
Suara sirine ambulans bergerak membawa para preman yang terkapar menuju ke rumah sakit terdekat.
Para polisi yang berdatangan sudah mulai melakukan olah tempat kejadian perkara.
Mike, dengan kondisi wajahnya yang memar dan lebam segera memberikan keterangan terkait kasus penculikan yang dialami oleh Aria.
Deri, pria itu hanya bisa tertunduk lesu dengan wajah pucat tak karuan saat polisi menggiringnya ke mobil patroli untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Mike berjalan menghampiri Vier dan Vaya yang berusaha menenangkan Aria yang masih menangis sesenggukan.
Aria masih benar-benar terkejut dan terguncang. Kasus penculikan, perkelahian yang brutal, suara tembakan, dan pertumpahan darah yang terjadi di depan matanya jelas membuat gadis itu trauma.
"Aria, berhentilah menangis, semuanya sudah selesai," kata Vier.
Aria melepas pelukannya dari Vaya, matanya yang masih berlinangan air mata segera mengunci tatapan Vier yang lembut.
"Aku benar-benar minta maaf, kejadian seperti ini harusnya tidak perlu terjadi, tapi mau bagaimana lagi, yang sudah terjadi tidak perlu disesali atau pun diratapi. Kedepannya cukup dijadikan pengalaman untuk lebih berhati-hati, agar kejadian seperti ini tidak perlu terjadi lagi," kata Vier.
"Aku benar-benar akan memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang," Vier mengacungkan jari kelingkingnya di depan Aria.
"Aku berjanji," kata Vier bersungguh-sungguh.
Aria nampak ragu, ia menoleh ke arah Vaya.
"Aria, apa kau tidak percaya padaku?" tanya Vier.
Aria yang awalnya ragu, segera menautkan jari kelingkingnya ke jari Vier.
Vaya mengulas senyumnya, entah mengapa ia merasa Vier terlihat begitu dewasa, dengan aura sosok seorang ayah yang terpancar jelas.
Vaya sadar, sejak ayahnya meninggal, tidak ada sosok pria dewasa yang melindungi Vaya dan keluarganya. Ibunya memutuskan untuk hidup sendiri dan tak mau menikah lagi. Fokus untuk membesarkan anak-anak. Kata ibunya, terlalu beresiko untuk menikah lagi dengan pria asing, terlebih memiliki dua anak gadis.
"Benar ya, Kak?" tanya Aria.
"Iya, aku berjanji," kata Vier sebelum melepaskan jari kelingking mereka yang bertaut.
"Pak Vier, sebaiknya Anda ke rumah sakit untuk memeriksakan diri," kata Mike.
Vier melayangkan tatapan skeptisnya pada Mike.
"Mike, harusnya kaulah yang pergi ke rumah sakit. Kau bahkan lebih babak belur," sahut Vier.
Mike menunduk dalam, rasa bersalah menyelimutinya.
"Pak Vier, saya benar-benar minta maaf, saya tidak bisa melindungi Anda sepenuhnya," kata Mike.
"Kau bicara apa, Mike? Justru kalau kau tidak ada, aku benar-benar bisa mati dikeroyok orang sebanyak itu," sahut Vier sembari terkekeh.
"Vier, bagaimana kau bisa bercanda seperti itu?" Vaya terperangah.
"Bercanda?" Vier menyeringai. "Aku bicara serius, Vaya, mana bisa aku sendirian melawan selusin preman."
__ADS_1
Mike dan Vier segera menuju ke rumah sakit, sementara Vaya dan Aria diantar petugas untuk pulang ke rumah.
...*****...
"Ibu!"
Vaya dan Aria langsung berseru begitu melihat ibu mereka berada di rumah.
"Vaya, Aria," Bu Asih memeluk kedua anaknya.
"Ibu, Ibu baik-baik saja?" tanya Vaya.
"Ibu baik-baik saja, ada apa ini?" tanya Bu Asih kebingungan melihat kedua anaknya pulang diantar polisi.
Bu Asih sungguh tak tahu apa yang sedang terjadi.
"Vaya, coba cerita, ada apa?" tanya Bu Asih.
Vaya dan Aria masih bungkam, mereka masih terlihat terkejut.
"Ada apa, Kak Vaya? Aria?" tanya Rian.
"Ibu, kenapa Ibu ke rumah sakit bersama Tante Darti?" tanya Vaya.
