
Vaya segera turun dari mobil begitu Mike membukakan pintu untuknya.
Vier pun menyambut kedatangan Vaya dengan senyumnya yang sumringah.
Vaya tentu saja terpesona melihat Vier yang terlihat tetap tampan meski memakai kaus cokelat berkerah tinggi dengan jas hitam sebagai luaran.
Sementara itu, Vier tak melepaskan pandangannya dari gaun lengan panjang berwarna hijau emerald berpotongan lurus sebatas lutut. Sapuan riasan minimalis memberi rona segar pada wajah Vaya.
"Apa penampilanku terlihat aneh?" tanya Vaya pada Vier.
"Hmm, penampilanmu membuatku merasa sangat aneh, Vaya. Rasanya saat ini aku ingin cepat-cepat membawamu ke salah satu kamar di lantai atas untuk menuntaskan perasaan aneh yang bergejolak dalam diriku," sahut Vier menggoda Vaya.
"Hmm, kalau begitu, aku sungguh menantikannya," Vaya menimpali sambil mencubit pinggang Vier.
"Haha," Vier tertawa sambil merangkul lengan Vaya.
Vaya balas mengaitkan tangannya di lengan Vier. Kemudian mereka melangkah memasuki hotel diikuti Mike yang mengekor di belakang.
Vaya mengamati penampilannya yang terpantul pada dinding lift yang mereka masuki. Vaya merasa sangat percaya diri dengan penampilannya yang simpel, klasik, dan elegan. Vaya sungguh berterima kasih pada Mike yang sudah memberinya beberapa saran dan masukan.
Vaya ingin tampil berbeda dari para wanita-wanita cantik yang pastilah tampil dengan mengumbar keindahan kulit mereka.
"Vier, pesta macam apa yang akan kita hadiri?" tanya Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Jangan bilang nanti kau akan tahu! Aku tidak bertanya pada Pak Mike!" cerocos Vaya sambil mengerling ke arah Mike.
"Haha, aku baru saja akan mengatakan itu, Vaya," sahut Vier seraya tertawa.
"Vier, jangan membuatku penasaran," gerutu Vaya. "Apa kau tahu, rasanya aku bisa terkena penyakit jantung kalau terus-terusan deg-degan begini?"
"Hmm, baiklah, aku akan memberitahumu, tapi cium aku di sini," Vier menunjuk pipi kirinya.
Cup...
Vaya mengecup pipi kiri Vier dengan gaya malu-malu yang sukses membuat Vier menyambar bibir Vaya.
Vaya membalas ciuman Vier yang begitu bergairah saat menyandarkan tubuh Vaya pada dinding lift.
Mike hanya bisa terdiam sambil menekan tombol lantai yang mereka tuju tanpa terputus agar lift segera tiba di lantai tujuan. Dan tentunya agar dua orang yang sedang dimabuk asmara itu berhenti mengumbar kemesraan yang berlebihan.
Tring...
Lift yang berdenting menandakan sudah tiba di lantai tujuan.
"Ehem, Pak Vier, Bu Vaya, kita sudah sampai," Mike berdeham.
Vier dan Vaya menyudahi ciuman mereka, keduanya terlihat tidak merasa bersalah terhadap Mike.
"Jadi, pesta macam apa yang akan kita hadiri, Vier?" Vaya kembali bertanya sambil melangkah keluar dari lift.
"Kita akan bertemu dengan kedua orang tuaku," jawab Vier.
__ADS_1
"Hee? Orang tuamu?" tanya Vaya.
Vier mengangguk sambil mengulas senyumnya. Langkah Vaya terasa berat, namun ia tetap harus melangkah di samping Vier.
Seingat Vaya, pesta pernikahannya dengan Vier memang tidak dihadiri oleh orang tua Vier. Kedua orang tua pria itu sibuk di luar negeri. Vaya bahkan tidak mengingat tamu-tamu yang datang lantaran saat itu ia sama sekali tidak tertarik pada pernikahannya dengan Vier.
Jika saat itu Vaya bersikeras menyembunyikan pernikahannya dengan Vier, maka saat ini Vaya ingin semua orang tahu bahwa ia sudah menikah dengan Vier.
Semua orang harus tahu betapa beruntungnya Vaya karena bisa menjadi istri dari seorang Vier.
"Dalam satu tahun, keluargaku hanya berkumpul satu kali. Dan tahun ini kami harus berkumpul di waktu dan tempat yang sama setiap tahunnya. Kegiatan ini sudah menjadi tradisi di keluargaku," Vier melanjutkan.
"Setahun hanya satu kali?" Vaya terperangah.
"Ya," sahut Vier.
"Kenapa setahun hanya satu kali?" tanya Vaya.
"Karena kami semua sama-sama sibuk," jawab Vier.
