Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
049 - Meminta Izin


__ADS_3

Dapur menjadi tempat pertama yang langsung disambangi oleh Vaya begitu tiba di kediaman Vier. Menemui dua orang koki untuk mendiskusikan masakan apa yang akan disajikan untuk Vier.


"Saya ingin membuat sesuatu yang spesial, kira-kira apa yang paling disukai Vier, ya?"


"Hmm, bagi Pak Vier, selama makanan itu segar dan diolah dengan benar, itu sudah cukup," jawab sang koki senior.


"Apa menu yang paling banyak Vier request?" tanya Vaya lagi.


Sang asisten koki membuka daftar menu makanan yang selama ini mereka sajikan. Agar menu bersifat variatif, mereka menyusunnya sedemikian rupa, lalu memastikan bahwa tidak akan ada menu masakan yang sama pada bulan yang sama.


Vaya mulai memasak, ia sempat berpikir, seandainya ada Rian di sini, Rian pasti sangat senang sekali bisa menggunakan dapur luas dengan perlengkapan masak yang mutakhir.


Vaya mulai memotong-motong sayuran mulai dari daun selada, timun, dan tomat.


"Apa yang kau masak, Vaya?"


Vaya tersentak kaget dengan sebuah ringkusan dari belakang.


"Vi-Vier!"


Vaya menoleh ke arah Vier yang saat ini menyeringai horor.


"Aku tanya apa yang sedang kau masak," Vier mengulangi ucapannya.


"Aku mau memasak ikan salmon panggang," jawab Vaya.


Vier melepaskan pisau yang dipegang Vaya, lalu memutar tubuh Vaya. Vier memandangi wajah Vaya, memastikan bahwa saat ini yang sedang berada dalam pelukannya adalah Vaya yang sesungguhnya, bukan sekadar delusinya saja.


"Ada apa, Vier? Apa aku melakukan kesalahan lagi?" tanya Vaya.


"Ya," sahut Vier singkat.


"Aduh, apa lagi salahku?" tanya Vaya.


"Kau terlalu sibuk memasak, hingga kau mengabaikan kedatanganku kemari," jawab Vier.


"Vier, mataku hanya ada dua, aku tidak punya mata di belakang kepalaku," sahut Vaya.


"Tidak ada alasan bagimu, Vaya. Kau harus mendapat hukuman," titah Vier.


"Apa? Hukuman lagi?" Vaya mendengus kesal.


"Beri aku ciuman sekarang," kata Vier.


"A-apa?!" Vaya kembali terkejut.


"Lekas lakukan."


Vaya mencebik, ia segera mengecup sekilas bibir Vier.


"Vaya! Itu bukan ciuman! Lakukan seperti yang kulakukan tadi pagi!" perintah Vier.

__ADS_1


Huhh, dasar pria ini! Vaya mengumpat dalam hati.


Ia terpaksa menyambut bibir Vier yang langsung menyesapnya bak orang yang sedang dalam dahaga bertemu dengan sumber mata air.


Satu menit, dua menit, tiga menit telah berlalu, keduanya masih sibuk saling menyesap. Terlebih Vier yang benar-benar seakan hendak melahap Vaya bulat-bulat.


Vier menyudahi sesi ciuman mereka, ia menyeringai melihat Vaya yang memasang wajah cemberut.


"Mulai hari ini, setiap aku pulang, kau harus menyambutku dengan ciuman selamat datang. Itu hukuman untukmu."


Hukuman mesum lagi?! Dasar Vier! Vaya mengumpat dalam hati.


"Segera selesaikan masakanmu, aku sudah benar-benar lapar!" tukas Vier.


Ugh! Apa maunya pria ini sihh?!!


...*****...


Vaya mengamati Vier yang menyantap makanannya dengan tenang. Pria itu nampak tidak banyak berkomentar seperti biasanya. Yah, biasanya ia akan mengomentari aroma, tekstur, dan rasa makanan yang menurutnya kurang pas di lidahnya.


Vaya harus memanfaatkan momen ini untuk meminta izin pada Vier. Lebih baik minta izin daripada harus menerima hukuman-hukuman aneh dan mengerikan ala Vier.


"Anu, Vier," kata Vaya.


"Anu apa?"


Vier menatap Vaya.


"Tidak," jawab Vier dengan cepat tanpa perlu berpikir.


Vaya terkejut mendengar jawaban dari Vier.


"Apa? Kenapa tidak, Vier?" tanya Vaya.


"Ya, aku tidak mengizinkanmu," jawab Vier.


"Vier, kok begitu sih?" keluh Vaya.


