
Prak...
Sebuah gawai cerdas terlempar dan mendarat mulus di atas meja kerja. Seorang wanita cantik yang duduk di belakang meja kerja itulah yang melempar gawai cerdas. Emosinya masih meluap-luap, membuncah memukul-mukul jantungnya. Wanita cantik itu menyibak rambut panjangnya yang lurus, berwarna cokelat, dan sehalus sutera.
Tok.. Tok..
Suara ketukan pintu di ruang kerjanya membuat wanita itu menoleh. Wanita muda melangkah masuk menghampiri meja kerjanya.
"Bu Grace, ini laporan penjualan yang Anda minta."
Wanita itu menyodorkan dokumen yang langsung diambil oleh Grace.
"Pergilah, Joyce," perintah Grace.
"Baik, Bu," sahut Joyce.
Grace membolak-balikkan lembaran dokumen, dering gawai cerdasnya membuat perhatiannya teralih.
Jika Yoseph yang menelepon, tidak akan kujawab, batin Grace.
"Hai, Niki!" sahut Grace menjawab telepon dari Niki.
...*****...
"Grace!"
Niki langsung menghambur dan memeluk Grace untuk menyambut kedatangannya. Grace memerhatikan penampilan Niki yang luar biasa seksi. Gaun hitam dengan belahan dada rendah itu membuat aset kembar Niki yang besar terumbar sempurna dan mencuri perhatian para pengunjung klub malam.
Grace dan Niki langsung duduk di meja depan bartender.
"Niki, kau tampak berbeda!" Grace terperangah melihat penampilan Niki.
"Haha, ya, aku memang melakukan sedikit perubahan pada bibir dan hidungku," Niki terkekeh bangga.
"Mau minum apa? Biar aku yang traktir," kata Niki dengan cepat.
"Tidak, Niki, setelah ini aku masih harus bekerja," tolak Grace.
"Oh, Grace! Kau masih saja seperti ini! Mengapa harus kau yang bekerja keras? Bekerja keras adalah tugas pria! Mengapa tidak kau limpahkan saja tugas mencari uang kepada suamimu? Apa gunanya suamimu itu kalau hingga kini yang bekerja keras adalah kau!" cerocos Niki.
Grace mengulas senyum pada sahabatnya. Ia dan Niki berteman karena orang tua mereka berteman baik.
"Niki, orang yang bisa kuandalkan hanyalah diriku sendiri," kata Grace diplomatis.
"Grace, aku sungguh mengerti perasaanmu. Punya suami payah dan tidak bisa diandalkan itu pastilah sungguh membebanimu," Niki terkekeh.
"Kasihan sekali, kau harus menikah dengan pria macam Yoseph hanya karena desakan orang tuamu," Niki bersimpati.
"Begitulah, aku sungguh tidak bisa hanya berpangku tangan membiarkan kerja kerasku hancur karena ulah pria yang sama sekali tidak berguna," Grace tersenyum tipis.
"Oh, Grace! Seandainya kau adalah pria, aku pasti akan menikahimu! Hihi," Niki tergelak heboh.
"Haha," Grace tertawa.
__ADS_1
"Oh ya, ngomong-ngomong masalah menikah, aku dan Jovy berencana untuk menikah," kata Niki.
"Oh, wah, ini berita yang mengejutkan," kata Grace.
"Hm, ya, sebenarnya tujuan awal aku berencana untuk menikah dengan Jovy adalah untuk membuat Vier cemburu," ucap Niki sambil menyesap minumannya.
"Vier?" kening Grace berkerut.
"Ya, beberapa waktu yang lalu aku bertemu dengan Vier. Aku pikir dia akan cemburu, ternyata tidak. Sungguh mengecewakan! Haha!" Niki tertawa lagi.
"Oh, ya, dan aku dengar lagi, Vier ternyata sudah menikah," lanjut Niki.
Grace menegang mendengar ucapan Niki. Niki menyesap kembali minuman dengan kadar alkohol cukup tinggi yang dipesannya. Ketika merasa resah dan gelisah, sudah menjadi kebiasaan Niki untuk meneguk minuman berkadar alkohol tinggi.
"Aku jadi kesal sekali, Grace! Kau pasti tahu kan, Vier bahkan mengakhiri hubungan kami tanpa alasan yang jelas. Tapi sekarang dia malah menikah dengan wanita lain," Niki mulai bercucuran air mata.
"Niki, simpan air matamu, bukankah sudah ada Jovy di sisimu?"
"No, Grace! Tidak ada lelaki yang seperti Vier! Sikap dinginnya itu benar-benar membuatku gregetan sendiri! Hiks! Sampai sekarang aku bahkan tidak bisa melupakannya! Bagaimana ini, Grace?!"
