Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
139 - Tamu


__ADS_3

Mike merogoh saku jasnya, gawai cerdas milik Vier bergetar dengan memunculkan nama Bu Cintami. Mike merasa ragu apakah ia harus menyerahkan gawai cerdas itu kepada Vier karena saat ini Vier sedang melakukan meeting bersama para petinggi dari anak-anak perusahaan Jaya Grup.


Mike memilih untuk mengabaikan panggilan Ibu Cintami daripada harus menganggu perdebatan yang cukup sengit antara Vier dan para petinggi itu.


Mike kembali merogoh saku jasnya, kini giliran gawai cerdasnya yang bergetar dan memunculkan nama Bu Cintami.


Mike sungguh hafal dengan kebiasaan Bu Cintami yang akan menghubungi Mike jika Vier tidak menjawab telepon beliau.


Mike keluar dari ruang meeting sebelum menjawab telepon tersebut.


"Selamat siang, Nyonya," jawab Mike.


"Mike, di mana Vier? Aku ingin berbicara dengannya," ujar Bu Cintami di seberang sana.


"Maaf, Nyonya, saat ini Pak Vier sedang menghadiri meeting," jawab Mike.


"Oh begitu," sahut Bu Cintami datar.


"Mike, malam ini tolong aturkan jadwal Vier agar makan malam bersamaku, untuk tempatnya akan segera kukabari," tukas Bu Cintami dengan nada memerintah.


"Baik, Nyonya, akan saya sampaikan kepada Pak Vier," sahut Mike.


Tut..Tut.. Sambungan telepon terputus. Mike jadi bertanya-tanya, mengapa Bu Cintami mengajak Pak Vier untuk makan malam bersama?


...*****...


"Makan malam bersama ibuku?"


Alis Vier berkerut begitu mendengar berita yang disampaikan oleh Mike.


"Benar Pak," Mike mengangguk lambat-lambat.


"Kenapa ibuku sampai mengajakku makan malam?" tanya Vier keheranan.


"Mungkin beliau ingin membicarakan sesuatu," kata Mike.


"Hmm, begitu ya, yah, kebetulan aku juga ingin membicarakan sesuatu dengan ibu," sahut Vier.


...*****...


Vier sudah tiba di rumahnya, ibunya memutuskan untuk mengganti tempat pertemuan mereka yang tadinya hendak makan malam di salah satu restoran mewah di pusat kota.


"Selamat datang, Pak Vier, Pak Mike," Pak Jo menyambut kedatangan Vier dan Mike.


"Selamat malam, Pak Jo," Vier membalas sapaan Pak Jo.

__ADS_1


"Nyonya sudah menunggu Anda di ruang makan," ucap Pak Jo.


"Baiklah, oh ya, ngomong-ngomong, apa Vaya sudah pulang?" tanya Vier.


"Bu Vaya masih dalam perjalanan pulang," jawab Pak Jo.


Vier bergegas melangkah menuju ke ruang makan bersama Mike yang mengikuti dari belakang.


Pak Jo lalu membukakan pintu ruang makan dan mempersilakan Vier untuk masuk.


Vier segera melangkah masuk, matanya langsung tertuju pada ibunya yang saat ini sudah duduk berhadapan dengan seseorang.


"Vier," sapa Bu Cintami.


Langkah Vier terhenti saat sosok yang sedang duduk dalam posisi membelakanginya itu menoleh ke arah Vier.


Wanita berkulit seputih susu dengan rambut pirang yang ditata rapi. Tubuh rampingnya terbungkus gaun malam berwarna hitam lengkap dengan kalung berlian dan sepasang anting berlian yang terjuntai indah. Wanita berparas cantik dan anggun bak setangkai bunga mawar merah yang indah dan penuh pesona.


Wanita pemilik sorot mata tajam yang memesona Vier pada pandangan pertama ketika mereka bertemu tiga tahun yang lalu.


Wanita yang tidak hanya sekadar cantik, bertubuh tinggi dan ramping, namun juga memiliki pesona luar biasa yang membuat pria mana pun akan terpesona padanya.


Wanita yang dikencani Vier selama dua tahun sebelum akhirnya mereka bertunangan dan kemudian nantinya akan menjadi istri Vier jika saja pernikahan mereka terlaksana sesuai dengan rencana.


