
Vaya mulai mencicipi daging steak buatan Vier, menyuapkan potongan berbentuk sekali gigit yang membuat matanya seketika terbelalak.
Seluruh indra pengecap yang tersebar di seluruh permukaan lidah Vaya terlalu terkejut dengan daging yang saat ini dikunyahnya pelan-pelan.
"Ada apa, Vaya? Kenapa ekspresi wajahmu seperti itu?" tanya Vier.
"Kalau kau memuntahkan makananmu, kau benar-benar akan menyesal!" Vier mengancam Vaya.
Vaya menelan daging yang dikunyahnya dengan penuh kehati-hatian.
"Vier, aku tidak akan memuntahkannya! Hanya saja, aku sangat terkejut, apa sungguh hidangan ini benar-benar buatanmu sendiri?" tanya Vaya keheranan.
"Kenapa? Kau meragukan kemampuan memasakku?" tanya Vier.
"Hmm, ya, aku benar-benar tidak menduga kau punya kemampuan memasak yang luar biasa," jawab Vaya.
Vier mengulas senyum miring sambil menautkan seluruh jemarinya.
"Vaya, berapa kali harus kukatakan padamu, aku pandai melakukan banyak hal," sahut Vier dengan nada penuh kebanggaan.
Vaya mau tidak mau mengulum senyumnya melihat Vier yang selalu dan terlalu percaya diri. Namun sepertinya memang banyak hal yang tidak Vaya ketahui tentang Vier, kecuali sikap dominannya terhadap segala sesuatu, konsep hukuman, dan tentunya betapa liarnya pria itu di atas ranjang.
"Vaya, kau patut berterima kasih padaku karena aku sudah bersedia memasak untukmu! Jujur saja, aku bahkan malas memasak untuk diriku sendiri!" kata Vier.
"Oh begitu," sahut Vaya.
"Oh begitu? Apa hanya itu saja yang bisa kau katakan?" Vier terperangah.
Kenapa Vier jadi ngegas begitu sih? Batin Vaya.
Vier mendengus kesal, padahal ia benar-benar sudah mengharapkan ucapan terima kasih Vaya.
Huh! Dasar wanita tidak tahu berterima kasih! Gerutu Vier dalam hati.
Vaya kembali menyuapkan makanannya, hingga tak terasa ia sudah menandaskan isi piringnya.
Vaya menatap Vier yang masih memasang ekspresi cemberut.
Vaya mengambil gelas berisi air mineral dan meneguknya sedikit, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar dermaga.
Semilir angin yang berhembus lembut, langit malam yang nampak cerah, ditambah dengan pencahayaan yang temaram membuat suasana dermaga di tepi danau ini benar-benar sangat romantis.
Hanya saja, Vaya justru merasakan suasana tegang karena Vier masih tetap memasang ekspresi cemberut yang benar-benar kentara. Padahal sebelumnya Vier nampak ceria dengan senyum penuh kebanggaan.
"Anu, Vier," kata Vaya berusaha mencairkan suasana.
"Anu apa?!" sahut Vier dengan nada yang masih ngegas.
"Danau di depan kita ini, danau buatan ya?" tanya Vaya.
"Kalau kau berpikir ini Danau Toba, maka kau salah besar!" tandas Vier dengan sengitnya.
"'Vier, siapa yang bilang danau ini Danau Toba sih?" gerutu Vaya.
__ADS_1
"Ya habisnya pertanyaanmu sungguh aneh, absurd, dan tidak berbobot! Sungguh mencerminkan pikiranmu yang dangkal! Asal tahu saja ya, danau buatan ini bahkan memiliki kedalaman yang lebih dalam daripada pikiranmu!" tandas Vier.
Vaya memutar bola matanya.
"Vier, apa salahnya aku bertanya? Lalu kenapa juga kau mengaitkan pertanyaanku yang aneh, absurd, dan tidak berbobot itu dengan pikiranku yang dangkal lalu membandingkannya dengan danau di halaman rumahmu?" gerutu Vaya.
"Vaya, apa kau sungguh ingin aku melemparmu ke danau dan membiarkanmu menjadi santapan ikan piranha?" tanya Vier.
"A-apa?! Ikan piranha?! Vier, apa kau benar-benar sudah gila?! Bagaimana kau bisa memelihara monster seperti itu?!" sergah Vaya.
"Pft...,"
Mike cepat-cepat menutup mulutnya yang tak sengaja tertawa. Namun Vaya sudah keduluan memergoki tawa Mike.
"Sudahlah, mau aku pelihara ikan piranha, megalodon, atau pun dinosaurus, itu bukan urusanmu, Vaya!" sergah Vier.
