
Vaya segera bangun begitu mendengar suara-suara gaduh dari dapur. Posisi kamar Vaya memang menghadap langsung ke arah sana, sehingga apa pun aktivitas yang terjadi di dapur akan terdengar.
Vaya menggoyang-goyangkan bahu Vier untuk membangunkan pria itu. Sebaiknya Vier segera pergi pagi-pagi sebelum Tante Darti dan Deri datang. Itulah yang direncanakan oleh Vaya.
"Vier, bangun, kau tidak pulang?" tanya Vaya.
Vier tak bergeming, pria itu masih tetap meringkuk berselimutkan sarung.
"Vier," Vaya kembali menggoyang-goyangkan bahu Vier.
"Hhmmh!" Vier menggeram.
Dalam keadaan mata yang masih tertutup, ia mengambil bantal lalu menutupi kepalanya. Jelas sekali Vier enggan untuk dibangunkan.
"Astaga, Vier!" keluh Vaya.
Vaya mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Mike. Hanya nada memanggil panjang yang terdengar berkali-kali.
"Tumben Mike tidak menjawab? Apa karena masih terlalu pagi? Tapi ini kan sudah pukul lima," Vaya bertanya-tanya sendiri.
Vaya keluar dari kamarnya, ia mendapati ibunya yang sudah sibuk mempersiapkan masakan.
"Lho, Vaya, kok sudah bangun? Tidur saja lagi, ini masih terlalu pagi," kata Bu Asih.
Bu Asih sangat hafal pada kebiasaan Vaya yang kerap bangun agak siang ketika hari libur. Beliau memaklumi hal tersebut karena tahu bahwa Vaya perlu istirahat yang lebih.
Bu Asih bukan tipikal ibu-ibu yang akan menakut-nakuti anak-anak perempuannya dengan mitos-mitos zaman dulu yang melarang anak perempuan bangun tidur lebih siang karena nanti jauh jodohnya atau jodohnya lama datang. Toh jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Hidup bukan balapan meski kadang telinganya panas mendengar anaknya jadi bahan gunjingan tetangga. Namun begitu Vaya sudah menikah, hati Bu Asih jadi lebih plong. Meski pernikahan Vaya sangat mendadak dan sempat membuat Bu Asih meragu, begitu melihat Vaya dan suaminya nampak baik-baik saja, itu sudah cukup bagi Bu Asih.
"Ibu, kenapa pagi-pagi sudah repot memasak begini?" tanya Vaya.
"Ya, harus, ini kan pertama kalinya menantu Ibu menginap di rumah, sudah cukup semalam Ibu tidak bisa menyiapkan apa pun untuk menantu Ibu," jawab Bu Asih.
"Ibu, tidak perlu repot-repot begini, toh sebentar lagi Vier akan pulang," kata Vaya.
"Vaya, kamu harusnya bersyukur punya suami yang rela menyusulmu padahal ia begitu sibuk. Suamimu pasti sangat mencintaimu hingga tidak mau berpisah begitu," Bu Asih mengulas senyumnya.
Vaya menyeringai, cinta? Cinta dari mana? Saat ini aku sedang terikat kontrak perbudakan birahi, Bu, hiks!
"Bu, biar aku bantu," kata Vaya.
"Sudah, kamu kembali tidur saja, temani suamimu," tolak Bu Asih.
"Ih, apa sih Bu," gerutu Vaya.
__ADS_1
Vaya segera menghampiri Rian yang masih tidur di ruang tamu.
"Rian, bangun! Yuk bantu Ibu," Vaya membangunkan Rian.
Rian menggeliat, masih mengumpulkan nyawanya. Ia masih mengantuk sekali.
"Aria! Bangun!"
Kini giliran Aria yang dibangunkan oleh Vaya.
...*****...
Tok..Tok..
Ketukan pintu membuat Aria langsung bergegas membukakan. Lagi-lagi Aria terkejut melihat penampakan Tante Darti yang sudah datang padahal jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Darti, wanita paruh baya yang selalu tampil dengan penampilan nyentrik. Wanita dengan rambut yang sudah memutih sebagian itu gemar memakai pakaian bercorak macan tutul. Gaun bermodel abaya dengan motif macan tutul selalu jadi fashion icon-nya.
Mata Darti tertuju pada makanan yang tersaji di atas meja lipat di sudut ruang tamu dekat dapur.
Wanita paruh baya itu mengulas senyumnya, rupanya keluarga Vaya sungguh menyambut rencana perjodohan Vaya dengan suka cita.
