Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
026 - Dijemput


__ADS_3

"Lamia, kau tidak apa-apa?"


Vaya membantu Lamia untuk berdiri. Lamia segera bersandiwara, berpura-pura menjadi korban agar tidak ada yang menyalahkannya. Evi melotot kesal melihat Lamia yang terlihat bersandiwara, ia melihat dengan sangat jelas saat Lamia secara sengaja menabrakkan diri ke arah Vaya.


"Lamia, kau baik-baik saja?" tanya Pak Andre.


"Saya tidak apa-apa, Pak. Yang saya cemaskan justru pakaian Bu Vaya jadi kotor begitu karena saya, maafkan saya ya, Bu," ucap Lamia dibuat-buat.


"Tidak apa-apa, nodanya pasti hilang kalau sudah dicuci," sahut Vaya.


"Oh begitu, syukurlah, aduh," Lamia kembali mengaduh sambil memegangi pergelangan kakinya.


"Ada apa, Lamia?" tanya Pak Andre.


"Kaki saya sakit, Pak," jawab Lamia.


"Oh, apa perlu ke rumah sakit untuk diperiksa?" tanya Pak Andre.


Lamia kembali memasang ekspresi kesakitan yang membuat Evi berdecih.


"Ya sudah, saya antar Lamia ke rumah sakit," kata Pak Andre.


"Aduh, maaf merepotkan," kata Lamia.


"Sini aku bantu berjalan, Lamia," ucap Vaya.


"Mbak Vaya," Evi menahan tangan Vaya.


"Ada apa, Evi?" tanya Vaya.


Evi mengerjapkan matanya berkali-kali, ia berharap Vaya mengerti apa maksudnya.


"Matamu kelilipan ya, Evi?" tanya Vaya.


Duh Gusti! Mbak Vaya kok tidak peka sih?! Batin Evi.


Vaya membantu Lamia untuk berjalan ke arah parkiran menuju ke mobil Pak Andre. Pak Andre sudah lebih dulu menunggu di mobilnya.


Pelan-pelan Lamia memasuki mobil sambil berkali-kali meringis menahan sakit.


"Bu Vaya, ini pakailah untuk menutupi baju Anda yang kotor," Pak Andre menyerahkan selembar jaket untuk Vaya.


"Terima kasih, Pak Andre," Vaya menerima jaket itu.


Kemeja Vaya yang berwarna putih memang dipenuhi noda makanan yang tumpah dan benar-benar terlihat kotor.


"Baiklah, kalau begitu, saya antar Lamia ke rumah sakit," kata Pak Andre bergegas.


"Baik, Pak," sahut Vaya.


Vaya segera memakai jaket yang diberikan Pak Andre lalu meninggalkan area parkir begitu mobil yang dikendarai Pak Andre melesat pergi.


Vaya kembali ke meja tempat Evi, Faisal, dan Yudi menunggu.


"Mbak Vaya, Lamia sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Faisal.


"Sudah, baru saja pergi," sahut Vaya.


"Wah, sepertinya sepatu yang dikenakan Lamia kelewat tinggi sampai dia jatuh begitu," Yudi menimpali.


"Jadi salah sepatunya ya, Yud?" cibir Evi.


"Yaa, habis mau menyalahkan siapa?" balas Yudi.


"Sudah, sudah, yuk kita makan saja, aku mau ambil lauk lagi," kata Vaya.

__ADS_1


Evi segera mengekori Vaya.


"Mbak Vaya, aku lihat sendiri, Lamia sengaja menabrak Mbak lalu terjatuh!" kata Evi.


"Biarkan saja, Evi, terserah Lamia mau berbohong toh nanti dia akan kena batunya," sahut Vaya.


Vaya tertegun dengan ucapan yang keluar dari mulutnya. Ucapan yang seakan-akan ditujukan untuk dirinya sendiri.


...*****...


"Nomor yang Anda tuju tidak menjawab, silakan meninggalkan pesan setelah nada berikut..."


Lagi-lagi operator telepon yang menjawab saat Mike menghubungi ponsel Vaya.


"Ke mana wanita itu pergi? Katanya dia lembur?" celetuk Vier.


"Saya akan bertanya ke petugas keamanan yang berjaga, Pak," ucap Mike.


Mike segera turun dari mobil, langkahnya terhenti begitu menghampiri petugas keamanan yang berjaga di depan gedung kantor Vaya.


"Selamat malam, apa Bu Vaya ada?" tanya Mike.


Petugas keamanan bernama Jamil itu memerhatikan penampilan Mike mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Siapa ya? Kenapa cari-cari Bu Vaya?" tanya Jamil dengan skeptis.


"Saya datang untuk menjemput beliau," jawab Mike.


"Bu Vaya sudah pulang dari tadi," sahut Jamil.


