itu hanya bisa dimiliki oleh orang tertentu tetapi kenapa Alfred bisa memiliki kartu itu, sedangkan dia hanya bekerja di perusahaan orang yang kedudukannya adalah sebagai asisten pribadi.
"Apa aku tak salah lihat Andre? itu kartu seperti Papa dan Adikku Moses punya," kataku tanpa mengalihkan pandangan ke tangan Andre.
"Saya tidak perlu menjelaskannya Nona karena bukan hak saya. Saya hanya menjalankan tugas," ujar Andre engan berkata panjang lebar.
"Sebenarnya Alfred itu siapa? bisa kamu beritahu kepadaku Andre?"
"Anda istrinya Nona, Nona lebih tau itu," ucapan Andre membuatku kesal.
"Istri pajangan, bahkan seluk-beluk, asal usulnya aku tak pernah tau," desisku sembari membuang muka.
__ADS_1
"Saya juga baru bekerjasama dengan Tuan Nona jadi saya juga tidak tau masalah pribadi Tuan," elak Andre.
"Saya tidak butuh itu, kembalikan saja," ucapku engan mengambil kartu kredit itu.
Andre menatapku dengan tajam tetapi aku cuek dan pura-pura tidak melihat.
"Saya tau Nona orang berkecukupan dan tidak butuh itu tetapi hargai pemberian Tuan," Andre tetap kekeh memaksa.
Aku tersenyum miris mendengar ocehan Andre. Hargai? apa Alfred juga menghargaiku selama ini? tidak bukan?. Aku tersenyum mengejek diriku sendiri.
"Aku sangat menghargai Tuanmu walaupun aku diperlakukan dengan sewenangnya," ucapku dengan suara cukup meninggi.
Andre menggaruk kepala yang tidak gatal, entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kembalikan padanya Andre," lirihku seperti memohon.
"Jika Nona keberatan, anggap saja untuk membantu biaya sekolah atau keperluan Leon Nona," Andre tetap kekeh. "Plis Nona, jika Nona menolak singa itu akan mengamuk," tentu saja Andre berani mengatai Alfred dalam hati.
Melihat wajah Andre membuat aku tidak tega. Tanganku terulur menggapai kartu itu, biarlah aku simpan, itulah menurutku karena aku masih mampu memenuhi biaya hidup kami berdua.
"Terima kasih untuk kerjasamanya Nona," seketika wajah datar Andre tadi berubah berwarna, bahkan pria dingin itu tersenyum manis.
"Sebenarnya kamu tampan Andre, selalulah tersenyum," kataku.
Huk huk
Tiba-tiba Andre batuk mendengar pujian itu. Bahkan Andre salah tingkah sedangkan aku menggelengkan kepala.
Dret....
Ucapanku terhenti karena ponsel Andre bergetar. Andre raih ponsel itu lalu menjawab panggilan. Andre berpamitan dengan kode sehingga membuat pembicaraan kami berakhir.
Akupun tak ambil pusing lalu bergegas menuju mobil Pak Seun yang sejak tadi menungguku.
°°°°°°
Di perusahaan Alfred sedang beristirahat di kamar pribadi yang terdapat dalam ruangan. Karena baru tiba dini hari dari kota x rasa lelah tentu saja menggerogoti tubuhnya.
Tok tok
Klek
Pintu langsung dibuka oleh Andre karena ia tau jika Alfred sedang beristirahat.
"Bagaimana Andre?" ujar Alfred dengan suara serak khas bangun tidur. Mendengar handle pintu membuat tidurnya terganggu.
"Selama pagi Tuan," sapa Andre dan meletakan kantong kresek yang ia bawa. "Nona sempat menolak Tuan," Andre berkata jujur.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Andre membuat Alfred langsung mendudukkan dirinya dengan raut wajah murka. Hal itu sudah diprediksi Andre.
"Nona bertanya siapa Tuan sebenarnya karena bisa memiliki black card yang tidak sembarangan orang. Tetapi saya engan menjelaskannya karena itu bukan urusan saya Tuan," cerita Andre. "Saya rasa Nona mulai curiga Tuan," imbuh Andre.
Alfred memijit ujung keningnya.
"Jadi?"
"Karena saya paksa akhirnya Nona setuju Tuan," ujar Andre tanpa sadar senyum sendiri mengingat pujian tadi pagi.
Kening Alfred mengerut melihat gelagat Andre yang tak biasanya. Pria ini sangat jarang sekali tersenyum tetapi hari ini Alfred melihat hal itu.
"Apa ada yang lucu Andre? kau salah minum obat?" pertanyaan Alfred seperti bentakan.
Andre menelan ludah lalu langsung mengubah ekspresi yang sudah terlanjur diperhatikan Alfred.
"Andre?" suara bariton Alfred membuat Andre tak berkutik. "Wajahmu memerah Andre,"
Andre kembali menelan ludah dan berusaha menyembunyikan wajah bersemu merahnya.
"Apa saya tampan Tuan?" ujar Andre sudah kehilangan akal, bahkan dia tak sadar dengan siapa dia bertanya.
Alfred menyipit matanya, ia semakin yakin jika Andre salah minum obat.
"Tidak, kecuali orang gila yang mengatakan hal itu,"
"Hah....berarti Nona orang gila Tuan?" ucapan itu keluar dengan mudahnya dari mulut Andre, sungguh kesadarannya hilang akibat pujianku.
"Apa kau bilang Andre?" suara Alfred menggema bahkan bangkit berdiri sembari menjentik dahi Andre sehingga Andre sadar atas ucapannya.
"Itu, itu Nona yang mengatakan saya tampan jika tersenyum Tuan," ungkap Andre dengan takut-takut dengan kepala menunduk.
Rahang Alfred mengeras mendengar pengakuanku.
"Keluar sekarang," bentak Alfred sembari menunjuk pintu keluar.
Andre sentak kaget bahkan wajah Alfred sangat marah. Dengan secepat mungkin Andre bergegas keluar sebelum singa kembali mengamuk.
"Sepertinya Tuan cemburu," gumam Andre di ruangan Alfred.
Alfred kembali mendudukkan dirinya di tepi kasur. Alfred mengusap wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
"Ada apa denganku? kenapa aku sangat marah mendengar cerita Andre? seharusnya itu bukan urusanku," gumam Alfred merutuki kebodohannya.
Aaak....
Alfred berteriak frustasi. Sepanjang ini wajah Isabella menghiasi dirinya selepas kejadian satu minggu lalu, dimana aku mengungkapkan perasaanku.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan like, vote, favorit, hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi💪