Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
177 - Pamit


__ADS_3

Vero baru saja bangun dari tidur, bocah itu memindai sekelilingnya yang nampak sepi.


Bukan menjadi pemandangan aneh bagi Vero yang setiap hari selalu terbangun paling akhir. Meski kadang-kadang, hanya Aria yang sering didapati olehnya sebagai orang yang bangun kesiangan terutama pada hari libur.


"Ibu," panggil Vero.


Vero beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah pelan menuruni tangga. Matanya langsung tertuju pada orang-orang dewasa yang sudah berkumpul di salah satu meja.


Vero segera menghampiri Vaya dan langsung disambut pelukan Vaya.


"Ada apa pagi-pagi kumpul begini, Bu?" tanya Vero.


Vaya mengusap lembut pipi Vero sambil mengulas senyum lembut.


Bu Asih dan Aria saling melemparkan pandangan pada Vaya, begitu pula Vier dan Mike yang sudah menunggu dalam atmosfer yang begitu menegangkan.


"Vero, maaf ya, mungkin ini akan mengejutkan Vero, tapi Vero harus tahu ya, Sayang," ucap Vaya.


"Tahu apa Bu?" tanya Vero.


Vaya benar-benar merasa ragu, kata-kata yang sudah berusaha disusunnya baik-baik seakan membeku di ujung lidahnya.


Terlebih saat tatapan matanya dan Vier saling mengunci satu sama lain. Vaya menarik napas perlahan, mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki.


"Vero, sebenarnya, Pak Vier ini adalah ayahmu," ucap Vaya.


Terdengar ragu-ragu, namun Vaya harus mengucapkannya dengan perlahan dan jelas.


Mata Vero membulat besar, ia menatap bergantian ke arah semua orang yang saat ini balas menatapnya.


Bu Asih, Aria, Vaya, Vier, dan Mike, satu per satu secara bergiliran.


Vier menahan napasnya, rasanya ini sungguh menegangkan. Terlebih Vier sudah memberi saran pada Vero untuk memenjarakan ayahnya yang jahat.


Vier harus cepat-cepat memberi alasan yang bisa diterima oleh Vero agar bocah itu menangguhkan gugatan.


Vaya pun berpikir hal yang sama, menunggu bagaimana reaksi Vero.


"Ih wow! Aku terkejut," ucap Vero dengan ekspresi datar.


Vaya melotot tak percaya pada ekspresi datar Vero yang justru terlihat begitu menggemaskan. Vier terperangah, begitu pula Mike yang langsung mengerutkan kedua alisnya.


"Lho, Vero, kamu tidak terkejut?" tanya Aria.


"Kenapa harus terkejut, Tante?" Vero balik bertanya.


"Memangnya Tante mau aku terkejut sambil guling-guling seperti di sinetron?" Vero menambahkan dengan santai.


Vier menahan senyumnya, namun ia benar-benar merasa sangat lega.


"Bukan begitu, Vero," Aria mengacak rambut Vero dengan gemas.


"Aku sudah tahu kok, Pak Vier itu ayahku!" sahut Vero lagi.


"Kok kamu bisa tahu, Vero?" tanya Bu Asih.


"Mbah, aku punya telinga, jadi aku dengar, Ibu marah-marah ke Pak Vier," sahut Vero enteng.


Vaya dan Vier hanya mengulas senyum kecut, begitu juga dengan Mike.

__ADS_1


Sungguh gawat, dua Vier benar-benar terlalu berlebihan, batin Mike.


"Vero, aku secara pribadi minta maaf ya, sungguh. Aku bukan seorang ayah yang jahat," ucap Vier.


"Aku juga bukan ayah yang tega menelantarkan anak. Aku janji, aku adalah ayah terbaik yang kau miliki," lanjut Vier.


Vero masih memasang ekspresi datarnya.


"Ya, kalau jahat harus masuk penjara," sahut Vero lagi.


Vaya menatap ke arah Mike yang langsung memasang ekspresi nelangsa.


Dua Vier, terlalu berlebihan!


"Vero mau ikut bersama Ayah dan Ibu?" tanya Vier.


"Mau ke mana?" tanya Vero.


"Intinya Vero mau ikut atau tidak?" tanya Vaya.


"Ya, mau ke mana Bu?" desak Vero.


"Paris," jawab Vaya.


