Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
034 - Masakanku, Harimauku


__ADS_3

...Tinggalkan jejak cinta dan kasih sayang berupa komentar, krisan, vote, dan hadiah untuk mendukung karya ini....


...Selamat membaca....


Vier mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil membaca laporan penjualan kosmetik brand OMG yang saat ini membuat keningnya berkerut-kerut. Vier melempar kertas berisi laporan, menyugar rambutnya sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi kerja.


"Kenapa penjualan lip cream minggu ini malah jadi menurun, Mike? Bukannya lip cream matte ini produk yang selama dua bulan terakhir sangat bagus penjualannya?" tanya Vier.


Mike memperlihatkan tablet pintarnya ke arah Vier.


"Amoreus melakukan strategi banting harga besar-besaran yang sukses menarik perhatian konsumen. Para konsumen beranggapan bahwa harga produk Amoreus jauh lebih terjangkau," Mike menjelaskan laporan penjualan beberapa brand kosmetik yang saat ini tengah digandrungi konsumen.


"Haha, harga terjangkau tapi mengorbankan kualitas! Konsumen cerdas tentu tidak akan memilih produk seperti itu!" Vier tertawa.


"Target pasar Amoreus sendiri memang mengincar konsumen remaja dan dewasa muda, tapi menurut informasi, banyak juga ibu-ibu usia dewasa menengah menggunakan kosmetik Amoreus karena harganya yang sangat terjangkau."


"Huh, memang ya, antara sangat terjangkau dan murah itu sama sekali tidak ada bedanya! Tapi masalahnya kalau begini terus, lama-lama penjualan OMG bisa makin merosot, Mike!" gerutu Vier sambil menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerjanya.


"Amoreus bahkan menggaet beberapa beauty influencer kenamaan yang dulu sempat bekerja sama dengan OMG," lanjut Mike.


"Haha, ya, ya, tukang tiru kerjanya memang hanya bisa meniru tanpa berinovasi!" sahut Vier.


Mike merogoh saku, mengeluarkan gawai cerdasnya yang bergetar.


"Iya halo, Bu Vaya," Mike menjawab teleponnya.


"Pak Mike, apa hari ini Vier akan makan malam di rumah?" tanya Vaya.


Mike melemparkan tatapannya ke arah Vier.


"Ada apa, Mike?" tanya Vier.


"Bu Vaya bertanya, apakah Anda akan makan malam di rumah?"


Vier mengerutkan keningnya.


"Memangnya dia mau ke mana kalau aku tidak makan malam di rumah? Pergi berkencan dengan laki-laki lain? Huh!" dengus Vier.


"Bu Vaya, apakah malam ini Anda ada rencana pulang terlambat?" tanya Mike.


"Tidak, aku justru ingin pulang lebih awal, karena aku ingin menyiapkan masakan sendiri agar kami bisa makan malam bersama," jawab Vaya.


"Bu Vaya, Anda bisa memasak?" tanya Mike keheranan.


"Hmm, kalau disebut bisa memasak ya bisa, tapi tentu tidak bisa disamakan dengan kemampuan memasak koki bintang lima," jawab Vaya.


Vier kembali mengerutkan keningnya.


"Bagaimana? Apa Vier akan pulang dan makan malam di rumah?" tanya Vaya lagi.


Vaya menunggu jawaban dari Mike. Saat ini ia sedang bertaruh dengan dirinya sendiri. Jika Vier tidak bersedia memakan masakannya, itu artinya Vier tidak akan pulang ke rumah tepat waktu hanya untuk makan malam. Itulah strategi yang digunakan oleh Vaya agar bisa pulang terlambat tanpa terkesan "keluyuran".


"Bagaimana Pak?" tanya Mike.


Vier menebak-nebak apa yang sedang direncanakan oleh Vaya. Kenapa tiba-tiba saja wanita itu sampai mau repot-repot menyiapkan makan malam?


Apa dia bermaksud untuk pergi berkencan dengan pria lain jika aku menolak undangan makan malamnya?


"Jika masakanmu mengecewakan, kau akan dapat hukuman dariku! Sampaikan itu padanya, Mike," ucap Vier sambil menyeringai.

__ADS_1


"Baik, Pak," sahut Mike.


Mike segera menyampaikan hal tersebut pada Vaya. Seketika Vaya langsung memijat kepalanya. Niat hati ingin membuat Vier menolak makan malam dengannya karena masakan Vaya yang tidak tersertifikasi, Vier malah membalik keadaan dengan menjadikan masakan Vaya sebagai ancaman untuk Vaya.


Ugh! Dasar Vier gila! Sakit jiwa! Vaya mengumpat dalam hatinya.


"Aduh, aku harus masak apa? Jangan sampai masakanku, harimauku!" sungut Vaya.


Vaya pun segera mencari resep masakan termudah yang beredar di media sosial.


...*****...


Vier segera turun dari mobil begitu Pak Jo membukakan pintu. 


"Selamat malam, Pak Vier," sapa Pak Jo.


"Selamat malam, Pak Jo," balas Vier.


Vier melangkah memasuki ruang makan diikuti Mike. Ia segera mengedarkan pandangannya ke ruang makan yang masih kosong.


"Ke mana Vaya? Bukankah katanya dia akan memasak untuk makan malam?" tanya Vier.


"Bu Vaya masih menyiapkan masakan di dapur, Pak," jawab Pak Jo


"Haha! Memangnya apa yang dia masak?" tanya Vier tertawa sinis.


