Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
095 - Rasa Sakit Vier


__ADS_3

Vier masih memandangi satu per satu foto-foto yang diberikan oleh Mike. Mike mendapatkan foto-foto pertemuan antara Vaya dan Yoran melalui seorang detektif swasta yang diminta Mike untuk menyelidiki Vaya.


Vier menarik napasnya, rasanya ia tidak percaya dengan foto-foto ini. Ini pasti editan! Itulah yang lebih ia percaya.


"Mike, tidak mungkin Vaya berkencan dengan Yoran!"


Vier menyugar rambutnya dengan gusar.


"Pak Vier, saya pun awalnya juga tidak bisa langsung percaya dengan foto-foto ini. Hanya saja, setelah saya menyelidiki lebih jauh, saya menemukan hal yang mengejutkan saya," jawab Mike.


"Apa maksudmu, Mike?" tanya Vier.


"Saya mendapatkan data pembeli unit penthouse type Emerald atas nama Bu Vaya. Namun yang lebih mengejutkan adalah sumber pembayaran berdasarkan aliran dana dari rekening Pak Yoseph Randvale," jawab Mike.


Vier memijat pelipisnya yang mendadak nyeri.


"Jika memang Bu Vaya dan Pak Yoseph tidak memiliki hubungan apa pun, bagaimana bisa Pak Yoseph sampai membeli penthouse seharga dua puluh miliar atas nama Bu Vaya?"


Vier memejamkan mata, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kerjanya.


Saat ini perselingkuhan Vaya dan Yoran jelas bukanlah hal yang bisa diterimanya.


"Mike, apa kau tahu, aku tidak munafik, aku memang pria yang kerap berganti kekasih, tapi aku berpegang teguh untuk tidak melakukan perselingkuhan," kata Vier.


"Aku tidak pernah berselingkuh, karena aku tidak mau diselingkuhi," lanjut Vier.


Ekspresi Vier menegang.


"Aku tidak percaya Vaya dan Yoran berselingkuh! Memangnya apa kurangnya aku hingga Vaya berselingkuh dariku?!"


"Aku sudah begitu sempurna, untuk apa Vaya harus mencari pria lain?!"


"Aku tidak percaya, Mike!"


Vier begitu yakin bahwa Vaya tidak mungkin selingkuh darinya.


Namun semua keyakinan Vier seakan terpatahkan saat insiden pemukulan yang dilakukan oleh Yoran. Di saat itu pula Yoran membawa pergi Vaya dari hadapannya.


Rasa sakit akibat pukulan yang diberikan Yoran sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang bergemuruh di dalam diri Vier.


Perselingkuhan Vaya dan Yoran jelas bukan hal yang bisa diterimanya dengan lapang dada.


...*****...


"Vier, aku benar-benar minta maaf, harusnya aku tidak perlu memukulmu seperti itu."


Yoran menatap ke arah Vier yang saat ini terdiam, duduk melipat tangannya sambil bersandar pada sofa yang empuk. Pandangan Vier lurus ke depan, menatap Yoran yang duduk di sofa, kedua lengannya bertumpu di lutut.


Yoran menemui Vier di salah satu kafe yang terletak di kawasan elit pusat kota. Berada di lantai teratas gedung pencakar langit yang terkenal sangat eksklusif dan menawarkan privasi yang lebih. Kafe itu nampak sepi, tidak semua mejanya terisi. Mungkin karena jam operasional sudah hampir berakhir.

__ADS_1


Yoran harus meluruskan masalah ini, masalah yang ia buat yakni kasus pemukulannya pada Vier menjadi perbincangan hangat para tamu yang datang di pesta semalam.


Yoran hanya bertindak secara naluri ketika melihat Vier menggoda Vaya di balkon. Ia bahkan tak sadar sudah melayangkan bogem mentah ke wajah Vier.


Yoran hanya ingin melindungi Vaya, itu saja, tidak lebih. Rasanya melihat Vaya digoda pria lain sungguh mencabik hati Yoran. Terlebih pria yang menggoda Vaya adalah Vier. Vier yang terkenal sering bergonta-ganti wanita bahkan sejak mereka masih disebut sebagai jejaka muda.


Vier menyesap jus jeruknya lambat-lambat melihat Yoran yang menautkan seluruh jemarinya. Ekspresi Yoran terlihat penuh penyesalan.


"'Aku hanya tidak suka melihatmu menjahili Vaya seperti itu," kata Yoran lagi.


"Kenapa kau begitu peduli pada Vaya?" tanya Vier.


Vier merasa darahnya menggelegak, kumpulan foto-foto pertemuan rahasia antara Vaya dan Yoran berkelebat dalam benaknya. Apakah mereka berdua benar-benar punya hubungan romantis yang tidak diketahui oleh Vier?


Meski Vaya menyangkal dengan mengatakan bahwa ia dan Yoran tidak memiliki hubungan apa pun, hanya sekadar teman biasa.


Apakah wajar seorang teman biasa membeli sebuah penthouse mewah seharga dua puluh miliar?


