
Vaya mengaduk-aduk isi mangkuk salad, menyuapkan dedaunan mentah yang benar-benar menyiksa lidahnya. Ia bahkan terlalu malas untuk mengunyah, apalagi menelannya. Menu yang dimakannya setiap makan bersama Vier hanyalah menu diet. Bahkan kini setiap hari Vaya harus membawa bekal makan siang yang telah disiapkan oleh Pak Jo. Setiap hari, Pak Jo akan memeriksa bekal kotak makan yang telah kosong.
Bagi Vaya, belum satu minggu ia menyantap menu diet yang disusun oleh ahli gizi terbaik Vier sudah membuatnya merasa lingkar pinggangnya menyusut sekian sentimeter.
Selain Pak Jo, instruktur pribadi Vier yang bernama Ivan akan mencatat berat badan Vaya setiap harinya. Hal tersebut dilakukan untuk melihat progres body goal untuk Vaya.
Vier memutar-mutar garpu di tangannya, saat ini ia bertanya-tanya sendiri. Mengapa Vaya belum juga memberikan kado yang sudah dibelinya?
Padahal Vier sudah mempersiapkan diri untuk berpura-pura terkejut ketika mendapat kado dari Vaya. Ia bahkan sudah berencana untuk mengejek habis-habisan selera wanita itu. Pria sepertinya lebih pantas mengenakan hasil rancangan para desainer dari rumah mode terkenal di Eropa daripada pakaian impor yang murah meriah.
Hanya saja, sampai kapan Vier harus menunggu momen itu? Apa sampai ia berulang tahun?
Ulang tahun? Huh, sungguh kekanak-kanakan!
Apa wanita ini perlu dipancing? pikir Vier.
Vaya masih berusaha menyuapkan sayuran ke mulutnya.
Ugh, sampai kapan aku harus makan sayuran mentah seperti ini? Aku bukan kambing! Gerutunya dalam hati.
Sampai kapan kami makan malam bersama seperti ini? Apakah ini cara terbaru Vier untuk menyiksaku?
"Ehem, Vaya, apakah kau mengambil kelas memasak?"
Vaya tertegun mendengar pertanyaan dari Vier.
"Kelas memasak?"
Kening Vaya berkerut, Vier menatapnya sambil tersenyum.
"Hmm, ya, aku dengar dari Mike, katanya kau membeli pisau set. Apakah itu kebutuhan untuk kelas memasakmu?" tanya Vier.
Vaya melirik ke arah Mike, dasar pria bermulut ember!
Sudah menjadi tugas Mike untuk memberitahu apa pun kepada Vier.
"Vier, begini, sebenarnya, aku membeli pisau set itu untuk adikku. Rian perlu pisau set untuk kegiatan praktek kuliahnya. Karena mendesak, jadi aku menggunakan kartu kredit yang kau berikan untuk membeli pisau set itu. Nanti setelah gajian, aku akan membayarnya," Vaya menjelaskan.
"Gajian?" Vier mengangkat sebelah alisnya.
"Maaf, harusnya aku mengatakannya lebih awal padamu, tapi setelah gajian pasti aku ganti. Sungguh, nanti aku langsung menyerahkan pembayarannya pada Pak Mike," kata Vaya.
Vier melemparkan tatapannya pada Mike. Mike melotot mendengarnya.
Ia sungguh tidak tahu menahu masalah utang kartu kredit. Yang pasti ia sudah menyerahkan kartu kredit itu kepada Vaya agar Vaya menggunakannya sesuai perintah Vier.
"Vaya, bukankah aku sudah jelas mengatakan bahwa aku memberimu hadiah?" Vier menekankan kata hadiah.
"Ya, aku tahu, Vier, tapi bukankah menurut peraturan yang kau buat, kartu kredit itu hanya boleh kugunakan untuk keperluan pribadiku? Berhubung saat ini aku tidak punya keperluan pribadi yang mendesak, maka aku putuskan meminjam dulu untuk keperluan yang lebih mendesak walau bukan keperluan pribadiku," Vaya menjelaskan panjang lebar.
"Jadi maksudmu, pisau dan pakaian itu, bukan untuk kepentingan pribadimu?" tanya Vier.
Vaya mengangguk.
__ADS_1
"Ya, memang bukan, makanya aku hanya meminjamnya saja, uangku tidak cukup untuk membeli barang-barang itu," jawab Vaya.
"Kau mengatakan bahwa pisau itu untuk adikmu, lantas, pakaian yang kau beli itu untuk siapa?" tanya Vier penuh selidik.
"Vier, aku harus mengganti jaket milik atasanku yang kau rusak," jawab Vaya.
"Apa kau bilang?" Vier terperangah.
Vaya tertegun melihat ekspresi Vier yang menegang.
"Vaya! Apa kau tahu? Tindakan yang kau lakukan itu sama saja dengan melakukan penggelapan!"
"A-apa? Penggelapan? Bagaimana bisa?!" Vaya terperanjat.
"Definisi dari penggelapan adalah suatu tindakan tidak jujur, dengan menyembunyikan barang atau harta orang lain oleh seseorang atau lebih tanpa sepengetahuan pemilik harta dengan tujuan untuk mengambil alih kepemilikan, menguasai, atau digunakan untuk tujuan lain."