Niki kembali menangis sesenggukan. Niki sudah mulai mabuk hingga ocehannya mulai tak terkendali.
"Niki, kau sudah mulai mabuk, aku akan meminta Jovy untuk menjemputmu," kata Grace.
"Aku tidak mabuk, Grace! Aku hanya patah hati lagi, hiks!"
Grace mengurungkan niatnya untuk menghubungi Jovy. Ia duduk termenung di depan meja bartender mendengarkan ocehan Niki.
Masalahnya sendiri sudah begitu banyak, ditambah lagi harus mendengar masalah Niki membuat Grace akhirnya memutuskan untuk memesan koktail pada bartender.
...*****...
Vaya mematut dirinya di depan cermin yang ada di kamar mandi. Kaus longgar berwarna abu-abu yang dikenakannya saat ini merupakan kaus yang dipinjamkan Yoran untuknya. Vaya cukup heran mengapa tidak ada pakaian wanita di unit apartemen Yoran.
Vaya keluar dari kamar mandi, mendapati Yoran yang sedang menyeduh kopi di dapur.
"Mau kopi?" tanya Yoran.
Vaya menggeleng pelan.
"Aku tidak bisa minum kopi," jawab Vaya.
"Oh begitu," sahut Yoran.
Yoran segera membawa kopi ke meja kerjanya. Sementara Vaya duduk di sofa, mengawasi Yoran yang mulai sibuk bekerja.
Vaya masih merasa bahwa ini pasti hanya mimpinya saja. Bisa memandangi Yoran seperti yang biasa ia lakukan saat masih sekolah dulu.
"Ada apa, Vaya? Apa kau merasa bosan?" tanya Yoran.
Vaya menggeleng cepat.
"Bagaimana aku bisa merasa bosan, jika yang kupandangi adalah kau, Yoran?" kata Vaya.
__ADS_1
Yoran beranjak dari kursinya, ia segera duduk di samping Vaya.
"Apakah tadi itu gombalan untukku?" tanya Yoran sambil menyelipkan rambut di belakang telinga Vaya.
Vaya tersenyum malu-malu.
"Tergantung bagaimana kau menafsirkannya."
Yoran mengecup bibir Vaya sekilas.
"Aku benar-benar senang mendengar semua perkataan manis dari bibirmu, Vaya," kata Yoran.
Vaya mengulas senyumnya, menyambut kembali bibir Yoran. Saling memagut dan saling menginginkan.
Yoran membuka kancing kemeja yang dikenakannya. Mata Vaya tertuju pada tubuh Yoran, bukan karena tubuh yang cukup atletis, melainkan pada bekas luka menyerupai cakaran yang dalam.
"Yoran, kenapa banyak bekas luka di tubuhmu?" tanya Vaya.
"Kau pasti merasa jijik ya?" tanya Yoran.
Vaya menggeleng.
"Aku tidak berpikir jijik, hanya saja rasanya pasti sangat menyakitkan," ucap Vaya. "Bagaimana bisa kau mendapat luka-luka ini, Yoran? Siapa yang melakukannya?" tanya Vaya.
Yoran bungkam, menunduk dalam.
"Yoran? Ada apa? Kau bisa cerita padaku," kata Vaya.
"'Maaf, Vaya, aku rasa aku tidak bisa menceritakannya padamu," kata Yoran.
"Yoran, aku hanya mencemaskanmu. Sungguh tega sekali sampai melukai tubuh indahmu," kata Vaya.
Yoran menatap Vaya yang benar-benar terlihat cemas. Yoran jadi menimbang-nimbang, apakah ia harus mengatakannya pada Vaya.
"Grace yang melakukannya," kata Yoran pada akhirnya.
Vaya menutup mulutnya, terperangah hingga tak bisa berkata-kata.
"Yoran, bagaimana bisa?"
"Grace menyerangku setiap kali ia merasa marah, menjadikanku sebagai kantong samsak," jawab Yoran.
Vaya mengerutkan keningnya.
"Tidak mungkin wanita yang terlihat lemah lembut itu melakukan kekerasan padamu, Yoran! Tangannya bahkan begitu halus dan lembut!" Vaya terperangah.
"Aku tahu, kau pasti tak akan percaya. Ya, semua orang pasti juga tidak akan percaya dengan luka yang kuterima. Semua orang akan berpikir bahwa luka yang kualami ini pastilah karena aku memaksa Grace untuk melayaniku. Grace hanya melindungi dirinya! Itulah yang akan disangka oleh orang lain," jawab Yoran.
Mata Yoran menerawang jauh. Vaya mengambil tangan Yoran, menggenggamnya erat.
"Yoran, aku percaya padamu, meski orang lain berkata tidak," kata Vaya.
...*****...
__ADS_1