
Vaya merasa begitu sulit untuk menarik sudut bibirnya demi mengembangkan senyum di hadapan semua mata yang menatap tegang ke arah Vaya.
Vaya berusaha menarik senyumnya, memamerkan giginya yang ia yakini pasti terlihat seperti seringaian kuda.
Bu Cintami, wanita paruh baya berwajah cantik itu tak putus-putusnya mengarahkan matanya pada Vaya. Dengan tatapannya yang menelisik, mengamati penampilan Vaya mulai dari ujung rambut.
Wanita berkulit gelap dengan penampilan yang begitu sederhana dan jauh dari kesan glamor, tidak seperti wanita yang pernah diperkenalkan Vier sebagai wanita yang akan dinikahi oleh anaknya itu.
"Vier, bukankah pada waktu itu kau memperkenalkan wanita bernama Selena yang akan menikah denganmu?" tanya Bu Cintami.
Vier mengerling ke arah Vaya dengan sudut matanya, memerhatikan ekspresi wajah Vaya yang begitu tegang dan terlihat jelas kurang nyaman dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut Bu Cintami.
"Itu benar, Bu," jawab Vier. "Aku memang berencana menikahi Selena. Hanya saja, sepertinya takdir harus berkata lain."
Vier tersenyum dengan penuh percaya diri saat membawa Vaya ke dalam rangkulannya.
"Jadi, tidak penting siapa tunanganku dulu, karena sekarang yang terpenting, Vaya adalah istriku."
Vier mengusap lembut lengan Vaya, rasa hangat muncul di permukaan kulit Vaya dan itu terasa nyaman.
Vaya kembali menarik senyumnya selebar mungkin hingga ia merasa bahwa giginya mulai kering dan otot-otot di wajahnya menjadi kaku.
"Baiklah, apa pun itu, aku ucapkan selamat datang di keluarga kami."
Suara berat dan terdengar dingin yang dilontarkan oleh ayah Vier mencairkan kebekuan yang ada.
Ucapan Pak Javier jelas membuat semua saudara Vier tercengang, begitu pula dengan Bu Cintami yang saling melemparkan pandangan kepada kedua anak perempuannya yang terlihat tidak setuju dengan ucapan sang ayah.
Ribut di meja makan jelas bukan tindakan yang tepat sehingga Cintami hanya diam bersama anak-anaknya.
"Praise, bagaimana denganmu?" tanya Pak Javier sambil mengarahkan pandangannya pada anak sulungnya.
"Hmm, aku baik-baik saja, Ayah," jawab Praise.
"Aku tidak melihat kau baik-baik saja! Apa yang sudah kau lakukan terhadap wajahmu?" tanya Pak Javier keheranan.
"Hmm, Ayah, aku hanya berusaha untuk terlihat makin tampan. Lihat, aku sekarang bahkan tetap lebih tampan daripada Vier atau pun Dearmine!" Praise mengulas senyum penuh kebanggaan.
Vaya mengerutkan keningnya. Padahal ia pikir, Vier adalah satu-satunya pria yang dikenalnya sebagai pria yang sangat narsis. Namun rupanya kakak Vier jauh lebih narsis lagi.
Para pelayan mulai menghidangkan makanan pembuka.
"Praise, pimpin doa bersama," titah Pak Javier.
__ADS_1
Praise mengulas senyumnya namun dalam hati ia jelas tidak menyukai perintah ayahnya.
Namun semua ini sudah menjadi tradisi di keluarga mereka.
Vaya ikut menunduk seperti yang dilakukan oleh semua orang.
"Dear God. We have gathered to share a meal in Your honor. Thank You for putting us together as family. And thank you for this food. Bless it to our bodies. We thank you for all of the gifts you've given to those around this table. Help each member of our family use these gifts to your glory. In the name of God. Amin."
Vaya terperangah mendengar doa yang dirapalkan oleh Praise.
Sudah pakai bahasa Inggris, panjang pula! Batin Vaya.
Pak Javier kembali melemparkan pertanyaan demi pertanyaan untuk anak-anaknya selagi mereka menyantap makan malam bersama. Situasi yang terlihat seperti wawancara sambil makan malam dibandingkan dengan acara makan malam yang santai.
"Namamu Vaya ya?"
"I-iya, Bu," jawab Vaya tergagap.
