Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
188 - Menentang


__ADS_3

"Ibu, apa maksud Ibu berkata seperti itu?"


Vier segera memecah keheningan yang terjadi.


"Vier, maksud Ibu adalah, Ibu ingin Vero, sebagai penerus dari keluarga Yanjayadi mendapatkan kehidupan yang jauh lebih layak daripada kehidupannya selama ini," jawab Bu Cintami.


"Jadi, maksud Anda, selama Vero hidup bersama saya, Vero tidak mendapatkan hal yang layak?" potong Vaya.


Vaya berusaha menahan emosinya. Tiba-tiba saja ada pihak yang hendak mengambil Vero darinya tentu saja menjadi hal yang paling tidak bisa diterima oleh Vaya.


"Bukankah itu sudah jelas? Kau tidak layak membesarkan Vero sebagai penerus keluarga Yanjayadi!" sahut Bu Cintami.


"Nyonya Cintami! Anda mungkin bisa memisahkan saya dan Vier! Karena saya tahu dan saya mengerti bahwa Vier adalah anak laki-laki Anda!"


"Tapi, Anda tidak bisa memisahkan saya dari Vero, karena Vero adalah anak laki-laki saya!" tandas Vaya.


"Terserah Anda mau menilai bahwa saya tidak pantas dan tidak layak untuk membesarkan Vero! Toh selama ini saya sudah membesarkan Vero seorang diri tanpa bergantung dengan orang lain!"


"Saya sungguh tidak akan membiarkan siapa pun merebut Vero dari saya, karena Vero adalah anak saya!"


"Kau!" Bu Cintami tertahan.


"Vier! Berani-beraninya wanita ini menentang Ibu!" sergah Bu Cintami.


"Dasar wanita tidak tahu diri!"


"Ibu!" sela Vier.


Vier melemparkan tatapan lelah dan kesal ke arah ibunya.


"Ibu! Tolong, kumohon berhenti mencampuri urusan hidupku!"


Bu Cintami terdiam, balas menatap pandangan Vier yang seketika tidak bersahabat di matanya.


"Bukankah kita sudah membuat kesepakatan?"


"Ibu tidak akan mencampuri urusanku!"


Vier menghampiri Vaya dan juga Vero.


"Aku hanya ingin bahagia, aku ingin berbahagia bersama istri dan juga anakku, Bu," kata Vier.


Bu Cintami menarik napas dan menahannya. Ia ingin marah, namun entah mengapa ia merasa gentar dengan kesungguhan Vier.


"Vier," Bu Cintami kembali tertahan.


"Ibu, bukankah Ibu selalu menekankan padaku betapa pentingnya bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan?!"


"Saat ini, sudah ada istri dan anak yang menjadi tanggung jawabku!"


"Jika Ibu terus menerus menentangku seperti ini, bukankah itu sama saja Ibu membuatku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab?"


"Sudah cukup selama tiga tahun ini aku kehilangan peranku sebagai seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab! Oleh sebab itu, yang bisa kulakukan saat ini adalah menebusnya seumur hidupku!"


Vaya merasa dadanya kembali bergemuruh. Ia mempererat pelukan Vero.


Tidak ada yang boleh memisahkannya dari Vero.


Ekspresi Bu Cintami makin mengeras, seperti halnya Vier yang makin berkeras dengan keputusannya.

__ADS_1


Vier tak peduli meski harus melakukan pertentangan dengan ibunya.


Saat ini bagi Vier, Vaya dan Vero adalah segalanya.


"Ayo kita pergi, Vaya, Vero," ajak Vier.


"Vier!" cegah Bu Cintami.


"Maaf Bu, jika Ibu terus menentangku seperti ini, yang bisa kulakukan hanyalah pergi," ucap Vier dengan tegas.


Vier segera membawa Vaya dan Vero pergi meninggalkan Bu Cintami yang harus menelan kemarahannya sendiri.


...*****...


Vaya mencuri pandang ke arah Vier yang saat ini melemparkan tatapannya ke luar jendela mobil.


Vaya sungguh merasa tidak enak pada Vier. Kehadirannya dan Vero jelas membuat Vier kembali bersitegang dengan Bu Cintami.


"Vero, sekarang kita ke Disneyland ya," kata Vier sambil mengusap lembut kepala Vero.


Vero menggeleng, ia tetap memeluk erat Vaya.


"Vero, maafkan Ayah ya," kata Vier sambil menatap lembut Vero.


"Ayah berjanji, apa pun yang terjadi, Ayah akan melindungi kalian," kata Vier.


"Vier," kata Vaya tertahan.


"Vaya, sungguh, aku berjanji aku tidak akan pernah meninggalkan kalian, apa pun yang akan terjadi," ucap Vier penuh keyakinan.


...*****...


Vier menggendong Vero yang nampak mulai lelah dan mengantuk.


"Vier, bisakah kita bicara?" tanya Vaya.