"Oh, tadi siang Kak Darti datang menemui Ibu, Kak Darti minta maaf, dan tiba-tiba saja darah tingginya kambuh, jadi Ibu menemani Kak Darti ke rumah sakit," jawab Bu Asih.
Vaya terperangah mendengar pengakuan ibunya.
"Tadi perginya buru-buru jadi lupa," jawab Bu Asih.
Vaya kembali menghela napasnya lagi. Serius ibunya tidak tahu apa-apa?
"Ibu, apa Ibu tahu, betapa kacaunya keadaan yang baru saja kualami bersama Aria?" tanya Vaya.
"Ada apa, Kak Vaya?" tanya Rian.
"Ibu, Rian, Aria baru saja menjadi korban penculikan Deri!" jawab Vaya.
"Apa?!" Rian dan Bu Asih berseru.
"Deri melakukan penculikan terhadap Aria untuk mengancam Vier," Vaya menjelaskan.
"Astaga, Deri!" Bu Asih mengelus dadanya.
"Aria, kok bisa sih?!" tanya Rian.
"Maafkan aku, hiks, habis kata Kak Deri, ibu ke rumah sakit, jadi aku dengan mudahnya percaya dan ikut bersama Kak Deri," jawab Aria mulai kembali terisak-isak.
"Ya ampun! Apa kak Deri itu sudah gila?!" Rian terperangah.
"Ya, aku rasa Deri memang sudah gila karena berani mencari masalah dengan Vier," sahut Vaya menahan rasa geramnya.
__ADS_1
"Ya Tuhan!" Bu Asih tak sanggup berkata-kata sambil memeluk Aria yang menangis sesenggukan.
"Ibu, aku sungguh tidak bisa memaafkan Deri, Deri benar-benar sungguh keterlaluan! Deri begitu tega terhadap Aria, mengancam Aria, mengancamku, bahkan mengancam Vier," kata Vaya.
"Jadi, sekarang kakak ipar di mana? Apa kakak ipar baik-baik saja?" tanya Rian.
"Masih di rumah sakit," jawab Vaya singkat.
"Lho, Vaya, kenapa kamu tidak ke rumah sakit?" tanya Bu Asih.
Vaya terdiam.
"Vaya, segera susul suamimu ke rumah sakit," suruh Bu Asih.
"Tapi Bu...," kata Vaya.
Bu Asih menatap Vaya.
"Vaya, seorang istri harus mendampingi suaminya dalam keadaan apa pun," kata Bu Asih.
"Tapi Bu, Vier justru menyuruhku untuk pulang ke rumah," kata Vaya.
Bu Asih menggeleng pelan, sepertinya Vaya sungguh belum mengerti bagaimana menghadapi seorang pria.
"Vaya, saat seorang anak perempuan menikah, maka anak perempuan itu sudah menjadi milik suaminya," kata Bu Asih.
"Dampingilah suamimu dalam keadaan apa pun, jangan hanya saat senangnya saja sama-sama, tapi begitu sudah susah, malah tidak peduli," kata Bu Asih.
Vaya menatap ibunya lagi.
"Rian, antar kakakmu ke rumah sakit, ya," kata ibu.
"Ibu, tidak apa-apa, aku akan pergi sendiri. Rian, jaga ibu dan Aria ya," kata Vaya.
...*****...
Vaya segera menumpangi mobil daring yang membawanya menuju ke rumah sakit. Vaya merenung sambil memandangi pekatnya langit malam.
Benak Vaya saat ini dipenuhi kilas balik kejadian yang baru saja dialaminya. Melihat Vier yang berjuang dengan keras untuk melindungi Vaya benar-benar membuat Vaya jadi berdebar-debar.
Perasaan Vaya campur aduk tak karuan menyaksikan Vier berkelahi, memukul, menendang, dan meninju para preman yang menyerangnya.
Entah mengapa saat itu Vier terlihat seperti seorang pahlawan super yang sedang berusaha membasmi para penjahat untuk menyelamatkan Vaya.
Sungguh keren seperti dalam film-film superhero. Seperti Iron Man yang menyelamatkan Paper Potts, Spiderman yang menyelamatkan Mary Jane, atau pun Superman yang menyelamatkan Lois Lane.
Entahlah, Vaya tak tahu, saat ini ada perasaan gelisah yang menyergapnya.
Entah mengapa ia benar-benar sangat ingin menemui Vier.
...*****...
__ADS_1