
Apa? Vier menginginkan kesucianku?
Otak Vaya berputar cepat, biasanya ketika Vaya menolak permintaan dari Vier, pria itu malah akan mengubah permintaan tersebut menjadi perintah untuk Vaya. Semakin Vaya bersikeras menolak, maka permintaan itu akan berubah menjadi perintah absolut yang tak terbantahkan. Menolak perintah dari Vier sama saja melakukan pelanggaran yang mana artinya Vaya harus siap menerima konsekuensi berupa hukuman dari Vier.
Apa yang harus kukatakan ya? Pikir Vaya.
Seringaian horor yang terlukis di wajah Vier jelas membuat Vaya makin terbebani.
"Baiklah, ayo kita lakukan," sahut Vaya pada akhirnya.
Vier terkejut mendengar jawaban Vaya.
"Ya, ayo tiduri aku agar aku bisa menilai bagaimana keperkasaanmu, Vier!"
Vaya melontarkan tantangan pada Vier. Vier mengerutkan sebelah alisnya. Alih-alih menolak, Vaya malah justru menantangnya seperti ini.
"Haha," Vier tertawa dingin.
"Vaya, apa kau serius dengan ucapanmu?" tanya Vier.
"Ya, ayo kita lakukan apa yang kau mau, Vier."
Vaya masih melemparkan tantangannya pada Vier.
"Haha," Vier kembali tertawa sinis.
"Yah, tapi bagaimana ya, aku mau menidurimu, tapi melihat tubuhmu yang penuh dengan tumpukan lemak jahat dan tak berbentuk seperti itu membuatku sama sekali tidak bergairah," ucap Vier dengan nada mengejeknya.
Ahaa, ini dia! Batin Vaya senang.
Sudah kuduga Vier tidak akan mengabulkan apa yang kuinginkan! Vier mah begitu! Makin ditolak, makin mendesak! Makin diajak, makin menolak! Haha! Vaya tertawa senang dalam hati.
"Oleh sebab itu, maka aku akan memberimu waktu dan tempat agar kau bisa membuatku bergairah!" kata Vier dengan nada bicaranya yang arogan.
"Hee?" Vaya melotot mendengar ucapan Vier.
"Jadi persiapkan dirimu sebaik mungkin! Aku sungguh tidak akan memberi toleransi apabila kau tidak melakukan sesuai dengan ekspektasiku!" Nada bicara Vier kini terdengar mengancam seperti biasanya.
Vier beranjak dari sofa, ia mengulas seringaian horor melihat wajah Vaya yang terlihat memucat.
"Beristirahatlah baik-baik! Pulihkan tubuhmu, jika kau memang benar-benar tidak hamil! Haha!" Vier tertawa.
Ia segera meninggalkan Vaya yang lagi-lagi hanya bisa tertegun.
Apa-apaan ini? Kenapa semua rencana yang Vaya susun jadi bumerang bagi Vaya?
Kenapa Vier jadi menyetujui ajakan Vaya untuk tidur dengannya?
Oh tidak! Apa yang sudah kulakukan?! Kenapa bisa jadi begini?! Vaya mengacak-acak rambutnya.
__ADS_1
Harusnya kan dia menolak ajakanku untuk tidur dengannya! Oh tidak! Tidak! Aku tidak bersedia tidur dengannya!
Tubuhku terlalu suci untuk disentuh oleh pria penuh dosa macam Vier!
Tok.. Tok..
Ketukan pintu dari luar dan kemunculan Pak Jo membawakan sarapan untuk Vaya.
Aroma bubur ayam dan sup hangat yang terendus membuat perhatian Vaya teralih.
"Pak Jo, tumben bukan sayur-sayuran?" tanya Vaya.
"Ya, kata Pak Vier, Anda kurang sehat, beliau meminta kami menghidangkan makanan yang kiranya bisa mengembalikan selera makan Anda, Bu," jawab Pak Jo.
"Oh begitu," jawab Vaya.
Vaya segera menyantap bubur ayam dan juga sup ginseng yang berfungsi untuk mengembalikan stamina. Vaya takjub menyantap bubur ayam ini, rasanya luar biasa enak, berbeda dengan yang pernah ia makan. Sup ginseng yang hangat pun benar-benar menghangatkan perut Vaya.
"Pak Jo, ngomong-ngomong sekarang jam berapa ya?" tanya Vaya.
"Sudah hampir jam delapan, Bu," jawab Pak Jo.
"Apa?! Jam delapan?!" Vaya tersentak kaget.
"Ada apa, Bu Vaya?" tanya Pak Jo.
"Saya harus berangkat kerja, Pak Jo," jawab Vaya sambil turun dari tempat tidur.
"Pak Jo, kalau hanya masuk angin dan asam lambung naik, itu bukan penyakit yang spesial," sahut Vaya.
Vaya segera kembali ke kamarnya yang berada di paviliun barat. Ia harus hadir di kantornya karena hari ini ada kegiatan audit.