"Mike," panggil Vier.


Vier segera menyerahkan Vero yang terlelap di pundaknya pada Mike.


"Tolong bawa Vero kembali ke apartemen," perintah Vier.


"Baik, Pak Vier," jawab Mike yang dengan sigap menggendong Vero.


...*****...


Vaya menghentikan langkahnya saat menyusuri jalan setapak menuju ke arah taman air mancur. Saat ini pikiran Vaya benar-benar sangat tidak tenang.


"Vier, aku benar-benar kepikiran. Aku merasa sangat tidak enak padamu dan juga ibumu. Aku tahu, sejak awal ibumu sudah begitu membenciku. Dan sekarang, kau jadi menentang ibumu seperti ini gara-gara aku dan Vero," ucap Vaya.


"Vaya, aku tahu dan aku mengerti. Tapi, inilah keputusanku. Aku memiliki tanggung jawab yang begitu besar atas hidupmu dan juga Vero."


"Aku bahkan tidak peduli jika aku harus menjadi anak yang durhaka. Karena saat ini bagiku yang lebih penting adalah masa depanku bersamamu dan juga Vero."


Vaya merasa jantungnya berdebar tak karuan melihat kesungguhan yang ditunjukkan oleh Vier.


Vaya merapatkan mantelnya ketika angin malam berhembus kencang.


"Vier, aku benar-benar merasa sangat tidak enak dan juga terbebani. Aku sungguh tidak ingin merasa bahwa saat ini kau berada di sisiku, hanya karena sebatas tanggung jawabmu padaku dan juga Vero," kata Vaya.

__ADS_1


"Vaya, apa kau sungguh berpikir bahwa aku seperti itu?" tanya Vier.


Vaya menatap Vier lekat-lekat, mata Vier yang selalu terlihat cemerlang meredup di tengah gemerlapnya lampu yang menerangi kota Paris.


"Vier, aku selalu merasa bahwa kehadiranku sejak awal adalah sebuah kesalahan. Seandainya saja aku tidak pernah hadir dalam hidupmu, semua ini pasti tidak perlu terjadi."


Mata Vaya mulai berkaca-kaca. Vier mengambil tangan Vaya dan menggenggamnya dengan erat.


Tangan Vier yang besar dan hangat mengalirkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Vaya. Kehangatan yang selalu dirindukan oleh Vaya.


"Vaya, kau salah jika berpikir bahwa kehadiranmu dalam hidupku adalah sebuah kesalahan," ucap Vier.


"Vier, tapi bukankah itu semua adalah kebenaran?"


"Jika saja saat itu aku tidak mendatangi Selena, menceritakan kebohongan pada Selena, pernikahanmu dengan Selena pasti berjalan lancar!"


"Tidak perlu ada drama penolakan dan pertentangan dari ibumu! Kau dan Selena hidup berbahagia seperti dalam dongeng-dongeng Eropa!"


"Vaya," potong Vier.


Vaya terdiam saat Vier kembali menatap Vaya lekat-lekat.


"Baiklah, jika kau merasa telah melakukan kesalahan karena telah merusak rencana pernikahanku dengan Selena."


"Kau mungkin berharap seandainya saja kau bisa memutar kembali waktu yang telah berlalu."


"Kau memang harus menyesal atas semua perbuatan dan kesalahan yang telah kau lakukan! Karena salah adalah hal yang manusiawi!"


"Namun dari kesalahan itu, kau tentu harus bertanggung jawab untuk memperbaiki semuanya!"


"Kau sudah bertanggung jawab menjadi pengantin pengganti, dan kau juga telah menjadi istriku! Aku hanya meminta itu saja darimu!"


"Vier, kenapa kau meminta dua hal itu dariku?"


"Tentu saja untuk menebus kesalahanmu!"


"Vier, padahal begitu banyak wanita yang lebih pantas, wanita yang lebih layak untuk mendampingimu! Tapi kenapa harus aku?"


"Apa kau sungguh ingin tahu?"


"Ya, aku selalu ingin tahu!"


"Begini saja, bagaimana jika kita membuat kesepakatan?"


"Jika aku menceritakan semuanya padamu, maka kau harus berhenti menganggap bahwa semua yang terjadi sebagai akibat dari kesalahanmu."


Vaya meneguk ludahnya, matanya masih tertuju pada Vier yang memandanginya dengan penuh kesungguhan.


"Aku harus mendengar dulu, sebelum menyepakatinya!" tolak Vaya.


Vier mengulas senyumnya.


"Aku tidak akan mengatakannya sebelum ada kesepakatan!"


"Aku tidak akan menyepakatinya sebelum kau menjelaskan semuanya!" desak Vaya.


Vaya sudah bisa melakukan negosiasi pada Vier.


"Baiklah, akan kuceritakan semuanya, dengarkan baik-baik, karena aku tidak akan mengatakannya dua kali," ucap Vier.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2