Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
104 - Hukum Deri


__ADS_3

Deri masih terus mondar-mandir dengan gelisah. Sudah lebih dari satu jam ia melakukan kegabutannya itu. Di dalam gudang yang berada di dekat pelabuhan peti kemas, ia dan beberapa anak buahnya masih menunggu dengan rasa tidak sabar yang setiap detik makin membuncah.


"Hiks... Hikss..."


Aria menangis dalam diam, dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat, serta mulut yang dilakban jelas membuat Aria menjadi tak berdaya.


Aria sungguh tak menyangka bahwa kakak sepupunya tega melakukan penculikan dan penyekapan seperti ini. Aria yang begitu malang hanya bisa menangis ketakutan dan menuruti apa pun yang diperintahkan oleh Deri.


Deri berjalan menghampiri Aria yang masih berbaring di lantai gudang beralaskan potongan kardus cokelat.


Deri berjongkok, menyeringai melihat Aria yang masih menangis dalam diam.


"Kau tenang saja, Aria, aku hanya akan menjadikanmu sebagai alat untuk pertukaran alias barter!" kata Deri.


"Kakak iparmu yang angkuh dan sombong itu harus mencabut tuntutannya dan memberiku banyak sekali uang ganti rugi!" lanjut Deri.


"Kalau tidak, aku benar-benar harus melakukan hal buruk padamu dan juga ibumu! Supaya kita sama-sama impas! Hehe!" Deri terkekeh.


Deri kembali berdiri, berjongkok terlalu lama membuat lututnya kram.


"Aku sungguh berharap kakak iparmu itu datang sendiri saja! Aku benar-benar sudah tidak sabar untuk menghantam muka sok gantengnya! Haha!" Deri tertawa-tawa senang.


Deri benar-benar harus membuat perhitungan dengan suami sepupunya yang merasa paling berkuasa itu.


Bolehlah jika di luar sana pria itu dilindungi hukum negara. Tapi di hadapan Deri, hukum negara sama sekali tidak berlaku. Hukum Deri-lah yang lebih berkuasa.


Deri bahkan sudah menyewa selusin preman yang memiliki pamor bengis, kejam, dan tak mengenal ampun. Para preman berbadan kekar, rambut gondrong awut-awutan, tampang sangar, badan penuh tato, yang hanya dengan sekali pandang saja sudah bisa meremukkan tulang belulang.


Deri benar-benar sangat percaya dengan kemampuan preman bayarannya yang akan sangat mudah melumpuhkan suami Vaya yang hanyalah pria ramping dan suka bersolek itu.


Deri sungguh tak sabar untuk melihat aksi para preman bayarannya untuk membuat suami Vaya babak belur dan memohon ampun di kaki Deri.


Ya, itulah bayangan-bayangan yang membuat Deri merasa sangat terhibur. Bayangan putus asa yang tergambar jelas dalam benak Deri.


Berhari-hari, berminggu-minggu, Deri merasakan keterpurukan yang amat sangat pasca tuntutan yang dilayangkan oleh pihak perusahaan dari brand kosmetik OMG kepada Deri.


Deri benar-benar hancur dan luluh lantak di dera rasa frustrasi ketika pundi-pundi penghasil uangnya seketika macet total. Usaha yang sudah ditekuninya selama bertahun-tahun seketika terancam gulung tikar.


Hanya dalam satu malam, pria yang menjadi suami Vaya itu menghancurkan roda perekonomian Deri.


Deri tentu tidak bisa hanya berdiam diri tanpa membuat perhitungan. Dengan menculik Aria, Deri sungguh berharap bisa mendapatkan apa yang ia inginkan yakni pertukaran.


...*****...


"Pak Deri, ada yang datang!"


Seruan dua orang preman yang berjaga di pintu depan membuat Deri langsung memberi aba-aba kepada pasukan preman yang menunggunya.


"Kalian sembunyi!" perintah Deri menunjuk dua preman berbadan paling besar.


"Kalian ikut denganku!" perintah Deri kepada empat preman berwajah paling sangar dan bengis.


"Hei, kalian sembunyikan Aria!"

__ADS_1


Dua preman berbadan paling besar itu segera menggotong Aria ke persembunyian mereka.


Deri bersiap menyambut tamu kehormatan yang saat ini sudah digiring oleh empat preman suruhannya memasuki gudang setelah memastikan tiga orang tamu yang datang sama sekali tidak membawa serta polisi atau pun pasukan anti huru-hara bersenjata api.


Deri langsung menyambut kedatangan Vaya beserta suami dan asisten suaminya dengan membentangkan tangannya selebar mungkin.


"Selamat datang, Vaya dan suami tercinta!" seru Deri yang kemudian bertepuk tangan.


Plok... Plok...


Sungguh garing, tak ada yang menyambut senang kehebohan Deri.


