Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
162 - Foto Miss You


__ADS_3

"Dasar anak haram! Anak haram tidak tahu diri! Kamu bahkan tidak punya ayah! Harusnya kamu itu tahu diri!"


Wanita paruh baya itu berteriak sambil melayangkan pukulan pada seorang gadis remaja.


"Lari, cepat lari!" seru Aria.


"Lari!" Vero ikut berseru.


Vaya menaiki undakan tangga menuju ke lantai atas begitu mendengar keriuhan.


Ia langsung menghela napas berat saat mendapati Aria dan Vero yang sedang asyik menyaksikan sinetron di televisi.


Vaya mengambil remot dan langsung mematikan televisi.


"Yah, Kak Vaya! Lagi seru nih!" keluh Aria.


"Ibu!" Vero ikut mengeluh.


"Aria, belajar! Vero, sudah waktunya tidur!" tukas Vaya.


"Yah, Kak, nanggung nih, masih seru," keluh Aria.


"Belajar, kamu sebentar lagi ujian," kata Vaya.


Aria mencebik, ia segera mengambil buku-buku pelajarannya lalu turun ke lantai bawah.


Rumah yang saat ini ditinggali Vaya dan keluarganya memiliki dua lantai. Lantai dasar digunakan sebagai warung, sementara lantai atas difungsikan sebagai tempat beristirahat. Tidak ada kamar ataupun sekat pembatas. Vaya dan keluarganya tidur bersama-sama di ruangan tersebut, beralaskan kasur lesehan.


Vaya hanya tinggal bersama ibunya, Aria, dan juga Vero. Sementara Rian yang saat ini bekerja di kapal pesiar hanya akan pulang ketika mengambil cuti.


"Vero, sudah sikat gigi kan? Ayo tidur," ajak Vaya.


Vero segera merebahkan dirinya di sebuah kasur lesehan.


"Ibu," kata Vero. "Ibu belum memberitahuku apa itu pacar."


Vaya menyeringai ke arah Vero, ekspresi Vero jelas menuntut jawaban Vaya.


"Hmm, pacar ya, Ibu tidak pernah punya pacar, jadi Ibu tidak tahu persis apa itu pacar," jawab Vaya.


"Kenapa Ibu tidak punya pacar?" tanya Vero.


"Ya, karena tidak ada yang mau jadi pacar Ibu," jawab Vaya.


Vero kembali menatap Vaya.


"Ibu, apa anak yang tidak punya ayah itu anak haram?" tanya Vero.


Vaya mendelik gusar, jadi paham kan, mengapa Vero memiliki pikiran tidak sesuai dengan usianya? Ini semua karena Aria sering menonton sinetron bersama Vero.

__ADS_1


"Ibu, apa aku anak haram? Kan aku tidak punya ayah," kata Vero lagi.


"Vero, siapa yang bilang kau tidak punya ayah? Ayahmu ada kok," sahut Vaya.


"Kalau memang ayahku ada, terus ayahku di mana?" tanya Vero lagi.


Vaya segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Vero.


"Ayah Vero sedang sibuk bekerja, seperti Om Rian," jawab Vaya.


"Jadi kapan ayah datang, Bu?" tanya Vero lagi.


"Ayahmu akan datang kalau sudah tidak sibuk," jawab Vaya sambil mengusap lembut rambut Vero.


Vaya segera mengecup kening Vero.


"Sekarang Vero tidur ya," kata Vaya.


"Ibu, ayahku seperti apa?" tanya Vero lagi.


"Nanti Vero akan tahu kalau sudah bertemu, oke, sekarang tidur ya," bujuk Vaya.


Vero segera memejamkan matanya.


Vaya kembali ke lantai bawah menghampiri Aria dan ibunya di dapur.


"Aria, tolong kurangi nonton sinetronnya! Vero jadi terkontaminasi yang aneh-aneh," kata Vaya.


"Habisnya, Vero pintar sekali sih, Kak, hehe," Aria terkekeh.


"Ya, tapi jangan kau racuni juga dengan sinetron begitu. Vero benar-benar anak yang pemikirannya sangat kritis. Semua-semua ditanya, aku sampai bingung mau menjawab apa," keluh Vaya.


Lagi-lagi Aria hanya bisa terkekeh geli dengan mata yang tak lepas dari gawai cerdasnya.


"Aria, kamu ini, bukannya belajar malah main sosial media terus," cibir Vaya.


