
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu membuat Vaya terbangun dari tidurnya. Vaya mengerjapkan mata, dengan kepala yang masih terasa begitu pusing tangannya menggapai sisi tempat tidur yang kosong. Tempat di mana biasanya Vier berbaring sambil memeluknya untuk berbagi kehangatan seperti malam-malam yang selama ini mereka lewatkan bersama.
Tidak ada tanda-tanda bahwa semalam Vier berada di kamar ini. Apa itu artinya Vier tidak pulang?
Deg..
Jantung Vaya seakan berhenti berdetak memikirkan hal-hal yang terlintas dalam benaknya. Kilasan-kilasan skenario terburuk seakan membanjiri pikirannya.
Jika semalam Vier tidak pulang lantaran menemani Selena di rumah sakit, itu artinya Vier dan Selena bersama semalaman. Terlintas dalam benak Vaya bahwa Vier dan Selena melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Vier bersama Vaya. Berbagi kehangatan lantaran saling merindukan.
Oh tidak! Vaya menggeleng cepat membuyarkan lamunannya.
"Selamat pagi, Bu Vaya," sapa Pak Jo. "Maaf mengganggu waktu tidur Anda, hanya saja ini sudah siang."
Vaya menoleh ke arah jam digital di atas nakas yang memang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Sepanjang malam Vaya bahkan tidak bisa tidur dan baru terlelap ketika ia benar-benar sudah merasa lelah. Untung saja hari ini adalah akhir pekan sehingga Vaya tidak pergi bekerja.
Mata Vaya tertuju pada dua orang pelayan dan dua orang perawat yang datang bersama Pak Jo.
"Kami mengantarkan sarapan untuk Anda, Bu Vaya," ucap Pak Jo.
Dua pelayan segera menyiapkan sarapan yang mereka bawa bersama kereta dorong.
"Lalu, dua perawat ini?" tanya Vaya.
"Mereka datang sesuai dengan jadwal untuk melakukan pemeriksaan kesehatan Anda, Bu Vaya," jawab Pak Jo.
"Oh begitu," sahut Vaya. "Oh ya Pak Jo, di mana Vier?"
"Pak Vier ke rumah sakit," jawab Pak Jo.
Nyut..
Lagi-lagi Vaya merasa jantungnya seakan diremaas oleh kenyataan.
"Bu Vaya, kami permisi dulu, silakan lanjutkan pemeriksaan kesehatan Anda," ujar Pak Jo berpamitan.
Sepeninggal Pak Jo dan kedua pelayan tersebut, dua orang perawat segera menghampiri Vaya yang masih rebahan di tempat tidurnya.
Salah seorang perawat segera memakaikan sabuk di lengan atas Vaya sambil menyodorkan termometer digital yang langsung diselipkan di ketiak Vaya.
Sabuk tensimeter mulai mengembang dan mencengkeram lengan atas Vaya bersamaan dengan panel digital yang menunjukkan angka-angka.
"Bu, tekanan darah Ibu sepertinya lebih tinggi dari pemeriksaan sebelumnya," ucap si perawat.
"Hehe, iya, saya memang tidak bisa tidur," jawab Vaya terkekeh.
__ADS_1
Siapa juga yang bisa tidur dengan tenang sementara suamiku sedang bersama mantan tunangannya?! Batin Vaya mengumpat kesal.
Perawat mencatat tekanan darah dan mengambil termometer digital yang berbunyi, pertanda pengukuran suhu telah selesai.
"Bu, suhu tubuh Ibu juga meninggi, Ibu baik-baik saja?"
"Iya, saya baik-baik saja," sahut Vaya.
Aku ini sedang emosi tingkat dewa, Mbak! Wajar kalau panas begini! Batin Vaya lagi.
Perawat lain yang sedang mempersiapkan obat-obatan segera menghampiri Vaya.
"Bagaimana Bu, apa bulan ini Ibu merasa ada keluhan?" tanya perawat itu.
"Keluhan apa?"
"Biasanya setiap pasien yang menggunakan kontrasepsi jenis kb suntik kemungkinan akan mengalami keluhan. Dari keluhan yang timbul itulah biasanya kami akan merekomendasikan kontrasepsi yang lebih cocok lagi untuk Anda," perawat itu menjelaskan.
"A-apa? Kontrasepsi jenis kb suntik?" tanya Vaya.
Seketika Vaya merasa kepalanya kosong. Rasanya ia tak bisa berpikir lagi.
