
"Ya, Kota S, Kota S, sebentar lagi berangkat!" seruan seorang kernet bus memanggil para calon penumpang di terminal bus.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, semoga urusan pekerjaanmu berjalan dengan lancar."
Vaya berpamitan sebelum membuka pintu mobil, namun Vier menahan pintu yang hendak dibuka Vaya.
"Vaya, ini bukan berarti aku tidak bisa pergi bersamamu ke rumah orang tuamu. Aku pasti akan langsung menyusul begitu pekerjaanku selesai," kata Vier.
"Vier, pekerjaanmu jauh lebih penting," sahut Vaya.
Vier menatap Vaya yang nampak memasang ekspresi kecewa namun dalam hati ia merasa senang. Ya, Vaya senang karena Vier tidak jadi ikut pergi bersamanya. Ada pekerjaan mendadak yang harus diurus oleh Vier.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi," kata Vaya.
Vier masih menahan pintu yang hendak dibuka oleh Vaya.
"Vier, aku mau pergi," Vaya melotot ke arah Vier.
"Apa kau tidak memberiku ciuman sebelum kau pergi?" tanya Vier.
"Vier, apa maksudmu?" Vaya terperangah.
Vier memasang wajahnya tepat di depan wajah Vaya.
"Vier, jangan aneh-aneh! Ada Mike di depan," Vaya mendorong tangan Vier yang menghalangi pintu.
Vier bersikeras menahannya, wajahnya sudah menantang untuk mendapatkan ciuman.
"Anggap saja Mike tidak ada," kata Vier.
Ugh, apa aku harus menciumnya sekarang? Vaya mendelik gusar.
Vaya segera mengecup bibir Vier, Vier menyambutnya dengan senang.
Mike membuang pandangannya, rasanya ia ingin keluar dari mobil. Hanya saja ia tak melakukannya karena ia sudah berubah menjadi makhluk astral yang harus berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi di kursi belakang.
Bagi Mike secara pribadi, ini pertama kalinya ia melihat Vier mencium seorang wanita di hadapannya.
"Hmph, Vier," Vaya menepuk punggung Vier.
Vaya harus melepaskan belitan Vier yang seakan hendak melahapnya bulat-bulat setiap kali mereka berciuman. Ya, pria itu memang selalu menciumnya dengan penuh keserakahan.
Vier tak menggubris, ia masih tetap melanjutkan keserakahannya untuk menelan habis jatah oksigen untuk Vaya.
Ugh Vier! Aku bisa mati sesak! Vaya berusaha melakukan perlawanan.
Vier mengulum senyumnya, secara pribadi ia benar-benar makin bergairah dengan perlawanan yang dilakukan oleh Vaya.
Vier melepaskan bibir Vaya, membiarkan Vaya yang terengah-engah mengatur napasnya dulu.
"Tunggu aku," ucap Vier.
Vaya mencebik, lalu mengangguk pelan. Vier mengecup kening Vaya sebelum membukakan pintu untuk Vaya.
Deg..
Lagi-lagi jantung Vaya jadi berdebar-debar akibat ulah Vier.
"Awas ya, jangan memang kau pergi bersama laki-laki lain! Sampai kudapat, tamat riwayat laki-laki itu!" Vier menyeringai horor.
"Ya, ya!" cibir Vaya.
__ADS_1
Vaya segera turun dari mobil, jantungnya berdebar begitu kencang.
Pasti karena Vier mengancamku! Batin Vaya.
Vaya bergegas menuju ke bus yang hendak berangkat. Ia segera duduk di kursi yang masih kosong di samping jendela. Netranya masih melihat mobil mewah Vier yang belum beranjak dari tempat parkir.
Jantungnya masih berdebar kencang lantaran mengingat kembali ciuman penuh gelora yang mereka lakukan.
Ah, menyebalkan, kau tidak berciuman dengannya Vaya, anggap saja kau sedang mencium tembok!
"Permisi, sendiri ya, Mbak? Boleh saya duduk di sini?"
Seorang pria menghampiri kursi di samping Vaya yang masih kosong.
Vaya selalu teringat ancaman Vier bahwa Vaya harus membatasi interaksinya dengan pria lain. Tidak peduli siapa pun itu. Vaya segera bersikap waspada, jangan-jangan ada mata-mata yang diam-diam diutus oleh Vier.
"Oh, iya, sudah ada orangnya," jawab Vaya.
Pria itu nampak mengerutkan alisnya.
"Mbak, Mbak, di sini!"
Vaya memanggil seorang wanita muda yang kebetulan sedang celingukan mencari tempat duduk yang kosong.
Pria itu nampak mencebik, lalu mencari tempat duduk lain begitu wanita muda yang dipanggil Vaya menempati kursi kosong di samping Vaya.
"Terima kasih ya, Mbak, saya kira sudah kehabisan tempat duduk," kata wanita muda itu.
"Tidak masalah, di sini kebetulan masih kosong," sahut Vaya.
Vaya kembali menoleh ke tempat parkir, nampak mobil mewah Vier sudah menghilang dari pandangannya.
...*****...
Ketiganya langsung berangkulan seakan sudah lama tidak bertemu.
