Menikah Karena Berbohong

Menikah Karena Berbohong
063 - Pertemuan Berujung Galau


__ADS_3

"Sungguh kebetulan bertemu dengan kalian di sini."


Yoseph Randvale alias Yoran.


Pria bertampang blasteran itu selalu sukses membuat dada Vaya bergemuruh tak karuan.


Seperti bertemu dengan mantan pacar yang tak pernah berpacaran dengannya.


Namun hati Vaya yang sudah menyukai Yoran selama lima belas tahun jelas tidak bisa dibohongi. Rasa itu masih tetap ada meski Yoran sudah menolak perasaan Vaya bahkan sebelum Vaya bisa mengucapkannya secara lisan.


"Ha-hai, Yoran," Vaya terbata-bata.


Vaya sungguh belum menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Yoran lagi pasca pria itu menolaknya.


Vier bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Vaya terlihat begitu gugup di depan Yoran.


"Yoran, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vier.


"Oh, aku hanya berjalan-jalan sebentar sambil menunggu istriku berbelanja," jawab Yoran.


Mendengar kata istri membuat kenyataan pahit langsung menghempas Vaya. Yoran bahkan sudah menikah sejak dua tahun silam.


Rasanya hati Vaya kembali sakit, namun tidak ada darah yang merembes keluar. Pria yang disukainya sudah punya istri, sudah jadi milik wanita lain, sudahlah tak usah dipikirkan. Begitulah yang harusnya perlu digarisbawahi oleh Vaya.


"Kalian berdua?" tanya Yoran.


Vaya terkejut mendengar pertanyaan Yoran.


"Tidak, kami kebetulan bertemu di sini," jawab Vaya dengan cepat.


Vier tertegun mendengar jawaban Vaya.


Jangan sampai Yoran tahu aku dan Vier bersama! Batin Vaya.


"Aku bertemu dengan Vier di gerai es krim itu," tunjuk Vaya.


"Oh begitu," sahut Yoran.


"Kita bertemu secara kebetulan di sini, sungguh seperti sedang reuni saja ya, hehe," Vaya terkekeh, berusaha mencairkan suasana yang menegang.


"Haha, reuni ya?" Vier menyeringai horor.


Dasar wanita pembohong! Geram Vier.


"Yoseph!"


Yoran menoleh mendengar suara wanita yang memanggilnya. Seorang wanita bertubuh tinggi, berkulit putih, dengan rambutnya yang panjang kecokelatan. Wanita itu memakai gaun terusan di atas lutut berwarna kuning cerah yang senada dengan tas mewah dan sepatu hak tingginya. Parasnya rupawan dengan sapuan riasan yang membuatnya terlihat memiliki tampilan sebening kaca.


Vaya sungguh percaya bahwa wanita yang berjalan menghampirinya dengan penuh keanggunan itu adalah jelmaan dari Putri Salju.


Langkah wanita bertubuh ramping itu terlihat ringan, seakan wanita itu sedang menari dengan anggun, bukan berjalan.


"Grace," Yoran memanggil nama wanita itu.


Vaya menegang melihat kecantikan manusia bak jelmaan bidadari itu.


"Hai, Vier," sapa Grace.


Aduhai, suaranya bahkan begitu lembut, batin Vaya.


"Hai, Grace," Vier balas menyapa Grace.

__ADS_1


"Grace, ini Vaya, teman sekolahku. Vaya, perkenalkan ini Grace, istriku," Yoran memperkenalkan sang jelmaan Putri Salju itu sebagai istrinya.


Prang...


Vaya bisa mendengar alam bawah sadarnya sedang melemparkan sebuah piring cantik ke otak Vaya. Tujuannya agar Vaya sadar bahwa berhentilah menyukai seseorang yang sudah dimiliki oleh wanita luar biasa cantik. Titisan Nyai Putri Salju memang tak bisa dibandingkan dengan Vaya yang sepertinya memang benar-benar jelmaan dari Nyai Ikan Buntal.


"Hai, Vaya," Grace mengulurkan tangannya pada Vaya.


Vaya menyambut uluran tangan Grace.


Gila! Tangannya sehalus dan selembut tahu sutra!


Vaya jadi makin insecure dengan tangannya yang kerap dibully Vier bak tangan kuli bangunan.


"Ha-hai, Grace," balas Vaya tergagap lalu melepas tangan Grace.


Ya ampun! Kentang sepertiku sungguh tidak tahu diri karena sudah menyukai Yoran! Hati Vaya menjerit.


"Sungguh kebetulan bisa bertemu denganmu, Vier, apa kabar? Lama kita tak berjumpa," kata Grace.


"Hmm, ya, lama sekali sepertinya," sahut Vier dingin.


"Kenapa kita tidak ngobrol-ngobrol dulu di kafe terdekat? Jarang sekali kita bisa ngobrol-ngobrol santai," ajak Grace.


"Wah, sungguh ide yang bagus, Grace, hanya saja, sepertinya lain kali saja karena aku sudah ada jadwal lain," sahut Vier.


"Oh begitu, sayang sekali," kata Grace.


"Baiklah, kalau begitu, saya permisi juga," Vaya segera berpamitan.


"Senang sudah bertemu dengan kalian semua."


Pertemuan Vaya dengan Yoran dan Grace berujung kegalauan.


...*****...


Hal yang paling mudah saat menyukai seseorang adalah jatuh cinta padanya. Bisa melihat wajahnya, senyumnya, dan tatapan matanya. Bisa mendengar suaranya, meski tidak berbincang adalah sesuatu yang luar biasa bagi seseorang yang sedang jatuh cinta.