...*****...
Dua orang auditor nampak mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Vaya. Semua sampel yang diminta para auditor itu juga dapat dipenuhi oleh Vaya dengan baik.
Meski Vaya cukup terlambat ketika tiba di kantor, setidaknya ia masih sempat mengikuti kegiatan audit yang dilakukan oleh auditor dari pihak eksternal.
Yang namanya auditor tentu saja selalu mencari-cari kesalahan. Dan Vaya sudah memiliki banyak pengalaman untuk menghadapi para auditor yang luar biasa kritis. Tak heran Vaya selalu ditugaskan menjadi garda terdepan dalam menghadapi auditor.
Entah mengapa Vaya jadi teringat pada Vier yang selalu mencari-cari kesalahannya. Semua hal yang dilakukan Vaya adalah kesalahan yang pada akhirnya membuahkan hukuman untuk Vaya.
"Jadi, Bu, pengadaan tali propelin berukuran setengah inch ini diadakan dalam kurun waktu kurang dari dua bulan dihitung dari pembelian terakhir, padahal dari data sebelumnya, pengadaan tali propelin ukuran tersebut memiliki masa pakai yang cukup lama," salah satu auditor melemparkan kembali pertanyaan.
Vaya mengulas senyumnya kepada auditor berjenis kelamin laki-laki, berwajah dingin, dengan kacamata tebalnya yang berkali-kali melorot.
"Benar, tali tersebut awalnya difungsikan untuk mengikat dan mengangkat barang-barang selama proses pendistribusian, namun ada beberapa kendala di lapangan yang membuat tali tidak berfungsi dengan baik, terlebih pada saat kondisi alam yang tidak menentu," jawab Vaya.
Seketika wajah Vaya jadi bersemu merah karena dalam benaknya saat ini terlintas potongan-potongan ingatannya ketika Vier mengikatnya dengan tali. Belum lagi ketika ia harus mengalami kejadian alam yang memalukan.
__ADS_1
Auditor berkacamata tebal itu melihat Vaya yang nampak salah tingkah.
"Ehem, baiklah, saya mengerti, terima kasih atas penjelasan Anda," kata pria itu.
"Terima kasih," kata Vaya.
Dua orang auditor itu segera meninggalkan ruang kerja Vaya.
"Hei, Bisma, kenapa wajahmu jadi memerah begitu?" tanya Andy kepada rekannya itu.
"Ehem, Andy, Bu Vaya yang tadi entah mengapa aku merasa beliau menyukaiku," jawab Bisma sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Wah, Bisma, kau serius?" tanya Andy.
"Ehem, ya, aku yakin," jawab Bisma.
"Daripada menebak-nebak begitu, lebih baik langsung ajak makan malam saja," usul Andy.
Bisma mengangguk pelan menyetujui usulan rekannya
...*****...
Vaya, Pak Andre, dan tim auditor bernama Andy dan Bisma mengunjungi restoran Jepang di salah satu hotel berbintang lima yang ada di pusat kota.
Vaya berusaha mempertahankan senyumnya selama acara makan malam bersama dua auditor dan Pak Andre. Vaya sebenarnya menolak ketika diajak untuk makan malam bersama. Sulit baginya untuk mendapatkan izin pulang terlambat.
Hanya saja ketika mendapat informasi dari Mike bahwa Vier masih ada meeting makan malam dengan beberapa relasi, Vaya pun akhirnya setuju untuk pergi makan malam.
"Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Andy dan Pak Bisma atas kerja sama yang baik selama ini," kata Pak Andre.
"Kami juga mengucapkan terima kasih karena tim dari Pak Andre bersikap kooperatif," jawab Andy.
Vaya kembali mengulas senyumnya, saat ini ia masih sibuk mengunyah sushi gulung. Saat ini pikiran Vaya jelas sudah tidak berada di tempat. Ia berharap sangat acara makan malam ini bisa berakhir cepat, agar ia bisa pulang ke rumah lebih awal daripada Vier.
"Bu Vaya, kenapa dari tadi hanya senyum-senyum begitu? Nanti saya naksir lho," kata Andy seraya terkekeh.
"Oh, makanannya enak," jawab Vaya sekenanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, Bu Vaya sudah punya pacar atau belum?" tanya Andy.
Vaya hanya kembali mengulas senyumnya.
"Kalau belum punya pacar, teman saya ini ingin mendaftar," sahut Andy lagi.
"Haha, ya ampun, ternyata Bapak-bapak ini punya selera humor yang tinggi, saya pikir hanya bisa mencari-cari keganjilan saja," tukas Vaya.
"Haha," semua orang tertawa.
Tawa Vaya terhenti tatkala melihat rombongan pria yang keluar dari ruangan VIP. Mata Vaya langsung tertuju pada Mike dan juga Vier.
__ADS_1
Oh tidak! Kenapa mereka berdua ada di sini?!
...*****...