"Vaya, kok kamu terlihat kurusan?" tanya Ibu.
"Kurus dari mana Bu, berat badanku masih tetap sama," jawab Vaya.
"Oleh-oleh, Kak," todong Aria.
"Ini," Vaya menyodorkan dua kardus besar yang dibawanya.
Aria cepat-cepat membongkar isinya.
"Woah, cheese cakenya banyak sekali, Kak! Kakak beli semua varian rasa?" Aria terperangah.
"Iya, dimakan ya," sahut Vaya terkekeh.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Vier nyaris memborong semua isi toko cheese cake sebelum mengantar Vaya ke terminal bus.
"Kalau kebanyakan, dibagi ke tetangga saja, mubazir nanti kalau tidak dimakan," kata Bu Asih.
"Oh ya, Vaya, kamu sendiri saja? Suamimu tidak ikut?" tanya Bu Asih.
"Tadi Vier mau ikut, Bu, hanya saja mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikannya," jawab Vaya.
"Oh begitu," sahut Bu Asih.
"Oh ya, Rian di mana?" tanya Vaya.
__ADS_1
"Rian masih ke pasar, beli bahan-bahan masakan, tidak enak tidak menyajikan apa-apa untuk kamu dan suamimu, Vaya," jawab Bu Asih.
"Ibu, untuk apa repot-repot begitu," kata Vaya.
"Vaya, Ibu memang rencananya kan mau buat syukuran pernikahan kamu, yah, bagi-bagi kotakan ke tetangga biar mereka tahu kamu sudah menikah," ucap Bu Asih.
"Ibu, aku mengerti maksud Ibu, tapi Vier orang yang sangat menjaga privasi Bu, pesta pernikahan kami saja begitu tertutup dan hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu. Orang seperti Vier sungguh berbeda dengan kita, Bu. Bagi orang-orang seperti Vier, privasi adalah segalanya," Vaya menjelaskan.
Lagipula pernikahan Vaya dan Vier sudah macam bom waktu. Kapan saja siap untuk diakhiri, terlebih jika Vaya bisa menemukan Selena. Menjelaskan kepada Selena bahwa semua yang ia katakan adalah bohong, lalu Vier dan Selena akan kembali bersama. Sungguh rencana yang terdengar sangat sempurna bukan?
"Oh begitu, ya ampun, maafkan Ibu, Ibu sungguh tidak berpikir sampai ke sana," ucap Bu Asih.
"Tidak apa-apa, Bu," sahut Vaya.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dan istirahat dulu, kamu pasti lelah."
...*****...
Jam makan malam sudah hampir tiba, Vaya dan keluarganya berkumpul untuk makan lesehan di depan televisi.
Tok... Tok...
Ketukan pintu membuat Aria bergegas membukakan. Aria seketika menegang melihat sosok wanita paruh baya berwajah masam yang langsung memasuki rumah tanpa dipersilakan.
"Kak Darti," Bu Asih segera menyambut kedatangan wanita paruh baya itu.
"Tante Darti," Vaya dan Rian menyapa wanita paruh baya itu.
Darti adalah kakak dari almarhum ayah Vaya. Darti datang bersama anak laki-lakinya, Deri. Darti dulu menjadi orang yang paling menentang pernikahan antara adiknya dan Bu Asih.
"Sudah lama ya, kita tidak bertemu, Asih," kata Darti.
"Iya Kak Darti, sudah lama sekali," kata Bu Asih.
"Oh ya, aku tidak akan berbasa-basi, aku datang kemari untuk menyampaikan berita baik bagi kalian semua, terutama kau, Vaya," kata Darti.
"Ada apa denganku, Tante?" tanya Vaya.
"Vaya, aku mau menjodohkan kamu dengan rekan bisnis Deri," jawab Darti.
"A-apa?!" Vaya dan keluarganya tersentak kaget.
"Vaya, aku tahu sampai sekarang toh kamu belum menikah juga, umurmu juga sudah banyak. Berterima kasihlah karena aku dan Deri masih mengingatmu dan membantumu untuk cari jodoh," kata Darti.
"Supaya bisnisku lancar, harus ada jaminan yang kuberikan untuk rekan bisnisku. Satu-satunya jalan adalah melalui jalur pernikahan," imbuh Deri.
Vaya menatap Deri, pria yang berusia dua tahun lebih tua darinya. Pria itu begitu angkuh dan sombong bahkan sejak mereka masih kecil.
"Tapi, Kak Darti, Vaya sudah menikah," Bu Asih menyela.
"Asih, kau tidak usah mengada-ada begitu! Anakmu kan belum laku! Kalau memang sudah menikah, harusnya kan ada undangannya!" celetuk Darti.
"Kau itu, Asih, sudah cukup dulu kau merampas adikku! Gara-gara kau, adikku sampai kawin lari! Pernikahan kalian akhirnya membuat keluarga kami jadi kacau!" cecar Darti.
"Aku tidak mau dengar alasan apa pun! Besok aku akan kemari lagi! Jika kau menolak, lihat saja akibatnya!" ancam Darti.
Darti dan Deri bergegas meninggalkan Vaya dan keluarganya.
Astaga! Ada apa lagi ini?
...*****...
__ADS_1