
Vier terbangun begitu mendengar suara-suara sumbang yang terdengar lebih nyaring daripada suara dengungan nyamuk yang semalam menari-nari erotis di telinganya. Suhu udara yang begitu panas dan pengap di kamar tidur Vaya yang terlalu kecil, entahlah berapa tepatnya ukuran kamar itu, yang pasti kepala Vier kembali terbentur tembok saat ia menggeliat untuk melakukan peregangan otot-ototnya. Vier memperkirakan ukuran kamar Vaya kemungkinan adalah 2 x 2 meter saja.
Vier berusaha membuka matanya yang masih terlalu berat untuk dibuka. Ia bahkan baru bisa terlelap menjelang subuh. Namun kegaduhan di luar kamar membuat tidur Vier terusik.
Ugh! Siapa sih yang teriak-teriak begitu? Apa adik-adik Vaya menyaksikan sinetron menyedihkan lagi? Batin Vier.
Vier berusaha bangun dan mengenakan kembali kaus oblong yang sama sekali jauh dari kata modis. Ia membetulkan kembali posisi sarung cap gajah nyungsep yang lagi-lagi dikeluhkannya sama sekali tidak bergaya.
Vier benar-benar sudah tak sabar menunggu kedatangan Mike yang akan membawakannya pakaian ganti.
Vier membuka pintu kamar Vaya, telinganya menangkap sumber cecaran yang ia kira berasal dari sinetron-sinetron azab di televisi.
Matanya langsung menangkap sosok wanita paruh baya dengan pakaian nyentrik bercorak macan tutul, serta seorang pria yang nampak lebih tua darinya sedang beradu argumen dengan Vaya.
"Ada apa sih ribut-ribut?! Mengganggu tidurku saja!" keluh Vier.
Semua mata langsung tertuju pada Vier yang saat ini menguap lebar, masih mengantuk dengan nyawa yang belum sepenuhnya utuh.
"Siapa lagi tukang ronda ini?!"
Mata Darti melotot lebar hingga seakan hendak keluar dari lubang matanya begitu melihat kemunculan seorang pria yang terlihat seperti tukang ronda dengan kaus oblong dan sarungnya yang lusuh.
"Tukang ronda? Siapa?" Vier mengerutkan keningnya lalu melayangkan pandangan pada Vaya.
Aduh! Kenapa Vier harus bangun?! Batin Vaya.
"Kak Darti, mohon maaf sebelumnya, sebenarnya ini menantu saya," kata Bu Asih.
Mata Darti dan Deri membulat, sedetik kemudian ibu dan anak itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Ya ampun, Vaya, serius kau sudah menikah dengan tukang ronda begini?" Deri tertawa terbahak-bahak hingga lututnya lemas.
"Ya ampun! Vaya, kau itu sudah bagus-bagus dicarikan jodoh yang bisa mengangkat harkat, derajat, dan martabat keluarga, tapi kau malah memilih pria yang seperti ini?" Darti tertawa terbahak-bahak.
"Apa? Perjodohan?" lagi-lagi alis Vier terangkat sebelah.
"Vier, aku bisa jelaskan, aku bisa jelaskan," Vaya berbisik.
"Vaya, apa kau tahu, aku sudah mencarikanmu calon suami yang kaya raya! Punya bisnis besar! Semua kebutuhan materi akan berlimpah untukmu! Kau tidak akan kekurangan apa pun! Tapi kau malah menikahi pria lusuh begini?!" cecar Deri.
"Vaya, kau itu ya, sungguh perempuan tidak tahu diuntung! Sudah miskin, jelek, banyak tingkah pula! Sungguh tidak tahu diri!" Darti menambahkan.
__ADS_1
"Pantas saja kau hanya dapat suami yang levelnya sama sepertimu! Sama-sama orang susah! Dasar orang miskin tidak tahu diri! Dibantu malah ngelunjak!" lanjut Darti.
"Kau juga, Asih! Jadi orang tua kenapa bodoh sekali?! Apa kau tidak bisa menasehati anakmu supaya tidak asal-asalan memilih suami?! Mentang-mentang sudah telat menikah! Sudah bagus Deri membantu mencarikan calon suami yang kaya raya, tapi malah kau tolak karena menikahi pria gembel begini!"
Darti masih terus melemparkan cecaran untuk Vaya.
"Tante Darti, cukup!" sergah Vaya.
"Pernikahanku bukan karena kebodohan ibuku! Dan aku memilih menikah dengan siapa, itu bukan salah ibuku! Jadi tolong jangan hina ibuku!"
Nada bicara Vaya yang naik setengah oktaf membuat Darti terdiam selama tiga detik sebelum akhirnya darah Darti menggelegak dipenuhi kemarahan.
"Vaya! Berani-beraninya kau berteriak padaku?! Sudah merasa hebat sekali kau ya!" teriak Darti.
Urat-urat di leher Darti bahkan mengembang siap untuk pecah akibat tekanan dari kemarahannya.
"Kau bahkan belum bisa mengembalikan semua biaya pengobatan yang kuberikan waktu ayahmu sakit! Tapi kau sudah begitu sombong dan angkuh seperti ini! Dasar orang susah tidak tahu diri!" cecar Darti penuh kemarahan.
"Kak Darti, maaf, maafkan saya," kata Bu Asih menyela. "Saya yang salah, tidak bisa mendidik anak-anak seperti yang Kak Darti lakukan."
