
Yoran masih menatap Vaya dengan penuh kesungguhan. Yoran benar-benar harus mengatakan apa yang ada dalam benaknya saat ini.
Perceraiannya dengan Grace yang terjadi tiga tahun lalu menjadi titik balik dalam hidup Yoran. Terlebih saat tahu bahwa Grace tidak pernah mencintainya. Hal tersebut terbukti saat Yoran mengetahui perselingkuhan yang dilakukan Grace.
Hati Yoran benar-benar sangat terluka. Ia begitu mencintai Grace namun Grace justru sama sekali tidak mencintainya.
Yoran benar-benar kecewa karena menganggap justru Vaya yang mencintainya memilih untuk mundur lantaran mengalah pada Grace.
Sejak saat itu Yoran pun berpikir bahwa ia membutuhkan wanita yang mencintainya. Seandainya saja Yoran mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Vaya sekali lagi, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Pertemuannya dengan Vaya saat ini merupakan pertemuan yang tak terduga. Melihat adanya kesempatan, Yoran akhirnya memberanikan diri untuk mengajak Vaya memulai awal yang baru.
"Bagaimana, Vaya?" tanya Yoran.
Vaya benar-benar hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yoran.
Sebuah ajakan yang seketika membuat Vaya benar-benar sangat bimbang.
Pria yang begitu dikagumi, diidolakan, dan dicintai selama separuh hidupnya tiba-tiba mengajaknya untuk memulai lembaran kehidupan yang baru.
Benak Vaya segera dihantui oleh angan-angan manis saat ia dan Yoran saling bergandengan tangan menyusuri jalan setapak di tengah taman bunga. Namun di ujung jalan setapak itu, berdiri sosok Vier yang menghalangi perjalanan mereka.
Vaya menggeleng cepat membuyarkan lamunannya.
"Ada apa?" tanya Yoran.
"Yoran, sebenarnya ada hal yang perlu kukatakan padamu," kata Vaya.
Vaya merasa begitu berat untuk mengatakan hal yang sejujurnya, namun bukankah sebuah kejujuran itu jauh lebih baik dibandingkan harus mengatakan seribu kebohongan?
Sudah cukup Vaya melakukan kebohongan yang membuat hidupnya jungkir balik.
"Yoran, sebenarnya aku sudah tidak sendiri, tapi saat ini aku memang sedang sendiri," ucap Vaya.
"Apa maksudmu, Vaya?" tanya Yoran.
"Yoran, sebenarnya aku sudah menikah," jawab Vaya.
Yoran terdiam mendengar ucapan Vaya. Jantungnya bahkan seakan berhenti berdetak. Kenyataan ini terlalu mendadak bagi Yoran. Tiga tahun telah berlalu dan sudah sewajarnya Vaya akhirnya memilih menikah dengan pria lain.
Hati Yoran mencelos mendapati kenyataan itu. Remuk redam rasanya.
"Tapi, saat ini aku sedang menjalani pernikahan tanpa kepastian," ucap Vaya penuh dengan kegetiran.
"Vaya, apa maksudmu, aku benar-benar tidak mengerti," tanya Yoran. "Apa maksudmu dengan pernikahan tanpa kepastian?"
Vaya menatap lurus ke arah Yoran.
"Aku menikah dengan seorang pria, namun karena suatu hal kami harus terpisah dan menjalani kehidupan masing-masing," jawab Vaya.
Yoran menghela napasnya, pengakuan Vaya benar-benar sangat mengejutkan.
"Siapa pria itu, Vaya?" tanya Yoran.
"Vier," ucap Vaya.
Yoran menoleh ke kiri dan ke kanan, mengedarkan pandangannya ke segala arah.
__ADS_1
"Kenapa kau celingukan begitu, Yoran?" tanya Vaya.
"Aku kira kau melihat Vier," jawab Yoran.
Vaya menyeringai kecut.
"Yoran, pria yang kunikahi itu Vier," ucap Vaya.
"A-apa?!" Yoran terperangah.
Vaya menelan ludahnya, tenggorokannya luar biasa kering dan tercekat.
"Kau menikah dengan Vier?!" Yoran mengulangi.
Vaya mengangguk. Yoran perlu beberapa detik untuk mencerna informasi yang baru saja didengarnya.
Yoran memaksa otaknya untuk berpikir cepat. Mengingat detail yang sangat jelas saat Vier memperkenalkan seorang wanita cantik di acara reuni mereka.
"Vaya, bukankah Vier menikah dengan tunangannya?"
Vaya menggeleng cepat.
"Wanita yang dinikahi Vier adalah aku," jawab Vaya dengan cepat.
"Vaya, apa kau sedang bercanda?" tanya Yoran.
Vaya kembali menyeringai penuh kegetiran.
"Seandainya saja semua itu hanya lelucon," jawab Vaya masih dengan nada penuh kegetiran.
Yoran menghela napasnya, helaan yang terdengar luar biasa berat.
