
Vierlove Yanjayadi.
Ketika itu usianya baru lima belas tahun, saat babak awal kehidupannya yang baru bermula.
Ia bersekolah di sekolah umum, jauh dari kehidupan eksklusif, agar ke depannya ia mudah membaur dengan orang-orang yang berasal dari kalangan berbeda.
Saat itu, Vier selalu menjadi pusat perhatian di mana pun ia berada. Dianugerahi wajah tampan di atas rata-rata, jelas menyita perhatian semua orang.
Vier tak akan bisa melupakan kejadian pagi itu. Saat ia baru saja datang dan duduk di bangkunya, tangannya menemukan selembar surat di laci mejanya.
"Surat cinta?"
Kening Vier berkerut, cepat-cepat ia memasukkan surat itu ke dalam saku celananya.
Pada malam hari, Vier membaca surat itu. Sebuah surat cinta yang membuatnya terjaga semalam suntuk. Matanya bahkan tak bisa terpejam barang sedetik. Ia terlalu penasaran, siapakah gerangan yang menuliskan surat cinta yang membuat jantungnya berlomba?
Vier bahkan cepat-cepat berangkat ke sekolah dengan perasaan berbunga-bunga, namun tetap harus ia sembunyikan dengan baik.
Banyak gadis yang menyatakan cinta padanya, namun belum pernah ada yang menulis surat cinta untuknya.
Untaian dan jalinan kata-kata yang manis membuat Vier berdebar tak karuan.
Di pagi yang masih sepi, tiba-tiba seorang gadis datang menemui Vier.
Gadis berpenampilan lusuh yang membuat Vier menatap skeptis ke arahnya. Nama gadis itu Vaya. Gadis berkulit gelap dengan rambut lepek yang dikuncir kuda.
"Vier, apa kau melihat sebuah surat yang kuletakkan di mejamu? Kemarin aku meletakkan surat itu di laci mejamu!" kata Vaya.
"Surat?" Vier berpura-pura mengingat.
Oh, jadi dia si oknum penulis surat itu, batin Vier.
Entah mengapa Vier jadi merasa kecewa, karena ia sudah membayangkan bahwa penulis surat itu adalah sosok gadis cantik, manis, dan menggemaskan.
"Oh, maksudmu, selembar surat cinta?"
"Ya, benar! Surat itu!" jawab Vaya.
Huh! Serius gadis ini mau aku menjadi pacarnya? Yang benar saja! Apa dia tidak berkaca? Batin Vier.
"Ehem, maaf ya, tapi aku tidak tertarik untuk berpacaran denganmu!" sahut Vier penuh percaya diri.
Vier mengamati ekspresi Vaya yang nampak kikuk.
"Hmm, anu Vier, sebenarnya surat itu bukan untukmu. Aku pikir Rehan akan duduk di meja itu, makanya aku meletakkan surat itu di situ," Vaya mencoba menjelaskan.
"Rehan?" Vier mengerutkan keningnya.
Rehan yang dimaksud Vaya adalah teman sebangkunya.
"Apa surat itu masih ada padamu?" tanya Vaya.
Ugh, sial! Benar-benar memalukan! Batin Vier mengumpat kesal.
"Oh, maaf ya, aku sudah membuang surat itu, karena tercampur sampah!" jawab Vier.
Vier terpaksa berbohong, padahal sebenarnya surat itu masih ia simpan di bawah bantalnya.
__ADS_1
Vaya menghela napas berat, ekspresinya menyiratkan bahwa gadis itu kecewa.
"Duh, aku jadi harus menulis lagi," keluh Vaya.
"Apa ada masalah?" tanya Vier.
"Eh, tidak! Ya sudah kalau begitu, terima kasih, Vier," sahut Vaya.
Vaya melangkah gontai meninggalkan Vier.
Huh, bilang saja itu surat untukku! Tapi kau malah menumbalkan Rehan karena malu aku menolakmu! Pikir Vier.
Di hari selanjutnya, Rehan menunjukkan sebuah surat pada Vier. Rehan nampak tertekan dan terbebani dengan surat itu, ia pada akhirnya menolak Vaya.
Kemudian, hampir semua pemuda di kelas Vier mendapatkan surat cinta dari Vaya.
Semua pemuda langsung menjadikan Vaya sebagai topik pembicaraan mereka.
"Wah, gila, kau dapat surat cinta juga dari Vaya?"
"Sumpah, benar-benar ya! Gadis itu sepertinya memang muka tembok!"
"Memangnya siapa yang mau pacaran sama Vaya?! Dia jelek dan begitu lusuh!"
"Haha! Kalian dapat surat dari si pemburu laki-laki karena kalian terlihat tidak punya pacar!" Vier menimpali seraya tertawa.
"Vier, jangan takabur begitu! Tunggu saja giliranmu!"
"Haha! Ogah!" Vier tertawa mengejek.
