
"Vero, sudah waktunya tidur."
Vaya mengingatkan Vero dan Aria yang begitu asyik berkutat di depan gawai cerdas milik Mike yang menjadi barang sitaan Vero.
"Ibu, sebentar lagi ya," pinta Vero.
"Vero, sudah waktunya tidur, Sayang," Vaya mengusap lembut rambut Vero sambil mengambil gawai cerdas dari tangan anak itu.
"Ibuuu," sungut Vero.
Vaya menggeleng dengan tegas, meski Vero merengek dan memohon.
"Huuhh," cibir Vero.
Vaya segera menyelimuti Vero yang berbaring di kasurnya.
Bu Asih sudah berbaring di kasur dengan mata terpejam.
"Kak Vaya, Kak Vier dan Pak Mike menginap di sini?" tanya Aria disertai cengiran yang mengundang tanda tanya.
"Ya, dan kamu jangan coba-coba menyelinap malam-malam ke lantai bawah ya!" sahut Vaya dengan nada penuh ancaman.
Aria mencebik dan segera berbaring di samping ibunya.
Setelah memastikan seluruh anggota keluarganya berada di posisi masing-masing, Vaya pun bergegas turun ke lantai bawah.
Netra Vaya segera berpendar ke arah Mike yang sedang mengatur dan mempersiapkan tempat untuk Vier beristirahat malam ini. Pria itu dengan cekatan menyiapkan karpet dan matras angin sebagai alas tidur.
"Ke mana Vier?" tanya Vaya.
"Pak Vier masih di kamar mandi, Bu," jawab Mike.
Vaya mencemaskan Vier yang mendadak mengalami demam.
"Pak Mike, apa sungguh tidak ada obat pereda demam untuk Vier?" tanya Vaya pada Mike.
"Maaf, Bu Vaya. Saya tidak menyiapkan obat-obatan untuk Pak Vier, karena beliau bukan tipe orang yang mudah jatuh sakit," jawab Mike.
"Hmm, begitu ya. Bagaimana dengan obat yang dijual bebas di pasaran?" tanya Vaya. "Aku hanya punya obat seperti itu saja."
"Mohon maaf, Bu Vaya, Pak Vier tidak bisa mengonsumsi obat tanpa adanya pengawasan langsung dari dokter," jawab Mike.
"Lantas apa yang harus kita lakukan, Pak Mike? Kalau memang Vier tidak bisa mengonsumsi obat tanpa pengawasan dokter, tidak ada dokter pribadinya! Kalau nanti ada apa-apa, apa yang harus dilakukan?" tanya Vaya.
"Bu Vaya, apa Anda sungguh mencemaskan Pak Vier?" tanya Mike.
"Tentu saja, Pak Mike! Aku hanya tidak mau Vier menjadi sangat rewel! Rewel dan akhirnya menyusahkan semua orang. Apalagi tempat ini jauh dari pusat kota," jawab Vaya.
Vaya mendelik gusar begitu melihat Vier yang keluar dari kamar mandi dan telah berganti pakaian dengan piyama. Vaya pun segera bergegas ke dapur.
...*****...
Vier segera membaringkan tubuhnya di atas kasur yang jelas sama sekali tidak senyaman tempat tidurnya yang biasa.
__ADS_1
Ia harus beristirahat di lantai bawah rumah Vaya lantaran mendadak tubuhnya mengalami demam. Kelelahan dan kehujanan menjadi dua faktor utama penyebab demam yang bahkan sangat jarang dialami oleh Vier. Mengingat bahwa Vier sangat menjaga kebugaran tubuhnya.
"Apa aku benar-benar sudah menua sampai-sampai kehujanan sedikit sudah membuatku demam seperti ini?"
Vaya mendelik gusar saat mendengar cerocosan Vier, ia baru saja kembali dari dapur sambil membawa baskom berisi handuk kecil dan air hangat untuk Vier.
"Baru sadar ya, kalau kau memang sudah mulai jompo," celetuk Vaya.
"Jompo?" Alis Vier berkerut.
"Vaya! Coba kau lihat benar-benar apa aku sudah memiliki kerutan yang sangat signifikan di wajahku?!" balas Vier yang tak terima dikatai jompo oleh Vaya.
Vaya masih mencibir dalam diam sambil memeras handuk hangat lalu menyerahkannya pada Vier.
"Pakai ini supaya demammu turun!" perintah Vaya.
"Vaya, beginikah caramu memperlakukan orang yang sakit?"
