
Peringatan ++
Mengandung adegan menghalu biru.
Silakan dibaca bagi yang suka. Tidak suka, silakan skip.
Selamat membaca.
...*****...
Vaya menatap mata Vier yang saat ini terlihat begitu membara. Vaya merasakan kulitnya memanas, darahnya berdesir begitu cepat lantaran jantungnya yang berdegup gila-gilaan, napasnya pun memburu seakan ia sedang melakukan latihan fisik sebanyak lima set tanpa jeda istirahat.
Entah mengapa saat ini ia benar-benar menyukai ciuman yang diberikan oleh Vier. Bibir pria itu mengulum lembut bibirnya, disertai dengan sapuan lembut lidahnya yang menyusuri rongga mulut, menghitung satu per satu gigi, dan menggelitik langit-langit mulut Vaya.
Aah.. Aaah..
Desahaan demi desahaan mulai keluar dari mulut Vaya yang tak kuasa menerima ciuman Vier, begitu membara, lembut, kuat, dan liat.
Sungguh berbeda dengan ciuman-ciuman yang selama ini mereka lakukan.
Vier melepas ciumannya, menatap Vaya yang nampak menerima ciuman Vier dengan sama bergairahnya.
Dari sorot mata Vaya, Vier bisa tahu bahwa wanita itu menginginkannya sebesar Vier menginginkannya.
Vaya tidak tahu, saat ini ia tidak bisa berpikir, naluri mengambil alih kendali atas dirinya. Saat ini yang ia rasakan adalah Vier berada di bawahnya, mendongak dan menciumi garis rahangnya dengan penuh damba.
Vaya membawa tangannya menyusuri bahu Vier yang lebar, lalu mengalungkan tangannya di leher Vier. Kemudian Vaya mengusap rambut Vier yang hitam dan tebal, memilin rambut Vier dengan jari-jarinya, sementara Vier kembali membenamkan ciumannya ke bibir Vaya.
"Vier..."
Vaya melenguhh saat Vier membuka satu per satu kancing kemeja Vaya, menyusupkan tangannya di balik tubuh Vaya untuk membuka pengait penyangga dan segera melahap isinya dengan begitu antusias. Seakan pria itu baru pertama kali melakukannya. Menjadi bayi yang begitu rakus karena merasa haus dan lapar.
"Vi-Vier," Vaya mendesaah makin bergairah.
"Hmmh, ya, Vaya..."
"Aah, Vieer..."
Vier menghentikan aksinya, kembali mengunci mata Vaya.
"Vaya, apa kau sungguh membenciku? Apa kau sungguh membenci apa yang kulakukan padamu?" tanya Vier.
Vaya menggigit bibirnya, pertanyaan dari Vier benar-benar membuatnya tak bisa memberikan jawaban.
"Vaya," kata Vier.
"Vi-Vier, aku," Vaya kembali gelisah.
"Apa kau masih merasa tidak nyaman dan takut pada orang yang bahkan tak merasa takut kehilangan nyawanya untuk melindungimu?"
__ADS_1
Vaya benar-benar tak berkutik dengan tatapan Vier, bola mata Vier yang hitam seakan menyedot Vaya. Membuat Vaya membeku.
"Vi-Vier, i-ini di rumah sakit," kata Vaya malu-malu.
Vier menatap Vaya yang terlihat menunduk, antara malu dan takut.
"Vaya, apa perlu aku membeli rumah sakit ini?" tanya Vier.
"Vi-Vier, bu-bukan begitu, tapi, tapi kau kan sedang kurang sehat," sergah Vaya.
Vier mengulas senyumnya.
"Sepertinya aku perlu memberimu bukti, bahwa aku baik-baik saja."
Vier kembali menuntun bibirnya ke leher Vaya. Vaya memejamkan matanya, mengalungkan tangan ke leher Vier, membiarkan Vier melakukan apa pun yang ingin dilakukan oleh pria itu.
Vaya benar-benar merasakan malam ini berbeda dengan malam-malam yang mereka lalui sebelumnya. Vaya merasakan bahwa dirinya jauh lebih bergairah saat Vier mencumbunya dengan penuh kelembutan.
Vier mengecup kening Vaya, kelopak mata, turun hingga ke dagu dan kembali melahap tubuh Vaya yang berada di atasnya. Ia mencecap setiap jengkal aroma kulit Vaya, membuat Vaya makin tak tahan untuk mendesiskan lenguhaan demi desahaan yang sedari tadi ditahannya.
"Oh, Vier, aah," desis Vaya.
"Hmmph.. Vaya," bisik Vier.
Vaya membuka piyama rumah sakit yang dikenakan Vier, lalu membuangnya ke lantai. Vier merebahkan tubuhnya, membiarkan Vaya berada di atas tubuhnya.
Vier meloloskan kemeja yang dikenakan Vaya, Vaya juga membiarkan pria itu melepas rok span yang dikenakannya.