"Aku peduli pada Vaya, karena Vaya adalah teman yang baik," jawab Yoran.


Vier mengulas senyumnya.


"Yoran, kau dan aku juga berteman baik," kata Vier. "Tapi apakah wajar, kau sampai membeli penthouse mewah atas nama Vaya?"


Yoran mengulas senyumnya.


"Kau tahu banyak ya, Vier?"


Vier benar-benar harus pandai menyembunyikan emosinya. Padahal darahnya sudah benar-benar mendidih tersulut emosi.


"Apa kalian berkencan?" tanya Vier.


Pertanyaan itu meluncur karena Vier benar-benar mempertanyakan ada apa antara Vaya dan Yoran.


Vier kembali meneguk jus jeruknya.


Jika kau mengaku mengencani Vaya, aku benar-benar akan membunuh kalian berdua, batin Vier.


"Tidak, kami tidak berkencan," jawab Yoran tanpa ragu.


Vier tertegun mendengar jawaban Yoran.


"Lalu untuk apa kau membeli penthouse atas nama Vaya?" tanya Vier.


Kini giliran Yoran yang tertegun mendengar pertanyaan Vier.


Kenapa Vier ingin tahu? Yoran membatin.


"Aku hanya ingin membuat istriku cemburu," jawab Yoran.

__ADS_1


"Cemburu?" Vier terperangah.


Yoran mengangguk mantap. Namun apa yang diucapkannya di mulut tidak sepenuhnya benar. Ia sudah jatuh cinta pada Vaya, dan membelikan penthouse itu untuk Vaya agar ketika mereka bersama tidak perlu ada yang mengganggu mereka.


Sayang sekali semua keinginan Yoran harus sirna, Vaya memilih mundur dari hidup Yoran. Yoran pun menghargai keputusan Vaya. Ia menerima keputusan Vaya meski separuh hatinya merasa tak rela. Namun ia bisa apa selain menerimanya.


"Wah, kau benar-benar gila, Yoran! Haha," Vier tertawa.


"Vier, apa salahnya tergila-gila pada istri sendiri?" kata Yoran.


"Haha," Vier tertawa lagi.


Namun dalam hati Vier saat ini ia benar-benar merasa marah dan kesal pada Vaya. Wanita itu benar-benar bodoh karena mau diperalat oleh Yoran.


Vier benar-benar merasa kesal, meski Vaya dan Yoran tidak memiliki hubungan apa pun dan hanya sekadar teman, tapi kenapa Vaya malah bertemu dengan Yoran secara diam-diam?


Tapi apakah benar Vaya dan Yoran sungguh tidak memiliki hubungan apa pun?


Hati Vier bertanya-tanya, merasakan resah dan gelisah yang makin membuncah dalam dadanya.


Ia tak percaya pada Vaya, dan tentu tidak bisa serta merta percaya pada ucapan Yoran.


Hanya saja melihat Vaya sampai menawarkan dirinya sebagai sebuah pembuktian, jelas membuat Vier menjadi tegang sendiri.


Undangan erotis dari Vaya jelas membuatnya jadi gelisah. Biar bagaimana pun, ia adalah seorang pria normal dan sehat. Berkali-kali ia mencoba untuk mencicipi Vaya, namun wanita itu selalu menolaknya.


Vier tidak bisa menyentuh wanita yang menolaknya. Hanya saja karena Vaya justru menyerahkan dirinya seperti ini, munafik jika Vier menolak tawaran dari wanita yang saat ini memang ingin disentuhnya. Menjadikan wanita itu sebagai miliknya.


"Ehem, Vier, kenapa kita jadi membahas Vaya? Rasanya kurang nyaman, dua orang pria yang sudah memiliki istri malah membicarakan wanita lajang," kata Yoran.


Vier tertegun mendengar ucapan Yoran.


Lajang? Wanita itu sungguh mengaku masih lajang?


Kemarahan Vier benar-benar tersulut sempurna karena Vaya masih mengaku sebagai wanita lajang.


Jika Vaya mengaku sebagai wanita lajang, lantas bagaimana dengan Vier?


Apa Vaya sungguh sama sekali tidak menganggap Vier sebagai suaminya?


Apa itu artinya Vaya sama sekali tidak menganggap pernikahan mereka?


Kemarahan Vier benar-benar tak bisa dibendung lagi. Meski saat ini wajahnya tersenyum, namun hatinya benar-benar terasa sakit.


Rasa sakit yang begitu menyesakkan karena selama ini apa yang dilakukan oleh Vier, sama sekali tidak dianggap oleh Vaya.


Kebersamaan mereka setiap malam, pelukan yang hangat, dan ciuman yang penuh gairah itu sama sekali tidak ada artinya bagi Vaya.


Rasa marah dan kecewa itu benar-benar menggelapkan pikiran Vier. Menggerus rasa simpati Vier.

__ADS_1


Saat ini Vier hanya ingin Vaya merasakan apa yang ia rasakan.


...*****...


__ADS_2