Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
035 - Drama Roti Lapis


__ADS_3

"Sepertinya berat badan Anda tidak berkurang secara signifikan, Bu."


Ivan berkomentar sambil mencatat hasil penimbangan berat badan Vaya. Vaya mendelik gusar, melihat angka yang muncul pada layar timbangan digital.


Vier ikut melotot ke arah timbangan berat badan Vaya.


"Vaya, sepertinya kau tidak berusaha dengan sungguh-sungguh," Vier ikut berkomentar.


Tidak bersungguh-sungguh apanya? Apa kau buta, Vier? Aku bahkan merasa nyaris mati setiap kali habis berolahraga! Vaya mengumpat dalam hati.


"Oh, begitu ya," kata Vaya sambil menyeringai.


"Vaya, kalau kau tidak bersungguh-sungguh, aku akan menyuruh Ivan untuk menambah porsi latihanmu menjadi dua hingga tiga kali lipat!" tukas Vier.


Apa?! Kau benar-benar mau membunuhku, Vier! Maki Vaya.


"Vier, kalau porsi latihanku bertambah, aku rasa aku tidak akan punya tenaga untuk memasak sarapan pagi," kata Vaya.


"Aku sungguh akan berusaha semaksimal mungkin dengan porsi latihan yang sudah ada."


Vaya mengerjapkan matanya berkali-kali, bertingkah sok imut dan manja yang ia pelajari dari Lamia.


"Berhenti bersikap menjijikkan seperti itu! Mataku jadi sakit!" celetuk Vier.


Hih! Apa kau pikir aku suka bertingkah sok imut di depan matamu?!


Vaya hanya bisa mengeluarkan cengiran kuda.


"Oh ya, sepertinya ini sudah waktunya aku mulai menyiapkan menu makan pagi untukmu, Vier," ucap Vaya.


Vier mengerutkan keningnya, menatap skeptis ke arah Vaya.


Kenapa dia tiba-tiba begitu? Sungguh mencurigakan!


...*****...


Vier menyudahi sesi latihan fisiknya lebih awal. Ia sungguh penasaran apakah Vaya benar-benar menyiapkan makan pagi untuknya.


Bisa saja wanita itu memerintah koki untuk memasak lalu mencatut hasil masakan koki tersebut sebagai olahannya.


Aku benar-benar akan memberinya hukuman jika dia terbukti melakukan kecurangan seperti itu, pikir Vier.


Vier segera menuju ke dapur, di depan dapur, beberapa pelayan yang bertemu dengannya langsung menyapa.


"Pak Vi- ,"


"Sst!" Desis Vier dengan telunjuk di bibirnya.


Para pelayan bergegas pergi dari hadapan Vier. Vier mulai mengintip dari balik dinding kaca. Matanya segera mencari sosok Vaya yang saat ini sedang berada di tengah dapur besar bergaya modern, penuh dengan peralatan dan perlengkapan memasak.


Dua orang koki yang bertugas di dapur pagi ini hanya bisa berdiri di sudut dapur, mengawasi Vaya yang sedang memotong-motong sayuran.


Mata Vier kembali mengikuti Vaya yang kini beralih untuk mengolah daging ayam fillet. Vier tertegun, tak menyangka bahwa ternyata Vaya punya kemampuan memasak. Vaya terlihat sibuk menumis daging ayam, menyiapkan panci, dan menceburkan potongan sayuran.


Sementara itu, Mike menyusuri koridor menuju dapur untuk mencari Vier yang menurut Ivan telah meninggalkan gym pribadinya lebih awal.


"Pak Vier ada di dapur."


Begitulah jawaban para pelayan yang ditemui Mike.


Tumben Pak Vier mengunjungi dapur, batin Mike bertanya-tanya.


Mike terkesiap tatkala matanya mendapati Vier yang sedang menempel bak cicak di dinding, mengintip ke dalam dapur dari balik dinding kaca. Mike ikut mengintip, ada pertunjukan apa di dapur sampai Vier mengintip seperti penguntit?


"Pak Vier, kenapa Anda harus mengintip seperti ini?" tanya Mike.


"Astaga, Mike!" Vier terkejut.

__ADS_1


Vier cepat-cepat membungkam mulutnya, kehadiran Mike benar-benar sangat mengagetkannya.


"Kenapa Anda tidak langsung masuk dan menghampiri Bu Vaya?" tanya Mike.


Vier mendorong bahu Mike, mereka segera menjauh dari dapur.


"Ehem, Mike, aku bukannya mengintip! Aku hanya memastikan sendiri bahwa Vaya memang memasak sendiri tanpa bantuan dari para koki sesuai dengan perintah yang kuberikan padanya."


Vier menjawab pertanyaan Mike. Mike melayangkan tatapan curiga.


"Mike, apa kau pikir aku ini orang yang tidak punya kerjaan untuk menghampiri orang yang sedang sibuk memasak di dapur?" tanya Vier.


"Asal kau tahu ya, Mike, aku hanya memastikan dengan mata kepalaku sendiri, bahwa saat Vaya memasak dengan kedua tangannya, dia tidak akan mencampurkan sesuatu yang aneh dan membahayakan kesehatanku, bahkan nyawaku. Sangat menyebalkan jika dia memasukkan obat pencahar, atau bahkan racun sianida ke dalam masakannya," Vier menjelaskan panjang lebar.