"Paris itu di mana Bu?" tanya Vero lagi.


"Nanti Vero akan tahu," jawab Vier.


"Oh begitu, terus kenapa kita harus ke Paris?" tanya Vero lagi.


...*****...


"Hati-hati ya, Vaya," pesan Bu Asih.


"Iya Bu," jawab Vaya.


"Mbah dan Tante kenapa tidak ikut?" tanya Vero.


"Aria harus ujian sekolah, mana boleh pergi ke mana-mana," jawab Vaya.


"Padahal aku juga mau ke Paris, Kak," Aria ngedumel.


"Aria, ujianmu lebih penting, lagipula Kakak cuma sebentar saja," ucap Vaya.


"Jangan lupa oleh-olehnya ya, Kak," Aria mengulas senyumnya.


Vaya memicingkan mata.


"Aria, kalau kamu berpikir kakakmu ini ke Paris untuk plesiran, kamu salah," tukas Vaya.


"Ya elah, Kakak," cibir Aria.


"Tenang saja, Aria, aku akan memberi apa pun yang kau mau," sahut Vier.


"Serius, Kak Vier?" seru Aria kegirangan.


"Mike akan menyiapkan apa pun yang kau mau," Vier menambahkan sambil menoleh sekilas ke arah Mike.


Mike menyahut dengan anggukan.

__ADS_1


"Vier, tidak perlu menjanjikan apa pun!" Vaya melotot ke arah Vier.


"Vaya, bagiku sungguh tidak masalah," sahut Vier.


"Pak Mike, berikan aku nomor teleponmu ya?" pinta Aria.


Mike merogoh sakunya, mengeluarkan dompet dan menyodorkan selembar kartu untuk Aria.


Aria mengerucutkan bibirnya saat membaca kartu nama pemberian Mike. Hanya ada nama dan alamat surat elektronik pria itu.


Aku butuh nomor telepon, bukan alamat e-mail, rutuk Aria dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu, Ibu, kami pamit dulu," ucap Vier.


"Iya, kalian hati-hati di jalan," ujar Bu Asih.


Vier memeluk Bu Asih.


"Terima kasih Bu," ucap Vier.


Aria menatap Mike.


"Pak Mike tidak memelukku?" tanya Aria.


Mike terkesiap, sementara Aria langsung terkekeh geli.


"Aria!" Vaya melotot ke arah Aria.


Aria menjulurkan sedikit lidahnya ke arah Vaya lalu mengerling ke arah Mike dengan senyum tersipu-sipu.


Mike berusaha untuk tetap tenang meski sebenarnya ia merasa gugup. Rasanya sudah sangat lama sekali tidak ada gadis yang berani menggodanya terang-terangan seperti ini.


"Dadah Mbah! Dadah Tante!"


Seruan Vero menghilang bersama laju mobil yang membawa mereka pergi diiringi lambaian tangan Bu Asih dan Aria.


...*****...


Vaya menarik selimut hingga sebatas leher Vero yang akhirnya tertidur karena kelelahan. Masih ada belasan jam lagi sebelum pesawat jet pribadi  milik Vier mendarat di bandar udara Paris.


Vier mengusap lembut rambut Vero, senyumnya mengembang memandangi wajah polos Vero.


Masih mengusap lembut rambut Vero, Vier mengalihkan pandangannya pada Vaya.


"Vaya, terima kasih karena selama ini kau sudah merawat Vero dengan sangat baik," ucap Vier.


"Vier, sudah seharusnya aku merawat Vero dengan sangat baik karena aku adalah ibunya," ucap Vaya dengan tegas.


Vier kembali mengulas senyumnya pada Vaya.


"Vaya, aku sungguh minta maaf padamu. Aku sungguh tidak tahu bahwa selama ini kau justru membesarkan Vero tanpaku. Pasti sungguh berat sekali bagimu."


"Ya, kau benar, Vier. Rasanya memang sangat berat. Tapi pada akhirnya aku bisa melalui semua itu," ucap Vaya.


"Meski tanpamu," lanjut Vaya dengan memberi penekanan-penekanan yang membuat Vier ikut merasa tertekan.


"Seandainya saja aku bisa memutar ulang waktu," lanjut Vaya.


"Kita tidak perlu berada pada posisi yang begitu sulit seperti ini, Vier."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2