"Selena," ucap Vier


...*****...


"Pak, tolong stop dulu."


Vaya meminta sopir yang menjemputnya untuk berhenti begitu mobil melintas di depan sebuah minimarket.


Vaya turun dari mobil, melangkah cepat memasuki minimarket yang beroperasi selama dua puluh empat jam dalam sehari.


Vaya segera mengambil keranjang belanja yang tersedia di dekat pintu masuk. Ia bergegas melintasi lorong, menyusuri rak-rak berisi makanan instan dalam bentuk kemasan.


Vaya berdiri di depan rak berisi mie instan dari Korea dengan bungkus berwarna hitam, pink, dan kuning. Vaya menimbang-nimbang untuk memilih salah satu dari tiga jenis mie instan super pedas itu.


Vaya mengambil bungkus hitam dengan rasa original yang bisa dipadukan dengan kue beras korea.


Dalam lemari pendingin, Vaya juga menemukan kimchi kemasan.


Vaya bersenandung senang karena sudah memikirkan untuk memasak mie ramen dengan kue beras pedas dan kimchi. Menu makan malam ala Korea sambil nonton drama Korea pasti seru. Itulah yang ada dalam pikiran Vaya saat ini.


Hihi!

__ADS_1


Sepertinya harus ada taruhannya! Yang kalah harus menari telanjang! Hihi! Batin Vaya senang.


Vaya terkekeh geli membayangkan Vier yang harus menari telanjang karena pria itu tidak terlalu kuat dalam menyantap makanan pedas.


Ah, sial! Kenapa aku jadi cabul seperti ini sih?! Vaya merutuki dirinya.


Vaya benar-benar merasa sepertinya ia benar-benar sudah ikut-ikutan berpikiran mesum dan cabul gara-gara Vier. Yah, habisnya pria itu memang sungguh layak untuk dicabuli karena begitu seksi.


Damn! He is so hot as hell!


Alam bawah sadar Vaya bersorak kegirangan setiap kali memikirkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh Vier untuknya.


Usai membayar barang-barang yang dibelinya, Vaya segera kembali ke mobil.


Ia mengambil gawai cerdas dan segera menelpon Vier.


Tuut.... Terdengar nada sambung panjang yang membuat Vaya menunggu.


"Kenapa tidak dijawab ya?" Vaya bertanya-tanya.


Tiga kali Vaya mencoba menghubungi Vier, namun pria itu tidak menjawab teleponnya.


"Vier."


...*****...


Mike merogoh sakunya, gawai cerdas milik Vier bergetar dan menampilkan nama Vaya. Mike ragu apakah ia harus menjawab telepon itu atau tidak. Hal itu dikarenakan saat ini ia ikut tercengang seperti halnya Vier yang saat ini tak melepaskan pandangannya dari Selena.


"Silakan duduk, Vier," Bu Cintami mempersilakan Vier untuk duduk.


Vier segera duduk di kursi dengan pandangan yang tak terputus dari Selena.


Vier masih mengingat dengan jelas bagaimana Selena memilih untuk mengakhiri hubungan mereka hanya dalam hitungan hari sebelum mereka melangsungkan pernikahan.


Kemunculan Selena yang begitu mendadak seperti ini jelas membuat Vier terkejut. Terlebih Selena hadir bersama ibunya.


Bu Cintami mengulas senyumnya, ia sudah menduga bahwa menghadirkan Selena di hadapan Vier saat ini merupakan hal yang tepat. 


Tidak sia-sia rasanya ia mengerahkan orang-orang suruhannya untuk mencari tahu keberadaan Selena. Hanya dalam hitungan hari, Bu Cintami berhasil menemui Selena dan mengajaknya untuk menemui Vier.


"Kalian harus bertemu dan berbincang untuk menyelesaikan masalah kalian, aku sangat yakin bahwa Vier masih mencintaimu, Selena."


Ucapan Bu Cintami membuat Selena berpikir untuk menemui Vier. 


Jujur saja, Selena sungguh merindukan sosok pria yang saat ini sedang menatapnya.

__ADS_1


Pria yang beberapa waktu lalu harusnya menikahinya. Hanya saja, sebuah masalah menimpa mereka dan membuat Selena tanpa berpikir panjang langsung memutuskan untuk membatalkan penikahan mereka.


...*****...


__ADS_2