Vaya mengedarkan pandangannya, menelusuri gudang berpencahayaan temaram yang kotor dan berdebu.


"Deri, di mana ibuku? Di mana Aria?!" tanya Vaya.


"Oh, slow, Vaya! Slow!" Deri terkekeh. 


"Kau benar-benar keterlaluan, Deri! Bisa-bisanya kau menyandera ibuku dan Aria! Tega sekali kau!" sergah Vaya.


"Vaya, tutup mulutmu! Sekarang yang lebih tega itu siapa?! Suamimu yang sudah menghancurkan roda perekonomianku, ataukah aku yang hanya sekadar mengajak jalan-jalan Aria?" tanya Deri.


Nada keangkuhan, kesombongan, dan merasa paling berkuasa terlontar jelas dari mulut Deri. Bibirnya yang berkedut-kedut tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.


"Jadi, apa maumu, Deri?" tanya Vier sambil mengulas senyum ramahnya.


Vier sengaja langsung menanyakan hal yang to the point daripada harus mendengarkan semua kesombongan Deri dengan memamerkan enam preman bertampang bengis dan sangar yang berada di belakang Deri.


"Aku ingin begini, aku ingin begitu! Ingin ini ingin itu, banyak sekali!" sahut Deri sambil bersenandung riang.


Deri benar-benar merasa sudah berada di atas angin. Menggenggam kemenangan tanpa harus bersusah payah.


Memang ya, orang yang bertampang sangar seperti para preman di belakang Deri akan lebih menakutkan dibandingkan dengan pria-pria tampan di belakang Vaya.


Pria tampan hanya akan membuat wanita menangis karena cinta yang ditolak ataupun dicampakkan. Sementara pria berwajah sangar, bengis, gahar, akan membuat siapa pun menangis ketakutan.


"Hei, Bung! Ada harga yang harus kau bayar untuk menebus adik iparmu yang manis itu, apakah kau sanggup?" tanya Deri.


"Deri!" hardik Vaya.


"Vaya, diam! Ini bukan urusanmu!" Deri balas menghardik Vaya.


Vier mengerutkan kedua alisnya, lalu segera menyentuh bahu Vaya dengan lembut. Tujuannya tentu saja untuk menenangkan Vaya.


"Sst, Vaya," desis Vier.


Vaya menatap Vier yang memberi kode agar Vaya lebih tenang dan tidak terbawa emosi.


"Deri, tolong jangan seperti ini! Kembalikan ibuku dan Aria!" Vaya memohon.


"Haha!" Deri tertawa terbahak-bahak. "Mengembalikan ibumu dan Aria?! Haha!"


Tawa Deri sama sekali tidak terdengar lucu, yang ada justru sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Vaya, tidak semudah itu!" Deri menyeringai horor.


Mike mengedarkan pandangannya ke sekeliling gudang. Memperhitungkan berapa banyak kira-kira pasukan preman yang dibawa Deri.


Sehingga ia bisa memperkirakan berapa banyak peluru yang harus ia habiskan untuk melumpuhkan semua preman itu.


Saat ini keselamatan Vier dan Vaya jelas menjadi prioritas utama Mike. Mike benar-benar harus bersikap luar biasa waspada.


"Baiklah, aku akan membawa Aria kemari, tapi dengan satu syarat!" kata Deri.


"Kau, berlutut sekarang juga!" Deri menunjuk Vier.


"Deri!" sergah Vaya.


"Vaya! Diam dan jangan ikut campur!" bentak Deri.


Deri menyeringai ke arah Vier. Ia ingin Vier berlutut seperti saat Deri berlutut memohon kepada Vier untuk mencabut tuntutannya.


"Lekas berlutut dan memohon padaku!" bentak Deri.


"Tidak! Vier, jangan lakukan!" Vaya memohon pada Vier.


Vier menatap Vaya. Vier menarik napas berat, masih dengan ketenangan yang luar biasa.


Vier menjatuhkan lututnya, Vaya terperangah, sementara Deri bersorak girang.


Plok... Plok...


"Wah! Wah! Kau benar-benar berlutut ya!" Deri bersorak heboh.


"Ya, aku berlutut sesuai yang kau minta," kata Vier.


Deri bersiul, dua orang preman keluar dari persembunyian mereka sambil memanggul Aria.


Vaya mulai menangis melihat Aria yang terikat dan menangis ketakutan dalam diam.


"Aria!" Vaya reflek ingin menghampiri Aria.


"Eits!" Deri menghalangi.


"Hei, ambilkan tasku!" perintah Deri kepada preman yang ditunjuknya.


Preman berwajah sangar itu mengambil sebuah tas dan menyerahkannya pada Deri. Deri mengeluarkan amplop dan melemparkannya ke kepala Vier.


"'Tandatangani itu! Maka akan kulepaskan Aria dan juga ibu mertuamu! Haha!"


...*****...


Visual


Deri


__ADS_1


__ADS_2