"Maaf ya, apa kau sudah lama menunggu, Vier?"


Vaya memasuki ruang makan bersama dua orang pelayan, mereka mendorong kereta berisi makanan yang baru selesai dimasaknya.


Vaya segera meletakkan mangkuk ke hadapan Vier yang melempar tatapan skeptis pada isi mangkuk putih tersebut.


"Cicipi saja dulu," jawab Vaya dengan bangga.


"Aku tidak mau memakan makanan yang tidak jelas. Di rumah ini, semua makanan yang kumakan merupakan rekomendasi dari ahli gizi terbaik yang diolah para koki bersertifikasi."


"'Dan kau menghidangkan makanan yang bahkan tidak terjamin kehigienisannya. Bagaimana kalau kau malah membubuhkan bahan-bahan berbahaya, atau bahan-bahan yang membuatku alergi?" Vier menjelaskan.


"Kesehatan dan keselamatanku adalah prioritas yang utama," lanjut Vier.


Vaya mengambil mangkuknya, ia pun duduk tenang lalu mengambil garpu.


"Vier, kau tenang saja, sebelumnya aku sudah berkonsultasi dengan ahli gizi terbaikmu, lalu menanyakan kepada para koki yang biasa menghidangkan makanan untukmu. Selama proses memasak, para koki juga turut serta mengawasiku," Vaya menjelaskan.


"Aku membuat sawi putih gulung isi ayam dengan saus pedas yang segar."


Vaya menusuk salah satu sawi gulung lalu menggigit, mengunyah, dan menelannya.


"Kalau aku memasukkan bahan berbahaya seperti yang kau bilang, aku dan para koki bersertifikasimu pasti sudah mati berjamaah dari tadi, hehe," Vaya terkekeh.


Vier masih melemparkan tatapan skeptis ke arah mangkuknya.


"Vaya, kau tahu kan, apa konsekuensi yang harus kau terima jika makanan yang kau sajikan ini tidak sesuai ekspektasiku?" 


Vier mengambil garpunya.


"Ada dua masalah yang akan kupersalahkan padamu. Yang pertama adalah kau sudah membuat para koki yang harusnya bekerja jadi tidak bekerja. Dan kau juga sudah membuang-buang waktuku dengan para koki karena harus bekerja keras menyiapkan makanan lain untukku."


Vaya menyeringai, mengancam adalah sebagian dari hidup Vier.

__ADS_1


"Kau bahkan belum mencobanya, bagaimana bisa kau langsung menghakimiku seperti itu? Rasanya sungguh tidak adil," cibir Vaya.


Vier mulai menyuapkan potongan sawi putih gulung ke mulutnya, pelan-pelan mengunyah, dan seketika ekspresi wajahnya menegang.


Vier mengambil air mineral lalu meneguknya dengan cepat.


Vaya seketika ikut menegang, apakah rasa masakannya seburuk itu?


Padahal ia sudah mendapatkan resep itu dari konten toktok dan para koki yang mengawasi serta membimbingnya pun memuji rasa masakannya sebagai makanan yang layak disajikan untuk Vier.


Apakah Vaya terlalu percaya diri?


"Mike, kemari."


Mike segera mendekat ke meja.


"Coba kau cicipi juga," perintah Vier.


Mike mengambil garpu lain dan mengambil sepotong sawi gulung lalu mulai menyantapnya.


Wajah Mike pun seketika menegang.


"Bagaimana menurutmu, Mike?" tanya Vier.


"'Enak, Pak," jawab Mike singkat.


"Mike? Apa kau sungguh berpikir begitu?" tanya Vier.


Mike mengangguk lalu mengambil sepotong lagi.


"Enak," ujarnya.


Vaya mengulas senyum senang melihat Vier yang nampak kesal.


"Mike, apa kau yakin lidahmu tidak salah?" Vier mengambil sepotong gulungan dan langsung mengunyahnya.


"Tekstur sawi putihnya masih crunchy dan juicy, daging ayamnya dibumbui dengan baik, kuahnya memiliki kekentalan yang cukup, rasa pedas yang pas bercampur rasa asam yang segar," Mike menjelaskan penilaiannya.


"Huh!" Vier mendengus.


"Ini pasti karena kau dibantu para koki yang membimbingmu. Jika tidak, kau pasti hanya bisa menyajikan makanan yang tidak layak untukku," komentar Vier di sela-sela kesibukannya mengunyah.


"Aku hanya berusaha memenuhi ekspektasimu saja, Vier," Vaya mengulas senyum senang.


"Bagaimana? Apa masakanku sudah memenuhi ekspektasimu?" tanya Vaya.


"Vaya, kau jangan merasa terlalu percaya diri. Aku memiliki ekspektasi yang tinggi. Bagiku, makanan yang kau sajikan jelas belum bisa memenuhi ekspektasiku," jawab Vier.


"A-apa?" Vaya terperangah.


"Oleh sebab itu, kau harus menerima konsekuensi atas tingginya rasa percaya dirimu itu."


 Vier kembali mengunyah makanannya.


"Mulai besok pagi, kau harus menyiapkan masakan yang layak untuk kumakan. Tentu saja tanpa adanya bimbingan dari para koki," perintah Vier.


"A-apa?!" Vaya tersentak kaget.


Vier menyeringai, kembali menyantap makanannya. 

__ADS_1


...*****...


__ADS_2