MEMILIH DIAM

MEMILIH DIAM
Episode: 188~MDS2


__ADS_3

Sekitar pukul 6 sore mereka sepakat menghubungi kedua orang tua mereka. Berarti di sana sudah pukul 10 malam. Korea Selatan lebih cepat 4 jam dari Maldives.


Rebecca mulai menghubungi salah satu ponsel milik orang tua mereka. Tetapi tidak bisa dihubungi. Ia kembali melakukannya hingga ia menghubungi nomor ponsel milik Daddy Alfred. Tetapi tidak tersambung juga hingga membuatnya mengeluh.


"Sayang ponsel Daddy maupun Mommy tidak bisa dihubungi," adu Rebecca dengan raut wajah panik.


Hal itu membuat Keenan bangun dari pembaringannya, lalu bersandar pada ranjang.


"Coba hubungi Bibi, gunakan Videocall saja," ujar Keenan.


Rebecca langsung menghubungi dan tersambung.


Rebecca: "Halo Bi...."


Bibi: Iya Non. Non ada dimana?"


Rebecca: Bibi tenang ya....Eca baik-baik saja. Oya Daddy maupun Mommy dimana ya Bi? sejak tadi tidak bisa dihubungi. Apa sudah tidur?"


Bibi: "Tuan dan Nyonya ada di ruang keluarga Non. Tunggu biar Bibi memberitahukan kepada Tuan, Nyonya."


Bibi melangkah memasuki ruang keluarga. Dari kejauhan ia melihat kedua majikannya sedang berbicara.


Rebecca: "Soroti keberadaan Daddy sama Mommy Bi."


Bibi pun melakukan sesuai yang dimintai Rebecca. Hingga mereka dapat mendengar bahkan melihat keadaan kedua orang tuanya.


Bibi: "Sayang sudahlah jangan menyiksa dirimu seperti ini, jika Mommy tidak makan bagaiman Mommy sehat?"


Bibi: "Bagaimana bisa makanan masuk kedalam kerongkongan Mommy sayang? sedangkan anak-anak kita tidak tahu dimana keberadaannya."


Bibi: "Sayang mereka bukan anak kecil lagi, jadi tenanglah. Semua akan baik-baik saja."


Keenan maupun Rebecca saling memandang melihat sosok yang mereka sayangi terpuruk seperti itu.


Bibi: "Sayang dimana kalian? jangan buat Mommy takut."


Di seberang sana Rebecca merutuki Keenan, karena rencananya itu membuat kedua orang tua mereka khawatir.


"Kamu lihat sendiri, Daddy dan Mommy mengkhawatirkan kita," maki Rebecca dengan bisikan.


Keenan menangkup kedua tangannya.


"Maaf sayang," balas Keenan dengan wajah memelas.

__ADS_1


Bibi: Maaf Tuan, Nyonya jika saya menganggu. Ini Non Eca ingin berbicara."


Mendengar hal itu membuat dua paruh baya itu kaget dan langsung menyambar ponsel milik Bibi.


Mommy: "Halo sayang....."


Tiba-tiba air mata itu tak dapat terbendung lagi.


Rebecca menjelaskan apa yang terjadi. Begitu juga dengan Keenan.


Kaget dan tak percaya tentu saja meliputi perasaan mereka. Awalnya marah tetapi tak lama dua paruh baya itu ikut bahagia, bahkan ingin segera memberikan cucu secepat mungkin.


Cukup panjang lebar mereka berbincang-bincang yang pastinya mengarah kepada hubungan mereka. Dan sambungan via telepon pun berakhir karena Keenan dan Rebecca ingin makan malam.


°°°°°°


Usai makan malam mereka kembali bersantai di luar kamar.


"Sayang kapan kita kembali?" ucap Rebecca.


"Apa kamu tidak dengar Mommy mengatakan agar kita secepat mungkin memberikan cucu? itu artinya kita tetap akan di sini sebelum sesuatu tumbuh di dalam sini," ujar Keenan seraya mengusap perut transparan itu karena setiap hari Rebecca hanya menggenakan lingerie kurang bahan. Itu semua atas keinginan Keenan.


"Sayang aku bosan hanya berdiam di kamar," cicit Rebecca dengan wajah memelas.


"Bosan? bagaimana jika sekarang kita berikan cucu untuk Daddy sama Mommy? pasti kamu tidak akan bosan," goda Keenan dengan mengedipkan mata.


Pekik Keenan merasakan perutnya di cubit oleh Rebecca.


"Dasar mesum!"


"Mesum kepada istri sendiri tak ada salahnya kecuali kepada istri tetangga," goda Keenan kembali.


Rebecca melototkan kedua matanya.


"Awas saja jika berani melakukan itu, jika tidak ingin adik kecilmu itu dimutilasi!" Ancam Rebecca dengan wajah serius.


Seketika khayalan Keenan berselancar dengan kalimat mutilasi, hingga membuatnya tiba-tiba menjerit.


"Benar-benar ingin dikebiri," ucap Rebecca dengan wajah heran.


"Jangan sayang.....ampun!" Ujar Keenan seraya menggenggam tangan Rebecca.


Rebecca menggelengkan kepala melihat sosok pria yang sangat dicintainya itu ternyata lucu.

__ADS_1


"Sayang kamu ingin anak berapa?" tanya Rebecca kini ia berbaring dengan kepala di atas pangkuan Keenan, jari-jemarinya bermain dengan jemari Keenan.


"Cukup satu," sahut Keenan dengan singkat.


Seketika membuat Rebecca kaget.


"Satu?" ulang Rebecca dengan sorot mata heran.


Keenan mengangguk.


"Kenapa hanya satu? jika satu berarti kita tak memiliki anak sepasang," protes Rebecca tidak sependapat dengan keputusan Keenan.


"Karena aku tidak ingin kamu menghabiskan waktu untuk mereka sayang," ujar Keenan dengan santainya.


Hah.....


Rebecca menganga mendengar alasan tak masuk akal itu.


"Dasar!" Celoteh Rebecca seraya bangkit. Lalu berlari masuk kedalam kamar.


"Sayang tunggu," teriak Keenan.


Rebecca langsung melemparkan tubuhnya ke atas kasur. Lalu menyelimuti seluruh tubuhnya hingga tak terlihat.


Keenan tersenyum mendapati istrinya berulah. Lalu ia mendekat.


"Sayang nanti kamu tidak bisa nafas. Ayo buka gulungan itu," ujar Keenan.


Rebecca tak menjawab dan ia masih betah dengan keadaan seperti itu.


Sudah berusaha Keenan merayu agar Rebecca membuka gulungan itu tetapi tak berhasil, bahkan Rebecca engan untuk disentuh.


"Baiklah aku akan pergi keluar, mungkin saja di luar sana ada rumput tetangga yang lebih mengo....."


"Mau aku mutilasi?"


"Berhasil!" Batin Keenan.


"Hah.....mau aku mutilasi?" seru Rebecca dengan sorot mata tajam.


"Kamu sangat lucu sayang," ujar Keenan langsung mengkungkung tubuh Rebecca.


"Hentikan! Hentikan sayang....geli....."

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi 💪


__ADS_2