Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
144 - Demi Tuhan


__ADS_3

Mike ikut terdiam begitu mendengar ucapan Vaya yang sangat mengejutkan.


"Mike, tolong tunggu di luar," perintah Vier.


Mike mengangguk pelan lalu berjalan keluar. Begitu pintu tertutup di belakang punggungnya, pria itu langsung memasang ekspresi was-was.


Sementara itu, Vier masih menatap lurus Vaya yang saat ini memainkan kalung berlian di lehernya. Jemari Vaya memilin-milin pelan untaian berlian yang bertahta.


"Ada dua alasan mengapa aku harus meminta padamu agar kita mengakhiri pernikahan ini," ucap Vaya.


Vaya benar-benar berusaha untuk menahan emosinya. Berusaha untuk tetap tenang, menjaga nada bicaranya, meski dalam dirinya amarah sedang membuncah tak terkendali.


"Yang pertama adalah Selena sudah kembali sehingga kalian bisa kembali bersama," tukas Vaya.


"Lalu yang kedua, aku sangat sadar diri bahwa aku tidak memenuhi standar dan kriteria sebagai menantu idaman yang diidam-idamkan oleh keluargamu," lanjut Vaya.


Vaya menatap Vier yang terlihat memasang tampang datar tanpa ekspresi.


"Begitukah menurutmu?" tanya Vier.


"Ya, menurutku itulah dua alasan terkuat yang bisa kukemukakan," jawab Vaya.


"Peranku sebagai istrimu sudah selesai. Dan aku tidak ingin kau menuduhku dengan asumsi bahwa aku merusak rencana pernikahanmu dengan Selena lantaran ambisiku yang begitu besar untuk mendapatkan pria kaya raya."


"Vier, aku tahu, aku salah karena sudah membuat kebohongan yang pada akhirnya justru berujung pada gagalnya rencana pernikahanmu dengan Selena."


"Jujur saja, aku tidak pernah punya niat dan ambisi untuk menikahi pria kaya raya. Apalagi pria kaya raya itu adalah kau."


Vaya beranjak dari sofa, ia berdiri lalu berjalan menuju ke arah meja kerja Vier.


Vaya menyandarkan bokongnya di tepi meja, lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku tidak butuh pria kaya yang berkuasa karena aku sadar siapa aku dan apa latar belakangku. Aku memintamu untuk tetap di sisiku karena aku adalah istrimu."


"Hanya saja sekarang aku mengerti bahwa kau sudah tidak membutuhkanku untuk menjadi istrimu, sehingga aku pun juga tidak membutuhkanmu lagi sebagai suamiku."


Vaya mulai membuka anting berlian dengan model panjang yang menjuntai.


"Aku tidak membutuhkan perhiasan ini untuk membuatku terlihat menawan," Vaya meletakkan anting yang dilepasnya ke atas meja kerja Vier.


Vier masih menatap Vaya dengan saksama. Bibirnya terkunci dengan tatapan mata mereka yang juga saling mengunci.


Vaya membuka kalung berlian yang melingkari lehernya.


"Semua perhiasan ini sama sekali tidak membuatku terlihat pantas untuk memakainya."


"Yang ada aku justru terlihat seperti wanita yang begitu berambisi untuk mendapatkan pria kaya raya dan menjadi hinaan dari ibumu. Aku tahu, aku sadar diri, aku hanya seorang wanita miskin yang tidak memiliki apa pun."


Vaya meletakkan kalung berlian itu di atas meja kerja Vier.


"Hanya saja, jangan mentang-mentang aku miskin dan tidak memiliki apa pun, lantas kau bisa menjadikanku sebagai mainanmu, Vier."

__ADS_1


Vaya melepas sepatu hak tingginya.


"Aku tidak butuh semua ini. Yang aku butuhkan saat ini adalah akta perceraian kita."


Vaya berusaha menahan semua amarah yang bergejolak dalam dirinya.


Rasa sedih dan kecewanya pada Vier jelas terpancar dari sorot matanya.


Vaya benar-benar terlena karena merasa bahwa selama ini Vier memperlakukannya secara istimewa. Padahal nyatanya, pria itu memang hanya menjadikan Vaya sebagai mainannya saja.


"Vaya," lirih Vier.


"Vier, mari kita berpisah."


"Sudah tidak ada alasan lagi bagiku untuk tetap berada di sisimu. Lebih baik aku pergi daripada aku hanya menjadi bahan hinaan dan tudingan bahwa aku begitu berambisi menikahi pria kaya."


"Aku berambisi memilikimu hingga menghalalkan segala cara termasuk merusak, menggagalkan rencana pernikahanmu dengan Selena."


"Demi Tuhan, Vier! Demi Tuhan! Aku bahkan tidak pernah menginginkanmu dalam mimpiku!" teriak Vaya tiba-tiba penuh kemurkaan.