Vier menendang celananya tanpa melepaskan ciumannya yang begitu membara. Vaya merasa saat ini ia adalah satu sendok makan mentega yang dilelehkan di atas wajan panas anti lengket.
Mencair dan melumer dengan sempurna. Kulit makin memanas, bahkan sepertinya sudah terbakar oleh hasrat yang begitu membara.
Mereka saling menatap, sebuah sudut pandang baru bagi Vaya. Bisa melihat wajah Vier dari atas.
Alis hitam dan tebal, hidung mancung dan tajam, rahangnya yang tegas, dan bibir yang begitu menggiurkan meski saat ini ada bekas luka, tetap tak mengurangi keindahan pria itu.
Vaya tak tahu apa yang saat ini sedang merasuki dirinya. Ia benar-benar terprovokasi sentuhan dan belaian sensual nan erotis dari Vier.
Vier menuntun Vaya, dengan sangat perlahan dan lembut, memegang pinggul Vaya dengan satu gerakan yang dibarengi sebuah ciuman lembut.
Vaya bisa merasakan dirinya yang perlahan-lahan menenggelamkan diri pada Vier yang menegang. Penyatuan yang lembut itu benar-benar sangat berbeda dengan sebelumnya.
Vier menggeram menikmati kehangatan yang menggodanya.
Vier masih memberikan bimbingan lembut agar Vaya bergerak melawan dan mengikuti gravitasi secara bergantian.
Perlahan dan sangat lembut, mengalun bak nada-nada termanis dari sebuah lagu cinta yang mereka mainkan bersama.
Vaya bahkan tak peduli jika tempat tidur berukuran tunggal ini akan ambruk karena harus menopang tubuhnya dan tubuh Vier yang kini sudah melekat bermandikan keringat.
__ADS_1
Saling mendamba dengan begitu kuat. Berkejaran di antara sinar rembulan yang menerobos melalui celah-celah tirai.
Vaya bisa melihat bayangannya yang terpantul pada tirai penutup yang melingkupi sekeliling tempat tidur Vier. Bayangan yang sedang menari di atas tubuh Vier itu terlihat begitu liar dan vulgar.
Namun entah mengapa itu membuat Vaya merasa bebas, memegang kendali penuh atas tubuhnya dan juga tubuh Vier.
Menjadi pemegang kuasa, benar-benar sangat berkuasa. Seakan dunia sedang berada di bawah kekuasaannya, terutama dunia Vier.
"Vaya..."
Desaah Vier segera membalik posisi mereka, pria itu mengeraang dan menggeram, mempercepat gerakannya dan meledak dalam sebuah hentakan keras, membuat Vaya ikut merasakan ledakan gairah yang begitu membara.
Kemudian keduanya menikmati detik-detik yang membuat mereka berdua berpelukan lebih erat.
...*****...
"....Jadi, ibuku bukannya hilang diculik, ibuku hanya menemani Tante Darti ke rumah sakit karena penyakit darah tinggi Tante Darti kambuh," Vaya mencoba menjelaskan kronologi kejadian pada Vier.
"Karena terburu-buru pergi, ibuku tidak membawa ponselnya."
"Deri memanfaatkan kondisi itu untuk menculik Aria dengan dalih bahwa ibuku dibawa ke rumah sakit."
Vaya masih menjelaskan sementara Vier mendengarkan dengan saksama sambil memandangi Vaya yang berbaring dalam pelukannya.
"Kenapa Aria tidak meneleponmu lebih dulu untuk memastikan?" tanya Vier.
"Aria tidak punya ponsel," jawab Vaya.
"Kenapa tidak punya? Kau tidak memberi adikmu ponsel?" tanya Vier.
"Peraturan sekolah melarang murid membawa ponsel ke sekolah. Jika melanggar, ponsel mereka akan disita dan akan dikembalikan saat mereka sudah lulus," jawab Vaya.
"Oh begitu," sahut Vier.
"Sungguh berbeda di zaman waktu kita masih sekolah, semua murid seakan berlomba memamerkan ponsel mereka," kata Vaya.
"Terlebih kau, Vier! Saking seringnya kau gonta-ganti ponsel, aku sungguh berpikir sepertinya kau itu anak pemilik toko ponsel," kata Vaya.
"Haha!" Vier tertawa.
"Vaya, bagaimana kau bisa mengingat semua hal itu?" tanya Vier.
"'Entahlah, aku heran, otakku bisa digunakan untuk mengingat hal-hal yang absurd," jawab Vaya.
"Termasuk mengingatku?" tanya Vier.
"Hmm, ya, siapa yang bisa melupakan orang penuh sensasi sepertimu?" cibir Vaya.
"Haha," Vier tertawa.
__ADS_1
Vier kembali memandangi wajah Vaya. Ibu jarinya mengusap lembut bibir Vaya. Vaya memejamkan matanya, menikmati sentuhan jemari Vier yang berganti menjadi bibir pria itu.
...*****...