Yah, siapa yang akan menolak untuk dijodohkan dengan pria kaya? Meski harus jadi istri ketiga yang penting kan uangnya.
Darti mulai mencomot satu per satu masakan yang terhidang di atas meja.
"Masakanmu masih saja tidak enak, Asih! Kasihan sekali anak-anakmu harus makan makanan menyedihkan seperti ini," celetuk Darti.
Vaya sungguh tak terima ibunya direndahkan seperti itu. Bu Asih menahan Vaya, menggeleng pelan, memberi kode untuk tidak perlu mencari perkara dengan Tante Darti.
"Pantas saja adikku sampai mati muda! Ini semua gara-gara kau tidak becus menjadi seorang istri!" tandas Darti.
"Tante Darti, ayahku meninggal karena sakit, bukan karena ibuku," sergah Vaya.
"Vaya," Bu Asih melotot ke arah Vaya.
"Wah! Wah! Vaya, kau ini sudah berani menjawabku!" Darti bertepuk tangan namun ekspresi masamnya semakin meningkat.
"Kau ini, belum juga resmi dijodohkan dengan pria kaya, sudah berani bersikap kurang ajar! Kau itu ya, harusnya berterima kasih karena aku sudah bermurah hati mencarikan kau jodoh! Kau itu bisa-bisa jadi perawan tua kalau bukan karena jasaku!" cecar Darti.
Vaya menahan emosinya, ia berusaha untuk bicara selembut mungkin.
"Tante Darti, aku sungguh berterima kasih karena Tante Darti mau repot-repot mengaturkan perjodohan untukku. Terima kasih sudah memikirkan yang terbaik untukku dan keluarga," kata Vaya.
__ADS_1
"Ya jelaslah, biar bagaimana pun kau itu keponakanku, anak dari mendiang adikku yang paling kusayangi," sahut Darti.
"Tapi Tante, maaf, aku tidak berkenan mengikuti kemauan Tante Darti," kata Vaya.
"Apa?" Darti terperangah.
"Biar saja aku jadi perawan tua, biar saja aku tidak laku. Toh aku akan berusaha sendiri tanpa mengharap belas kasih dari siapa pun," kata Vaya berusaha untuk tenang.
Vaya sungguh harus pandai-pandai menjaga tutur katanya.
"Vaya! Kau ini, dibantu malah ngelunjak!" Darti melotot, bertolak pinggang sambil menunjuk ke arah Vaya.
"Kak Darti, maaf," kata Bu Asih menyela. "Vaya, jangan bicara begitu, lekas minta maaf pada Tante Darti."
"Ibu, kenapa aku harus minta maaf?" tanya Vaya.
Darti melotot penuh kemarahan, alisnya yang tipis menukik dan meruncing tajam itu terangkat tinggi. Keriput di seluruh wajahnya bahkan membuat dempulan di wajah mulai retak-retak macam tanah yang kering kerontang.
"Aku sudah susah-susah membantu kau untuk cari jodoh yang bagus, orang kaya yang bisa mengangkat derajat keluargamu! Kau itu orang susah! Sadar diri! Jangan banyak bertingkah!" cecar Darti.
"'Ada apa, Bu? Kenapa marah-marah begitu?"
Deri baru saja memasuki rumah Vaya, suara sumbang ibunya terdengar sampai di halaman rumah.
"Deri, ini lho! Vaya tidak bersedia dijodohkan! Apa-apaan coba! Dasar orang susah tidak tahu diri!" cecar Darti.
"Apa? Kau menolak?" tanya Deri.
Alis pria itu berkerut tinggi, wajahnya terlihat luar biasa menegang.
"Ya, aku menolaknya," jawab Vaya dengan tegas.
Ekspresi Deri dan Tante Darti diliputi kemarahan tak terperi.
"Vaya! Kau tidak punya alasan untuk menolak! Kau itu ya, sudah tidak berkulit putih, tidak ada cantik-cantiknya! Kau pikir usiamu masih dua puluhan?! Sadar diri, kau itu sudah dicap sebagai perawan tua!" cecar Deri.
Deri sungguh tak kuasa menahan amarahnya. Saat ini ia benar-benar marah karena Vaya menolak untuk dijodohkan. Itu artinya kerja sama bisnisnya pun terancam batal.
Ini tidak bisa dibiarkan! Geram Deri.
"Ada apa sih ribut-ribut?! Mengganggu tidurku saja!"
...*****...
__ADS_1