Seketika Vaya langsung memaklumi hal tersebut. Vaya juga menyadari bahwa ia hanya pulang menemui keluarganya paling cepat sebulan sekali. Terkadang dua bulan sekali jika Vaya sedang sibuk.
Yah, nasib seorang pemburu uang memang seperti itu kan? Sibuk bekerja sampai lupa keluarga.
Vaya dan Vier sudah berada di depan pintu masuk restoran. Terdapat pengumuman di depan pintu yang menyatakan bahwa restoran ditutup pada hari ini.
"Vier, kenapa kita tetap diperbolehkan masuk? Bukannya restoran ini ditutup?" tanya Vaya.
"Restoran ditutup untuk acara makan malam keluarga Pak Vier, Bu Vaya," Mike menyahut.
"Tentu saja bisa, Vaya, hotel ini kan milik orang tuaku," sahut Vier santai.
"Oh, hehe," Vaya kembali terkekeh.
Vaya hanya bisa membatin nelangsa. Entah mengapa ia jadi semakin sadar bahwa kesenjangan sosial mereka sungguh terlalu jauh. Orang tua Vier bahkan memiliki hotel mewah seperti ini. Sedangkan orang tua Vaya, hanya punya kehidupan yang harus terus dilanjutkan.
Vaya jadi makin gemetaran, entah seperti apa orang tua Vier. Dan apakah kedua orang tua Vier bisa menerima Vaya?
Memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam benaknya, membuat perut Vaya langsung melilit.
"Vier!"
Suara yang memanggil itu langsung membuat Vier dan Vaya menoleh. Vaya seketika menegang melihat sosok wanita cantik yang bertemu dengannya di bandara.
Wanita berparas cantik, bertubuh tinggi dan ramping, berkulit putih, serta berpakaian modis yang menjadi mimpi buruk bagi Vaya kembali menyapa Vier dengan ramah.
"Missyu," ucap Vier sambil melempar senyumnya pada wanita itu.
Ugh! Dasar playboy ini! Vaya membatin nelangsa, merasakan dadanya yang kembali terasa begitu sesak.
Vaya sudah tahu bahwa malam ini ia akan bertemu lagi dengan wanita ini. Wanita yang terang-terangan menggoda Vier.
"Hai, Vier," wanita cantik lainnya menghampiri Vier.
__ADS_1
"Hai, Honey," sapa Vier.
Wanita cantik, bertubuh tinggi dan ramping yang nampak lebih dewasa itu langsung memberi Vier pelukan singkat.
Pelukan singkat yang langsung membuat hati Vaya lagi-lagi makin nelangsa. Bisa-bisanya Vier melakukan aksi sayang-sayangan dengan wanita lain di depan matanya seperti ini.
"Nona Missyu, Nona Honey," sapa Mike.
Vaya terpekur mendengar sapaan Mike kepada dua wanita cantik itu.
Apa? Nona miss you? Nona honey?
"Hai, Mike," sapa wanita yang nampak lebih muda.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya wanita yang lebih dewasa.
"Kecelakaan kerja, Nona Honey," jawab Mike.
"Wah, Vier, apa yang kau lakukan pada pegawaimu sampai pegawaimu terluka?"
Vaya masih berusaha mencerna, sebenarnya siapa dua wanita cantik ini?
Vier mengulas senyumnya saat melirik ke arah Vaya yang masih terbengong-bengong sendiri.
"Missyu, Honey, perkenalkan, ini Vaya," Vier memperkenalkan Vaya.
Dua wanita cantik itu melemparkan tatapan datar ke arah Vaya.
"Vaya, ini adikku Missyu, dan ini kakakku Honey."
Vier memberi penekanan pada kata adik dan kakak agar Vaya segera mengerti.
Otak Vaya masih bekerja seperti komputer pentium yang sangat lamban.
"Vaya?" Vier menggoyangkan tangannya untuk menyadarkan Vaya.
"Eh, he?" Vaya tersentak kaget.
Vier mengulas senyumnya, ia tahu pasti Vaya benar-benar kaget mendengar nama saudari-saudari Vier.
"Ha-hai," Vaya tergagap, balas menyapa kedua wanita cantik itu.
Jadi Missyu dan Honey adalah nama? Astaga! Batin Vaya.
Vaya sungguh merasa tidak enak karena sudah berpikir berlebihan.
Missyu dan Honey saling melemparkan tatapan skeptis ke arah Vaya. Keduanya jelas bertanya-tanya dalam hati siapakah wanita asing yang dibawa Vier saat ini?
"Oh ya, Vier, ngomong-ngomong di mana Selena? Kau tidak datang bersamanya?" tanya Honey.
Deg...
Jantung Vaya seakan berhenti berdetak mendengar pertanyaan dari Honey.
__ADS_1
...*****...