Kini giliran Vaya yang menghela napas. Napas panjang yang tertahan sedikit demi sedikit seakan ada tangan tak terlihat yang sedang mencengkeram paru-parunya.
"Aku juga tidak menyangka bisa menikah dengan Vier."
Yoran kembali menatap lurus ke arah Vaya.
"Begitu ya, lalu apa maksudmu dengan mengatakan bahwa kalian menjalani hidup masing-masing?"
Vaya merasa berat untuk menjawab pertanyaan Yoran. Itu sama saja membuat luka di hati Vaya kembali berdarah.
"Vier kembali bersama tunangannya," jawab Vaya dengan berat.
Menyimpulkan semua itu berdasarkan pada satu foto yang diunggah pada laman sosial media Missyu.
"Ck... Vaya! Bagaimana bisa?!" Yoran berdecak.
"Aku rasa kau pasti sudah tahu jawabannya, Yoran. Vier hanya mempermainkanku saja," sahut Vaya.
Air mata menggenang di pelupuk mata Vaya dan Vaya cepat-cepat menghapusnya. Ia segera menyeruput es teh yang terasa hambar lantaran es batu yang mencair.
Hati Vaya mencelos setiap kali berpikir bahwa Vier hanya mempermainkannya saja.
Memberinya semua hal-hal manis yang pada akhirnya hanyalah tinggal kenangan saja.
"Vaya," ucap Yoran.
__ADS_1
Vaya kembali menatap Yoran.
"Aku bukanlah pria yang suka mempermainkan wanita," kata Yoran.
"Aku memutuskan untuk bercerai dari Grace karena aku menyadari bahwa aku bukanlah pria yang bisa membahagiakan dia. Meskipun sudah berusaha melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan, namun tetap saja, jika Grace tidak bahagia saat bersamaku, untuk apa kami tetap terus bersama?"
"Terus bersama hanya membuat kami saling menyakiti."
"Pun demikian denganmu Vaya, daripada Vier menyakitimu dengan ketidakpastian, sepertinya kau harus meminta kepastian daripada terus dipermainkan."
Vaya kembali menatap Yoran.
"Aku sungguh tidak keberatan jika kau memintaku untuk membantumu. Akan kukerahkan kuasa hukum yang akan membantumu untuk berpisah dari Vier."
Yoran mengambil tangan Vaya dan menggenggamnya.
"Lalu, kita bisa mulai semuanya dari awal."
Vaya masih menatap Yoran.
"Yoran, jangan bercanda," cegah Vaya.
"Vaya, aku tidak bercanda," ucap Yoran.
Mereka masih saling menatap satu sama lain.
"Vaya, sungguh aku tidak pernah merasa seyakin ini dengan apa yang ingin kulakukan," tukas Yoran.
"Tapi Yoran, aku bahkan merasa tidak pantas untukmu. Aku hanya seorang wanita yang tidak punya latar belakang istimewa," kata Vaya.
"Vaya, selama kau benar-benar mencintaiku, bagiku itu sudah lebih dari cukup," ucap Yoran.
Vaya hanya bisa terdiam mendengar ucapan Yoran. Rasa sesak kembali meremas paru-paru Vaya.
Vaya seketika teringat betapa ia menyukai Yoran selama hampir separuh hidupnya.
Betapa ia begitu memuja Yoran ketika masih duduk di bangku sekolah.
Melihat sosok pemuda blasteran yang membuatnya hanya bisa mengagumi dalam diam.
Begitulah Vaya yang dulu hanya bisa mengagumi Yoran, mencuri-curi pandang ke arah Yoran. Meski banyak pemuda yang menjadi sasaran target pengungkapan cinta Vaya, hanya Yoran-lah yang begitu istimewa.
Vaya bahkan menganggap pengungkapan cinta kepada semua targetnya sebagai bentuk latihan untuk mengungkapkan rasa sukanya pada Yoran.
Latihan mempersiapkan mentalnya sebelum menyatakan rasa cintanya pada Yoran.
Namun tiba-tiba bayangan Vier menyeruak masuk dalam benak Vaya.
Terlebih saat Vier mulai menyiksa Vaya dengan hukuman-hukuman gila, hingga mengancam akan membunuh pria yang dikencani Vaya.
Vaya bahkan memutuskan untuk mengakhiri kebersamaannya dengan Yoran sebelum mereka memulai semuanya.
Masih segar dalam ingatan Vaya, bagaimana Vaya harus menyerahkan kesuciannya pada Vier agar pria itu percaya bahwa Vaya bukanlah wanita murahan yang bisa tidur dengan pria lain.
Vaya menarik tangannya dari genggaman Yoran.
"Vaya, kau jangan cemas. Aku bersedia menunggu sampai kau benar-benar siap," ucap Yoran.
__ADS_1
"Aku akan menunggumu, agar kita bisa memulai awal yang baru."
...*****...