Mike semakin memicingkan kedua matanya.


"Ayolah, Mike, aku sudah menjelaskan semuanya padamu! Apakah penjelasanku sama sekali tidak dapat kau pahami?" tanya Vier.


"Aku bukan penguntit, Mike!" Vier kembali menegaskan pada Mike.


"Saya tidak mengatakan apa-apa, Pak," Mike memasang ekspresi datar.


"Oh, ahaaha!" Vier tertawa.


Entah mengapa ia masih merasa bahwa Mike menganggapnya penguntit.


"Aku mau mandi dulu, Mike! Haha, gerah sekali rasanya! Haha!" 


Vier tertawa lagi sambil bersiul-siul senang.


Anda benar-benar semakin mencurigakan, Pak! Pikir Mike.


...*****...


"Bu Vaya, untuk sausnya, gunakan bagian bawah sendok saat membuat pola dan goresan agar presentasinya lebih menarik."


"'Oh, tinggal ditarik begini?" tanya Vaya.


"Ya, seperti itu," sahut sang koki senior.


"Oh ya, Bu Vaya ini, hobi memasak ya?" tanya koki junior.


"Bukan hobi, saya kebetulan sering melihat adik saya melakukan banyak praktek memasak," jawab Vaya.


"Oh, adik Bu Vaya berprofesi sebagai koki?" tanya koki junior.


"'Adik saya masih mahasiswa yang mengambil jurusan tata boga," jawab Vaya.


"Ehem!"


Vaya tersentak kaget mendengar dehaman dari Vier yang tiba-tiba sudah muncul di dapur. 


"Kau ini, memasak pakai tangan apa pakai mulut? Kenapa lama sekali? Aku sudah lapar!"


Vier melangkah menghampiri Vaya dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.


"Sudah, Vier, ini sudah selesai, aku baru saja mau membawa masakanku ke ruang makan," kata Vaya.


"Tidak perlu, aku langsung makan di sini saja."


Vier mengambil garpu dan pisau yang diserahkan Mike.


"Jadi apa menu masakanmu ini?" tanya Vier.


"Aku membuat roti gandum lapis isi daging ayam suwir dan juga sup sayur," jawab Vaya.


Vier memotong sisi roti dan menusuk dengan garpunya.

__ADS_1


"Kau yakin ini masakanmu sendiri?" tanya Vier.


"Kalau tak percaya tanya saja pada mereka berdua," sahut Vaya.


"Vaya, kau pasti tahukan, apa akibat yang harus kau terima jika aku sampai tahu bahwa kau berbohong? Bukan hanya kau yang akan menerima sanksi, tapi mereka juga harus."


"Bu Vaya memasak semua ini sendiri, Pak, kami hanya bertugas mengawasi," jawab sang koki senior.


Vier mulai mencicipi roti lapisnya, mengunyah perlahan. Vaya mencebik melihat Vier yang sudah berlagak macam juri pada kompetisi memasak di tv nasional. Gayanya yang begitu arogan membuat pria itu sedang cosplay menjadi Chef Jujun.


Suasana seketika menjadi tegang.


"Hmm, aku tidak suka, bumbunya terlalu kental untuk dimakan di pagi hari," komentar Vier.


Vier kembali melahap potongan roti lapis berikutnya.


"Rotinya terlalu lembab, aku suka yang teksturnya kering, sehingga antara isian dan rotinya haruslah seimbang."


Dua potong besar roti lapis sudah dihabiskannya meski ia terus berkomentar hingga semangkuk sup sayur pun sudah ia tandaskan.


"Masakanmu ini terlalu berat untuk dikonsumsi di pagi hari. Besok berkonsultasilah lebih dulu dengan para koki, menu apa saja yang cocok untuk menjadi sarapan pagi."


Vier meneguk habis segelas jus jeruk yang diberikan Mike.


"Itu saja yang perlu kusampaikan." 


Vier melangkah lebih dulu ke luar dapur.


"Pak Mike!" panggil Vaya.


"Ada apa, Bu?" tanya Mike.


Vaya mengeluarkan sebuah kantong kertas.


"Pak Mike, aku ada buat lebih roti lapisnya, silakan dimakan," Vaya menyerahkan kantong  kertas berwarna cokelat itu.


Mike mengangguk. "Terima kasih, Bu."


Mike bergegas keluar dari dapur, menyusul Vier yang lebih dulu pergi.


"Apa yang kau bawa itu, Mike?" tanya Vier melihat kantong kertas yang dibawa Mike.


"Oh, ini roti lapis lebih yang dibuat Bu Vaya, beliau memberikannya kepada saya," jawab Mike.


"Berikan padaku! Aku masih lapar!"


Vier merebut kantong kertas itu dari tangan Mike.


Mike terperangah sementara Vier bersiul-siul senang.


...*****...


Menurut pembaca siapa nih visual yang cocok untuk Vier dan Vaya?


Yuk di share di kolom komentar, ntar author cari di Mbah Gugel.


Contoh :


Vier \= ( Aktor A)


Vaya \= ( Aktris A )


Rekomendasi visual terbaik bakalan author upload di episode-episode mendatang.


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini.


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2