
Vaya menatap ragu-ragu ke arah Vier yang saat ini sedang mencicipi sup krim buatan Vaya. Entahlah, Vaya tetap selalu merasa tegang setiap kali Vier mencicipi hidangan yang dimasaknya.
"Vaya, kemari," panggil Vier.
Vaya segera beranjak dari tempat duduknya, mendekat ke arah Vier lalu berdiri di samping kursi Vier.
"Vaya, apa kau tahu, sup krim yang kau buat ini, rasanya ada yang kurang?" ucap Vier.
"Kurang apa, Vier?" tanya Vaya.
"Ya, kurang lengkap jika kau tidak menyuapiku," sahut Vier sambil menjatuhkan Vaya ke pangkuannya.
"Hehe, begitukah?" Vaya terkekeh.
Vier menatap mata Vaya dengan tatapan yang membius mata Vaya.
"Suapi aku," pinta Vier.
"Pakai apa? Sendok atau bibir?" tanya Vaya.
Vier menyeringai jahil sambil membenamkan wajahnya ke dada Vaya.
"Aku maunya di sini, lalu di sini, di sini," Vier memburu leher Vaya.
"Haha, jadi maksudmu, kau ingin tubuhku menjadi mangkuk sup?" Vaya tertawa sambil memeluk erat leher Vier.
"Hmm, tentu saja," sahut Vier kembali membenamkan bibirnya di leher Vaya.
Vaya tertawa sambil memejamkan matanya, menikmati kecupan-kecupan lembut yang mendarat di lehernya.
Vaya benar-benar menyukai aroma rambut Vier yang masih setengah basah, aroma lemon segar dari krim cukurnya, bercampur dengan aroma parfum mewah yang benar-benar memabukkan.
"Ehem, Pak Vier, tiga puluh menit lagi Anda harus tiba di bandara," Mike berdeham mengingatkan.
Pagi-pagi melihat dua insan yang tengah dimabuk asmara tentu saja membuat Mike kerap merasa gerah lantaran keduanya mengumbar kemesraan yang berlebihan.
"Mike, bisa diundur dua jam lagi?" tanya Vier.
Mike mendelik gusar, sambil menggeleng ke arah Vaya. Memohon dengan sangat kepada Vaya tanpa kata-kata.
"Hmm, Vier, kau harus berangkat sekarang," ujar Vaya sambil mengusap lembut wajah Vier.
"Vaya, apa kau tak mau melakukannya lagi?" tanya Vier.
"Vier, apa semalam belum cukup?" tanya Vaya terperangah.
"Vaya, semalam ya semalam, sekarang kan berbeda," sahut Vier sambil mendusel-dusel leher Vaya dengan gemas.
"Vieer, hihi, geli," Vaya terkikik geli.
Vaya menahan wajah Vier dengan kedua tangannya lalu memberi kecupan lembut ke bibir Vier.
"Sampai jumpa nanti malam," ucap Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah," Vier mengalah.
Vier mengusap lembut bibir Vaya dengan ibu jarinya, membenamkan sebuah ciuman yang lembut dan dalam.
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam," ucap Vier begitu melepaskan bibirnya dari bibir Vaya.
Vaya mengembangkan senyumnya, sebuah ciuman sungguh manjur untuk melakukan negosiasi dengan Vier tanpa harus banyak berdebat.
Mike menunduk dalam ke arah Vaya, mengucapkan terima kasih karena Vaya mengerti kode yang dilemparkan Mike.
Akan sangat merepotkan bagi Mike jika harus mengundur urusan pekerjaan mengingat beberapa hari yang lalu Vier sibuk dengan urusan pribadinya.
"Aku antar kau ke kantor ya," kata Vier.
"Vier, kalau kau mengantarku, kau benar-benar akan terlambat," ucap Vaya.
Vier memeluk erat Vaya, seakan ia tidak mau berpisah dari Vaya meski sedetik saja. Vier memberikan kecupan singkat di kening Vaya.
"Sampai nanti," ucap Vier.
"Iya, Vier, sampai nanti," sahut Vaya.
Sekali lagi Vier memandangi Vaya sebelum ia pergi memasuki mobilnya.
Vaya melambaikan tangannya dengan perasaan yang berbunga-bunga bergemuruh dalam dadanya. Saat ini ia benar-benar merasakan kebahagiaan yang berlimpah ruah. Rasanya ia tak rela berpisah dari Vier meski hanya sekejap saja. Seperti gadis remaja yang sedang kasmaran, itulah keadaan yang menggambarkan kondisi Vaya saat ini.
Vaya bergegas kembali ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.
Usai mengambil tas, Vaya kembali menuju ke pelataran untuk menumpangi mobil yang akan mengantarnya ke kantor.