"Ih, Kakak, biar kita tinggal di pedalaman yang jauh dari kota besar, tapi kita tidak boleh sampai tertinggal! Selama masih ada koneksi internet, biar kata lemot tapi kita tidak boleh sampai tertinggal hal-hal terbaru!" cerocos Aria.


Aria tentu tidak mau ketinggalan berita terbaru, sejak Rian memberinya hadiah berupa gawai cerdas di ulang tahun Aria yang ketujuh belas.


"Kak, coba lihat deh seleb Ensta ini, benar-benar sangat cantik dan modis!"


Aria menunjukkan layar gawai cerdasnya ke arah Vaya, namun Vaya tidak terlalu memerhatikan lantaran saat ini ia sedang sibuk memeriksa stok bahan-bahan makanan. Pendataan dilakukan untuk mempermudah saat ia belanja di pasar.


"Aria, dengarkan kata kakakmu, belajar yang benar. Kalau mau masuk ke perguruan tinggi yang bagus, belajarnya harus sungguh-sungguh," sahut Bu Asih sambil mengelap piring dan gelas yang basah untuk ditata di lemari penyimpanan.


"Enaknya ya, punya wajah cantik dan tubuh tinggi seperti Miss You ini," ucap Aria.


"Aria, syukuri apa yang ada," Vaya menimpali. 

__ADS_1


"Ih, Kak, tapi serius nih, Miss You ini benar-benar sangat cantik! Wah, lihat, Miss You mengunggah foto terbarunya!" Aria begitu antusias di depan gawai cerdasnya.


Mata Aria membulat besar, ia segera menghampiri Vaya dan menyerahkannya pada Vaya.


"Kak, coba lihat deh!"


"Ada apa sih, Aria? Kakak lagi sibuk nih," sahut Vaya.


"Kak Vaya, bukannya ini Kak Vier?!" 


Deg..


Jantung Vaya seakan berhenti berdetak lantaran Aria menyebutkan nama Vier.


Vaya mengambil gawai cerdas milik Aria dan matanya langsung tertuju pada sebuah foto yang benar-benar membuat jantung Vaya seakan hendak lepas.


Foto wanita cantik yang disebutkan Aria sebagai Miss You. Dalam unggahan tersebut, Miss You berfoto dengan seorang wanita cantik lain dan seorang pria tampan yang terlihat mengulas senyum ke arah kamera. Menara Eiffel menjadi latar belakang foto tersebut.


Get well soon, my sister in law. Cepat sembuh, kakak iparku.


...*****...


Vaya benar-benar hanya bisa terdiam memandangi foto tersebut. Rasanya dunia Vaya seketika menjadi begitu gelap.


Ia menatap kosong ke arah foto Missyu, Selena, dan Vier.


Tiga tahun telah berlalu. Tiga tahun Vaya menunggu. Memberi bukti pada Vier, betapa ia rela untuk menunggu Vier datang kembali.


Meyakinkan dirinya bahwa dengan menunggu Vier kembali, mereka akan kembali bersama. Terlebih saat ini sudah ada Vero yang hadir sebagai buah cintanya.


Setiap hari, ia memimpikan saat di mana Vier akan datang menjemputnya. Membawanya kembali untuk hidup bersama, seperti waktu yang telah mereka lalui berdua.


Vaya mengkhayalkan kebahagiaan semu itu setiap waktu. 


Vero pasti akan senang sekali jika bertemu dengan ayahnya. Sosok ayah yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh Vero.


Selama tiga tahun melakukan pelarian dan bersembunyi karena begitu takut terhadap ancaman dari ibu Vier. Berlari dan bersembunyi demi keselamatan mereka semua.


Namun foto itu justru membuat Vaya harus menelan kepahitan yang amat sangat. Di saat Vaya harus berjuang sendiri, membuktikan betapa ia mencintai Vier dengan segenap hatinya, namun Vier justru benar-benar tidak akan kembali padanya.


Unggahan Missyu sudah cukup menjadi bukti nyata bahwa Vier dan Selena sudah kembali bersama. Sedangkan Vaya, mungkin benar-benar sudah dianggap hilang oleh Vier.


"Vaya," Bu Asih menghampiri Vaya.


"Hiks... Ibu," Vaya langsung menangis dalam pelukan ibunya.


Lagi-lagi Vaya harus menelan kekecewaan, penantiannya selama tiga tahun ini benar-benar sudah berakhir sia-sia.


"Vaya, kamu harus kuat, demi Vero."

__ADS_1


...*****...


__ADS_2