Vier meneguk air mineral dalam gelasnya dengan cepat. Rasanya saat ini moodnya memburuk seketika.
Vaya kembali menghela napas berat, kenapa berbincang dengan Vier selalu saja menegangkan seperti ini? Seakan Vaya benar-benar harus menjaga mulut daripada ucapannya malah membuatnya justru mendapat hukuman dari Vier.
"Baiklah Vier, kalau begitu sebaiknya aku kembali ke kamarku. Rasanya tak ada gunanya aku di sini lebih lama. Padahal tadinya aku pikir tempat ini akan benar-benar sangat asyik untuk bersantai. Pemandangan malam yang sangat indah, suasana yang sangat tenang, makanan yang sangat enak, nikmat mana lagi yang harus kudustakan?" cerocos Vaya.
Vaya segera beranjak dari tempat duduknya.
"Vaya! Tunggu!" sergah Vier.
"Apa lagi, Vier?" tanya Vaya menatap skeptis ke arah Vier.
"Apa kau sungguh ingin melemparku ke danau dan menjadi makan malam ikan piranha peliharaanmu?" sungut Vaya.
"'Ada apa lagi, Vier?!" keluh Vaya.
"Kau belum menyantap hidangan pencuci mulut," sahut Vier.
"Hee?" Vaya kembali terheran-heran.
Vaya benar-benar heran melihat Vier yang tiba-tiba langsung mengulas kembali senyumnya setelah sedari tadi melihat pria itu memasang ekspresi cemberut.
Vier seketika mengembangkan senyumnya karena mendengar cerocosan Vaya mengenai masakannya yang sangat enak. Vier akan menganggap itu sebagai pujian secara tidak langsung yang terlontar dari mulut Vaya. Pujian itu cukup membuat Vier merasa sangat berbunga-bunga.
Pelayan segera meletakkan semangkuk es krim rasa vanila dengan lelehan cokelat dan kepingan daun emas sebagai hiasannya.
"Wah, es krim yang sangat cantik," puji Vaya.
Vier kembali mengulas senyumnya.
"Lekas dimakan sebelum meleleh!" tukas Vier.
Vaya nampak ragu saat memandangi daun emas sebagai hiasan.
"Vier, ini cokelat berwarna emas ya?" tanya Vaya.
"Bukan, itu emas yang bisa dimakan," sahut Vier.
__ADS_1
"Apa?!" Vaya terlonjak kaget.
"Emas yang bisa dimakan?!"
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Vier.
"Haha, yah, biasanya emas yang kutahu itu bentuknya berupa logam mulia dan perhiasan yang dipakai untuk dipamerkan," jawab Vaya.
"Ya sudah, makan saja emas itu! Siapa tahu kau bisa pamer kotoranmu berlapis emas! Haha!" Vier tertawa mengejek.
Vaya mencebik mendengar ejekan Vier.
Bisa-bisanya pria itu membicarakan tentang kotoran di depan makanan! Dasar jorok!
"Lekas dimakan!" perintah Vier.
Vaya mencebik, ia segera menyendok es krim dengan sendok perak.
Tring..
Vaya mendengar ada sesuatu yang berdenting dari dalam es krim. Ia menyingkirkan tumpukan es krim dan menemukan sesuatu yang berkilauan dari dalam es krim.
Sebuah cincin dengan berlian besar mencuat dari dalam timbunan es krim.
Vaya menatap Vier yang mengulas senyumnya.
"A-apa ini, Vier?" tanya Vaya.
"Ikan piranha!" sahut Vier sambil menyeringai.
Vaya mencebik mendengar gurauan Vier.
"Vier, aku bisa membedakan ikan piranha dan cincin," sahut Vaya.
"Haha, habisnya pertanyaanmu aneh!"
"Bukan begitu, maksudku cincin apa ini?"
"Itu cincin ikan piranha! Haha!" sahut Vier lagi.
Lagi-lagi Vaya melengos mendengar tawa Vier.
Vier mengambil cincin itu dan menyiramnya dengan air mineral untuk menghilangkan sisa es krim yang menempel.
Setelah bersih, Vier pun mengambil tangan kiri Vaya.
"Aku rasa ukuran cincin ini akan pas di jarimu," kata Vier sambil menyematkan cincin itu ke jari manis kiri Vaya.
Vaya tercengang, ia bahkan tak sanggup untuk berkata-kata karena saat ini jantungnya langsung berdegup kencang tak karuan.
Matanya tak bisa lepas dari cincin yang saat ini terpasang sempurna di jari manis kirinya.
Vier langsung mengulas senyum puas.
__ADS_1
"Cincin ini adalah milikmu, Vaya."
...*****...