Ketika jatuh cinta menjadi hal termudah maka move on setelah patah hati menjadi hal yang tersulit. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Vaya.


Vaya yang jatuh cinta pada Yoran, memendam rasa selama lima belas tahun lamanya. Meski pada akhirnya berujung pada penolakan, namun Vaya jadi tahu mengapa Yoran menolaknya. Toh Yoran sudah punya istri yang luar biasa cantik, bagai titisan dan jelmaan Putri Salju.


"Di dunia ini, pria tampan memang hanya menyukai wanita yang cantik. Kulit mulus seputih salju, wajah cantik bak jelmaan makhluk blasteran bidadari. Dengan suara merdu dan mendayu-dayu. Kalau tidak cantik ya nasibnya begini! Jadi babu!" gerutu Vaya.


"Sudah, tidak usah banyak bicara! Masak yang benar! Sebentar lagi para tamuku akan datang. Aku tentu tidak ingin mereka sampai menyantap makanan sampah."


Vier melipat tangannya, mengawasi Vaya yang saat ini sedang menyiapkan masakan yang akan disuguhkan untuk rekan bisnis Vier.


Vaya sungguh tidak punya waktu untuk bergalau ria karena tiba-tiba saja Vier langsung memberinya perintah untuk memasak di sebuah restoran yang masih bernaung di bawah pengelolaan Vier.


Restoran mewah yang mempekerjakan koki bersertifikasi itu harus tutup lebih awal karena Vier yang hendak menjamu para tamunya.


"Pak Mike, kenapa sih Vier sampai menyuruhku memasak begini? Bukannya menyuruh koki bersertifikasi saja. Saat ini suasana hatiku sedang buruk. Aku takut masakanku jadi tidak enak," keluh Vaya.


Mike mengulas senyumnya.


"Bu Vaya, coba Anda pikirkan wajah-wajah orang yang merasa senang karena menyantap masakan yang enak. Anda pasti ikut senang kan?" kata Mike.


"Iya sih," sahut Vaya.


"Lakukanlah seperti yang biasa Anda lakukan sampai Pak Vier berhenti komplain dengan masakan Anda," lanjut Mike.

__ADS_1


"Sekadar informasi, para tamu yang akan datang bukanlah orang sembarangan, jadi, Anda benar-benar harus melakukan yang terbaik."


"Aduh, Pak Mike, kenapa jadi ikut-ikutan mengancam begini sih?" gerutu Vaya.


...*****...


Mike mengambil masakan yang sudah selesai dimasak oleh Vaya dan mengantarnya ke meja para tamu.


Vaya akhirnya bisa bernapas lega, membuat tiga menu sebagai hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup.


Bagi Vaya, Vier benar-benar keterlaluan karena sudah memperbudaknya seperti ini.


"Bu Vaya, Anda dicari Pak Vier," panggil Mike.


"Aduh, ada apa lagi sih? Apa dia komplain masakanku?" gerutu Vaya.


Vaya membuka apronnya, lalu menyusul Mike yang mengantarnya ke ruang makan.


Vier segera menyambut kehadiran Vaya, Vaya terpana melihat para tamu Vier yang bervisual serbuk berlian. Tiga orang pria berparas tampan yang membuat Vaya bahkan lupa cara untuk berkedip.


"Pak Roy, Tuan Voren, inilah juru masak yang sudah berusaha menyiapkan makan malam istimewa malam ini," kata Vier.


"Terima kasih atas makan malamnya."


Pria tampan dengan wajah tegas itu membuat Vaya berdebar-debar dengan kharismanya.


"Masakan Anda sungguh membuat saya ingin cepat-cepat pulang untuk menemui istri saya."


Pria tampan berlesung pipi itu tersenyum manis dan sukses membuat Vaya salah tingkah.


"Aduh, maaf, saya hanya menyiapkan yang saya bisa," kata Vaya.


Gugup campur grogi karena mendapat sambutan yang hangat dari tamu Vier.


"Haha, jangan merendah begitu, Istriku," Vier menepuk-nepuk punggung Vaya.


"Bagaimana, Pak Roy, Tuan Voren, pasti sangat menyenangkan jika para istri kita berkolaborasi memasak makan malam untuk kita semua," usul Vier.


"Saya rasa itu ide yang bagus, istri saya pandai memasak," kata pria yang dipanggil Pak Roy.


"Haha, istri saya bahkan mampu mengembangkan produk Healthy Food atas kreatifitas tanpa batasnya," pria yang dipanggil Tuan Voren itu terdengar tidak mau kalah.


Vier melotot ke arah Vaya yang masih terpesona dengan ketampanan para tamu Vier. Vier langsung mencubit cuping hidung Vaya.


"Aduh, Vier," keluh Vaya.


"Vaya, jangan jelalatan begitu. Mereka semua sudah punya istri. Dan ingat, kau itu istriku," bisik Vier.


Vaya mencebik, namun tidak ada salahnya kan cuci mata seperti ini?


"Sudah, jangan dilihat terus, atau kau akan tahu akibatnya!" Vier menyeringai horor.


Ihhh... Dasar, Vier! Ini tuh rezeki! Rezeki mana boleh ditolak!


...*****...


Haluers terhalu haqiuqiu kesayangan author.


Terima kasih sudah membaca sampai episode ini. Tinggalkan jejak yang bisa ditinggalkan. 😁😁


Sampai jumpa di episode selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2