Vaya menjadi berdebar-debar tak karuan ketika namanya dipanggil oleh Bu Cintami.
"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau dan Vier berkencan?" tanya Bu Cintami.
Vaya tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan Bu Cintami jelas bukan pertanyaan yang bisa dengan mudah dijawab.
Vaya dan Vier tidak berkencan karena memang mereka tidak pernah berkencan mengingat bahwa sebelum menikahi Vaya secara mendadak, Vier masih bertunangan dengan Selena.
"Oh wah, Vier! Apa kau sedang ikut trend takabur?" Praise bertanya.
"Takabur?" tanya Vier dengan kening berkerut.
"Ya, trend kekinian yang sedang banyak dilakukan oleh anak-anak muda! Perjodohan singkat dan kilat bak beli kucing dalam karung! Takabur!" jawab Praise panjang lebar.
"Haha, beli kucing dalam karung," Honey menimpali dengan tawanya.
"Maaf, saya rasa maksud Anda adalah ta'aruf," Vaya mengoreksi ucapan Praise.
Praise memicingkan matanya karena mendapat koreksi dari Vaya.
"Yah, apalah itu, takabur, ta'aruf! Pokoknya yang begitu! Haha," Praise tertawa.
"Praise, aku dan Vaya sudah saling mengenal sejak lama. Kami berdua pernah sekolah di SMA yang sama," Vier menanggapi Praise.
"Oh berarti kalian ini pasangan selingkuhan yang menikah ya?" tebak Honey.
__ADS_1
"Honey, tolong jangan bicara omong kosong," sanggah Vier.
"Omong kosong?" tanya Honey. "Aku tidak bicara omong kosong, Vier! Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku! Kau bertunangan dengan Selena, tapi kau justru menikah dengan Vaya!" tukas Honey.
"Honey! Vier! Cukup!" sergah Pak Javier menengahi keributan yang nyaris terjadi di meja makan.
Ketegangan kembali tercipta, semua orang nampak terdiam menghadapi isi piringnya masing-masing.
Vaya menegang tak karuan. Rasanya perutnya seketika melilit, terasa nyeri seperti orang yang sedang datang bulan.
Vaya bisa menduga bahwa keluarga Vier pastilah belum bisa menerima kehadiran Vaya sebagai pengganti Selena.
Pasti tidak mudah bagi mereka untuk menerima Vaya. Selena yang luar biasa cantik tentu tidak bisa dibandingkan dengan Vaya yang alakadarnya seperti ini.
...*****...
Setelah makan malam, Vier dan kedua orang tuanya meninggalkan restoran menuju ke ruangan VIP yang letaknya tak jauh dari restoran utama.
Pak Javier duduk di sofa, menghadap langsung ke arah Vier. Begitu juga dengan Bu Cintami yang duduk sambil berusaha menyembunyikan rasa gelisahnya di samping suaminya.
"Vier, siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa tiba-tiba kau menikah dengannya?" tanya Pak Javier.
"Benar, Vier, sebenarnya kau ada masalah apa dengan Selena? Kenapa tiba-tiba membatalkan pernikahanmu dengan Selena?" tanya Bu Cintami.
Vier masih tetap diam dan mendengarkan sambil memikirkan apa yang harus disampaikannya dengan baik kepada kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, aku dan Selena batal menikah, itu karena keinginan Selena," jawab Vier.
Vier menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Vier, apa kau yakin wanita itu pantas untukmu?" tanya Bu Cintami.
"Ibu, aku menikahi Vaya karena aku yakin bahwa Vaya adalah wanita yang pantas untukku," jawab Vier.
"Tapi Vier, bagi kami, istrimu sungguh orang asing. Apa kau sudah memeriksa latar belakangnya dengan saksama?" tanya Pak Javier.
"Ayah, kupastikan bahwa istriku bukanlah pelaku kriminal. Vaya adalah wanita baik-baik dari keluarga baik-baik," jawab Vier.
...*****...
"Aku sungguh tidak tahu mengapa Vier sampai membatalkan pernikahannya dengan Selena dan lebih memilihmu!" ucap Honey ke arah Vaya.
Vaya menegang melihat Honey yang melemparkan pandangan skeptis ke arah Vaya.
__ADS_1
"Wah, kau pasti menjadi pelakor ya," tebak Missyu.
...*****...