Vaya benar-benar merasa seperti ditampar oleh kenyataan yang begitu pahit.
"Jadi, yang kalian suntikkan ke tubuhku adalah alat kontrasepsi dan bukannya vitamin?" tanya Vaya.
"Kami juga memberi Anda vitamin sesuai dengan perintah yang diberikan, Bu," jawab perawat itu.
Namun dalam hati rasanya ia ingin menangis. Itu berarti, Vier yang memberi perintah.
"Mari Bu, berbaring seperti biasanya," ajak perawat itu.
...*****...
Vaya mengamati satu per satu pakaian yang berada di ruang pakaiannya. Gaun-gaun indah yang terpajang rapi dengan warna-warni yang memanjakan mata.
Vaya mengambil salah satu gaun yang menurutnya merupakan gaun terbaik di antara sekian banyak koleksi gaun-gaun indah yang menjadi hadiah Vier untuknya.
Ia juga mengambil aksesoris, berupa kalung berlian dan anting berlian yang selalu tersusun rapi di kotak-kotak akrilik tempat penyimpanan perhiasan itu.
Vaya mematut dirinya di depan cermin, ia memerhatikan penampilannya yang terpantul di sana.
Ia memulas wajahnya dengan riasan bernuansa bold, dengan sapuan perona bibir warna merah terang yang membuat riasannya terkesan glamor.
Kemudian ia beralih pada rak sepatu yang memajang koleksi sepatu hak tinggi dan mengambil salah satu sepatu dengan hak yang meruncing.
Usai memeriksa bahwa penampilannya sudah terlihat sempurna, Vaya segera keluar dari kamar.
Vaya melangkah dengan penuh percaya diri saat menyambut kedatangan Vier.
__ADS_1
"Selamat datang, Vier," sambut Vaya.
Vier mengamati penampilan Vaya yang saat ini tentu saja membuat Vier bertanya-tanya dalam hati.
Mike jelas terkejut melihat penampilan Vaya, terlihat begitu berani lantaran gaun hitam yang dikenakan benar-benar terlihat menantang.
Gaun dengan belahan dada dan punggung yang terbuka serta belahan paha yang tinggi. Rambut Vaya tertata rapi dengan cepolan tinggi ala pramugari maskapai penerbangan.
"Kau mau pergi ke mana, Vaya?" tanya Vier keheranan.
"Menyambutmu," jawab Vaya dengan senyum yang terulas.
Vaya segera memberikan pelukan untuk Vier sambil mengendus aroma tubuh Vier. Tujuannya tentu saja memastikan apakah ada aroma Selena yang tertinggal di tubuh pria itu.
Vaya melepaskan pelukannya, lalu menatap Vier.
"Bagaimana keadaan, Selena? Apa dia baik-baik saja?" tanya Vaya.
Vaya berusaha berlagak bahwa ia baik-baik saja.
"Selena baik-baik saja," jawab Vier.
"Kau sudah makan?" tanya Vaya.
"Sudah," jawab Vier singkat.
Vaya masih mempertahankan senyumnya.
"Vier, mari kita bicara di ruang kerjamu," tukas Vaya.
Vier mengerutkan keningnya melihat Vaya yang melangkah lebih dulu darinya. Gaun terbuka yang dikenakan Vaya jelas merupakan gaun yang sangat provokatif.
Belahan bawah gaun yang begitu tinggi membuat paha Vaya terbuka jelas seiring dengan langkah kaki Vaya.
"Mike!" Vier melotot sinis ke arah Mike.
Mike yang kepergok memerhatikan Vaya seketika langsung menundukkan pandangannya.
Sesampainya di ruang kerja, Vaya segera menjatuhkan bokongnya di sofa yang begitu empuk.
Vier pun segera duduk di sofa yang berada di sisi lain.
Mereka saling berpandangan lama. Vaya berusaha untuk menguatkan dirinya. Vaya harus membuat keputusan yang begitu singkat, sesingkat ketika ia memutuskan untuk menikah dengan Vier.
Menerima tawaran pernikahan secara terpaksa demi mempertanggung jawabkan kebohongan yang dilakukan oleh Vaya.
Sebuah kebohongan yang pada akhirnya berujung pada pernikahan.
"Vier, mari kita akhiri pernikahan kita," ucap Vaya.
__ADS_1
Vier terdiam mendengar ucapan Vaya.
...*****...