"Dari tadi? Kapan tepatnya itu, Pak?" tanya Mike.


"Ya, dari tadi pokoknya," sahut Jamil.


Mike bergegas kembali ke mobil, ia segera duduk di kursi kemudi.


"Pak Vier, menurut informasi dari petugas keamanan, Bu Vaya sudah pulang dari tadi," kata Mike.


Vier yang saat itu sedang berkutat di depan gawai cerdasnya langsung teralih.


"Apa? Dari tadi? Aku bahkan baru saja menghubungi Pak Jo, dan wanita itu masih belum pulang, Mike," kata Vier


"Ya, Bu Vaya dihubungi juga tidak menjawab," ucap Mike.


"Ck, ke mana perginya wanita itu? Apa dia kabur?" tanya Vier.


"Wah, wah, aku bahkan datang untuk menjemputnya jauh-jauh ke sini, tapi dia malah kabur! Sungguh terlalu! Haha!" Vier tertawa kesal sambil membuang pandangannya ke luar jendela.


Mike mengerutkan keningnya, bukankah tadi Anda bilang hanya mampir untuk memastikan bahwa Bu Vaya benar-benar lembur di kantor?


"Haha! Dasar wanita pendusta! Ya, ya, dia memang tukang bohong yang tidak bisa dipercaya! Sudah terikat kontrak saja dia masih melanggar!" Vier mengomel sambil tertawa-tawa.


Cara Vier mengungkapkan kekesalannya memang terbilang unik. Marah tapi sambil tertawa.


"Lho, bukannya itu Bu Vaya?"


Mike menunjuk ke arah pelataran gedung, seorang wanita turun dari sebuah sepeda motor yang dikemudikan oleh seorang pria.


Mata Vier membulat, memaksa pupil matanya untuk melakukan pembesaran berkali-kali lipat guna menangkap proyeksi gambar dengan kualitas high definition.


Vaya terlihat melambaikan tangannya kepada pengemudi sepeda motor sebelum si pengemudi meninggalkan Vaya.


...*****...


"Terima kasih ya, Faisal, sudah mengantar kembali ke kantor."

__ADS_1


Vaya turun dari sepeda motor yang dikendarai oleh Faisal. Vaya diberi tumpangan kembali ke kantor oleh Faisal sepulang dari angkringan.


"Sama-sama, Bu, lagipula rumah saya searah kantor," kata Faisal.


"Ya sudah, hati-hati, sampai besok!"


Vaya melambaikan tangannya sepeninggal Faisal yang melaju menembus gelapnya malam.


"Malam, Pak Jamil."


Sapa Vaya kepada petugas keamanan yang berjaga di depan gedung.


"Malam, Bu Vaya, dari mana Bu?" tanya Jamil.


"Oh, tadi dari keluar bareng tim," jawab Vaya.


"Oh ya, Bu, tadi ada yang cari Bu Vaya," kata Jamil.


"Oh, begitu," sahut Vaya.


Mungkin supir yang menjemputku, batin Vaya.


Vaya mengambil gawai cerdasnya dari dalam tas, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dari Mike.


"Pak Jamil, saya pulang dulu ya," Vaya berpamitan.


"Oh ya, Bu, hati-hati," sahut Jamil.


Vaya mempercepat langkahnya menuju ke halte terdekat, tempat ia biasa menunggu jemputan supir yang akan mengantarnya pulang ke rumah Vier.


Vaya duduk menunggu di halte, ia segera menghubungi Mike.


"Halo, Pak Mike, tadi saya masih di jalan, jadi tidak bisa menjawab telepon, ada apa ya?" tanya Vaya begitu Mike menjawab teleponnya.


"Posisi Anda di mana sekarang, Bu?" tanya Mike.


"Saya di halte terdekat kantor saya," jawab Vaya.


"Baiklah," jawab Mike.


Tut... tut...


Telepon terputus.


"Ada apa sih dengan orang ini? Dia dan bosnya sama-sama aneh," gerutu Vaya.


Sebuah mobil mewah tiba-tiba berhenti di depan halte. Sosok Mike keluar dari pintu pengemudi, bergegas menghampiri Vaya.


"Lho, Pak Mike?" Vaya terkejut.


"Selamat malam, Bu Vaya, silakan masuk."


Mike membukakan pintu belakang untuk Vaya.


"Lho, kenapa kau yang menjemput, Pak Mike?" tanya Vaya sambil memasuki mobil.


"Kecewa ya, kau dijemput Mike?"


Suara datar itu membuat Vaya tertuju pada seseorang yang duduk di kursi depan.


"Vi - Vier!"


Vaya terlonjak kaget melihat Vier yang menyeringai horor.


...*****...

__ADS_1


__ADS_2