"Apa kau tidak ingat apa yang dulu kulakukan saat kau sakit? Aku bahkan mendatangkan dokter pribadiku untuk merawatmu!" lanjut Vier.
Vaya mendelik gusar lantaran Vier mengungkit kembali kejadian memalukan itu. Ia pun langsung menjejalkan handuk hangat ke mulut Vier agar pria itu diam.
"Ugh! Huaah! Tega sekali kau, Vaya! Apa kau hendak membunuhku?!" sungut Vier usai melepas handuk yang dijejalkan Vaya ke mulutnya.
"Memangnya kau pikir gara-gara siapa aku sampai sakit?!" cibir Vaya.
Vier masih bersungut-sungut melihat Vaya yang saat ini memeras kembali handuk di dalam baskom air hangat.
"Berbaring yang benar," perintah Vaya.
Mata mereka saling menatap dan mengunci satu sama lain.
"Vaya, bagaimana kabarmu selama ini?" tanya Vier.
Vaya mengalihkan pandangannya, melepaskan tatapan mereka yang tadinya saling mengunci.
"Aku benar-benar sangat merindukanmu, Vaya," ucap Vier.
"Vier, lebih baik kau beristirahat, toh kau tidak bisa minum sembarang obat untuk mengatasi demammu," kata Vaya.
Vier mengulas senyum seringaian khasnya yang langsung membuat jantung Vaya berdentam tak karuan.
"Vaya! Aku bukan orang penyakitan yang membutuhkan obat hanya gara-gara demam!" sungut Vier.
"Yang aku butuhkan adalah agar kau tetap di sampingku," ujar Vier.
Vaya mendelik gusar, ia segera beranjak dari samping Vier.
"Vaya, kau mau ke mana? Jangan tinggalkan aku sendirian begini," keluh Vier.
Vaya berdecak kesal melihat Vier yang menatapnya dengan tatapan memelas.
"Vaya," rengek Vier.
__ADS_1
Vaya mendengus kesal melihat tingkah Vier.
"Vaya, apa perlu aku membangunkan semua orang agar mereka semua menemaniku di sini?" tanya Vier.
"Kalau kau melakukan itu, lebih baik sekarang kau pergi, Vier!" jawab Vaya.
"Vaya!" Vier kembali merengek.
"Vaya, apa kau ini benar-benar sama sekali tidak berperasaan?"
"Memangnya kau punya perasaan?"
Vaya balik bertanya pada Vier.
"Apa selama ini kau pernah memikirkan perasaanku, Vier?"
"Apa selama ini kau benar-benar memang memikirkan bagaimana perasaanku?"
Vaya melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Vier memilih untuk diam dan mendengarkan.
Kebisuan yang lagi-lagi tercipta di antara mereka sungguh menyesakkan.
"Vaya, aku benar-benar bersungguh-sungguh, meminta maaf padamu," ucap Vier pada akhirnya.
"Seandainya saja aku tahu bahwa saat itu kau ternyata mengandung Vero, aku pasti tidak akan membiarkanmu sendiri."
"Menghadapi semua ini sendiri, pastilah sangat berat bagimu."
"Kau benar, Vier, semuanya terasa sangat berat bagiku," potong Vaya.
"Namun keyakinanku saat itu membuatku tetap bertahan. Aku yakin bahwa semua hal berat itu mampu kujalani sebagai bentuk, sebagai perwujudan, sebagai bukti bahwa aku mencintaimu," lanjut Vaya.
"Hanya saja, sepertinya aku benar-benar sangat bodoh dan begitu naif hingga memiliki keyakinan seperti itu."
Vaya tertawa getir, menertawakan dirinya yang benar-benar sangat bodoh.
Vaya beranjak pergi, namun Vier menahannya dan langsung menarik ke dalam pelukannya.
"Vi-Vier! Lepaskan aku!" Vaya berontak.
Vier memeluk Vaya dengan sangat erat, rasa tidak ingin melepaskan Vaya karena begitu ia melepaskan pelukannya, Vaya benar-benar akan pergi darinya.
"Vaya kumohon," bisik Vier.
"Aku benar-benar sangat merindukanmu."
"Lepaskan aku, Vier!" Vaya meronta dengan suara tertahan.
"Vaya, kumohon, sebentar saja. Beri aku waktu untuk memelukmu seperti dulu."
Vaya terdiam dengan air mata yang perlahan mengalir turun membasahi pipinya.
Ia benar-benar sangat merindukan Vier.
__ADS_1
"Ibu."
...*****...