"Kau yang memaksaku untuk menikah denganmu! Kau yang memaksaku menerima semua yang kau berikan padaku! Aku tidak pernah memintanya, Vier! Aku tidak pernah memintamu!"


"Harusnya kau tidak perlu memperlakukanku secara istimewa, sehingga aku tidak perlu terlena untuk menginginkanmu!"


Vaya meluapkan semua emosinya. Vaya tak mampu menahan emosi yang akhirnya meledak, membobol pertahanan dirinya.


Air mata seketika membanjiri pipi Vaya, meledak bak bendungan yang jebol akibat debit air yang menghantam-hantam tak terkendali.


Vier beranjak dari tempat duduknya, berjalan tenang menghampiri Vaya.


Vaya menepis tangan Vier.


"Jangan sentuh aku, Vier!" sergah Vaya.


Vaya cepat-cepat menyeka air matanya, matanya tetap beradu pandang dengan Vier.


"Harusnya kau jangan berbaik hati padaku hingga membuatku terlena. Harusnya kau tidak perlu menyebutku, mengakuiku sebagai istrimu! Kita hanya dua belah pihak yang sepakat untuk terikat pada kontrak! Kontrak perbudakan birahi!"


"Aku benar-benar bodoh karena sudah terlena oleh semua kebaikanmu, kemurahan hatimu, padahal aku hanyalah mainanmu saja!"


"Sebelum kau bosan dan menemukan pengganti, sebelum kau membuangku, aku lebih tahu diri untuk mundur, Vier!"


"Vaya! Cukup!" ucap Vier.


Vier menghela napas berat, ia masih menatap lurus ke arah Vaya.


Vaya merasakan dadanya yang makin terasa sesak, pandangannya berkabut tak karuan.


"Aku pergi, Vier," ucap Vaya dengan tegas.


Vaya segera beranjak pergi meninggalkan Vier, tangan Vaya sudah meraih gagang pintu namun Vier menahan pintu yang akan terbuka.

__ADS_1


Vier meringkus Vaya ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku, Vier!" sentak Vaya sambil meronta dalam ringkusan Vier.


"Vaya!" ucap Vier dengan nada tertahan.


"Lepaskan aku, Vier! Lepaskan! Lepas! Hiks!" Vaya meronta sekuat tenaganya.


Saat ini ia benar-benar merasa hancur berkeping-keping. 


Ia benar-benar sakit hati, di saat ia mencintai Vier, pria itu malah akan membuangnya seperti ini.


Vier memutar tubuh Vaya, merapatkan tubuh Vaya ke pintu.


"Lepaskan aku, Vier! Aku bilang lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Aku bukan mainanmu!" teriak Vaya.


Vier segera membungkam bibir Vaya dengan ciumannya. Vaya masih berusaha berontak, ia tidak mau menerima ciuman Vier.


Ia tidak mau lagi, luluh dan menerima pria yang jelas hanya mempermainkannya lalu pada akhirnya akan membuangnya seperti ini.


Sebelum pria itu membuangnya, Vaya akan pergi dengan lebih terhormat.


Vaya benar-benar tak bisa bergerak, percuma saja meronta seheboh mungkin, karena Vier makin memperdalam ciumannya.


Di saat Vaya sudah kelelahan untuk terus melawan, barulah Vier melonggarkan ciumannya.


Vaya hanya bisa menangis terisak-isak.


"Biarkan aku pergi, Vier! Biarkan aku pergi dan membuktikan padamu bahwa aku tidak membutuhkanmu untuk memenuhi ambisiku seperti yang kau dan ibumu tuduhkan padaku!"


"Aku bisa hidup dengan baik tanpa pria kaya sepertimu yang menopang hidupku! Aku memang miskin, aku memang tidak punya apa-apa! Tapi aku punya harga diri yang harus kujaga!" tandas Vaya dengan tatapan mata berkilat-kilat penuh kemarahan.


"Aku tidak butuh apa pun darimu! Bahkan gaun ini!" 


Krakk...


Vaya merobek gaun yang langsung membuatnya hanya mengenakan pakaian dalam.


"Aku juga tidak membutuhkan pakaian dalam ini!" 


Vaya melepas pakaian dalam yang benar-benar membuatnya tanpa busana. Vier terperangah melihat Vaya yang benar-benar menantangnya tanpa sehelai benang.


"Vaya!" cegah Vier.


Vaya tak peduli, ia menerobos keluar dari pintu.


Mike yang berjaga di depan pintu seketika langsung memalingkan wajahnya saat melihat Vaya yang keluar dari ruang kerja Vier tanpa busana.


"Mike! Berbalik ke tembok!" seru Vier sambil mengejar langkah Vaya.


Mike segera memutar tubuhnya menghadap ke tembok.

__ADS_1


Alamak! Kenapa lagi pasangan penuh drama ini? Batin Mike gusar.


...*****...


__ADS_2