Setiap hari Vier sampai sengaja bergonta-ganti pacar dengan tujuan agar ia tidak perlu mendapat surat cinta dari Vaya. Supaya Vier tidak perlu menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Vier merasa lega, namun di sisi lain, entah mengapa ia merasa harga dirinya terluka. Ia yang begitu sempurna seakan dilewatkan begitu saja oleh seorang gadis lusuh.
Hal tersebut tentu mengusik sanubari Vier. Membuat Vier jadi kepikiran dan malah justru overthinking. Membuat Vier bertanya-tanya dan mempertanyakan pada dirinya sendiri.
Mengapa laki-laki sempurna seperti dirinya dilewatkan begitu saja?
"Ah sial! Kok bisa sih?!" keluh Vier.
...*****...
Vier memutar-mutar bola basket di tangannya, saat itu ia sedang nongkrong bersama teman-temannya di pinggir lapangan.
Gadis lusuh si pemburu laki-laki datang menghampiri Yoran dan menyerahkan selembar surat ke arah Yoran. Dengan tangan gemetaran dan suaranya yang ikut bergetar.
Tak peduli berapa banyaknya pasang mata yang melihat Yoran menerima surat itu, Vier langsung merebut surat itu dan merobek-robeknya, lalu membuang serpihan surat itu ke udara.
"Hei, kau, si pemburu laki-laki! Apa kau itu tidak pernah berkaca?! Kau itu menakuti semua orang dengan surat-suratmu itu!"
"Apa kau pikir semua orang suka mendapat surat terormu itu?!"
"Sadar diri kau!"
Vier meluapkan unek-unek yang selama ini dipendam oleh semua pemuda yang pernah mendapatkan pengakuan cinta dari Vaya.
Detik itu juga Vaya menunduk dan berlari meninggalkan lapangan basket.
__ADS_1
"Wah, gila kau, Vier! Kena mental itu si pemburu laki-laki!"
"Biar dia sadar bahwa selama ini dia sudah meneror semua orang dengan surat cintanya yang begitu horor!" sahut Vier sembari terkekeh.
Mungkin Vier bisa mengucapkan kalimat-kalimat sadis kepada Vaya dengan entengnya. Namun tatkala sedang sendirian, Vier jadi kepikiran dan merasa bersalah.
"Sepertinya aku sudah begitu keterlaluan. Tidak! Dia memang harus tahu bahwa selama ini aksi teror suratnya itu benar-benar meresahkan!" gumam Vier.
Semakin Vier tidak ingin memikirkannya, Vier jadi makin kepikiran dan justru tak bisa melupakan Vaya dari pikirannya.
"Ah sial! Sial!" keluh Vier frustasi.
Surat salah alamat yang diterimanya hanya bisa dipandanginya. Surat yang selama tiga tahun ini disimpannya di bawah bantal. Warna kertasnya sudah menguning di makan waktu. Tulisan dengan tinta pulpennya juga semakin luntur.
Tanpa sadar Vier sudah menunggu selama tiga tahun, menyimpan surat cinta yang ditujukan bukan untuknya.
Ada rasa kesal dan kecewa yang mengusik sanubarinya.
Rasa kesal karena pemuda sempurna seperti dirinya dilewatkan begitu saja.
Sekarang siapa yang lebih menyedihkan?! Sial! Vier kembali mengumpat dalam hati.
...*****...
"Undangan reuni?"
Vier mengerutkan keningnya saat Mike menunjukkan undangan elektronik via surat elektronik pribadinya.
"Pihak panitia mengundang Anda secara khusus karena Anda sudah bersedia menjadi salah satu sponsor utama," lanjut Mike.
"Haa, ya, sepertinya aku sudah lupa kalau reuni itu ada," sahut Vier.
"Hmm, kapan acara reuni itu?" tanya Vier.
"Untuk acaranya dijadwalkan bulan depan," ucap Mike.
"Hmm, bulan depan ya?"
"Benar Pak, dua minggu sebelum pernikahan Anda dengan Nona Selena," sahut Mike.
Vier menghela napas berat, sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apa orang itu juga akan datang?" tanya Vier.
"Orang itu siapa, Pak?" tanya Mike.
"Hmm," Vier kembali berpikir.
Dalam benaknya rasa bersalah yang menghantui itu kembali mengusik hatinya. Rasa bersalah yang bercampur dengan harga dirinya yang terluka.
"Aku sungguh ingin bertemu orang itu, dan melihat apakah orang itu masih begitu menyedihkan seperti waktu itu," ucap Vier lagi.
"Siapa orang yang menyedihkan itu, Pak?" tanya Mike lagi.
"Seseorang di masa lalu yang dulu begitu menyedihkan! Dan mungkin saja, sampai sekarang masih tetap menyedihkan!" sahut Vier seraya tertawa.
"Aku sungguh ingin menertawakannya jika kami bertemu lagi! Yah, itu kalau kami bertemu lagi, haha!" lanjut Vier.
__ADS_1
...*****...