"Ibu," sergah Vaya.
Vier hanya diam dan memerhatikan, ia sadar bahwa saat ini perdebatan yang dilakukan oleh Vaya dan wanita berpakaian macan tutul ini adalah urusan keluarga Vaya. Dan Vier tidak perlu ikut campur urusan tersebut.
Ingin rasanya Vier mengikat emak macan tutul dan bestie-nya itu lalu mengubur mereka di tanah kemudian merajam mereka berdua di depan semua orang karena sudah berani menghina dan merendahkannya.
Hanya saja Vier tentu tidak mau melakukan aksi anarkis yang justru nantinya akan membuat citranya sebagai menantu ideal yang sempurna menjadi buruk, terlebih di mata keluarga Vaya. Ia harus menunjukkan sikap santun dan elegan sebagai pria berkelas dan berpendidikan tinggi. Marah dan mengamuk hanya akan membuatnya terlihat macam orang yang tidak lulus sekolah karena hanya mengedepankan emosi daripada berpikir logis.
"Aku tidak mau tahu, Asih, kalau memang Vaya tidak bersedia, kalau begitu, biar Aria saja yang menggantikan Vaya!" ucap Darti.
Aria yang gemetaran langsung berlari ke arah ibunya.
"Tante Darti!" seru Vaya. "Bagaimana bisa Tante memutuskan seenaknya?!"
"Memutuskan seenaknya?! Ini kesempatan besar untuk Aria, bisa menjadi istri orang kaya yang bisa mengangkat harkat, derajat, dan martabat keluarga kalian!" teriak Darti.
"Cukup! Cukup!"
Vier bertepuk tangan untuk menghentikan drama pertengkaran yang membuatnya merasa muak seakan sedang menyaksikan sinetron yang tidak ada faedahnya.
"Hei, kau orang luar! Jangan ikut campur ya!" hardik Deri pada Vier.
__ADS_1
Vier mengulas seringaian lebar yang begitu horor karena menahan rasa kesalnya.
Tahan, Vier! Tahan! Batinnya.
"Maaf, saya bukan bermaksud untuk ikut campur terhadap masalah keluarga kalian. Hanya saja, berhubung masalah ini ada sangkut pautnya dengan istri saya yang tercinta ini, maka saya rasa perlu meluruskan beberapa hal," kata Vier dengan nada bicaranya yang santun dan tenang.
Vaya melotot mendengar Vier menyebutnya sebagai istri tercinta.
Vier, tolong jangan memperkeruh suasana!
"Saya sungguh heran kepada Tante dan Om ini, bisa-bisanya kalian menjodohkan istri saya kepada orang lain. Bahkan sampai meminta adik ipar saya yang masih di bawah umur untuk menggantikan perjodohan? Memangnya pria kaya raya macam apa yang berusaha kalian jodohkan?" tanya Vier.
"Hei, Bung!"
Deri maju ke depan dengan gaya yang luar biasa menantang Vier. Deri memiliki tubuh gempal dan berisi seperti Rian. Wajahnya sudah dipenuhi kerutan dan mengalami kebotakan dini padahal usianya hanya lebih tua dua tahun dari Vaya.
"Vaya itu harusnya dijodohkan dengan Pak Gumilang! Biar kata jadi istri ketiga, tentu tidak akan jadi masalah! Toh Pak Gumilang itu kaya raya! Aku bahkan berhasil menjadi rekan bisnisnya dengan menjaminkan pernikahan! Tapi kehadiranmu sungguh membuatku harus mengubah rencanaku! Dasar bedebah sialan!" cecar Deri sambil menunjuk ke arah Vier.
"Apa?! Istri ketiga?!" Vier kembali terperangah.
"Pokoknya aku tidak mau tahu! Aria harus menggantikan Vaya menjadi istri Pak Gumilang! Daripada kerja samaku harus dibatalkan!" tandas Deri.
"'Deri! Bisa-bisanya kau menumbalkan Aria untuk kepentinganmu!" sergah Vaya.
"Vaya! Aku tidak peduli! Bisnis adalah bisnis! Haha!" Deri tertawa angkuh.
"Sudah, terima saja perjodohan itu, Aria, dengan begitu aku anggap utang budi kalian lunas!" Darti menimpali.
"Hei, kalian bisa masuk penjara jika memaksa anak di bawah umur untuk menikah," sahut Vier.
"Apa?!" seru Darti.
"'Memangnya berapa utang budi yang dibuat oleh keluarga ini sampai kalian meminta bayaran berupa pernikahan di bawah umur?" tanya Vier.
"Biaya pengobatan yang kukeluarkan untuk perawatan ayah mereka begitu besar bahkan hingga kini mereka tidak sanggup untuk mengembalikan uangku yang senilai ratusan juta itu! Dasar orang miskin tidak tahu diri! Sudah dibantu tapi inikah balasan kalian?!" cecar Darti.
Tiba-tiba kawanan pria berpakaian serba hitam segera memasuki rumah Vaya dan melakukan penyergapan terhadap Deri.
Kepanikan pun segera terjadi. Mike muncul di antara para kawanan menghampiri Deri
"Ada apa ini?! Kenapa kalian menangkapku?!" Deri meronta.
__ADS_1
"Pak Deri Sudrajat, kami akan menahan Anda terkait kepemilikan kosmetik palsu yang kami temukan di gudang Anda," kata Mike.
...*****...