
Pembaca setia kesayangan author, terima kasih sudah membaca sampai episode ini. Tanpa dukungan pembaca, rasanya makin berat untuk melanjutkan karya ini di tengah sibuknya author di real life. Author pasti up, kalau satu bab sudah selesai ditulis.
Yuk, jangan lupa dukung terus sampai episode-episode selanjutnya.
Selamat membaca.
...*****...
"Vier."
Vier menoleh ke arah suara Vaya yang memanggilnya. Netra Vier langsung tertumbuk pada sosok Vaya yang berdiri menegang dengan ekspresi terkejut seakan habis melihat hantu.
"Vaya," ucap Vier.
Selena pun ikut menoleh karena detik itu juga Vier langsung melepaskan pelukan Selena.
Vaya tak tahu harus bereaksi apa terhadap Vier. Menangkap basah Vier dan Selena yang sedang berpelukan jelas bukan tujuannya untuk datang kemari.
Vaya menarik napasnya, rasa sesak yang bergemuruh dalam dada Vaya meronta-ronta. Seperti inikah rasanya menangkap basah suami yang bermain gila dengan wanita lain?
Wanita lain?
Wanita itu bahkan merupakan mantan tunangan yang sangat dicintai Vier! Apa kau tidak ingat bagaimana Vier memperkenalkan dengan penuh rasa bangga di depan semua orang yang menghadiri acara reuni sekolah?!
Alam bawah sadar menarik paksa ingatan Vaya beberapa bulan yang lalu.
Semua pria merasa sangat iri pada Vier yang memiliki penampilan makin tampan dan juga begitu sukses. Belum lagi tunangannya, Selena, yang sungguh menyita perhatian.
"Aku ini pecinta produk luar. Produk lokal bukan levelku! Haha!"
Begitulah ucapan Vier di depan semua orang yang langsung disambut dengan tepuk tangan meriah.
Saat itu melihat Vier dan Selena bukanlah hal yang menarik perhatian Vaya. Vaya memilih untuk menghindar dan menjauh daripada harus menyaksikan Vier yang berkoar-koar macam penjual obat di pasar tradisional. Memamerkan hasil pencapaiannya yang gemilang dalam kurun waktu lima belas tahun. Merasa bahwa pria itu sudah menjadi yang terdepan. Seorang visioner yang sudah meraih kesuksesan di usia muda.
Ya, saat itu Vaya memilih menghindar karena Vaya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Vier. Vaya hanyalah seseorang yang kerap dirundung oleh Vier di masa sekolah. Diejek dan menjadi bahan tertawaan, bahan lelucon, bahan guyonan dari Vier dan anggotanya jelas membuat Vaya sempat merasa sangat depresi dan tertekan. Hanya saja Vaya selalu berusaha menguatkan diri. Berbekal keyakinan bahwa semua ejekan itu akan berakhir saat mereka lulus sekolah.
Akan tetapi saat ini sungguh berbeda. Vaya merasa ia tidak boleh menghindar, karena ia dan dan Vier memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman sekelas saat masih sekolah. Hubungan mereka saat ini jelas lebih dari sekadar saling memuaskan birahi di atas ranjang. Vier adalah suami Vaya, itulah keyakinan yang saat ini dipegang teguh oleh Vaya.
"Vier, ada apa ini?" tanya Vaya sambil berjalan menghampiri Vier dan Selena.
Selena melemparkan tatapan sinis sambil membusungkan dadanya dengan gaya menantang ke arah Vaya.
"Hei, you!" Selena mengibaskan rambutnya. "What are you doing in here? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Selena.
Gaya bicara Selena sungguh memprovokasi Vaya.
"Selena," tegur Vier.
"Vier, sorry. Maaf. I am not talking to you. Aku tidak sedang berbicara denganmu!" sergah Selena.
Vier menghela napas berat, ia sungguh tidak ingin ada keributan yang tidak penting.
"What are you doing in here? Apa yang kau lakukan di sini?" Selena mengulangi pertanyaannya sambil melotot sinis ke arah Vaya.
"Harusnya yang bertanya adalah aku. What are you doing with my hushband? Apa yang kau lakukan bersama suamiku?" tanya Vaya.
__ADS_1
Vaya mengulas senyumnya, ia berusaha untuk tidak gentar dengan gaya Selena yang mengintimidasi.
"Your husband? Suamimu?" Selena terperangah.
"Ya, Vier adalah suamiku, memangnya ada yang salah dengan itu?" Vaya balik bertanya.
Selena merasa darahnya menggelegak, sementara Vaya justru bersikap lebih tenang.
"Vier adalah tunanganku! Harusnya Vier menikahiku, bukannya malah menikahimu!" Selena melayangkan tatapan penuh kebencian pada Vaya.
Vaya mengulas senyumnya, senyum penuh kebanggaan seperti orang yang berhasil mendapatkan hadiah utama dalam acara jalan santai tujuh belas Agustus.