"Vaya, aku punya hak untuk menolak permintaanmu," ucap Vier sambil menyuapkan potongan daging ikan salmon panggang ke mulutnya.


"Vier, aku biasa mengunjungi orang tuaku paling sedikit satu kali dalam sebulan. Apalagi sejak kita menikah, aku benar-benar belum ada pulang ke rumah orang tuaku," kata Vaya.


"Vaya, masalahnya apa kau sungguh benar-benar akan pulang ke rumah orang tuamu? Bagaimana jika kau ternyata hanya menjadikan orang tuamu sebagai alasan? Padahal kau bisa saja pergi berkencan dengan Clark Kent, Bruce Wayne, Peter Parker, ataupun Tony Starks yang tidak tahu diri itu," sahut Vier.


Vaya mendelik gusar, lagi-lagi Vier mengungkit masalah pria lain. Vier bahkan menyebutkan semua nama asli dari para tokoh superhero ternama di dunia untuk memvisualisasikan para pria lain yang mungkin dikencani oleh Vaya.


"Lagipula, jika kau tidak ada di rumah, bagaimana dengan tugas dan tanggung jawabmu untuk menyiapkan makanan untukku? Meskipun akhir pekan, aku perlu makan setidaknya tiga kali sehari."


"Vier, kau punya koki bersertifikasi yang bersiaga dua puluh empat jam," sahut Vaya.


"Vaya, tugas koki memang untuk memasak, tapi bukankah sudah menjadi tugas dan tanggung jawabmu untuk menyiapkan makanan yang layak untuk kumakan?" tukas Vier.

__ADS_1


"Vier! Aku benar-benar pulang ke rumah orang tuaku, aku kangen ibu, dan adik-adikku! Aku tidak pergi menemui Superman, Batman, Spiderman, atau pun Iron Man!" sungut Vaya.


Vaya benar-benar kesal dengan tudingan Vier mengenai pria lain yang ditemui Vaya.


"Vaya, perintahku adalah aturan untukmu!" tandas Vier.


Vaya terdiam, ia membuang pandangannya dari Vier.


"Melanggar peraturanku artinya kau harus terima hukuman yang kuberi!" ucap Vier dengan tegas.


Ya, ya, hukum saja aku sepuas hatimu, Vier! Batin Vaya.


Vier menyeringai melihat ekspresi cemberut Vaya. Vier menyudahi sesi makan malamnya. Ia beranjak dari ruang makan diikuti Mike.


Vier menuju ke ruang kerjanya.


"Mike, aku mau menyelesaikan pekerjaan untuk dua hari ke depan, beri aku daftarnya," kata Vier.


"Baik, Pak," jawab Mike tanpa banyak bertanya.


...*****...


Vaya tidak boleh menyerah, ia harus mendapatkan izin dari Vier untuk pulang menemui keluarganya. Ia tidak mau akhir pekannya hanya terkurung di rumah ini bersama Vier yang akan memberinya hukuman-hukuman aneh karena kesalahan yang dibuat oleh Vaya.


Vaya mondar-mandir di depan ruang kerja Vier, menunggu hingga pria itu keluar dari ruang kerjanya.


Ugh, kenapa Vier lama sekali? Apa dia sedang bertapa?


Cklek..


Pintu ruang kerja Vier terbuka, sosok Mike muncul di ambang pintu. Vaya yang sudah menunggu dari tadi, segera menghampirinya.


"Pak Mike, apa urusan Vier sudah selesai?" tanya Vaya.


"Maaf Bu, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh beliau," jawab Mike.


"Pak Mike, apakah kau tidak bisa membantuku untuk mendapatkan izin dari Vier?" tanya Vaya.


"Aku benar-benar pulang ke rumah orang tuaku, aku tidak berkencan dengan pria lain seperti yang dia tudingkan padaku," lanjut Vaya.


Mike mengerutkan alisnya, aduh, apa wanita ini tidak tahu ya, Pak Vier bahkan berusaha menyelesaikan pekerjaan untuk dua hari ke depan.


"Bu Vaya, saran saya, demi kebaikan dan kemaslahatan bersama, lebih baik Anda ikuti saja apa maunya Pak Vier, daripada Anda mendapat hukuman lagi," kata Mike.


Vaya mencebik, meminta saran dari budak Vier sungguh tidak membantu.


"Bu Vaya, lebih baik Anda beristirahat, dan sebaiknya tidak perlu mengganggu Pak Vier dulu," Mike menambahkan.


"Kalau begitu saya permisi," kata Mike.


Vaya benar-benar nelangsa, apa yang harus ia lakukan agar bisa mendapatkan izin dari Vier?

__ADS_1


...*****...


__ADS_2