Namun tiba-tiba saja, langkahnya terhenti tatkala melihat sosok wanita paruh baya dan cantik yang membuat Pak Jo membungkuk dalam menyambut kehadirannya.
Vaya merasa tersedot ke dalam mata hitam dari wanita bergaun biru gelap itu.
"I-iya, Bu," jawab Vaya tergagap.
...*****...
Vaya tak punya pilihan selain mengikuti Bu Cintami menuju ke taman, tempat biasa Vaya dan Vier menghabiskan sarapan bersama.
Bu Cintami segera duduk di salah satu kursi, begitu Pak Jo menarik salah satu kursi yang tersedia.
"Silakan duduk," Bu Cintami mempersilakan Vaya.
Vaya pun segera duduk, ketegangan segera merasuki Vaya.
"Mau minum teh?" tanya Bu Cintami pada Vaya.
"Terima kasih Bu," jawab Vaya.
"Pak Jo, tolong siapkan," pinta Bu Cintami.
"Baik Nyonya," jawab Pak Jo.
Pak Jo segera meninggalkan Vaya dan Bu Cintami di taman.
__ADS_1
"Kau pasti bertanya-tanya, mengapa aku datang sepagi ini dan secara khusus menemuimu seperti ini," ucap Bu Cintami.
Vaya benar-benar merasa tegang dan saat ini perutnya sudah terasa melilit.
"Saat acara makan malam, kita belum banyak berbincang, sehingga aku pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk berbincang-bincang dan saling mengenal lebih jauh."
Meski Bu Cintami mengulas senyum ramah, ketegangan yang dirasakan oleh Vaya sama sekali tidak berkurang. Malah justru semakin bertambah lantaran saat ini Vaya jadi kepikiran bahwa ia benar-benar sudah terlambat untuk masuk kantor.
"Namamu Vaya kan?" tanya Bu Cintami.
"I-iya Bu," jawab Vaya.
"Ngomong-ngomong, apa pekerjaan orang tuamu?" tanya Bu Cintami.
Vaya tertegun mendengar pertanyaan Bu Cintami. Kenapa wanita paruh baya itu menanyakan pekerjaan orang tuanya?
Vaya sungguh bimbang, apa yang harus dikatakannya? Apakah ia harus berbohong?
Tidak, berbohong di depan wanita yang memiliki tatapan mata seakan bisa tahu segalanya itu jelas bukan ide yang bagus. Terlebih wanita ini adalah ibu mertuanya. Vaya tentu tak mau dicap sebagai menantu tukang bohong.
"Ayah saya sudah lama meninggal, dan ibu saya seorang ibu tunggal," jawab Vaya.
"Oh begitu," Bu Cintami mengangguk pelan.
Vaya meremaas buku-buku jarinya yang mendadak terasa kram.
"Vaya, jujur saja, aku sungguh sangat terkejut saat melihatmu, terlebih ketika Vier memperkenalkanmu sebagai istri," ucap Bu Cintami.
Vaya merasakan dadanya mulai terasa sesak.
"Padahal, wanita yang saat itu dibawa oleh Vier dan diperkenalkan sebagai tunangan Vier adalah Selena," lanjut Bu Cintami.
Vaya berusaha tetap mengulas senyumnya meski saat ini rasanya sungguh berat baginya untuk bernapas.
"Selena adalah gadis cantik dan menarik dengan kepribadian yang menyenangkan. Selena juga memiliki latar belakang pendidikan bagus karena selain memiliki bisnis di bidang impor, keluarga Selena juga mengelola sebuah yayasan sekolah terpadu," lanjut Bu Cintami.
Vaya meneguk ludahnya, tenggorokannya terasa kering sekali.
"Dengan portofolio Selena yang begitu bagus, sebagai orang tua aku tentu sangat menerima Selena sebagai tunangan Vier, wanita yang akan menjadi istri Vier."
Bu Cintami menatap lurus ke arah Vaya yang terlihat begitu tegang.
"Jadi, maksud Ibu, Ibu tidak menerima saya sebagai menantu Ibu?"
Vaya mencoba menarik satu kesimpulan yang tiba-tiba terucap begitu saja dari mulutnya.
Bu Cintami masih mempertahankan senyumnya.
"Vaya, aku sungguh tidak bermaksud begitu," ucap Bu Cintami.
"Aku sungguh bukanlah orang tua yang suka mencampuri urusan pribadi Vier."
Bu Cintami menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Terserah Vier mau menikah dengan siapa. Vier menikahimu, aku sungguh menghargai keputusan Vier," kata Bu Cintami.
__ADS_1
"Hanya saja, apakah menurutmu, kau merasa pantas untuk mendampingi Vier?"
...*****...