"Dalam hal ini, kau memang menggunakan uang yang kuberikan padamu, namun digunakan untuk tujuan lain yakni memberikan hadiah kepada pria lain."
Vaya terdiam mendengar pemaparan Vier. Pantas saja kan Vier dulu selalu masuk peringkat tiga besar di sekolah, Vier memang pintar.
"Vier, tunggu, aku tidak bermaksud menggelapkan uangmu! Aku hanya pinjam untuk ganti rugi! Harusnya kau yang ganti rugi atas jaket yang kau rusak!" sergah Vaya.
"Vaya, kau punya tiga hal yang kau langgar dari peraturan yang kuberikan," kata Vier.
"A-apa?! Tiga pelanggaran?! Vier, bagaimana bisa?! Kau jangan mengada-ada, Vier!"
"Mengada-ada? Aku tidak mengada-ada! Ikut denganku sekarang dan kuberi tahu apa saja pelanggaranmu!"
Vier beranjak dari kursinya. Ia segera menarik paksa lengan Vaya.
...*****...
Lagi-lagi Vaya berakhir di dalam ruang seksi. Ruangan yang selalu menjadi tempat bagi Vaya untuk menerima hukuman dari Vier. Ruangan yang sepertinya memang khusus disiapkan Vier untuk menyiksa Vaya.
Saat ini itulah yang ada dalam benak Vaya ketika Vier membawanya ke dalam kamar mandi di ruangan itu.
"Lekas masuk ke dalam bathtub!"
Nada bicara Vier meninggi, tatapan matanya berkilat-kilat penuh kemarahan. Vaya sudah gemetaran, ketakutan, pandangannya tertuju pada kran shower yang ada di sisi bathtub.
Apa Vier akan menyiramnya lagi dengan air panas hingga kulitnya melepuh?
Vaya tak bisa berpikir apa-apa lagi. Lebih baik saat ini ia duduk di dalam bathtub putih berbahan marmer yang masih kosong itu.
Vier membuka dasinya dengan cepat lalu mengikat kedua tangan Vaya dengan dasi tersebut. Vaya tahu, ia tidak diperkenankan untuk meronta. Semakin keras ia meronta, Vier akan mengikatnya lebih erat.
"Vaya, peraturan pertama yang kau langgar dari tiga pelanggaran yang kau lakukan adalah kau tidak menuruti peraturanku yang sudah menyuruhmu untuk menggunakan kartu kredit yang kuberikan demi kepentingan pribadimu!"
Vier mempererat ikatan dasi pada kedua tangan Vaya.
"Vier, aku belum ada keperluan mendesak," kata Vaya.
"Aku tidak peduli, mendesak atau tidak, kau harus menggunakannya untuk keperluan pribadimu!"
__ADS_1
Vier menyudahi ikatan pada tangan Vaya.
"Lalu yang kedua," Vier membuka ikat pinggangnya.
Vaya bergidik makin ngeri, saat Vier masuk ke dalam bathtub lalu mulai mengikat kaki Vaya dengan ikat pinggang kulit.
"Kau menggunakan kartu kredit yang kuberikan tapi tidak kau gunakan untuk keperluan pribadimu! Kau justru malah melakukan penggelapan karena menggunakannya untuk tujuan lain!"
"Vier, aku akan membayarnya! Aku pasti membayarnya!" kata Vaya.
"Ini bukan masalah kau bayar atau tidak! Tapi lebih ke masalah penyalahgunaan peraturan yang kuberikan!"
Vier sudah selesai mengikat kedua kaki Vaya dengan ikat pinggangnya.
Vier keluar dari bathtub, menuju ke rak penyimpanan, dan mengambil sebuah lilin aroma terapi.
Vier duduk di tepi bathtub, memandangi Vaya yang sudah gemetaran ketakutan.
Vier menyalakan lilin aroma terapi beraroma lavender dan meletakkannya di tepi bathtub.
"Lalu pelanggaran ketiga yang kau lakukan adalah..."
Vier membuka satu per satu kancing kemeja Vaya.
"Vier! Apa yang kau lakukan?!" Vaya bergidik ngeri menatap seringaian Vier.
"Kau menggunakan kartu kredit yang kuberikan padamu, kau membeli pakaian untuk pria lain! Itu benar-benar pelanggaran, Vaya!"
Vier menyentak kemeja Vaya.
"Vier!" Vaya tercekat.
Vier mengambil wajah Vaya, mencengkeramnya dengan lembut namun begitu kuat.
"Perbuatanmu itu benar-benar salah, Vaya! Sehingga kau pantas untuk diberi hukuman!"
Vaya merasakan kengerian yang makin menjadi tatkala Vier mengambil wadah kaca berisi lilin aroma terapi.
Vier menyeringai, memposisikan lilin yang tengah menyala dalam posisi miring.
"Ti-tidak, Vier! Jangan!" Vaya tercekat.
...*****...
Tetesan lilin aroma terapi itu mulai menetes ke atas dada Vaya.
"Argh!!"
Vaya mengerang, menggeliat tatkala tetesan lilin seakan membakar kulit. Air matanya menetes tanpa disadarinya.
Rasa sakit yang dirasakan oleh Vaya membuat senyum Vier makin mengembang.
...*****...
__ADS_1
Pembaca setia terima kasih sudah membaca sampai episode ini.
Sampai jumpa di episode selanjutnya. 🙏🙏🙏