"Yeah, I know. Vier was your fiance. Vier adalah tunanganmu. Tapi itu dulu, bukan sekarang," sahut Vaya secara diplomatis.
Vier terpana melihat sikap Vaya, begitu tenang dan terlihat berani serta penuh percaya diri.
"How dare you! Beraninya kau! You are bitchh! Sluut! Dasar *******! Pelac*ur!" raung Selena penuh kemurkaan.
Selena langsung menjambak rambut Vaya bahkan mencakar wajah Vaya dengan kuku-kukunya yang panjang hingga melukai wajah Vaya.
"Selena! Stop!" Vier berusaha melerai, memisahkan Vaya dan Selena.
Selena bukannya berhenti, ia malah makin menyerang Vaya.
Vier mencengkeram tangan Selena, upaya Vier berhasil membuat Selena melepaskan cengkeramannya dari Vaya.
"Bitchh! Bitchh! You are sluut!" teriak Selena.
"Selena!" Vier menghardik Selena.
"Vaya, kau tidak apa-apa?" tanya Vier sambil mengambil wajah Vaya.
Goresan kuku Selena, mengukir luka yang mengeluarkan darah di wajah Vaya.
"Aku baik-baik saja, Vier," jawab Vaya sambil menahan rasa sakit akibat jambakan dan cakaran Selena.
"Vier! Why do you care about her?!" Selena menarik tangan Vier.
"You should not care about her! You should care about me!" teriak Selena.
Vier menarik napas berat, ia benar-benar muak melihat sikap Selena yang seperti ini.
"Selena! Kau benar-benar sangat keterlaluan!" suara Vier meninggi ke arah Selena.
"Kau sudah melukai Vaya seperti ini! Apa kau pernah berpikir, bagaimana jika Vaya juga membalasmu? Melukai wajahmu yang begitu cantik?!"
"Luka yang kuberikan padanya sama sekali tidak sebanding dengan luka yang harus kurasakan karena wanita ini merebutmu dariku, Vier!" teriak Selena penuh amarah.
Vaya masih terdiam dan memegangi pipinya yang makin senut-senut disertai dengan noda darah yang merembes.
"Dia merebutmu dariku! Harusnya yang menjadi istrimu itu aku, Vier! Aku! Bukannya wanita ini!" teriak Selena.
"Selena!" Vier menahan emosinya. "Sekarang aku bertanya padamu, memangnya siapa yang meninggalkanku? Bukankah kau yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan kita secara sepihak?"
"You should not cut me off like that! Kau seharusnya tidak memutuskanku seperti itu!" ucap Vier.
__ADS_1
"Vi-Vier, i just...," Selena terbata.
"You are not my fiancee anymore. Kau bukan lagi tunanganku!"
"Vi-Vier...," lirih Selena dengan air mata mulai berlinangan.
"Now you just somebody that I used to know. Sekarang kau hanya seseorang yang pernah kukenal," ucap Vier dengan tegas.
"Vaya, ayo kita pergi ke rumah sakit sekarang," kata Vier.
"Vier, aku tidak apa-apa," kata Vaya menunduk.
"Vaya, bagaimana jika luka di wajahmu berbekas?" tanya Vier.
Vier segera membawa Vaya keluar dari ruang kerjanya.
"Vier! Stop! Vier!" teriak Selena.
Selena pun menangis histeris melihat kepergian Vier.
Mike memasuki ruang kerja Vier dan segera menghampiri Selena.
"Miss Selena, i will take you home. Saya akan mengantar Anda pulang," ajak Mike.
"No! Vier! No!" teriak Selena.
Mike mendelik gusar, rasanya ia hendak menyeret Selena pergi sesegera mungkin daripada menimbulkan kehebohan.
...*****...
Selena masih menangis sesenggukan saat ia memasuki apartemennya.
Rasa sesak yang memukul-mukul dadanya membuat langkah Selena tertatih-tatih.
Selena memasuki kamarnya, lalu duduk di depan meja rias. Pantulan wajahnya yang sembab dan bengkak terlihat jelas.
"Apa aku sungguh tidak cantik lagi di mata Vier?" Selena bermonolog.
"Ya, kau sudah tidak cantik lagi, makanya Vier memilih wanita lain! Meski wanita itu bahkan lebih jelek darimu!" bayangan itu menjawab pertanyaan Selena.
Brak...
"Siaal!" teriak Selena memukul meja riasnya.
Selena bahkan menyapu semua benda yang ada di atas meja riasnya.
Tubuh Selena bergetar hebat, ia mengambil tas obat-obatan miliknya.
Selama mengalami depresi dan stress, ia harus mengonsumsi obat-obatan penenang yang diresepkan oleh psikiaternya.
Selena mengambil butir-butir obat dan langsung menelannya.
Ia benar-benar berharap obat-obatan itu bisa membuatnya menghilangkan rasa sakit dan kecewanya pada Vier.
Namun rasa sakit itu masih tetap ada. Dengan tangan gemetaran, Selena mengambil kembali butir-butir obat dan langsung menelannya dengan cepat.
__ADS_1
...*****...